Di Luar Tembok Kerajaan Nirwana Cakrabuana

Di Luar Tembok Kerajaan Nirwana Cakrabuana
Keberadaanku tercium oleh kadek taruswara dan gerombolan nya.


__ADS_3

Tak terasa, di sini aku sudah satu tahun berguru silat pada mak lasmanah, waktu nya aku melanjutkan pengembaraanku, dan mengurungkan niat ku, untuk mengacaukan wilayah nasta tunggal, karena aku tidak ada urusan, urusan ku adalah dengan ki rawa daksa yang sudah lama wafat dan selanjut nya kadek taruswara.


Aku pun berpamitan pada mak lasmanah dan nyi mas wulan sari, aku tidak akan pulang ke kadipaten waringin dulu, aku akan melanjutkan perjalanan ini menuju tanah pakuan. di sana aku akan mencari ki sudrawirya dia adalah kakak kandung mak lasmanah , di sana aku akan menemuinya. namun aku harus melewati banyak rintangan, kini aku sudah berada di kawasan kadipaten papat siloka, wilayah kekuasaan, kerajaan kecil bernama hasta kerta.


Namun di sana aku di jegat gerombolan kadek taruswara, yang mengikuti ku dari rumah mak lasmanah.


"Hai raden wira kau akan binasa sekarang juga ucap, tarus


wara"


" Kau mau apa lagi taruwara"


"Aku sudah tidak ada urusan lagi dengan mu"


"Tapi aku masih ada urusan dengan mu raden wira"


"bagaimana kalau begitu"


"Aku akan mengantarkan mu ke neraka jahanam"


"Coba saja taruswara, kesombongan mu itu, yang akan mengalahkan mu sendiri"


"Ah..... berdebah, banyak bicara kau raden wira"


Dia menyerang ku, dengan sangat sekoradis, dan membabi buta, namun aku berhasil nengelaknya, dia terpancing emosi.


ajian pancasonan nya sangat dahsyat juga, ilmu kanuragan nya semakin bertambah sakti pantas, saja dia berani melawan ku sekarang.


"Gimana raden kau terkejut" 😁


"Jangan Angkuh, dulu taruswara"


"kita buktikan saja"


Dengan penuh keterpaksaan ajian bentar gelap ku,yang aku dapatkan dari hasil bertapa di gunung gelap, aku keluarkan untuk membinasakan, dan melenyapkan dari muka bumi ini.


"Terimalah ini taruswara"


Ajian bentar gelap ku menghanguskan seluruh badan nya taruswara, dan hingga dia tidak berdaya dan berada dalam sakaratul maut nya.


"Kau memang hebat raden"


Lenyaplah dia dari muka bumi ini, aku hanya mempertahankan kan diri saja.


Prok... Prok.... Prok....


Ada orang yang bertepuk tangan, dan aku langsung melirik kanan kiri, namun tidak ada orang pun yang aku lihat.


Namun suaranya terdengar dan menggema di sekitaran hutan belantara itu.


"Anak muda siapa kau"


"Siapa kisanak, munculah ke hadapan ku"


"bila kau seorang Ksatria"


lalu dia menampakan diri, ke hadapan ku.


"Siapa kisanak sebenarnya"

__ADS_1


"Aku suryawala, pendekar tombak pancala kerta"


"Oh senah berjumpa, dan berkenalan dengan kisanak, ucap ku padanya"


"Sungguh tersanjung dengan ucapan mu kisanak, ucap dia padaku"


Dia mengajak ku untuk, berteman baik, dan bersama-sama, melanjutkan pengembaraan di dunia persilatan.


kita berbincang dahulu di pelataran batu nemprak yang berada di wilayah kadipaten panenjoan.


"Aku wira kenalkan dari kadipaten waringin jati, dan salah satu pendekar cakrawala"


"Kau lupa akan diriku raden"


"Kau mengenaliku"


"Tentu saja aku di tumbangkan


mu di acara ki Demang arja kancana"


"Oh iya aku ingat sekarang"


"kau dari padepokan naratas jagat bukan"


"Telat sekali tebakan mu raden wira, ucap dia padaku"


Lantas aku meminta maap padanya, dan dia pun tersenyum, dan mengatakan dia kalah secara Ksatria.


Kita sekarang sudah menjadi kawan, dan sama-sama mempunyai niat yang sama yaitu membasmi kebatilan. dan menebarkan kebajikan.


"Kau mau kemana suryawala"


"Gimana kalau kau ikut dengan ku saja, ke tanah pakuan"


"Mau apa kau ke sana raden wira"


"Mau berguru pada seseorang, suryawala"


"Kalau boleh tau siap orang nya raden wira"


"Dia adalah ki sudra wirya kakak kandung mak lasmanah"


Dan dia mengatakan bahwa dia sudah mendengar, harumnya nama ki sudra wirya tersebut. dan pernah juga dia bertarung dengan muridnya ki sudra wirya di kadipaten sasak tunggal, menurut nya ilmu kanuragan nya juga tak kalah hebat dengan, eyang lingga buana.


Dan dia sangat antusias saat mendengar cerita ku, dia mau menemani ku untuk pergi ke tanah pakuan.


Dia menanyakan rakak,askara dan aku menjawab nya tidak tahu karena aku berpisah haluan dari dia. di wilayah kerajaan nasta tunggal. aku tak mengetahui gimana keadaan nya sekarang, yang pasti aku tidak akan, pulang ke padepokan cakrawala dulu, karena kalau di sana terus menerus, ilmu dan pengalaman ku tidak akan bertambah, dan pastinya, aku akan di ganggu terus untuk segera pulang ke istana kerajaan Nirwana cakrabuana.


Dan ternyata suryawala pun bukan orang sembarangan dia adalah putra mahkota kerajaan, Mandalawangi, niat nya hampir sama dengan ku tidak suka dengan sistem pemerintahan kerajaan.


Ini adalah sebuah skenario sang Hyang Widi, mempertemukan dua orang putra mahkota kerajaan.


Dia menyebutkan kalau di lain waktu kita di takdirkan menjadi seorang raja bagaimana katanya.


Lantas aku tak bisa menjawab nya, aku sudah ikhlas bila ayahandanya turun tahta rakak ku lah yang akan naik tahta singgasana.


Sedangkan suryawala, pun sama, kakak kandungnya raden Suryakawala, lah yang akan baik tahta kerajaan.


Aku heran, mengapa kejadian ini seperti kebetulan saja.

__ADS_1


dan kita sama-sama saling menguatkan satu sama lain.karena keputusan menentang ayahandanya masing-masing.


"kita harus berjalan berapa lama lagi raden wira"


"saya pun tidak tahu raden suryawala, ucap ku ke dia"


Hari sudah mulai gelap dan kita tak kunjung juga keluar dari rerimbunan hutan belantara ini,


Jadi kami putuskan untuk, beristirahat di sekitar hutan ini saja.


"Gimana kalau kita tidur di hutan saja raden wira"


"Iya itu ide yang bagus" 👍


Ganguan seperti mahluk astral itu nyata aku lihat, buta ijo, kunti anak, genderewo, wewe gombel, menampakan diri nya di hadapanku.


Rupanya dia ingin membuatku, takut.


Aku pakai ajian Qulhu geni untuk pemagar diri, dan bila dia menyerang ku akan aku lenyapkan dia.


Raden suryawala pun takjub atas ajian yang aku miliki ini.


"Raden wira boleh lah aku meminta ajian itu"


"boleh saja kalau kau ingin mempelajari nya"


"Asal jangan di gunakan sembarangan saja"


"Iya raden wira, tentu saja aku tidak akan begitu"


"Iya besok-besok saja sekarang kita tidur saja"


"Iya raden wira, kau juga tidur raden"


Kita tidur dalam keheningan malam, di baluti dengan, suara aungan serigala hutan.


Sontak saja, keadaan ini sangat mencekam.


Pilihan hidup memang, mempunyai, resiko tersendiri, seperti, yang sekarang kami alami, kemewahan, harta tahta, rela kami tinggalkan, hanya demi sebuah jati diri.


Semoga saja, sang Hyang Widi melindungi kami berdua.


Dalam mimpi tidur ku aku bertemu dengan eyang lingga buana.


"Sampurasun murid ku raden wira"


"Rampes eyang guru lingga buana"


"Semoga kau baik-baik saja raden wira"


"Matur sembah nuwun eyang guru lingga buana"


Dalam impian itu aku di berikan sebuah, benda pusaka, kalung pangbungkeman, dia memberi wejangan, gunakan lah untuk membela kaum yang lemah dan untuk berjaga diri dari serangan musuh dan mengobati, orang yang terkena guna-guna.


Dari situ aku bangun dan di temani suara kokokan ayam jantan hutan.


Mungkin fajar pun akan segera menjelang.


Di sana aku termenung akan mimpi ku tadi saat aku lihat kalung itu nyata sudah menempel di dalam leher ku.

__ADS_1


Aku menepuk-nepuk pipiku sendiri, apa ini hanya mimpi ku saja, dan ternyata ini nyata, dan benar ada nya.


__ADS_2