Di Luar Tembok Kerajaan Nirwana Cakrabuana

Di Luar Tembok Kerajaan Nirwana Cakrabuana
Harumnya perguruan silat cakrawala


__ADS_3

Saat itu pagi menjelang dan aku sudah bersiap-siap melakukan, pemanasan di pekarangan rumah Tumenggung parakan jaya.


Suara riuh-riuh, kebisingan warga sekitar, sudah nampak terdengar ke telingaku, banyak pemuda dan tokoh bubuyut, yang sudah mempersiapkan diri dalam acara akbar ini.


Nyi mas citrakala, pun sudah nampak membersihkan pedang pusaka nya, dan bersemedi untuk, mengontrol tenaga dalam nya.


Aku sekarang sedang berusaha berkomunikasi dengan ki lingga, dalam batinku, semoga saja berhasil dan, ternyata dia sudah ada di hadapan ku sambil tertawa.


Ha.... Ha... Ha.... Ha.....


"Ada apak kau memanggilku"


"Sembah bakti ku eyang guru"


"Bangunlah muridku raden wira"


"Apa maksud dari semua ini, eyang guru, aku bertanya"


"Sudah kau ikuti saja, adu keterampilan silat ini"


"berita ini sudah sampai ke kerajaan Nirwana cakrabuana"


"Apa yang kau katakan, sungguh benar adanya"


"Kapan eyang guru berbohong padamu, ucap ki lingga padaku"


Lantas, eyang guru ki lingga buana, menghilang lagi dari hadapan ku,


Suara gemuruh angin di atas kepala ku, menggema.


"Kau jaga nama baik perguruan silat kita muridku, ucap dia"


Lantas, itu sebuah kehormatan besar atas, diri pribadiku. semoga saja aku bisa menjaga kepercayaan eyang guruku itu.


Semua aparat kedaerahan sampai kerajaan sudah berkumpul di sebuah bukit yang luas, nama nya bukit lembah amparan samak. di sanalah para pendekar dan para petinggi kerajaan akan beradu ilmu kanuragan.


berapa kaget nya aku, di sana aku lihat, paman patih jaya ledra dan rakak ku raden Arya, duduk berada di paling depan, dengan para bupati, Tumenggung, serta adipati, lalu tidak lupa para pembuka agama kasepuhan.


Aku lantas menyapa nya, mereka kaget aku ada dalam perhelatan akbar ini.


"Sembah bakti ku paman patih"


"Bangunlah ponakan ku raden,


wira, kau sedang apa di sini"


"Aku di sini di utus eyang lingga buana untuk menemui Tumenggung pamancar jaya"


"Baiklah, kita saksikan saja acara ini secara seksama raden"


Di sana, Nyi mas citrakala menghampiriku, dan berkenalan dengan paman serta kakak ku tercinta rakak raden Arya.


Dan firasat ku mengatakan bahwa rakak ku terpikat oleh ke anggunan dan kecantikan paras dari Nyi mas citrakala, namun , sikap nya berbeda, tapi Nyi mas citrakala mengacuhkan sikap nya rakak ku raden arya.


Kita duduk berdampingan menyaksikan, pendekar paguron rajawali, dan harimau kumbang dari selat Malaka. sungguh, pertandingan yang seru untuk di simak dan aku pun sulit untuk, memalingkan wajah, dari atraksi para pendekar itu.


Hingga sampai lah di acara final antara pendekar wanita, yaitu Nyi mas citrakala dan Nyi mas eka sari, dua pendekar wanita ini sudah mengalahkan ratusan penantang nya dari berbagai paguron yang hadir di sini.


Nampak nya aku lihat Nyi mas citrakala, sedikit gugup dalam pertandingan pamungkas ini, Aku tak tinggal diam untuk menyemangati dia dan tetap fokus dalam jurus-jurusnya.


Nyi mas eka sari, melakukan jurus, selendang bidadari, dan jurus itu, memang menakjubkan, sampai-sampai Nyi mas citrakala tersungkur tidak berdaya.


Namun itu belum berakhir, semua, nampak riuh oleh penonton, dan menjadi hiburan untuk semua rakyat pribumi, di sekitar wilayah kekuasaan kerajaan Nirwana cakrabuana,


Kita lihat Nyi mas citrakala mengeluarkan jurus, tapak seribu bayangan yang baru ia pelajari dari eyang lingga buana,


Rupanya dia sudah mahir menguasai ilmu kanuragan itu.


dan reaksi Nyi mas eka sari terkejut, dan menghindar dari serangan yang membabi buta itu, dia membalas nya dengan ajian, kembang kantil.


pertarungan yang alot dan susah untuk ku prediksi sama sekali.


Hingga rakak ku berbicara.


"Rayi siapa pendekar wanita itu"

__ADS_1


"Dia teman seperguruanku rakak, ucapku ke dia"


"Dia sangat hebat rayi"


"Ilmu kanuragan nya, di luar kemampuan, Nyi mas eka sari"


"Iya rakak kita lihat saja dulu"


Dan benar saja, Nyi mas citrakala, itu berhasil menumbangkan Nyi mas eka sari, dengan jurus, ajian jala sutra, yang sering aku pakai.


Dia mempelajari nya dengan baik, dan sebuah kejutan, aku kira dia tidak mempelajari jurus itu.


Tenaga dalam nya Nyi mas eka sari di serap habis tanpa sisa, dan lumpuhlah, hingga bertekuk lutut di hadapan nya.


lalu dengan sifat seorang pendekar yang arif dan bijaksana, ia membangunkan Nyi mas eka sari dan memeluk nya, serta, memuji ketangkasan llmu bela diri Nyi mas eka sari.


Dan kini giliran aku namun lawan ku adalah rakak ku sendiri rakak raden Arya,


Ini membuat ku, dilema besar, entah apa yang harus aku perbuat, aku harus bertarung dengan kakak kandung ku sendiri.


Aku menolaknya, tapi para tokoh bubuyut kasepuhan, membantah keputusan ku, aku di anggap tidak mengikuti aturan secara, bijaksana, dan di anggap pendekar yang tidak amanah.


"Rayi lekaslah kita bertarung ,


anggap saja kita musuh"


"Tidak rakak aku tidak bisa melakukan nya, itu sungguh,


mustahil aku lakukan"


"Cepatlah rayi"


Dan paman patih guntur bumi pun, langsung, menyambangiku, dia membujuk ku, agar bersikap profesional, dan tidak mengecewakan.


"Ponakan ku raden wira lekaslah kau bertarung"


"Jangan kau gentar sedikit pun"


"Paman patih sangat senang bila kau bertarung melawan rakak mu, raden Arya"


Berat kaki ku melangkah, dan aku sudah di serang oleh rakak ku raden Arya, dia memakai ajian, komar geni, aura tenaga dalam nya menghempaskan tubuh ku di peraturan penonton hingga aku di bangunkan Nyi mas citrakala,


"Bangunlah kang mas raden wira"


"Ini bukan dirimu sebenarnya"


Aku pun timbul kepercayaan diri untuk, mengalahkan kedigdayaan, ilmu kanuragan rakak ku, raden Arya sanjaya kusumah.


Dan aku sekarang membalas serangan dengan ajian, melebur sukma dan kita bertarunh secara ghaib, dan di situlah kakak kandung ku tumbang tidak berdaya menangkis serangan-serangan ku, saat bersatu nya dengan raga tubuh rakak ku terpental, dan terlihat luka dalam.


Uwo.... Uwo.... Uwo....


Dia muntah darah, dan meringgis kesakitan.


"Cukup rayi aku kalah"


"Sudah cukup"


"Maapkan kelancangan rayimu ini rakak Arya"


"Tak apa, kau hebat, dan pantas menjadi pemenang nya"


Aku membantu rakak ku berdiri, dan segera di obati oleh paman patih jaya ledra, dengan transfer energi tenaga dalam nya.


paman patih memuji kami berdua, katanya kami pantas sebagai dua orang putra mahkota kerajaan Nirwana cakrabuana.


Prok... prok... prok....


"Luar biasa kalian sangat hebat"


"Tidak paman patih, rakak ku yang lebih hebat, ucapku"


"Tidak paman patih rayi ku lah yang lebih hebat"


Kami sama-sama saling merendahkan diri, dan berbijaksana, tapi tetap aku lah yang merasa bersalah dengan menumbangkan kedigdayaan rakak ku sendiri.

__ADS_1


Aku di berikan uang ringgit yang sangat banyak atas dasar, pemenang dalam pertandingan ini, aku di anggap pendekar biasa yang menumbangkan putra mahkota raja, Nirwana cakrabuana.


Uang Ringgit itu kan ku berikan pada rakyat jelata yang tidak mampu, sebagai bentuk kepedulian ku, pada kesengsaraan yang di rasakan rakyat, kerajaan Nirwana cakrabuana.


Dan sebagian lagi akan aku sumbangkan ke paguron padepokan silat cakrawala, sebagai bentuk dedikasi dan balas budi ku pada eyang lingga buana.


Acara pun sudah selesai, kita lewati, dan aku di sandingkan dengan Nyi mas citrakala, sebagai dua orang pendekar yang tak terkalahkan. dari paguron padepokan silat cakrawala.


Tentu saja ini sebuah kebanggaan besar, bila ki lingga tau, kami pulang dengan badan yang tetap dan penuh kebahagiaan.


Paman patih jaya ledra pun berpamitan untuk pulang ke istana kerajaan Nirwana, dan dia, akan menyampaikan


berita ini pada Ayahandaku dan ibunda ku.


Semoga saja ini tidak menjadikan Ayahandaku murka pada ku, atas kelancangan ku sendiri.


"Rayi raden wira rakak pamit yah, ucap rakak ku"


"Iya rakak, Hati-hati di jalan"


"Iya rayi raden wira"


"Salahkan rindu dari ananda rayi


pada ayahanda dan ibunda"


"Tentu saja rayi akan rakak sampaikan salam rindu mu itu"


"Kau cepat pulang rayi"


"Semua merindukan mu pulang"


"Aku akan lekas pulang bila, ayahanda prabu, mengabulkan permintaaku rakak"


"engkau jangan berkeras hati rayi, ayahanda akan murka, padamu, bila kau terus menentang kebijakan nya"


"Iya rakak akan aku pertimbangkan dulu"


"Semoga kau berubah pikiran rayi"


"Iya rakak semoga saja, ucapku pada rakak, raden Arya"


Dan pergilah para aparat kerajaan, Nirwana cakrabuna menuju istana nya.


Namun aku, dan Nyi mas citrakala tidak akan lekas, pulang bila belum, mengetahui keberadaan Indrakala dan candrakala, yang sudah di pengaruhi ki rawa daksa, otak nya sudah di cuci oleh racun dan alibi nya untuk menghancurkan, eyang lingga buana dan kemaslahatan dan kemakmuran kerjaan nirwana cakrabuana.


Sungguh tercela dan tidak terpuji sama sekali, budi perangai nya ki rawa daksa.


Aku sendiri tak habis pikir dengan ulah nya tersebut.


Resiko terbesar nya adalah nyawa dan aku tak gentar untuk menumpas kebatilan dan ke angkara murkaan,yang terjadi di depan mataku sendiri.


Semua para pendekar, menghampiriku dan ingin berjabat tangan dengan ku.


Apa lagi Nyi mas eka sari dia terus saja, mengikuti ku, mungkin dia terpikat oleh pesona ku sebagai seorang Ksatria yang gagah perkasa. sontak saja membuat Nyi mas citrakala merasa cemburu dengan ulah Nyi mas eka sari.


"Hai wanita tidak tahu diri dia


itu kekasih ku"


"lekas menyingkirlah, atau akan ku habis tiada ampun"


"Oh maapkan aku, Nyi mas citrakala, aku tidak mengetahui nya"


Perdebatan itu tidak bisa di hindari lagi, dan aku lah yang menenangkan mereka, agar tidak terjadi pertikaian yang tidak perlu itu.


Kita sebagai seorang pendekar harus berjiwa ksatria luhur, menerima, kekalahan dari sebuah pertandingan dan itu tidak di lanjutkan lagi di luar arena lagi pertempuran.


Dan apa lagi menyangkut masalah pribadi, itu sangat tidak di benarkan sama sekali.


Dan semua bisa aku kendalikan suasana mulai aman terkendali tanpa ada kericuhan di luar arena laga.


Aku pun berpamitan untuk mengucapkan banyak Terima kasih pada Tumenggung pamancar jaya, yang sudah menjamu ku sedemikian rupa,


Itu sebuah penghormatan besar bagi diriku pribadi.

__ADS_1


__ADS_2