Di Luar Tembok Kerajaan Nirwana Cakrabuana

Di Luar Tembok Kerajaan Nirwana Cakrabuana
Raden Arya nekad ingin menghabisi indrakala dan candrakala


__ADS_3

kala itu hujan deras mengguyur wilayah kerajaan nirwana cakrabuana, tersiar kabar bahwa raden Arya membawa sekitar seribu pasukan kerajaan untuk menangkap pemberontak indrakala dan candrakala.


Raden Arya tidak ijin terlebih dahulu kepada ayahanda nya dan ibundanya sendiri.


Dia sekarang kini sudah berada di wilayah kadipaten wangun harja. tersiar kabar bahwa di sinilah keberadaan dua pemberontak liar itu.


Setelah di tumelusuri terus menerus selama satu minggu lamanya, akhirnya raden Arya menemukan dia di dusun giri mukti.


Mereka sedang menjarah para pedagang rakyat kecil.


"Akhirnya aku menemukan mu juga, ucap raden Arya"


"Rupanya ada seorang putra mahkota di sini, ucap indrakala"


"Setan alas, kau sudah menginjak-injak harga diri, ayahandaku"


"Dan aku tidak merasa, seperti itu raden Arya, ucap candrakala"


"Kau memang harus di beri pelajaran, kucing hutan" 😡


"Apa kucing hutan..... 😁😋"


"Lantas kau ini apa raden"


"kau hanya seonggok, burung kutilang, berbunyi" 😁


Ha.... Ha..... Ha..... Ha.....


Mereka, merendahkan harga diri raden Arya, sebagai putra mahkota kerajaan nirwana cakrabuana.


"berdebah kau, akan ku sumpel mulut sampah mu itu"


"Silahkan raden kalau kau, mampu"


"Bajingan, setan alas matilah kau sekarang juga"


Pertempuran pun terjadi antara raden Arya dan indrakala serta candrakala.


Raden Arya, di serang habis-habisan dia hanya mampu bertahan, dan tidak bisa menyerang, dalam kondisi tertekan oleh, indrakala dan candrakala.


Ilmu kedigdayaan candrakala dan indrakala, meningkat pesat 180 derajat.


Akankah, seorang raden Arya bisa menumbangkan mereka.


pertarungan itu sangat sengit sekali, dan sulit di tebak siapa yang jadi pemenang nya.


"Bajingan kalian, menggeroyok ku, ucap raden Arya"


"Lalu kau buat apa bawa prajurit segala, ini bukan perang kerajaan raden, ucap candrakala"


"Ternyata nyalimu hanya secuil


kuku, ku saja raden Arya"


"Laknat kau berani nya mengejek ku"


Ha... Ha.... Ha..... Ha.....


Raden Arya, terus di ejeknya.


"Sekarang raden pergi saja, ucap, indrakala"


"bila raden masih ingin hidup"


"Berdebah kau indrakala"


"Kau jangan senang dulu"

__ADS_1


"Aku belum mengeluarkan ajian


pamungkas ku, ucap raden,


Arya, pada mereka"


Raden Arya sekarang mengeluarkan beberapa ajian pamungkas nya. untuk melawan mereka, namun ajian itu tidak cukup untuk mengoyakan ketangguhan indrakala dan candra kala.


Hingga, raden Arya heran,ilmu kanuragan nya seperti sedang mengelus-elus tubuh indrakala.


indrakala, semakin sombong dengan kekuatan nya.


"Aku bilang apa raden, usaha mu sia-sia dan tentu saja nyi mas ayu ningsih akan, kehilangan suami nya"


"bajingan kau sudah meremehkan ku"


"Bukan meremehkan raden Arya, tapi itu kenyataan" 😁😁


"Laknat, Terima ini" 😡


Dan terkapar lah indrakala oleh jurus rajawali terbang nya.


tubuhnya terpelanting.


"Itulah balasan nya indrakala"


"Jangan senang dulu raden"


Dan candra kala langsung menyerang nya dari arah belakang, dengan hantaman dan tendangan tenaga dalam nya.


Raden Arya pun langsung, muntah darah, oleh serangan yang membabi buta.


dan tewaslah seorang putra mahkota kerajaan nirwana cakrabuana itu. bersama sedangkan sisa sisa prajurit yang di bawa ny lari tunggang langgang, untuk kembali ke istana sambil membawa jasad dari raden Arya sanjaya.


ini menjadi berita duka yang menggemparkan jagat, berita kematian nya sampai terdengar ari upuk barat, timur selatan dan utara.


ibunda Ratu nareswari, nampak terpukul akan kematian putra sulung nya itu, dia tak bisa membendung air matanya.


begitu pula istrinya raden Arya, nyi mas ayu ningsih yang sedang mengandung anak pertama nya itu, di juga tak kuasa, menahan pilu, di tinggalkan seorang suami di kala, sedang mengandung, buah hati hasil perkawinan nya.


Paman patih jaya ledra menugaskan, wasta kancana yang sudah pulih, dari sakitnya, untuk, menemui raden wira, di tanah pakuan. untuk menyampaikan berita duka ini. keadaan istana kerajaan sedang di rundung pilu duka nestapa, akan gugurnya sang putra mahkota kerajaan nirwana cakrabuana.


Hujan badai di sertai angin kencang, itu menjadi sebuah pertanda bahwa sang Raja sedang bersedih hati akan kepergian anak sulung nya itu.


Orang yang di tunggu-tunggu itu pun datang, yaitu wasta kencana dan raden wira.


Raden wira datang langsung menghampiri jasad kakak nya yang, terbujur kaku tak berdaya.


"Rakak, bangunlah,rakak" 😭 (Dia menggoyang-goyangkan badan kakaknya itu)


"Sudah ananda, sudah ucap ibunda nareswari" 😭


"Ibunda" (sambil memeluk ibundanya tercinta)


Raden wira tak henti-henti nya menangisi kepergian kakak nya, yang gugur bertarung melawan indrakala dan candrakala.


paman patih, datang menghampiri raden wira dan, mengelus-elus, kepalanya.


"Sudahkah raden wira kakak mu sudah berada di alam kekal, di negara tanjung sampurna"


"Tidak paman patih, aku tidak ikhlas dengan kematian kakak ku ini"


"Lekas katakan siap yang melakukan nya"


"kenapa paman berdiam saja, apa paman tidak kasian dengan kakak ku, jawab paman"


"Kau tidak bisu kan"

__ADS_1


Sungguh momen ini sangat emosional dan menguras hati.


Raden wira, kehilangan sosok sorang kakak, dan sekaligus cikal bakal, penerus tahta kerajaan nirwana cakra buana.


"Ini perbuatan indrakala raden"


"Biadab, akan aku balas kan,


dendam, padanya"


"Tenang raden ini masih dalam keadaan berduka"


"Kau tidak boleh gegabah, dalam bertindak"


"Paman, patih jaya ledra, terlalu lemah" 😡


"Lancang sekali kamu ananda wira ucap, sang Maha Raja"


"Dia itu paman mu, patih jaya ledra kencana guntur bumi"


"Maapkan aku ayahanda" 🙏🙏


"Maapkan aku paman patih" 🙏🙏


Raden wira, sekarang bergegas keluar dan berunding dengan senopati dharma kusumah.


Dia menanyakan perihal kejadian nya seperti apa.


Dengan secara detail, senopati dharma kusumah menjelaskan nya secara keterbukaan.


Dan ini jelas tindakan gegabah yang di lakukan raden Arya karena, bertindak tanpa sepengetahuan ayahanda prabu Dan paman patih jaya ledra kencana.


para tamu masih banyak datang yang melayat, dan rencana nya besok pagi jasad dari raden arya akan di makamkan.


Kini semua, aparat kerajaan sedang bersiap siap dalam upacara adat kematian sang putra mahkota.


dan jelas putra mahkota akan turun pada raden wira. namun raden wira menolak nya, dan ingin menyerahkan tahta nya pada paman patih jaya ledra, bila ayahandanya turun tahta di kemudian hari.


"Apa maksud dari ucapan mu raden wira ucap, wasta kencana"


"Kau ini pilihan satu-satunya dalam tahta kerajaan ini"


"Tidak wasta kencana"


"Aku tidak bisa menjadi seorang raja"


"Aku tak habis pikir dan aku kecewa padamu raden"


"Ini sudah suratan takdir dari sang Hyang Widi, sang Esa tunggal, bahwa kamu lah calon seorang raja"


"Kau terlalu berlebihan wasta kencana"


Perdebatan, panjang itu tidak bisa di hindari, raden askara pun kecewa dengan keputusan raden wira yang memilih menjadi rakyat biasa di banding kan dengan, buaian-buaian gemerlap nya keindahan megah istana nirwana cakrabuana.


Raden wira, pun menegaskan bahwa dia tak butuh tahta dan jabatan secara lantang dia berbicara pada raden askara kakak angkatan nya sendiri.


"Kenapa rakak selalu memaksa ku, ucap raden wira"


"Kalau rakak minat ambil saja rakak aku ikhlas"


"Kau ini ngawur rayi, aku tidak mungkin berkhianat padamu"


Raden wira, marah dan meninggalkan, raden askara dan wasta kencana.


Dia sekarang, sibuk menyambut para pelayat dari berbagai kalangan, entah kalangan, dari kerajaan, bangsawan, konglomerat, berdarah biru, para saudagar kaya dari berbagai pelosok negri.


Datang, melayat untuk memberikan ucapan bela sungkawa.

__ADS_1


__ADS_2