
Tibalah raden wira sanjaya di hadapan ayahanda dan ibunda nya tercinta, tentu saja ibunda ratu nareswari, merasa bahagia karena bisa berjumpa dengan anak bungsu kesayangan nya itu. dia langsung memeluk putra nya, dengan dekapan kasih sayang seorang ibu.
Raden wira sendiri, membalas pelukan, kasih sayang ibu nya dan langsung berlutut di kaki ibu nya. lalu dia meminta tolong agar di sediakan air untuk membasuh kaki ibunda dan ayahnya tersebut.
"Rayi suryacalaka, apakah kau bisa
membantu ku ucap raden wira"
"Dengan senang hati rakak wira"
"Ada apa gerangan rakak?
"Tolong ambilkan air dengan untuk
membasuh telapak kaki ibu ku"
"Tunggulah rakak aku akan minta
tolong bi warsih"
"Ucap, raden suryacalaka"
"lekaslah rayi suryacalaka ucap raden wira sanjaya"
"Iya tunggu sebentar rakak wira"
Tak perlu menunggu waktu yang lama bi warsih pun langsung menyiapkan, permintaan raden suryacalaka atas permintaan raden wira sanjaya, di sanalah raden wira meminta ijin agar di berikan kesempatan untuk membasuh telapak kaki dari orang tua nya tersebut.
"Dengan penuh rasa hormat bakti
ku ibunda dan ayahanda prabu"
"Ucap raden wira sanjaya"
"Ada apa gerangan ananda wira
sanjaya ucap ayahanda nya"
"Ijinkan ananda untuk melakukan
ritual sembah bakti ku"
"Kau tak usah melakukan hal ini"
"Ucap ibunda ratu nareswari"
"Aku mohon ibunda dengan sangat"
"Baiklah, ananda wira ibunda dan
ayahanda mu menginjinkan"
Atas segala daya dan upaya, raden wira sanjaya akhir nya mendapat kan ijin, untuk membasuh kedua telapak kaki ibunda dan ayahanda nya. dia sendiri tak menyia-nyiakan kesempatan yang sangat langka ini.
Raden wira sanjaya, sangat telaten melakukan ritual sembah bakti nya ini. sontak saja keadaan istana kerajaan ini, serasa sepi sunyi dan mencekam, karena semua anggota punggawa kerajaan nirwana cakrabuana, terhanyut dalam situasi yang sangat sakral ini.
Ibunda ratu, tak kuasa meneteskan air mata nya. dan raden wira langsung mengusap nya dengan tangan nya, lalu di kecup lah air mata ibunda nya tercinta yang masih menempel, di jari tangan nya sendiri.
"Ibunda semoga doa ibunda
menyertai dalam setiap langkah
kehidupan ku"
"Ucap raden wira sanjaya"
"Pasti ananda wira ibunda selalu
mendoakan mu"
"Dan semoga apa yang kau perbuat
hari ini pada, ibunda dan ayahanda
mu, apa yang kau cita-citakan lekas
__ADS_1
terkabul"
"Terima kasih ibunda atas segala
dia dan kasih sayang mu"
"Kasih sayang ibunda, mu tidak
akan surut sepanjang masa"
"Jawab, ibunda ratu nareswari,
kepada radeb wira sanjaya"
Tibalah saat nya raden wira sanjaya membasuh kaki ayahanda nya tercinta, Gusti prabu sura jalu
sudarsana.
Dia bersimpuh penuh haru, atas segala kesalahan-kesalahan nya.
Dia mengutarakan segala keluh kesah nya, dan berlapang dada bahwa dia seorang anak yang tidak berbakti pada orang tua nya.
"Ananda sudah banyak berbuat dosa
pada ayahanda dan ibunda"
"Ucap raden wira sanjaya kusumah"
"Sudahlah ananda ayahanda sudah
memaafkan mu"
"Dan ayahanda tidak akan memaksa
mu lagi"
"Terima kasih ayahanda prabu"
"Ucap raden wira sanjaya kusumah"
Selesai sudah acara sakral itu, yang di ciptakan secara tiba-tiba oleh raden wira sendiri.
untuk, mendengarkan sepatah dia patah kata, di hadapan semua anggota keistanaan.
Gusti prabu, mengutarakan bahwa dia sangat bangga padanya, karena sudah berjiwa ksatria untuk meminta maap, kepada nya. di tengah-tengah, selisih paham dan berbeda pendapat di antara kedua nya. dan tak lupa juga Gusti prabu
mengucapkan rasa Terima kasih nya karena sudah banyak membantu jalan nya sistem pemerintahan, di bidang pertahanan kerajaan nirwana cakrabuana, terlebih menumpas para pemberontak yang selalu mengacaukan, wilayah kerajaan teritorial nirwana cakrabuana.
Hal itu di sampaikan dengan rasa penuh hari dan bangga, bahwa dia sudah salah menilai pribadi putra mahkota nya tersebut.
Seluruh anggota punggawa istana pun, mengapresiasikan, perihal ini. dengan bertepuk tangan atas jalinan kasih sayang antara anak dan ayah yang sempat terputus, karena terhalang oleh sebuah ideologi dan prinsif nya masing-masing.
Tentu saja, raden wira sanjaya kusumah merasa, tersanjung dan bahagia bukan kepalang atas, segala apa yang di sampaikan oleh ayahanda nya tersebut di depan khalayak ramai, anggota punggawa
keistanaan nya tersebut.
"Sembah bakti ku ayahanda"
Raden wira sanjaya kusumah, bersujud dan bersimpuh lagi di hadapan ayahanda nya.
"Bangunlah ananda wira"
"Bangunlah lekas kembali
ke tempat duduk mu"
"Ucap, gusti prabu sura jalu
Sudarsana"
Dan bangunlah, raden wira sanjaya untuk lekas kembali ke tempat duduk nya itu, dia di bantu oleh raden suryacalaka.
"Ayo rakak sini biar aku bantu"
"Ucap raden suryacalaka"
__ADS_1
"Iya rayi, Terima kasih"
"Jawab raden wira sanjaya"
Raden suryacalaka, membantu memapang badan nya raden wira sanjaya kusumah, yang sudah terlihat lemah karena kesedihan dan kerapuhan hati nya itu.
Sementara itu ibunda ratu nareswari turun dari kursi singgasana nya.
hanya untuk, menenangkan kondisi mental anaknya tersebut.
Dia mengusap-usap kepala raden wira sanjaya kusumah.
"Sudahkah ananda jangan larut
dalam kesedihan mu"
"Ibunda dan ayahandamu sangat
bangga padamu"
"Percayalah itu nak"
"Ucap ibunda ratu nareswari"
Deraian air mata raden wira sanjaya dan ibunda ratu nareswari, tidak bisa di bendung lagi.
Nyi mas citraloka sebagai kakak kandung nya pun memberi dukungan penuh untuk sang adik tercinta.
"Sudah lah rayi wira kau harus tegar"
"Iya rakak ucap raden wira sanjaya"
Raden askara dan Nyi mas ayu dewi sebagai kakak ipar nya, tak ketinggalan untuk memberikan support dan dukungan nya.
agar raden wira, tidak berlarut-larut dalam kesedihan nya.
Dia melihat ponakan nya yang masih balita itu, dia adalah anak kandung mendiang kakak nya yang telah lama meninggal, yaitu raden Arya sanjaya kusumah.
Ponakan nya itu sangat mirip sekali wajahnya dengan kakak kandung nya sendiri.
"Rakak boleh kah aku gendong
ponakan ku ini"
"Ucap raden wira sanjaya"
"Tentu saja boleh jawab raden
askara padanya"
Lantas di berikan lah, bayi itu kepada raden wira sanjaya.
Raden askara, adalah ayah sambung dari ponakan nya raden wira sanjaya.
Tapi raden askara memperlakukan nya seperti anak kandung nya sendiri.
"Rakak kalau boleh tau siapa nama
nya?
"Nama dia raden adi darma sanjaya
kusumah"
"Jawab raden askara, pada raden
wira sanjaya kusumah"
"Luar biasa nama yang bagus rakak
ucap raden wira"
"Iya rayi ucap raden askara"
Besar harapan, ponakan nya itu akan tumbuh dewasa menjadi seorang pria yang tangguh dan berbudi pekerti luhur.
__ADS_1
Dan bisa melanjutkan perjuangan sang ayah nya tercinta. yaitu mendiang raden Arya sanjaya kusumah.
Dia sudah mempunyai feeling yang kuat, bahwa ponakan nya itu akan menjadi seorang raja di kemudian hari.