Di Luar Tembok Kerajaan Nirwana Cakrabuana

Di Luar Tembok Kerajaan Nirwana Cakrabuana
Perjalanan menuju gunung kidung pananjung


__ADS_3

Setelah semua keadaan baik-baik saja dan padepokan cakrawala kembali pulih seperti sediakala. Raden wira berniat untuk mengunjungi tempat kediaman mak lasmanah, untuk bertemu pujaan hati nya yang bernama Nyi mas citrakala.


Raden wira sanjaya sudah beberapa hari ini bermimpi, kedatangan eyang lingga buana. di dalam mimpi nya eyang lingga, menyuruh raden wira sanjaya untuk berkunjung dan menemui kediaman cucuk nya itu yang di titipkan kepada mak lasmanah, mantan kekasih nya di waktu muda dulu.


Sontak saja raden wira merasa terbebani akan nasihat eyang lingga buana, agar tidak melupakan jasa dari mak lasmanah. yang sedang menunggu kedatangan raden wira sanjaya.


Pada pagi itu raden wira sudah terlihat bangun pagi sekali dan sudah mempersiapkan niat nya itu.


Agar eyang lingga tidak selalu datang dalam impian nya.


Asta batara kala, yang sedang asyik membersihkan benda-benda pusaka milik eyang lingga, hendak menanyakan kepada raden wira sanjaya yang sedang berkemas baju dan mempersiapkan kuda tunggang yang akan di bawa nya itu.


"Maap rakak kau hendak kemana?


"Ucap Asta batarakala"


"Iya rayi aku mau pergi ke gunung


kidung"


"Jawab raden wira pada adik


seperguruan nya itu"


"Iya rakak aku titip salam rindu saja


buat Nyi mas laraswati"


"Iya rayi akan aku sampaikan


pesan rindu mu itu"


"Aku minta doa nya saja rayi"


"Ucap raden wira sanjaya"


Rupanya, Asta batarakala tidak mau ikut dengan rade wira karena dia takut, ada serangan balasan dari perguruan buluh hinis, untuk itu tidak bisa ikut dengan raden wira sanjaya, untuk berkunjung ke kediaman mak lasmanah ke gunung kidung.


"Maap rakak aku tidak bisa ikut


dengan mu"


"Iya rayi kau di sini saja"


"Dan bila terjadi hal yang tidak di


inginkan lari saja ke kerajaan


nirwana cakrabuana"


"Iya rakak tentu saja semoga saja


tidak terjadi hal yang demikian"


"Ucap Asta batarakala"


"Iya kau jaga diri baik-baik saja"


"Engkau juga rakak"


"Ucap Asta batarakala"


Asta batarakala, pun sangat khawatir pada kakak seperguruan nya raden wira sanjaya, yang berjalan sendirian.


Namun raden wira sendiri, mengungkapkan bahwa dia di perlu khawatir, cemas, dan gelisah akan diri nya karena dia bisa menjaga diri nya dengan baik-baik saja.


Lalu bergegaslah pergi raden wira sanjaya dengan menunggangi kuda


tunggang nya yang berwarna hitam.


Sebelum di berangkat, tak lupa mengucapkan dalam perpisahan untuk sementara waktu kepada adik seperguruan nya, yang bernama Asta batara kala.


"Sampurasun rayi"


"Ucap raden wira sanjaya kusumah"


"Rampes rakak"


"Jawab Asta batarakala"


Lambaian tangan nya, mengiringi kepergian nya dari kadipaten waringin jati, menuju gunung kidung.


Tentu saja ini bukan perjalanan yang sangat singkat karena raden wira harus melewati lembah bukit dan hutan rimba di kawasan kerajaan Mayapada dan tirta nirwana. maka dari itu dia harus menyamar agar tidak sembarang orang untuk mengenali sosok nya tersebut.


Pecutan penuh semangat kuda tunggang nya belari dengan cepat dan nampak gagah berani.


kuda tunggang nya itu adalah warisan pemberian dari sang ayah tercinta nya, yaitu Gusti prabu sura


jalu sudarsana.


Jadi tentu saja bukan kuda tunggang sembarangan, karena merupakan kuda perang yang sudah terlatih.


Sekarang beliau sudah berada di kawasan hutan belantara, batu aseupan. ini adalah tempat keramat petilasan eyang giri aseupan. yang merupakan, bubuyut dari kadipaten Haur koneng. dan merupakan salah satu wilayah kekuasaan kerajaan nirwana cakrabuana.

__ADS_1


Suasana di sini sangat mencekam dan termasuk hutan larangan juga, karena tidak bisa sembarangan masuk keluar hutan dengan se enaknya saja.


Harus ada tata krama, ijin dengan juru kunci nya terlebih dahulu, maka dari itu raden wira sanjaya, sendiri sedang mencari, kediaman juru kunci nya hutan baru aseupan ini.


Dia kini sedang mencari tahu.


kepada orang-orang pribumi di sekitar lereng perbukitan hutan ini.


Hingga tidak sengaja raden wira bertemu sosok gadis desa yang anggun dan cantik jelita sedang mencari ranting kayu bakar.


"Sampurasun Nyi mas ayu"


"Rampes"


"Jawab gadis desa itu"


"Bolehkah saya bertanya Nyi mas?


"Dengan senang hati kakang"


"Gadis desa itu menjawab"


"Apa kau asli orang sini Nyi mas?


"Iya tentu saja kang mas"


"Aku ingin bertanya"


"Iya silahkan jawab gadis desa itu"


"Apakah kau tau rumah juru kunci


hutan baru aseupan ini"


"Iya kang mas kebetulan dia kakek


ku sendiri"


"Wah kebetulan sekali"


"Bolehkah aku bertemu dengan nya


Nyi mas ayu?


"Tentu saja sangat boleh kang mas"


Dan turunlah, raden wira sanjaya dari kuda tunggang nya dan hendak membantu membawakan kayu bakar yang akan di bawa gadis desa itu.


"Kalau boleh tau siapa namamu Nyi


mas ayu?


"Namaku dewi citrawati"


"Nama yang sangat indah"


"Terima kasih atas sanjungan nya


kang mas"


"Ucap dewi citrawati"


"Kalau kang mas sendiri siapa


nama nya?


"Aku wira sanjaya"


"Seperti nya kang mas bukan orang


sini yah"


"Iya Nyi mas aku seorang


pengembara"


"Berasal dari mana kang mas wira


kalau boleh tau"


"Aku berasal dari kadipaten waringin


jati kulon"


"Jawab raden wira sanjaya"


"Oh setau ku itu daerah kerajaan


nirwana ya kang mas wira"


"Iya betul sekali Nyi mas dewi"


Dan raden wira sanjaya, takjub akan pengetahuan, Nyi mas dewi citrawati, sedangkan Nyi mas dewi tidak mengetahui bahwa pemuda tampan dan gagah itu adalah seorang putra mahkota kerajaan nirwana cakrabuana.

__ADS_1


"Nyi mas apakah masih jauh?


"Tanya raden wira sanjaya"


"Sedikit lagi sampai kang mas"


"Ucap Nyi mas dewi citrawati"


Setelah lama berbincang dalam perjalanan, pulang dari arah lereng bukit hutan baru aseupan.


Raden wira sanjaya dan Nyi mas dewi citrawati, akhirnya sampai di sebuah gubuk tua milik juru kunci itu. yang merupakan kakek dari Nyi mas dewi citrawati.


"Sampurasun"


Raden wira memberikan salam dari arah luar halaman, rumah nya juru kunci tersebut.


"Rampes"


"Jawab eyang hariang giri"


"Siapa kau anak muda?


"Tanya eyang hariang giri pada


raden wira sanjaya"


"Maapkan kelancagan ku eyang


saya kesini ingin meminta ijin"


"Lekas masuk dulu anak muda"


"Ucap eyang hariang giri mengajak


raden wira sanjaya"


"Silahkan duduk"


"Iya Terima kasih eyang" 🙏


"Siapa wasta mu?


"Eyang hariang menanyakan nama


nya raden wira".


"Wasta ku wira sanjaya eyang"


"Kau muridnya eyang lingga bukan?


Raden wira sanjaya kaget bukan kepalang dan tidak bergeming karena takut akan terbongkar jati diri nya, namun dia tidak tahu bahwa ilmu dari eyang hariang giri itu tidak sembarangan. dia mampu membaca pikiran dan hati seseorang walaupun dia bungkam dengan seribu bahasa.


"Kau tidak usah takut Raden wira


ucap eyang hariang giri"


"Aku bisa membaca pikiran mu"


Raden wira sanjaya dengan terpaksa, mengutarakan yang sesungguh nya dan menjelaskan maksud dan tujuan nya kepada eyang hariang giri yang ternyata adalah adik sepupu nya eyang lingga buana.


Ini sebuah kebetulan. dan sulit di percaya dia selalu bertemu dengan orang-orang yang berkaitan dengan masa lalu nya.


Di Sana raden wira berbincang penuh hangat dengan eyang hariang giri dan tentu saja membuat perasaan raden wira sedikit lega ketika eyang hariang menjelaskan sesuatu hal yang berkaitan dengan eyang lingga buana. yang moksa dan tileum di gunung gelap ngampar.


"Nyi mas dewi tolong buatkan


minum untuk raden wira"


"Ucap eyang hariang giri"


"Iya eyang tunggu sebentar"


"Ucap Nyi mas dewi citrawati"


Dan tak lama berselang, datanglah Nyi mas dewi membawa minuman dan makanan yang akan di hidangkan kepada raden wira sanjaya, sebagai tamu kehormatan bagi eyang hariang giri.


"Silahkan raden di cicipi dahulu"


"Terima kasih eyang tak usah


repot-repot segala"


"Tentu saja tidak repot sama sekali"


"Ucap eyang hariang giri"


Atas dasar, kebijakan eyang hariang giri, raden wira menginap di rumah nya dulu, karena hari sudah menjelang sore. tentu saja raden wira menyetujui dan sangat berterima kasih atas tumpangan nya tersebut. dan mau tidak mau sekarang jati diri raden wira pun sudah di ketahui oleh, Nyi mas dewi citrawati, cucu nya eyang hariang giri. bahwa beliau adalah seorang putra mahkota kerajaan nirwana cakrabuana. dan murid kesayangan dari eyang lingga buana, yang merupakan penasihat kerajaan nirwana, di jaman kakek buyut na raden wira berkuasa.


Eyang hariang giri, sangat terpukau dan memuji kepribadian raden wira sanjaya yang rendah hati dan mempunyai tata krama yang sangat luar biasa. tidak angkuh dan merasa sombong dengan apa yang dia dapat. ataupun apa yang ia. miliki sekarang sebagai anak sekarang raja penguasa kerajaan.


Tidak semua anak seorang raja bersikap rendah diri dan tidak merasa jumawa dan membanggakan diri nya sendiri.


Ini adalah didikan dari ibunda nya ibunda ratu nareswari dan sosok ayah nya yaitu gusti prabu sura jalu sudarsana. di tambah lagi dia menimba ilmu dari sosok eyang lingga buana, yang merupakan kakak sepupu dari eyang hariang giri.

__ADS_1


__ADS_2