
Di lain tempat raden wira terus melanjutkan pengembaraan nya ke berbagai pelosok nusantara, dan dia kini sudah berada di kawasan kerajaan tembong agung.
Namun dia tidak berniat untuk, menginjakan ke istana nya, dia berniat untuk melakukan tirakat lagi di curug parukuyan.
Di sana dia menemui, eyang sagara cipta, yang kesaktian nya terkenal mandraguna.
dia hidup menyendiri di sebuah hutan lereng sebelah kerajaan tembong agung.
beliau, adalah keturunan kerajaan Galuh, namun tidak mau terlibat dalam ke pemerintahan kerjaan tersebut. dia lebih senang hidup seperti rakyat biasa sama hal nya akan keinginan raden wira sendiri.
Raden wira di sana, bertemu dengan murid dari eyang sagara cipta, bernama dewi kemuning. dia bukan hanya cantik saja namun seorang pendekar wanita yang sangat berilmu tinggi.
Ayah dan ibu nya adalah keturunan kerajaan Pajajaran dan majapahit , namun telah lama wafat, jadi dia sejak kecil di besarkan eyang sagara cipta.
"Sampurasun nyi mas ayu"
"bolehkah saya bertanya, ucap
raden wira" 🙏
"Boleh, siapakah kamu,
gerangan?
" Aku wira dari, kerajaan nirwana, kadipaten waringin jati"
"Oh iya aku sudah mendengar nama raden wira" 😊🙏
"Sungguh suatu kehormatan aku bisa mengenalmu raden" 🙏
"Ah terlalu berlebihan nyai"
"Kalau boleh tahu siapa nama nyai? 🙏
" Nama ku dewi kemuning wulan sari" 😊
"Sungguh nama yang indah, sesuai orang nya nyai" 🙏
"Terima kasih raden, atas
sanjungan nya"
"Bolehkah aku, bertemu dengan
eyang sagara cipta? 🙏
" Tentu saja boleh, beliau adalah
kakek ku sendiri"
"Sungguh kebetulan sekali nyai"
Lalu, nyi mas dewi kemuning, langsung mengajak raden wira ke pendopo paguron eyang sagara cipta, yang bernama sagara tunggal.
Lalu bertemulah raden wira dengan eyang sagara cipta. dia terkesima, karena pancaran cahaya silau itu , dari wajah dan badan nya eyang sagara.
Dia menghalangi wajahnya yang silau akan pancaran cahaya itu.
"Sampurasun eyang" 🙏👎
"Rampes"
__ADS_1
"Siapa gerangan engkau anak,
muda, tanya eyang lingga?
" Aku, adipati adiwira sanjaya
kusumah"
"putra mahkota, kerajaan,
nirwana cakrabuana, ucap,
eyang sagara cipta"
Sontak, saja raden wira kaget bukan kepalang karena eyang sagara cipta berhasil menebak akan jati diri nya tersebut.
"Eyang kenapa bisa tau akan,
asal-usul diriku"
"Cuman menebak, saja anak ,
muda" (dan eyang sagara tersenyum padanya)
"engkau benar-benar sakti eyang, ucap raden wira"
"Tidak ada yang sakti, kita semua sama, di hadapan sang Hyang Widi"
Di situlah raden wira semakin kagum dan menginginkan untuk berguru, pada eyang sagara cipta dan, meminta ijin untuk bertirakat di curug parukuyan.
dayung pun bersambut raden wira di berikan ijin dan di bekali pemagar ghoib dari eyang sagara cipta.
"Mandilah kau di curug itu sebelum bertirakat, ucap eyang
"Iya eyang, akan aku patuhi semua perintah mu"
Dan maksud dari eyang sagara cipta adalah, kita dalam melakukan apa saja harus dalam keadaan bersih, bersih hati dan bersih badan tubuh dan pakaian.
dalam rangkaian acara tirakat itu raden wira, terjebak masalah, karena di ganggu silumam ular yang ingin menggoda nya. 🐍
Dia menjelma menjadi seorang wanita berparas cantik, anggun dan mempesona, itu semua agar raden wira tergoda dan terpikat akan kecantikan nya.
namun sayang seribu kali sayang raden wira, tidak menggubris, dan menanggapi siluman ular yang cantik jelita itu. berbagai macam bujuk rayuan yang ia lakukan agar raden wira, menuruti akan maksud nya itu gagal total dan hanya sia-sia saja.
"Menikahlah denganku raden
wira, akan ku buatkan istana
yang megah buat mu"
"Tidak, aku tidak mau bersengkongkol dengan seorang siluman"
"Kau menolak ku raden wira, ucap, siluman ular itu"
"Iya tentu, saja aku ke sini, datang hanya, untuk menyempurnakan tenaga dalam ku"
"Bukan mau menemui mu"
Namun, siluman ular itu tidak mau menyerah dia terus menggoda raden wira, dalam semedi nya tersebut.
Rupanya siluman ular itu terpikat akan ketampanan raden wira, yang membuatnya bersikap sedemikian rupa.
__ADS_1
Raden wira masih cukup tangguh dan kuat menahan godaan dan tipu muslihat nya siluman ular itu.
Dan raden wira mendengar, ucapapan, dari eyang sagara cipta, lewat telinga nya secara ghaib.
"Bertahanlah raden wira"
"Ucap eyang sagara cipta"
Di sana raden melakukan meditasi tingkat tinggi memancarkan aura panas untuk mengusir siluman ular yang menjijikan itu. 👉 🐍
Usahanya menghasilkan hasil yang signifikan.
Siluman ular itu kepanasan dan menggerang kesakitan.
"Ampun raden.... ampun...., ucap siluman ular itu"
"Lekaslah kau, pergi dari hadapanku, siluman ular"
"Atau kau akan binasa di tanganku"
"Baiklah raden, aku akan pergi, ucap siluman ular itu"👉
Dan akhirnya siluman itu menyerah dan pergi dari hadapan raden wira sanjaya Wijaya kusumah.
Dia sekarang bisa lebih berkonsentrasi lagi, untuk meditasi nya.
Malam itu sedang terjadi gerhana bulan. 🌑
dan dia mendengar suara alunan gamelan dari arah timur,
suara itu mendayung-dayung seakan-akan menghipnotis, telinga raden wira. 👂
Namun raden wira menghiraukan saja.
walaupun terdengar oleh telinga nya sendiri.
Raden wira di sana harus bertahan hidup selama 70 hari lamanya.
Bisakah raden wira bertahan dengan selama itu. atau dia akan menyerah dalam perjuangan itu.
Maksud eyang sagara adalah, 7 lapisan bumi dan langit , agar di memahami makna nya, untuk tidak bersikap angkuh, sombong, takabur, dan merasa kita paling sakti dan ber ilmu kedigdayaan tinggi.
Itulah arti dari eyang sagara cipta, menyuruh ku bertirakat di sini.
di tambah satu lagi, walaupun kita berada di sebuah guha yang gelap gulita, tanpa sedikit pun cahaya, kita tidak boleh takut dan gentar akan hal itu.
justru kita harus memancarkan cahaya dalam hati agar bisa menjadi, sebuah obor untuk menyinari setiap tindak dan tanduk budi pekerti kita di kehidupan yang fana ini, duniawi tidak serta merta menjerumuskan kita dalam jurang-jurang kesengsaraan hidup.
Kita hanya seorang manusia yang tidak berdaya dan lemah di hadapan sang Pencipta.
Ini sebuah pelajaran berharga bagi, raden wira sendiri. agar dirinya semakin kukuh pengkuh.
Dalam menjalani kehidupan, dan menebarkan kebajikan, dan yang paling penting bisa membuat dan memberi contoh kepada khalayak orang banyak sebagai suri tauladan. bahwa kita harus berbuat baik dan benar, tidak boleh melanggar aturan dan norma-norma agama.
Kita hanya hidup sekejap mata saja. dan itu tidak bisa di pungkiri.
dan di sini aku seperti di antara dua pilihan. yaitu menghendaki dan memilih pangkat tahta dan wanita atau pancaran ilmu yang bisa aku dapat yang tetap kekal abadi sampai akhir hayat ku.
Sikap ini adalah sebuah dilema yang besar karena di antara dua pilihan.
Namun, sangat pelik untuk memilih akan dua pilihan itu.
__ADS_1
gejolak asmara yang meronta-ronta, kepangkatan duniawi yang menggelapkan mata, ilmu kedigdayaan yang membuat kita ujub takabur. seakan-akan bersahutan dalam diri kita. pilihlah aku Hai anak adam begitulah kesimpulan nya.