Di Luar Tembok Kerajaan Nirwana Cakrabuana

Di Luar Tembok Kerajaan Nirwana Cakrabuana
Panglima prajurit wasta kancana


__ADS_3

Aku tak mengira wasta kancana bisa berubah drastis dan dia sekarang sudah di angkat menjadi panglima prajurit kerajaan Nirwana cakrabuana. karena berkat, nama baik mendiang ayah nya dan desakan jasa eyang lingga pada ayahandaku sang Maha prabu Sura malu sudarsana. dia angkatlah dia menjadi panglima prajurit perang, dia nampak berwibawa dengan baju khas kerajaan, dan pangkat nya yang baru. aku sangat senang atas perubahan dia.


Dia akan menjadi seorang panglima tempur yang gagah dan pemberani.


Sedangkan aku sendiri, masih berkutat dengan padepokan cakrawala.


Dia sesekali sering mengunjungi kami di padepokan dengan rakak ku Raden Arya Wijaya kusumah.


Mereka tak pantang menyerah untuk membujuk ku pulang ke istana atas desakan ayahanda dan ibundaku sendiri.


Namun seperti biasa, tekan ku dan keputusan ku tidak bisa di ganggu gugat dan tidak akan goyah sedikit pun. itulah sikap seorang Ksatria teguh dan kukuh terhadap sumpah serapah nya sendiri.


Dan sedangkan aku sedang sibuk menyusun rencana, bersama rakak askara, untuk melanjutkan misi yang tertunda yaitu membekuk ki rawa daksa dan para komplotan nya.


Aku mendengar kabar, bahwa ki rawa daksa, sedang berada di lingkungan istana Nasta tinggal, dia di sembunyikan dan di lindungi sebagai tameng benteng kokohnya kerajaan mereka.


Maka dari itu eyang lingga menyuruhku, menyamar sebagai seorang pedagang saja. akar bisa mengelabui mata-mata dari kerajaan Nasta tunggal.


Rakak askara pun menyetujui nya, kami sekarang menyamar , sebagai seorang pedangang.


"Ayo rayi kita lanjutkan misi penting ini"


"Siap rakak, Aku pun cuku antusias dengan hal ini"


"Akhirnya eyang lingga, memberikan kita restu"


"Tentu saja rayi, ayo kita ambil kuda tunggang kita"


Kami pun, sekarang sudah tiba di sebuah kadipaten panyingkiran, daerah kekuasaan kerajaan Nasta tunggal.


Kadipaten ini sangat luas dan subur makmur, karena banyak nya kadang dan sawah, serta dekat dengan sebuah pasar tradisional.


"Rayi kita berdagang di sini saja"


"Siap rakak, aku ikut saja"


Kita menggelar tikar dan langsung, berbenah akan barang yang akan di dagangkan kami berdua, yaitu lada, sayuran, dan pisang, itu hasil alam yang kami dapat dari ladang eyang lingga.


Kami di Terima dengan baik oleh orang-orang pribumi, terutama dusun lebak gede.


Rakyat nya sangat ramah sekali walaupun kami bagi mereka adalah orang asing.


"Sampurasun kisanak"


"Rampes, kalau boleh tau dari ,


mana kisanak berasal"


"Kami dari, dusun Harja mukti, dari kerajaan wangsa tunggal"


Aku sedikit berbohong, untuk keamanan kita, dan rakak askara pun, mendukung tindakan ku, ini sebagai taktik untuk, penyusupan kami.


Sebetulnya kerajaan wangsa tunggal sudah genting dan tidak kokoh lagi semenjak gugurnya sang Maha Raja nya dan Maha patih nya paman rangga welung yang aku binasakan sejak dulu kala.


Maka dari itu aku pastikan taji dari kerajaan itu ompong, dan maka dari itu dia meminta bantuan kepada kerajaan Nasta tunggal.


Namun aku sudah pastikan kekuatan mereka, tidak akan bisa menembus kokohnya benteng kerajaan Nirwana cakra buana.


Di tambah, lagi ada bala bantuan dari kerajaan, tatar pasundan, dan parahiangan.


Itu membuat mereka ketakutan.


Kami sudah beberapa hari berdagang di sini dan sejauh ini aman-aman saja.


Kami, menginap di rumah demang Arja kencana.


Dia memiliki seorang gadis cantik bernama, nyi mas Ayu ningsih, dan aku kira rakak askara terpikat oleh kecantikan nya itu.


Sebalik nya nyi mas ayu ningsih pun sama, tergoda oleh data pikat ketampanan rakak ku sendiri. kakanda Askara.


"Rayi aku mau berterus terang padamu rayi, raden wira"


"Ada apa gerangan, rakak"


"Aku malu rayi" (Sambil menggaruk-garuk kepalanya)


"Rakak ini, kaya sama siapa ,


saja"


"Aku ini adik mu rakak"


"Baiklah rayi, aku akan berterus,


terang padamu"


"Lekaslah rakak, apa yang membuat, hatimu gundah gulana"


"Kau bisa saja rayi" 😁 (Rakak askara menepuk pundak ku dengan kencang)


"Aduh rakak" 😒 ( tubuhku tersungkur ke tanah)


"Eh maap, rayi aku tak sengaja"


😁🤭🤭


"Ah rakak ini bercanda nya keter


laluan, aku baju ku jadi kotor"


"Sini rakak bersihkan"


"Sudah tidak apa-apa rakak"


"Maaf yah rayi" 🙏🙏🙏


Menurutku rakak askara, terlalu terbelit-belit hingga tak kunjung, berbicara terus terang.


"Rakak ini mau bicara atau tidak"


"Kali tidak aku mau ada perlu, dan mau pergi"


"Eh..... tunggu dulu rayi"


"Ya sudah lekaslah rakak"


"Sabar rayi, begini rakak ini" 😅


"Sudah jangan terbata-bata"


"Masa seorang pendekar,


gugup, perihal asmara"


"Hah.... rayi kau tau isi hatiku" 😁


"Aku jadi malu rayi"


"Rakak ini jatuh hati sama nyi mas ayu ningsih kan"


"Hebat.... tebakan mu tepat sasaran rayi raden wira" 😁


"Kalau rakak seorang lelaki sejati bicaralah, terus terang"


"Kau ini meragukan ku ya rayi"

__ADS_1


"Bukan begitu, rakak jangan,


marah, dan tersinggung dulu"


"Lantas perkataan mu barusan


apa"


"Iya maksud rayu bicaralah,


ungkapkan, isi hati rakak"


"Baik, itu akan aku utarakan,


secepatnya rayi"


Aku pun lantas pergi dulu, ke dusun, randu jati, tetangga dusun lebak gede, tak jauh dari sini, hanya untuk membeli golok dari seorang pandai besi yng terkenal di daerah sini, nama nya ki walugar jampring. konon dia adalah seorang bubuyut kasepuhan daerah sini. dan sangat di segani.


"Ya sudah rayi, kalau kau mau pergi silahkan saja"


"Awas, penyamaran kita terbongkar"


"Doakan saja rakak"


"Iya rakak mau di sini saja"


"Mau membantu membelah


kayu bakar, buat ki Demang"


"Iya rakak, silahkan"


"Ingat pesanku rakak"


"Apa rayi rakak lupa"


"Ah rakak, lupa atau takut" 😁


"Awas kau rayi" 😠 (rakak melempar ku dengan ranting kayu)


"Sampurasun rakak"


"Rampes"


Ah rakak askara, menurutku sangat lucu dan kian seperti anak kecil yang baru tau mengenal cinta saja.


Iya mungkin karena efek dari pengembaraan, yang panjang.


karena lama berlatih ilmu kanuragan sehingga, tidak pernah, merasakan ketertarikan dengan lawan jenis.


Itu yang dapat aku simpulkan, dari sikap dia sendiri.


kasian juga sih.


akhirnya tiba juga aku di daerah randu jati.


lantas aku menanyakan kepada orang sekitar dimana letak rumah nya ki walugar jampring.


"Sampurasun"


"Rampes, maap kisanak siapa"


"Aku berasal dari dusun lebak gede"


"Oh ada keperluan apa kisanak"


"Mau menanyakan, rumah ki


walugar jampring"


"Iya kisanak aku mau membeli golok"


"Dari ujung sini kisanak lurus dan ada pohon jati belok kanan"


"Terima kasih atas informasinya" 🙏🙏


"Sama-sama"


Aku pun melanjutkan perjalanan ini, dan sampailah ke tempat tujuan.


"Sampurasun"


"Rampes"


"Siapa kamu anak muda, aku ,


tidak mengenalimu"


"Maap ki walugar, aku dari dusun lebak gede"


"Oh iya ada keperluan apa"


"Aku ingin sekali membeli golok, buatan ki walugar"


"Ya sudah, lekaslah duduk anak muda"


"Terima kasih ki"


Di sana aku menunggu sebentar dan ki walugar datang, membawa perkakas buatan nya, keris, golok,pedang dan masih banyak yang lain nya.


"Lihatlah ini anak muda"


"iya ki walugar"


"Aku ingin ini saja ki"


"Oh itu ya sudah ambil saja"


"kau sangat pandai juga memilih dan memilah barang yang bagus"


"Ini berapa harganya ki walugar"


"Itu lima ketip saja"


"Karena aku kasian dengan mu"


Di sana aku memberikan uang lima ketip itu, dari hasil jualan ku berdagang, dengan rakak askara.


Aku langsung pulang lagi, ke dusun lebak gede, melewati lembah yang curam, dalam hati aku sangat senang bukan kepalang, karena niat ku, sudah terlaksana sedemikian rupa.


Tapi hal yang tidak di inginkan itu terjadi di dalam perjalananku pulang, aku di jegat, oleh gerombolan pemuda yang sedang minum-minuman tuak, dan mabuk-mabukan.


dia meminta harta benda ku seperti uang dan golok ku. namun itu tentu saja tidak aku kabulkan sama sekali.


"Hai orang asing serahkan harta


benda mu"


"Atau nyawamu melayang"


"Maap raden bolehkah aku ikut melewati jalan ini"


"Apa kau bilang"


Ha... Ha.... Ha....

__ADS_1


Gerombolan orang itu, tidak bisa aku hargai lagi, aku sudah bebudi arif padanya dan menghormatinya, namun dia tidak merespon nya dengan baik, malah semakin menjadi-jadi.


Aku di keroyok dan lantas aku hanya membela diri, namun aku tak mengeluarkan tenaga dalam ku, karena gerombolan itu tidak memiliki ilmu kanuragan yang sangat tinggi, hanya sekedar gerombolan rakyat jelata saja.


Semua nya sudah terkapar tidak berdaya, dan mereka ketakutan,lalu lari terbirit-birit.


Namun ada satu yang tersisa, aku tangkap dia dan berupanya,


memperingati nya.


"Ingat kalau kau masih bersikap kurang ramah terhadap orang asing akan aku habisi kalian"


"Maap kisanak"


"Ampun..... ampun.... ampun"


Dengan rasa iba dan kasihan yang aku miliki, ku lepaskan dia, dan melanjutkan perjalanan menuju, dusun lebak gede.


Setelah tiba di sana aku lihat rakak askara masih, sibuk membelah kayu, dengan patik nya itu.


"Sampurasun rakak"


"Rampes"


"Eh rayi kau cepat sekali tiba di


sini"


"Iya rakak, ini berkat doa rakak askara"


"Ah kau bisa saja rayi"


Aku, lelah dan memutuskan beristirahat.


Ku lihat dari kejauhan, nyi mas ayu ningsih semakin dekat dengan rakak askara, dia asyik berbincang dengan sinar mata yang penuh gejolak asmara.


Aku hanya memperhatikan nya dari kejauhan.


Namun aku takut, rakak askara tidak sigap dan terkesan ceroboh, karena setahu ku orang yang sedang di mabuk asmara, rata-rata , tidak waspada.


Dalam artian waspada itu, banyak sekali, pikiran nya akan terbagi-bagi menjadi kepingan


kepingan bagian. dan yang di pikirkan hanyalah cinta dan cinta.


Sebaiknya aku yang harus mengingatkan nya agar dia tidak tergelincir , dan jatuh dalam jurang kesengsaraan hidup.


Dia rupanya melihat ku melamun.


"Hai rayi kenal kau melamun"


"kau rindu nyi mas citrakala yah"


"Ah rakak, askara bisa saja"


"Nyi mas citrakala itu siapa, raden ucap, nyi mas ayu ningsih"


"Itu kekasih raden wira sekaligus, Rayi ku sendiri nyi mas, ucap rakak askara"


"Oh begitu, pasti orang nya cantik ya raden"


"Iya tidak kalah cantik nya dengan mu nyi mas"


"Ah kang mas askara, bisa saja"


"Benar nyi mas apa yang aku katakan"


Lantas aku meninggalkan mereka, dalam sentuhan-sentuhan maghligai cinta.


Aku bergegas mandi ke kali, yang berada di sebrang dusun lebak gede.


Di sana aku mendapatkan kabar berita burung dari, masyarakat sekitar tentang adanya pemberontakan terhadap kerajaan Nasta tunggal.


Dan aku coba mengorek-ngorek nya.


"Maap kisanak, boleh kah aku,


bertanya"


"Iya silahkan"


"Tadi aku mendengar dengan


tidak sengaja percakapan,


kalian"


"Siapa kisanak ini, lancang sekali"


"Aku saudaranya demang lebak gede"


"Oh maap raden, saya kira raden bukan golongan orang priyayi, dan keturunan darah biru"


"Tidak mengapa"


"Maap raden aku lancang sekali"


Warga pribumi, pun terkejut saat aku berbohong tentang jati diriku. aku mengaku sebagai saudaranya ki Demang, dan lantas membuat, orang pribumi itu kaget dan terkesima.


Aku pun di ceritakan semua nya tentang pemberontakan itu,


Dan yang memberontak adalah, pasukan yang di pimpin kadek taruswara.


Dia katanya memiliki kesaktian yang luar biasa.


dalam hatiku, ini suatu, kesempatan, karena bisa menyusup, dengan keadaan ini.


Ki rawa daksa, harus segera di bekuk. dan di binasakan.


Kadek taruswara pun katanya sempat bertarung dengan ki rawa daksa, namun tidak ada yang kalah dan menang dalam adu kanuragan itu.


dari situ aku simpulkan bahwa, kadek taruswara itu juga patut aku perhitungkan ilmu kedigdayaan nya.


Setelah selesai mandi di kali aku langsung pulang, dan beristirahat, dan langsung melakukan, semedi untuk berkomunikasi dengan eyang lingga buana.


Dalam gelap gulita nya malam, aku berkomunikasi dengan eyang lingga, secara batin.


"Wahai murid ku raden wira, ada


apa kau memanggil sukma ku"


"Sembah sujud eyang lingga"


"Aku sedang gundah atas berita taruswara"


"Kau harus percaya diri, raden, eyang percaya padamu"


Di sana aku menutup kontek raga sukma ku dengan ki lingga buana.


Dan merenung, akan apa yang beliau katakan.


Aku harus, percaya diri dan yakin akn kemampuanku.


Semoga sang Hyang Widi menyertai ku dalam tiap tindak tanduk ku, membasmi kebatilan yang, ada di daratan Jawa ini.


lantas, aku tidur, untuk beristirahat.

__ADS_1


besok, aku akan bergerak sendiri saja, karena rakak askara sedang sibuk dalam gejolak asmara nya, itu.


__ADS_2