
Benar saja apa yang di katakan Tumenggung Parit sungsang, bahwa, ke khawatiran nya itu benar-benar nyata adanya.
Gerombolan jahat Munding kajali telah tiba di wilayah kadipaten ini.
"Permisi kisanak boleh kah aku ikut melewati gapura kadipaten ini, ucap Munding kajali"
"Boleh saja kisanak ucap, raka Askara"
"Kalau begitu lekaslah kau beranjak dari hadapanku kisanak, ucap Munding kajali"
"Tidak semudah itu kisanak"
"Apa maksud mu kisanak"
"Kau belum tahu siapa, Munding
kajali itu"
"Dan kau juga belum tau siapa
aku kisanak"
Ha.... ha... ha..... ha...
"Munding kajali, mentertawakan, ucapan rakak Askara"
"Dia cari mati rupanya, ucap Munding kajali"
"Kau yang cari mati dengan ku kisanak"
"Berdebah kau anak muda"
"Berani kau menentangku"
"Akan ku beri kau sebuah pelajaran"
"Silahkan saja kisanak"
"Dengan senang hati"
Lantas , Askara pun langsung menyiapkan kuda-kuda nya untuk bertarung ilmu kanuragan, dan Munding kajali, turun dari kuda ny dan melompat ke hadapan, Askara, ini adalah pertarungan, yang sangat seru, untuk di simak,
Kedua nya terlibat adu ilmu kekuatan, dan Munding kajali berhasil melukai, Askara dengan, ajian terkaman rajawali,
Ajian itu terkenal dari dunia persilatan, dan bukan orang sembarangan pula.
"Sudahkal menyerah saja kau,
anak muda"
"Kau bukan tandingan ku"
Namun askara tidak menyerah dan mundur satu langkah pun, dia mengeluarkan, ajian tapak jagat, yang mengguncangkan bumi, ajian ini menyebabkan bumi bisa bergoyang-goyang, seperti terjadi gempa bumi.
Tentu saja Munding kajali kewalahan, dan kaget bukan kepalang, karena ajian itu melumpuhkan anak buahnya.
Namun dirinya masih bisa bertahan hidup dan menghindar, dari serangan mematikan itu.
"Giman kisanak"
"Apa kau masih mau anggap remeh diriku ini"
"Cuihh... setan alas berdebah kau anak muda" 😡
Rupanya, Munding kajali tidak mau menyerah begitu saja, karena tidak mau kehilangan, harta kekayaan dari saudagar kaya itu, serasa harta itu sudah ada di pelupuk matanya sendiri.
Di tengah pertempuran hebat itu datanglah sosok orang yang tidak di kenal, datang secara tiba-tiba.
Ha... ha..... ha... ha....
"Rupanya ada dua ekor musang hutan yang sedang berkelahi"
__ADS_1
"Kau siapa kisanak, berani ikut campur urusan ku, ucap Munding kajali"
"Minggir atau kau kan menyesal"
Rupanya dia adalah ki Rawa daksa, ki rawa daksa adalah seorang, guru persilatan pari kesit. dari ujung kulon.
Aku sudah pernah mendengar, berita tentang kesaktian nya juga.
Ciri khas nya adalah, tombak, rakeuyan nya. yang sangat mematikan. sudah banyak pendekar yang wafat oleh nya.
Dia di suruh oleh, kerajaan wangsa tunggal, untuk mencari keberadaan, raden wira.
Putra mahkota, kerajaan Nirwana.
"Aku sedang mencari, raden wira apa kau melihat nya kisanak"
"Aku tidak tahu menalu akan raden wira, jadi lekaslah kau enyah dari hadapanku, tua bangka, ucap Munding kajali"
Lantas dia menghindar dan hanya bergelantungan di pohon yang besar, untuk menyaksikan pertempuran askara dan Munding kajali.
Askara kini mengeluarkan jurus pukulan seribu bayangan, dan tumbang lah, Munding kajali, kepala nya di penggal, dan di bawa pulang, dan di berikan kepada tumenggung, sebagai bukti bahwa dia lah pemenangnya.
Namun Ki rawa daksa penasaran dengan, kemampuan askara yang bisa membunuh Munding kajali itu.
Dia terus membuntuti nya dari belakang, namun askara tidak menyadari pergerakan ki rawa daksa itu.
Hingga tiba di sebuah rumah adat, yang di miliki tumenggung, Baru dia menyadari bahwa dia sedang di awasi oleh seseorang
Tapi dia tidak menghiraukan nya. karena fokus untuk menemui Tumenggung dan saudagar negri sebrang itu.
"Sampurasun, permisi tumenggung"
"Rampes, siapa gerangan, ucap tumenggung padaku"
"Saya askara, cucu nya ki lingga"
"Duduklah askara, ada apa"?
"Munding kajali, ucap tumenggung"
"Kau akan di berikan hadiah besar"
Dan benar saja, janji tumenggung itu, walaupun askara, menolaknya, tetap uang Ringgit itu harus di bawa nya pulang, sebagai tanda bentuk Terima kasih saja katanya.
Dan uang itu, akan di bangunkan sebuah padepokan, dan di sumbangkan, kepada rakyat jelata di sekitar dusun di bawah kaki bukit gunung halimun.
Ki lingga pun bangga pada ke dermawanan cucu nya itu.
Dan di situlah ki Rawa daksa berani menampakan barang hidung nya.
Di sebuah padepokan cakrawala.
"Sampurasun"
"Rampes"
"Rupanya kau ki Rawa, ucap ki lingga"
Ternyata ki Rawa waktu mudanya. adalah teman seperguruann nya, di padepokan Alengka, sebelum dia masuk ke sebuah istana kerajaan Nirwana.
"Rakak lingga, ternyata kau masih hidup, dan awet muda"
"Tentu saja, Rayi Rawa daksa"
"Kita bisa berjumpa lagi, sekarang"
"Mau ada apa kau"
"Aku mau mencari Raden wira"
"Mau apa kau mencari murid ku
__ADS_1
rayi, ucap ki lingga"
Dan aku pun menampakan diri ke hadapan nya.
"Ada apa ki Rawa daksa mencari ku"
"Oh rupanya ada di sini kebetulan sekali raden"
"Kau adalah lumbung rezeki buat ku"
Dan ki lingga, langsung marah besar pada ki Rawa daksa, dan menyuruh nya keluar dan segera mengurungkan niat busuk nya tersebut.
"Rayi bila kau masih menganggapku saudara lekas pulang dari sini"
"Kau jangan mengganggu ketenangan hidup ku"
"Baiklah rakak lingga, aku masih menghormatimu"
"Maafkan Kelancaran rayi mu ini"
"Aku tidak tahu bahwa raden wira murid kesayangan mu"
Aku pun lega, sekali ki Rawa daksa, mengurungkan, niat nya untuk, menangkap ku.
Dan ki lingga pun bercerita bahwa, adik seperguruan nya itu memang, tidak berubah, dia menjadi,berubah semenjak istrinya meninggal, di bunuh oleh, Ki narungggul, karena tidak, mau di nikahi nya, jadi dendam nya itu menjadikan dia menjadi pribadi yang jahat.
Begitulah kira-kira, cerita masa lalu dari kehidupan ki lingga dan ki Rawa daksa.
Aku sangat beruntung bisa, berada di sini, di bawah pengawasan ki lingga,
"Ya sudah kalian istirahat saja ucap ki lingga"
"Besok kita, latihan lagi"
"Sendiko rawuh ki lingga ucap,
rakak, askara pada ki lingga"
Aku di kamar tidak bisa tidur dan hanya melamun saja, aku rindu ibunda ku, ibunda ratu Nareswari, dalam hati apa dia baik-baik saja atau tidak.
Tok.. tok... tok...
Suara pintu kamarku.
"Siapa"
"Aku citrakala, sambil berbisik pelan"
Aneh malam-malam begini dia mengetuk pintu kamar tidurku. aku bukakan saja, dan lantas menanyakan, citrakala, yang ceroboh dan gegabah, akan sikap nya.
"Mau apa nyi mas ini sudah malam"
"Nanti rakak Askara marah padaku"
"Kau ini raden"
"Cepat pergi sana ke kamar mu"
"Aku ingin bercerita padamu"
"Cerita apa bisa besok hari"
"Aku mau nya sekarang juga"
"Kau ini keras kepala nyi mas"
Aku sudah hilang akal akan sikap nya nyi mas citrakala yang sangat ceroboh ini, bisa-bisa aku di gantung hidup-hidup oleh ki lingga.
Dia rupa nya sudah menaruh hati padaku sejak lama, namun aku binggung untuk membalas cinta nya itu.
Karena aku di sini bukan sedang mencari cinta, tapi berguru ilmu kanuragan.
__ADS_1