Di Luar Tembok Kerajaan Nirwana Cakrabuana

Di Luar Tembok Kerajaan Nirwana Cakrabuana
Pengkhianatan candrakala dan Indrakala berguru pada ki rawa daksa


__ADS_3

Aku tak menyangka peristiwa ini akan terjadi dengan tega nya adik seperguruan ku berbelot arah menjadi seorang penghianat, kejadian itu berawal dari, sikap ketidakwaspadaan,


ku pada sikap mereka.


Karena aku juga sedang fokus memantau para pemberontak wilayah kadipaten waringin.


Kejadian itu bermula saat mereka, sedang di beri tugas oleh ki lingga, untuk menghadap,adipati dusun parakan jaya, atas suatu kepentingan pribadi.


Namun tak pernah kunjung kembali pulang ke padepokan cakrawala ini.


indra kala dan candrakala, berjalan menyusuri lima lembah perbukitan untuk sampai ke sana, namun, baru dua bukit saja dia sudah memutuskan untuk istirahat.


Di situlah awal mula mereka di rayu ki rawa daksa, dengan berbagai macam alibi nya. menfitnah bahwa padepokan cakrawala hanya membuat nya sebagai pembantu saja.


"Hai anak muda kau berdua,


masih ingat denganku, ucap ki


rawa daksa pada Indrakala dan


candrakala"


"Aku ini ki daksa bukan, adik


Seperguruan nya, ki lingga"


"Betul sekali, sedang apa kalian,


Di kadipaten paman dari ini,


tanya, ki rawa daksa"


"Kami di utus, lingga buana,


untuk, menghadap adi pati,


parakan jaya"


"Kau seperti di kacungkan saja,


anak muda, aku kasihan,


melihat mu"


"Apa maksud ki rawa daksa,


ucap mereka berdua"


Ha..... Ha...... Ha...... Ha.....


"Kau polos sekali, mau-mau nya


Menjadi kacung ki lingga"


"Dia tidak akan membuatmu ,


sakti, lebih baik kau menjadi,


murid ku saja"


"Akan ku buat kau menjadi sakti


mandraguna"


"Dan bisa menjadi seorang,


pendekar yang gagah perkasa"


Indrakala dan candrakala, masih polos dan, belum bisa berpikir panjang atas, semua ini. rupanya dia gampang terhasut oleh bujuk rayuan ki rawa daksa, untuk menjadikan nya, seorang murid.


Apa lagi ki rawa daksa, mempunyai dua orang murid wanita, yang bernama, Nyi lasmi dan Nyi pitaloka.


Dengan paras nya yang menawan itu, membuat tergoda dan tergiur untuk berkhianat, pada perguruan cakrawala.


Ki rawa daksa, kini membuat padepokan baru yang di beri nama, Astana Dirga, yang berada di, kadipaten pangudaran, tidak jauh dari kadipaten waringin jati.


Surat penting itu dia buang ke perataran hutan, dan langsung mengikuti perintah ki rawa daksa,sungguh ironis, dengan tega nya mereka berdua, bisa menjadi seorang ular berkepala dua.


Dan aku tak tahu lagi kabar tentang nya.


Dan ki lingga pun sudah mengetahui bahwa dirinya di khianati, murid nya sendiri.


"Wahai raden wira mau kah kau,


menyusul, mereka"


"Dengan senang hati ki lingga"


"bujuklah kedua adik mu itu,


agar terlepas dari jeratan jahat


ki rawa daksa"


Aku pun, tidak tinggal diam, dan lantas mencari keberadaan nya. namun yang paling penting, adalah, menyampaikan kabar penting pada adipati dusun parakan jaya, yang terbengkalai akibat ulah kurang terpuji nya adik seperguruan ku itu.


secara mengejutkan Nyi mas citrakala, mengikuti dari arah belakang, lantas aku pun melarang nya agar dia kembali ke padepokan itu, untuk menjaga ki lingga.


Namun Nyi mas citrakala terus saja bersikeras untuk memaksa agar aku ijinkan untuk menemani, perjalanan ku, ke dusun parakan jaya.


Memang karakter Nyi mas citrakala itu, keras aku pun sedikit kelimpungan untuk menghadapi ulah nya tersebut.


Aku pun sudah menyerah akan hal itu, dan membiarkan dirinya ikut denganku.


"Kau jangan mengangap remeh,


keberanianku raden wira"


"Aku seorang pendekar wanita"


"Iya aku tahu akan hal itu, ucap


ku pada, Nyi mas citrakala"


"Tapi kalau ki lingga marah, aku


tidak mau tanggung jawab"


"Tenang saja raden aku,


tanggung resiko nya sendiri"


"Ya sudah kalau begitu"


Kami bermalam, di sebuah dusun bernama, merak dampit, kami di sana, di jamu, oleh kepala Dusun, purnama tunggal. dia sangat membuat kami malu karena sudah banyak merepotkan.


Apa lagi dia tahu siap aku sebenarnya, karena Nyi mas citrakala, berterus terang, siapa jati diri ku sebenarnya.


Aku sendiri marah padanya, karena bersikap gegabah.


"Nyi mas, harusnya kau jangan

__ADS_1


berbicara begitu"


"Kenapa kang mas wira, sambil


terus gelendotan di pundak ku"


Aku tentu saja melepaskan nya, karena, itu tidak baik kami belum ada ikatan pernikahan, dan janji suci kepada sang maha pencipta.


"Kenapa kang mas raden wira"


"Kau ini harus punya harga diri"


"Kamu itu anak gadis perawan"


Dia malah menangis dan menganggap diriku menghina harkat martabat nya, aku binggung sekali menjelaskan nya. niat hati, menghindar dari duri, tak tau nya aku, menginjak pecahan serpihan kaca. 😞


Aku biarkan saja dia marah besar, padaku.


Dan lekas beristirahat, di kamar yang telah di sediakan oleh Tumenggung dusun merak dampit.


Dan wilayah ini dulunya, adalah wilayah kekuasaan,kerajaan Wangsa Tunggal, namun itu sekitar, 100 tahun yang lalu, pas kakek buyutku menjabat sebagai sang maha raja dan setelah, turun tahta dan memberikan mahkota itu, pada Ayahandaku, berbeda lagi cerita nya, karena cara ke pemimpinan


Seorang raja itu berbeda kebijakan, dan aturan yang harus, di patuhi oleh sang patih, senopati, adipati, Tumenggung dan prajurit, sert rakyat nya sendiri.


Itu yang membuat aku muak dalam, berinteraksi dan berpolitik, dalam sebuah kekuasaan.


"Sampurasun"


"Rampes, silahkan masuk"


"Baik raden, ini bi damayanti"


"Ada apa bi"


"Cah ayu, citrakala, dia tampak


bermuram durja, ada apa


gerangan"


"Oh itu bi dia rindu padepokan


kami bi, sudah jangan di ambil


pusing"


"Biarin saja dia kan sudah besar"


"Baiklah Raden wira, bibi cuman


khawatir saja"


Dan aku lantas melihat dia dari arah bilik jendela, dan benar saja, di tidak bergerak sedikit pun dari tempat itu, benar-benar perempuan keras kepala dia. pendekar yang ceroboh.


Dengan rasa iba dan kasian yang aku miliki, aku harus membujuknya, semoga saja, aku berhasil dan hati nya luluh, yang aku pikirkan, tanggung jawab ku sama ki lingga, dan rakak askara, Bisa-bisa, aku di marahi nya.


"Permisi, Nyi mas lekaslah,


masuk, hari sudah gelap"


"Hmmmm, dia hanya,


menatapku saja"


"Aku tersenyum, dan bertanya,


bila aku salah, maapkan diriku"


menyinggung ku, raden"


"Lalu apa yang harus aku,


perbuat"


"pikirkan saja sendiri" 😠


Aku gagal membujuk nya, ya sudah, aku lantas, duduk di sebuah anyaman bambu, di samping nya.


"Kenapa kau tidak masuk ke


dalam raden"


"Terserah aku saja, kamu juga


egois kan"


"Kenapa aku tidak boleh egois"


Dia malah menaruh kedua tangan di pinggang nya, dan melotot padaku, dan tersenyum


Dia bilang katanya, sulit buat marah lama-lama padaku, dan dia berterus terang akan isi hati nya, padaku.


Aku pun sama, sebenarnya terpikat oleh pesona kecantikan nya, namun aku takut hubungan asmara ini menghancurkan semuanya, lantas aku berikan penjelasan, yang masuk akal agar dia paham, bahwa kita tidak boleh gegabah, dalam perihal gejolak asmara.


Dia memahami dan sangat bahagia ketika mendengar aku pun ada ketertarikan pada perangai nya itu.


Dan dia sekarang mau beristirahat di kamar nya.


Itu cukup membuat aku lega, ternyata baru karang itu, mulai menyusut, dan rapuh, akan hantaman-hantaman ombak yang terus menerjang nya.


Dan esok hari nya, kami semua di jamu, sarapan pagi oleh keluarga adipati merak dampit, hidangan itu sangat istimewa, dan menggairahkan selera makan ku,


Matahari sudah mulai terbit, dan kami harus,meneruskan perjalanan ini, agar, cepat tiba, di kediaman adipati parakan jaya, dan ternyata adipati parakan jaya dan adipati merak dampit, itu kaka beradik.


Dan adipati, merak dampit, memberikan ku hadiah sebuah kuda sebagai kenang-kenangan


Tentu saja aku menerima nya,


Dengan senang hati.


"Ya sudah kalau begitu, kami


pamit, paman adipati" 🙏


"Terima kasih atas jamuan nya"


"Sama-sama raden wira"


"Semoga raden selamat sampai


tujuan"


"Sampurasun"


"Rampes"


Aku pun memecut, kuda yang aku tunggangi itu, dan Nyi mas cakrawala, membuntuti ku dari arah belakang, dia juga pandai dalam berkuda, dia memang seorang pendekar wanita sejati.


Kami dalam perjalanan, itu melewati, lembah, perbukitan, hutan.


Namun di perbatasan wilayah kadipaten, kahuripan jaya, kami di cegat gerombolan-gerombolan, jahat.

__ADS_1


Mengatas namakan, murid ki rawa daksa.


Secara kebetulan kami pun mencari sudara kami Indrakala dan candrakala.


"Maap kisanak kalau boleh tau,


apa benar, saudara kami


menjadi tawanan ki rawa,


daksa"


Ha..... Ha..... Ha..... Ha.....


"Benar, siapa kalian"


"Kami kakak seperguruan nya"


"kebetulan, sekali"


"Apa maksud mu kisanak"


"Aku akan mengirim mu ke neraka jahanam"


"Berdebah kau bandot tua,


ucap, Nyi mas citrakala"


"Hai jaga omongan mu Nyi mas,


cantik-cantik galak sekali"


Dan, pertarungan itu tidak bisa kami hindari, Nyi mas citrakala, mengeluarkan, jurus pedang seribu bayangan nya, namun, wulung wiguna, mengeluarkan keris sakti, empu tutunggul, yang terkenal dengan kekuatan kerisnya yang mempunyai saya kekuatan yang sangat hebat.


"Nyi mas mundur saja"


"Dia bukan lawan Nyi mas"


"baiklah raden wira"


Aku pun mengeluarkan ilmu bentar gelap, yang aku dapatkan, dari tirakat ku di gunung gelap.


Semua lawan ku, terkena sambaran petir ajian ku dan tumbang, tidak tersisa sedikit pun,


Dalam keadaan sekarat, wulung wiguna , memberikan ku, informasi bahwa, ki rawa daksa, sering berpindah-pindah tempat, dan berbicara tidak akan mudah menemukan nya, karena mempunyai ajian panca ledra, yang tidak bisa tertembus.


Namun, itu bukan ancaman ataupun peringatan bagiku.


Aku melanjutkan perjalanan ini,


Dan sampailah kita di kadipaten parakan jaya.


Di sana kita di sambut dengan suka cita, karena sudah ada berita dari jauh-jauh hari bahwa kami kan berkunjung, ke tempat nya.


"Sampurasun"


"Rampes, eh raden wira dan Nyi mas citrakala"


"Suatu penghormatan besar bagiku, kedatangan namu yang maha Agung"


"Ah jangan berlebihan, ucap ku pada adipati, parakan jaya"


"Silahkan masuk, dan simpan saja kudanya di pekarangan,


rumah"


Kami menceritakan , alur perjalanan yang berat ini, dari padepokan cakrawala, menuju dusun parakan jaya.


"Saya percaya akan raden dan Nyi mas citrakala"


"Ilmu kanuragan raden di luar batas kemampuan, para pendekar dan pengembara dunia persilatan"


"Aku merendah akan pujian itu"


Dan aku menjelaskan bahwa ilmu dan kekuatan itu adalah sebuah karunia, dan itu adalah titipan sang maha pencipta,


dan tentu saja, di atas langit masih ada langit. tidak perlu menyombongkan diri dengan kemampuan kita, untuk menjadi adiguna, angkung sombong, dan takabur.


Karena, hal itu bisa membuat kita lupa akan diri kita, dan merasa, orang lain hanya butiran debu yang tiada berguna. itulah wejangan dari kyai tunggul pamancar, yang melekat erat dalam benak ku.


segala puja dan puji hanya milik sang maha pencipta alam semesta.


"Saya sangat terenyuh, dengan,


penjelasan raden"


"Maap Tumenggung, bukan maksud saya, menasehati" 🙏


"Mohon maap atas kelancanganku"


"Tidak raden apa yang kau katakan benar adanya"


Dan kami pun, bercengkrama dengar hangat, sambil menyantap, hidangan makanan, yang menggugah selera.


Dan kami pun menyampaikan apa yang di utus dan maksud dari ki lingga buana.


Ternyata surat itu berisikan himbauan agar lebih waspada, akan serangan kerajaan Wangsa tunggal dan Nasta tunggal untuk memecah belah, keutuhan wilayah Nirwana cakrabuana.


Dan benar saja Tumenggung berkata bahwa ada urusan kerajaan, untuk mengajak, nya bekerja sama untuk kedaulatan, wilayah, dan rempah-rempah hasil panen bangsa pribumi akan di beli dengan harga yang sangat mahal, namun karena tumenggung sudah ikrar mengabdi kepada Ayahandaku Sang maha prabu sura jalu sudarsana, maka tekad nya itu tidak bisa di ganggu gugat.


katanya kesetiaan dan pengabdian nya, tidak mungkin berbelot arah, walaupun godaan itu datang.


Aku sangat terenyuh juga oleh sikap, tumenggug namun aku juga, tidak begitu senang juga karena, rakyat kerajaan Nirwana tidak ada kemajuan yang pesat, namun aku tidak ada wewenang untuk terus ikut campur, dalam aturan kekuasaan Ayahandaku.


"Raden wira apa kau sudah,


mempunyai rencana akan,


masalah ini, ucap Nyi mas


citrakala"


"Belum Nyi mas ucapku padanya"


"Aku belum ada ide dan rencana"


"Ya sudah kita pikirkan saja nanti, dalam keadaan tenang"


"Baiklah Nyi mas citrakala"


Aku pun, menyempatkan waktu untuk, bersosialisai di sekitar dusun itu, dengan orang-orang pribumi setempat, mendengar keluh kesah nya, akan kemakmuran kehidupan nya.


Dan kebanyakan, berkeluh kesah akan ekonomi yang semakin sulit, karena, harga pangan, tidak sesuai dengan penghasilan mereka, ti tambah daya jual hasil ladang dan sawah tidak, sesuai dengan ke inginan mereka pada umum nya.


Di sana aku, berjumpa dengan pendekar, dusun pamancar jaya. dia menyambut ku dengan hangat, dan mengundang ku untuk menyaksikan pertarungan akbar antar padepokan wilayah kerajaan Nirwana cakrabuana, dia tidak mengetahui siapa, jati diriku, sebenarnya, lantas aku pun sedikit tertarik akan, pertarungan antar perguruan silat ini.


Rupanya ki lingga ada maksud tertentu juga seperti mengirim kami untuk bertarung, mewakili paguron perguruan silat cakrawala.


Tumenggung, pun ikut berterus terang bahwasan nya. apa yang aku pikirkan, itu benar adanya. namun ki lingga tidak berterus terang padaku, ya seperti teka teki saja.


Aku dan Nyi mas citrakala akan bertarung dalam, perhelatan akbar itu di ke esokan hari nya. Aku harus mewaspadai perguruan silat Jagat Tunggal , yang berada di dusun pamancar jaya, karena para pendekar juga terkenal hebat, sampai terdengar ke ujung kulon.

__ADS_1


__ADS_2