
kehidupan raden suryacalaka kini seperti roda pedati yang terus berputar, menghadapi keras nya kehidupan, dan pahit nya sebuah kehidupan yang dia harus alami.
Mentalnya di guncang hebat. Dia kini mengadu kepada sang dewata agung. akan kegundahan diri nya. Di candi canda wasi. Di sana juga beliau menapaki petilasan batu kujang patimbulan.
Konon batu itu adalah sebuah petilasan dari eyang mandalawangi. tokoh bubuyut dari kadipaten waringin jati kulon, yang berjiwa ksatria membela kaum lemah atas penindasan orang yang tidak bertanggung jawab.
Di sana dia bertemu dengan asta batara kala, yang di buang oleh rak darusa lingga.
Asta batara kala berhasil bertahan hidup atas kehendak sang Hyang Widi.
"Wahai Asta batara kala?
"Suryacalaka bertanya"
"Gusti prabu suryacalaka"
"Apakah ini engkau Gusti? 🙏
"Iya Asta batara kala"
"Jawab Suryacalaka"
"Aku bukan seorang raja lagi"
"Jadi jangan panggil aku raja lagi"
"Ucap suryacalaka"
"Tidak Gusti, bagiku kau masih
seorang maha raja"
Atas tindakan hormat nya, membuat suryacalaka, merasa teriris hatinya.
Dan merangkul Asta batara kala, yang tetap hormat kepada nya.
Kini mereka berdua bisa saling bahu membahu untuk keluar dari hutan Panyingkiran, untuk kembali ke wilayah kadipaten waringin jati kulon.
Mereka berdua saling bercerita satu sama lain nya.
Akan peristiwa tragis yang sama-sama mereka alami.
"Hamba akan menuntut balas atas
perlakuan keji raja darusa lingga"
"Sabarlah Asta batarakala"
"Akan ada saat nya kita bertemu dan
saling betatap muka kembali"
"Iya Gusti prabu aku tidak habis
pikir saja"
"Ucap Asta batarakala"
"Lantas siap yang membantu mu"
"Tanya Suryacalaka"
"Aku di bantu seorang pemburu
hutan liar Gusti"
"Syukurlah kita masih bisa bertahan
hidup"
"Iya ini atas ijin sang dewata agung"
"Ucap Asta batarakala"
Mereka berjalan beriringan dan saling bercerita dan berkeluh kesah. Rupanya mereka sudah melancarkan siasat dan mengeluarkan ide satu sama lain nya.
Dan ide dari Asta batara kala rupanya, sangat di sukai oleh suryacalaka.
Namun untuk sekarang Asta batarakala, hanyalah ingin melihat padepokan cakrawala yang sudah di ratakan oleh kebiadaban seorang raja darusalingga dan patih janggala kerta.
Sedangkan suryacalaka akan menemui istri nya yang kembali ke kerajaan nirwana untuk sekedar menyelamatkan diri.
"Aku harap istri dan anak ku
selamat"
"Pasti Gusti prabu aku yakin ratu
citraloka akan selamat.
"Karena di kawal oleh senopati yang
gagah berani"
"Ucap Asta batarakala"
Asta batarakala, berusaha meyakinkan dan membuat suryacalaka, tenang dan tidak timbul rasa gelisah akan pikiran nya.
Walaupun sudah hampir setahun lebih tidak bisa bertatap muka secara langsung.
Mereka berdua seperti orang asing dan tidak di kenal oleh orang-orang pribumi kadipaten waringin jati kulon.
Suryacalaka menanyakan kepada salah satu penduduk warga pribumi yang tidak sengaja berpapasan di jalan.
__ADS_1
"Maap permisi kisanak"
"Tanya suryacalaka"
"Iya ada apa?
"Aku ingin bertanya?
"Iya silahkan kisanak"
"Ucap seorang pemuda itu"
"Apakah wilayah kadipaten waringin
jati kulon ini aman"
"Untuk Saat ini aman kisanak"
"Namun semenjak gugur nya
para anggota punggawa kerajaan
wangsa tunggal"
"Gusti prabu Wira sanjaya lebih
tegas lagi"
"Apa maksud mu kisanak?
"Tanya suryacalaka"
"Iya maksud ku, beliau tidak main
main dengan orang asing"
"Langsung di penjara di ruangan
bawah tanah"
"Oh begitu yah Terima kasih atas
informasi nya kisanak" 🙏
"Sama-sama kisanak"
"Kalau boleh tau engkau dari mana
dan mau kemana?
"Aku berasal dari wilayah kerajaan
mayapada"
di wilayah kadipaten waringin jati"
"Ya sudah semoga saja kau tidak
curigai oleh para prajurit kerajaan
nirwana"
"Terima kasih atas peringatan nya
kisanak"
"Kami akan berhati-hati sekali"
"Ya sudah aku pamit duluan"
"Ucap pemuda itu"
Dan rupanya, benar saja suryacalaka tidak sama sekali di kenal wajahnya oleh bangsa pribumi kadipaten,
Waringin jati.
Dan dia pintar bepura-pura dan berbohong serta pandai bersandiwara.
Atas dasar menyembunyikan identitas aslinya.
Dia harus tangan telinga karena di luaran sana, nama beliau sudah rusak atas dasar omongan orang yang tidak bertanggung jawab.
Yang menyebutnya sebagai seorang raja yang gagal.
Dan seorang raja yang tidak berjiwa ksatria yang hanya memikirkan keselamatan diri nya saja.
Tentu saja stigma negatif ini harus segera dia rubah.
Agar tidak semakin memperparah keadaan.
Namun hal itu, juga tidak semudah yang di kira seperti akan hal nya memutar balikan kedua telapak tangan.
Dia berniat akan memgibarkan bendera kerajaan wangsa tunggal lagi.
Dan merebut tahta nya kembali dari tangan janggala kerta si pengkhianat itu.
Hutang nyawa akan di balas nyawa, hutang darah akan di balas tumpahan darah juga itulah yang ada dalam benak seorang suryacalaka.
Tak terasa mereka berdua sudah berada di padepokan cakrawala, dan pemandangan yang memilukan itu terjadi.
Padepokan itu sudah tidak berpenghuni lagi.
Dan ada sebuah tulisan bahasa sangsakerta menandakan bahwa padepokan ini sudah di tutup.
__ADS_1
Betapa pilu nya seorang Asta batarakala.
Dia tidak bisa menjaga amanah dari eyang lingga buana.
Atas dasar, rasa kekerabatan dan hutang budi nya suryacalaka menguatkan Asta batarakala.
"Sudahkah Asta batarakala"
"Aku berjanji akan menuntut balas
atas tindakan darusa lingga"
"Aku berjanji padamu"
"Iya Gusti prabu aku percaya
padamu"
Kini mereka berdua akan meminta perlindungan dulu kepada kerajaan nirwana cakrabuana.
Dan sampailah di gerbang kerajaan nirwana, yang sedang di jaga oleh Wasta kencana dan jaka kelana.
"Siapakah engkau gerangan kisanak?
"Tanya Wasta kencana"
"Aku Asta batarakala"
"Benarkah engkau itu"
"Tentu saja"
"Engkau tidak percaya wahai Wasta
kencana"
Tanpa basa-basi lagi kedua panglima prajurit itu membukakan pintu gerbang kerajaan nirwana
cakrabuana, dan segera mempersilahkan masuk.
Di sebuah pendopo istana dekat pekarangan kerajaan itu.
Datanglah seorang maha patih raden askara,yang mengemban tugas baru nya sebagai seorang maha patih.
"Wahai Wasta kencan siapakah
mereka berdua"
"Tanya maha patih askara"
"Ampun maha patih dia adalah
Asta batara kala"
"Benarkah dia?
"Ucap maha patih askara"
Rupanya maha patih askara sedikit tidak percaya akan berita hal ini dan langsung mendekati Asta batara kala secara dekat untuk sekedar meyakinkan keraguan akan hati nya tersebut.
"Ternyata benar kau masih hidup"
"Ucap maha patih askara"
"Tentu saja aku masih hidup dan
sehat bugar"
"Lantas orang di samping mu itu
siapa?
"Tanya maha patih askara"
"Apakah kau tidak mengenali nya"
"Ucap Asta batarakala"
"Ayo tebak siapa dia"
Sosok suryacalaka tidak di kenal nya, mungkin karena rambut nya yang panjang dan berkumis lebat.
Seperti bukan seorang dari kalangan kerajaan saja.
Dengan baju yang lusuh. menambah keyakinan bahwa dia bukan siapa-siapa.
Tapi saat menyakinkan dengan suara nya maha patih askara yakin bahwa dia memang suryacalaka.
Yang di sebut telah gugur oleh kebiadaban raj darusa lingga dan patih janggala kerta.
Ini sebuah pemandangan yang unik di kerajaan nirwana.
Akan kah kehadiran suryacalaka di Terima dengan baik oleh Baginda prabu wira sanjaya kusumah.
Apalagi senopati darma kusumah sudah tidak ada rasa respect lagi kepada keturunan mendiang maha patih jaya ledra kencana guntur bumi, yang menganggap sebagai seorang benalu dan serigala berbulu domba atau bisa di sebut musuh di dalam selimut.
Mungkinkah konflik dan politik yang berkepanjangan ini bisa di selesaikan dengan baik oleh seorang maha raja Wira sanjaya kusumah.
Tentu saja besar harapan, masalah
Ini akan segera di selesaikan dengan baik tanpa ada kekerasan dan bersitegang di antara satu sama lain nya.
Semoga title Raja agung yang adil dan bijaksana itu nyata di terapkan oleh Gusti prabu Wira sanjaya.
__ADS_1