Di Luar Tembok Kerajaan Nirwana Cakrabuana

Di Luar Tembok Kerajaan Nirwana Cakrabuana
Patih jaya perkasa moksa di puncak gunung rengganis


__ADS_3

Patih jaya perkasa adalah Patih yang sangat sakti mandraguna. dia juga di sebut sang Hyang hawu.


Dan dia memiliki silsilah kekerabatan dengan eyang sagara cipta.


Rupanya eyang sagara cipta pun sudah mengetahui akan niat nya Patih jaya perkasa itu. dengan berbagai macam pertimbangan yang sudah dia pikirkan dengan, matang-matang. karena akhir-akhir ini menurut eyang sagara cipta sahabat nya itu sudah sering menyepi sendirian dari hiruk pikuk duniawi.


dia mencari ketenangan jiwa.


Karena moksa sendiri dalam artian bahasa Sanskerta artinya pelepasan, kelepasan, kebebasan, dari ikatan duniawi dan lepas juga dari putaran renkarnasi atau punarbawa kehidupan.


Sebelum dia meninggalkan duniawi, beliau sendiri telah memberikan petuah pada sahabatnya itu, tiada lain tiada bukan eyang sagara cipta, agar lebih taat dan Patih dalam mengemban tugas, secara adil dan bijaksana. dan yang paling penting mengingatkan jangan terlalu cinta akan dunia, karena menurut nya dunia ini fatamorgana. sekedar panggung sandiwara.


Saat itu keadaan pagi terlihat cerah, suara burung ketilang pun nampak terdengar riang ke telingaku.


Eyang sagara, nampak seperti memikirkan sesuatu.


Aku sendiri tak enak hati, menegurnya.


Aku berniat untuk membuat kayu bakar saja, dan membelah nya. agar bisa di gunakan untuk memasak di tungku.


Ketika sedang asyik membelah kayu itu, eyang sagara malah memanggilku.


"Raden lekaslah kemari raden,


ucap eyang guru sagara cipta"


"Iya eyang guru, ucapku"


Dan raden wira pun menghampirinya, lalu lekas menanyakan ada keperluan apa hingga dia di panggilnya.


"Maap eyang guru ada apakah


gerangan?


"Aku sedang gelisah muridku"


"Lantas hal apa yang membuat


eyang guru gelisah"


"Tanya raden wira pada gurunya"


Mungkin raden wira sekarang ini hanya bisa menerka-nerka


saja, apa yang sedang eyang guru sagara cipta pikirkan.


Tebakan dalam hatinya mungkin eyang guru, cemas akan sesuatu hal, yang menjadi cikal bakal sikap nya, murung


Seperti itu.


Namun raden wira menunggu eyang sagara cipta untuk mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi.


agar tidak menjadi sebuah simpang siur dalam terkaan nya itu.


"Begini murid ku raden wira"


"Ucap eyang sagara cipta padanya"


"Iya eyang guru, silahkan tak usah ragu"


"Murid mu siap menjadi pendengar yang baik" 🙏


"Aku juga sangat percaya padamu, murid ku"


Dan tanpa berpikir lebih lama lagi, eyang sagara cipta pun lantas, menguraikan keluh kesah nya, yang membelenggu


itu, kepadan murid nya raden


wira sanjaya kusumah.


"Sahabatku akan meninggalkan


ku selamanya"


"Dan aku akan sangat terpukul"

__ADS_1


"Kalau boleh, tau siapakah dia


gerangan eyang guru sagara?


"Dia adalah Patih jaya perkasa"


Dalam, rasa ke ingin tahuan dan rasa penasaran nya.


Raden wira pun lantas menanyakan, seluk beluk nya agar lebih pasti lagi.


"Eyang guru sagara, boleh kah


aku bertanya padamu?


"Dengan senang hati muridku"


"Memang nya sahabat eyang


guru sagara cipta, itu siapa?


"Dia seorang maha Patih yang besar dan berwibawa"


"Aku pun mengira begitu, eyang guru" 🙏


"Dia akan meninggalkan ku dan meninggalkan kerajaan tembong agung".


"Aku mengerti perasaan eyang guru sagara cipta" 🙏


Di situlah, eyang sagara, mengungkapkan, rasa kegundahan nya, tanpa ada yang di tutup-tutupi lagi.


bahwa, sahabatnya, ingin menyempurnakan hidup nya dalam sebuah moksa.


Aku, sendiri pernah mendengar nya bahwa, Orang-orang sakti terdahulu kebanyakan, meninggal dalam moksa dan tileum itu dalam artian yang sama yaitu menghilang kan jejak dari sifat duniawi nya. jasad nya pun tidak akan terlihat. akan melebur bersama tuh nya menuju alam kedamaian negara tanjung sampurna.


Tidak akan merasakan lapar dan dahaga, tidak akan merasakan hawa nafsu duniawi. itu hanya sekedar uraian saja, yang belum tentu kebenaran nya seperti apa?


Aku pun mencoba, memberikan semangat, dan sebuah dukungan agar eyang guru sagara cipta tidak larut dalam di rundung kepiluan hati saja.


Itu hanya membuat nya. hilang arah, dan tidak bisa berpikir secara jernih.


Petilasan itu bisa di artikan jejak seseorang dalam pengembaraan dalam tirakat nya, dalam moksa nya, dalam tileum nya ataupun ngahiyang. ke alam kahayangan dewata agung , kembali ke pelukan sang Hyang kersa, sang Hyang Widi, Sang batara batari, guru.


Menurut agama yang di anut di jaman kerajaan itu.


Aku harus pergi ke puncak gunung rengganis, menurut nya ini sebuah kesempatan bagiku dalam menimba ilmu, kanuragan lahir batin.


Aku tak, bisa menolak nya dalam ketidakmauan dan ketidaksanggupan.


Itu yang aku pikirkan.


Maka dari itu, resiko terburuk pun akan aku ambil, demi sebuah pengabdian dan balas budi terhadap eyang guruku,. eyang sagara cipta.


"Mohon pamit eyang guru, aku


akan mengabulkan permintaan


mu"


"Iya murid ku lelaskah kau ke


sana,ini sebuah wejangan"


"Sungguh, aku merasa tersanjung"


Aku pun lantas berpamitan dengan nya.


"Sampurasun, eyang guru sagara cipta"


"Rampes"


Di sana aku memutar balikan tubuhku dan bergegas maju,untuk mengarungi dan menggeban tugas penting ini.


Semoga saja, apa yang di lakukan raden wira tidak akan


sia-sia.

__ADS_1


Raden wira, pergi dengan menunggangi kuda tunggang nya. dia akan mengarungi sebuah perjalanan yang sangat melelahkan. dan ini sebuah amanat dari sang eyang guru sagara cipta.


Hiyaaaaat...... hiyaaaaat...... Raden wira memecut, kuda tungggang nya, agar berjalan lebih cepat lagi.


raden wira, sangat piawai sekali dalam berkuda.


pecutan demi pecutan itu terus ia lakukan agar kudanya, cepat berlari, untuk cepat mencapai puncak gunung rengganis.


Dan tidak terasa raden wira pun telah sampai, puncak gunung rengganis itu. walaupun memakan hari yang begitu panjang, dan harus bermukim dan bermalam di sebuah hutan belantara, dia di pantang menyerah, untuk menggapai puncak gunung rengganis tempat moksa nya Patih jaya perkasa alias sang hyang hawu.


Di sana dia melihat sebuah batu bekas duduk nya Patih jaya perkasa, dan saat mencoba mendekati nya, angin bertiup kencang dari segala penjuru.


Bau wewangian minyak kasturi dan bunga cempaka, pun tercium sampai ke hidung nya,


Raden wira sanjaya.


Saat raden wira mencoba duduk bermeditasi tirakat, ada sebuah gaungan suara. dan suara itu


sangat menggema sekali.


"Terima kasih cu, kau sudah


menengok ku, ucap nya"


Raden wira, terkejut dan mencari letak suara itu di mana asal dan usul nya berada.


Namun, tidak dapat menemukan pasti.


"Kau tak usah takut cu, aku bukan lah setan gentayangan"


"Ucapnya begitu"


Raden wira, menerka-nerka siapa suara itu?


"Sampurasun"


"Ucap raden wira, dengan gugup"


"Rampes cu...... "


"Kau akan menjadi seorang pemimpin yang besar dan berwibawa"


"Tapi aku tak menginginkan nya


eyang ucap raden wira"


"engkau tidak akan bisa melawan takdir"


"Tapi aku tidak, akan bisa eyang" 🙏


"Kau akan bisa, dan akan mampu"


"Percayalah cu, kau akan banyak di kagumi orang lain"


Sesudah itu, suara nya menghilang dalam sekejap mata, entah kemana pergi nya.


Membuat bulu kuduk, raden wira berdiri, dan bertanya apa itu suara leluhurnya.


Atau suara maha Patih jaya perkasa.


Itu sebuah tanda tanya besar yang belum terpecahkan.


Dan maksud dari eyang sagara pun belum bisa aku isi teka-teki nya.


Namun raden wira mendapat kan energi yang positif dari puncak gunung rengganis ini.


Di sini kita harus dengan hati yang bersih dan niat yang tulus tanpa ada rasa ingin menjadi kaya rasa, ingin menjadi seorang pemimpin atau pun ingin menjadi orang yang sakti mandraguna.


Karena di sini tempat nya Patih jaya perkasa, untuk menghindari keramaian hiruk pikuk kehidupan duniawi.


Aku pun merasakan, hal yang sama hati menjadi tentram, damai dan sentosa.


Mudah-mudahan saja, akan ada hasil yang bisa di petik dalam kunjungan,raden wira di petilasan sang Hyang hawu ini.


acara bisa menjaga hati dari sifat kotor tercela, iri, dengki dan sombong, adigung adiguna.

__ADS_1


__ADS_2