Di Luar Tembok Kerajaan Nirwana Cakrabuana

Di Luar Tembok Kerajaan Nirwana Cakrabuana
kemarau panjang membuat para petani gagal panen


__ADS_3

Mungkinkah ini sebuah pertanda? tapi aku tak bisa berasumsi sedemikian rupa,


Setelah kehilangan sang putra sulung nya nya gugur, di medan laga pertempuran, baginda raja sura jalu mendapat musibah yang sangat genting, yaitu wilayah kekuasaan nya, terdampak kemarau yang sangat panjang di dera kekeringan, membuat para rakyat nya menderita kekeringan karena gagal panen, dan efeknya rakyat, menjadi kelaparan, dan banyak yang meninggal dunia akibat menahan rasa lapar nya itu, tentu saja, sang raja di dera rasa, gundah gulana, dan panik bukan kepalang.


Dia memerintahkan, patih jaya ledra untuk memberikan makanan, untuk di bagikan kepada rakyat nya, agar tidak semakin banyak korban berjatuhan.


Sang patih jawab ledra kencana pun, mengajak, ponakan nya raden wira , untuk menyelesaikan pokok permasalahan ini.


Raden wira ternyata sudah bertindak, sendirian dia sudah terjun ke kadipaten waringin jatu untuk membendung sebuah sungai untuk di jadikan saluran irigasi, agar bisa mengairi, sawah dan ladang, para petani pribumi di sekitar wilayah itu.


Dengan kegigihan nya berjuang di bantu para rakyat nya, raden wira berhasil membuat saluran irigasi tersebut.


para rakyat pun, sangat berterima kasih padanya, dan membuat nama nya semakin harum dan di sanjung-sanjung, agar dia segera naik tahta singgasana kerajaan nirwana cakrabuana.


Namun jawaban nya tetap sama dia belum berani untuk naik tahta, dan berpikir, bahwa ayahnya belum mau untuk turun tahta.


Raden suryacalaka, pun ikut serta dalam kegiatan ini, dia bahu membahu, memberikan makanan yang di bawa dari kerajaan untuk, di jadikan makanan pokok untuk rakyat kerajaan nirwana cakrabuana.


"Rakak sudah jangan terlalu capek, rakak ini kan seorang putra mahkota raja"


"Tidak rayi suryacalaka, ini sudah kewajiban ku"


"Aku kagum padamu rakak, ucap, raden suryacalaka"


Kini, para petani sudah mulai lega, atas kinerja cepat tanggap, nya raden wira, dan pasti sang baginda raja merasa senang atas berita ini.


"Rakak, aku, mohon pamit untuk ke istana lagi, karena tugasku sudah beres" 🙏


"Iya silahkan rayi, aku masih tetap ingin di sini dulu"


"Iya rakak, lekaslah pulang ke istana, hari sudah, mulai sore"


"Iya rayi, kau tak usah khawatir"


Namun ternyata, raden wira berencana untuk tidak pulang ke istana karena, kondisi, ibunda nya sudah membaik, dan berangsur pulih kembali,


jadi dia berniat untuk, bermukim saja di sekitar kadipaten waringin jati.


Dan berencana, untuk ke tanah pakuan lagi, untuk melanjutkan berguru nya ke ki sudrawirya.


Namun itu masih tahap rencana nya saja.


Sang paman patih jaya ledra pun sudah tenang karena tugasnya sudah bisa terselesaikan karena di bantu raden wira dan anak nya raden suryacalaka.


Di lain tempat patih jaya ledra sudah pulang ke istana, dengan kuda perang nya itu.


Dia melompat dari kuda tunggang nya. untuk segera menghadap, sang baginda raja sura jalu sudarsana.

__ADS_1


Sampailah sang Maha patih berhadapan, dengan sang baginda raja.


"Mohon ampun seribu ampun,


Gusti raja" 🙏🙏


"Iya aku Terima, sembah,


baktimu, patih jaya ledra"


"Bangunlah, lekas bangun dari


sujud mu"


Bangunlah, sang Maha patih jaya ledra kencan, dari sembah sujud nya kepada sang baginda raja tersebut.


"Tugasku sudah selesai gusti,


prabu" 🙏


"Aku di bantu, raden wira dan


raden suryacalaka"


"Iya aku sudah mendengarnya,


"Dan aku, sangat berterima kasih pada kalian"


"Itu sudah kewajiban hamba,


gusti raja" 🙏


"Iya lekaslah duduk di singgasana kursi mu patih"


Dan duduklah sang Maha patih jaya ledra, untuk mendengarkan, sepatah dia patah kata dari, sang baginda raja sura jalu sudarsana, yang ingin memberikan petuah dan kabar penting, dari hasil rundingan dengan, senopati dharma kusumah, dan kyai tunggul pamancar.


Dan berdirilah sang Maha prabu itu di singgasana kerajaan nya.


"Wahai para, pejabat kerajaan ku dan para punggawa aparat kerajaan yang tidak bisa aku sebutkan satu-persatu"


"Ucap gusti prabu, pada semuanya"


"Setelah aku berunding dengan senopati dharma kusumah dan kyai tunggul pamancar, aku akan, memberikan maklumat yang sangat penting buat kalian semuanya"


"Sendiko rawuh, gusti prabu, ucap semuanya" (sambil menundukan kepalanya, atas dasar rasa hormatnya)


"Kita harus waspada, akan

__ADS_1


bencana kemarau panjang ini"


"Dan saya mohon kalian cepat


tanggap, akan perihal ini"


"komunikasikan dengan para pejabat, dusun dan kadipaten, agar bahu membahu, bekerja sama"


"Dan aku ucapkan banyak Terima kasih atas pengabdian kalian padaku"


Setelah acara, itu selesai, gusti prabu mempersilahkan aparat kerajaan untuk bekerja lagi kepada para punggawa kerajaan nya, agar tidak terbengkalai,


Dan ada tugas baru yang akan di berikan pada raden suryacalaka yaitu mantri panglima, luar desa dan kehutanan. dia di tugaskan mengawasi hutan wilayah kerajaan nirwana cakrabuana, agar jangan sampai di ganggu kedaulatan nya oleh kerajaan lain yang mencoba-coba, mengambil nya ataupun merusak hasil alam nya.


Dan untuk kandidat putra mahkota itu tidak bisa di bicarakan, karena raden wira masih bersikukuh, dengan pendirian nya, tersebut.


Di lain tempat, raden askara dan ki arja kencana, sedang berbincang, serius di perataran halaman istana.


Ki arja kencana, berencana untuk menikahkan anak nya nyi mas ayu ningsih dengan raden askara setelah, nyi mas ayu, melahirkan anaknya tersebut.


Namun raden askara, meminta agar langkah ini di bicarakan terlebih dahulu dengan nyi mas ayu ningsih terlebih dahulu.


Karena raden askara takut nyi mas akan tersinggung dan merasa, di perjual belikan oleh ayahandanya sendiri.


sedangkan raden askara memang masih mencintai dan menyayangi mantan kekasih nya tersebut, tas itu tidak hilang dan kekal abadi, walaupun dirinya di khianati oleh kekecewaan beberapa tahun silam. atas pernikahan nya, dengan raden Arya.


Wasta kencana, sang panglima prajurit, pun. mendukung tindak tanduk, raden askara yang lebih mementingkan adab di bandung nafsu duniawi nya.


"Aku salut padamu raden askara"


"Kau panutan ku, ucap nya"


"Jangan terlalu berlebihan, wasta kencana, ucap raden askara"


"Aku mengatakan sejujurnya raden, ucap wasta kencana"


Wasta kencana salut, akan kepribadian, raden askara dia tidak egois akan, rasanya itu.


dia memikirkan, efek dari setiap tindakan yang dia lakukan, karena mungkin, kehidupan di dalam istana, harus patuh dan taat atas segala peraturan yang di buat oleh sang gusti Maha prabu sura jalu sudarsana.


Bila tidak kita akan menerima konsekuensi dan hukuman nya.


Aku pun, mengambil kesimpulan seperti itu. walaupun mungkin tidak seirama dengan hati, itu adalah bentuk pengabdian kita pada kerajaan nirwana cakrabuana.


mungkin, kita seperti burung yang ada di dalam sebuah sangkar, yang tidak bisa berbuat banyak. tidak seperti burung liar yang bebas terbang di alam bebas.


Bebas, untuk singgah di mana saja, tidak seperti kita yang terikat dalam sebuah, koneksi , bila kita melanggar efeknya akan sangat fatal. dan merugikan banyak pihak. bukan diri kita sendiri saja.

__ADS_1


__ADS_2