
waktu demi waktu dan hari demi hari sang Maha prabu terus mempelajari kitab pusaka itu secara telaten.
dia melakukan mati geni dengan melakukan tirakat.
sukma nya lah yang mempelajari ajian demi ajian yang tertera dan tertulis dalam kitab pusaka itu.
Sementara itu pusat pemerintahan di pimpin sementara oleh patih askara.
Namun sistem pemerintahan yang dia emban tidak berjalan mulus karena banyak sekali pertentangan entah di dalam lingkungan kerajaan ataupun di luar kerajaan nirwana.
para gerombolan-gerombolan semakin marak dan merajalela.
di tambah lagi musuh-musuh kerajaan yang semakin gencar ingin menundukan dan merebut wilayah kekuasaan kerajaan nirwana.
Senopati astabatarakala dan panglima jaka kelana pun tidak tinggal diam, mereka melakukan pergerakan agar umur kerajaan nirwana yang sudah di ujung tanduk ini terselamatkan.
Kini patih askara sedang berada di singgasana kerajaan di temani permaisuri ayu ningsih.
"Sembah hormat ku patih askara"
"Ucap panglima jaka kelana"
"Iya ada apa patih jakal kelana?"
"Tanya patih askara"
"Apa Maha patih tidak mendengar
kericuhan di luar kerajaan?"
"kerajaan kita seperti di pecundangi
oleh para musuh-musuh kita"
"Ucap panglima jaka kelana"
Mendengar ucapan itu patih askara termenung hening dan berdiam diri.
sehingga para punggawa kerajaan lain sedikit menerka-nerka dengan apa yang sedang terjadi.
Terlebih panglima wasta kencana yang sedikit kesal atas sikap Maha patih nya tersebut, yang di anggap tidak mempunyai nyali dan keberanian yang besar atas sikap apatis nya Maha patih askara.
"Kalau Maha patih mengijinkan biar
hamba yang bertindak sendirian
saja"
"Ucap panglima wasta kencana"
"Apa engkau menganggap ku lemah
dan tidak berdaya wasta kencana?"
"Maha patih askara naik pitam atas
omongan wasta kencana tersebut"
"Lantas apa yang ingin kau lakukan
wahai Maha patih askara"
Kondisi kerajaan semakin memanas akibat perdebatan adu argumen antara Maha patih askara dan para punggawa kerajaan lain nya.
Terutama sang panglima perang wasta kencana yang terlihat sedikit geram atas sikap nya Maha patih askara yang dengan sengaja tutup mata dan telinga atas kericuhan dan keributan di luar gerbang kerajaan nirwana cakrabuana.
Senopati astabatarakala datang sebagai penengah agar kondisi ini tidak semakin memanas dan meruncing.
Dia mencoba meredamkan emosi dari kedua belah pihak agar jalan keluar bisa di temui dengan baik. Dan benar saja beliau berhasil dengan segala tindak tanduk usaha nya.
Keputusan secara mufakat telah terjadi dengan persetujuan kedua belah pihak.
Yaitu pihak kerajaan nirwana akan mengirimkan pasukan prajurit untuk menjaga kedaulatan wilayah kerajaan nirwana, di kadipaten waringin jati kulon dan wetan.
Dengan fokus utama di perbatasan wilayah dekat kerajaan parukuyan yang di kuasai raja darusa lingga. yang terkenal dengan sistem pemerintahan secara Radikal dan tamak.
panglima jaka kelana di beri mandat dan tugas untuk berjaga di sekitar tugu gerbang kadipaten waringin jati kulon.
sedangkan panglima wasta kencana sebaliknya bertugas di kadipaten waringin jati wetan.
Maha patih askara kini lebih merespon lagi. atas apa yang terjadi dengan polemik dan huru hara di wilayah kekuasaan nya.
Dia berharap prabu wira sanjaya kusumah. segera membereskan tirakat mati geni nya.
Karena beliau merasa mempunyai beban yang sangat berat akan yang sedang dia pikul saat ini.
__ADS_1
jabatan tahta kerajaan tidak semanis yang dia pikirkan selama ini.
begitu berat dan sangat amat berat . namun ini bukan sebuah kebetulan saja.
Ini sudah menjadi kehendak sang Hyang Widi bahwa beliau sudah ada titis tulis nya, untuk duduk di singgasana kerajaan walaupun bersipat hanya sementara waktu saja.
Berat badan nya menurun drastis akibat tekanan lahir batin yang beliau dapatkan.
Namun beliau berusaha tegar dan kuat agar tidak mengecewakan sang Maha Raja wira sanjaya kusumah.
Dalam raga sukma beliau berkomunikasi dengan sang Maha Raja wira sanjaya kusumah.
Dalam komunikasi nya sang Maha raja wira sanjaya, meminta maaf kepada patih askara karena sudah memberikan tugas yang sangat berat.
Dalam perbincangan itu nampak Maha patih askara meneteskan air mata, karena kelemahan nya dan sudah mengecewakan kepercayaan dari raja wira sanjaya kusumah.
"Hamba minta maaf gusti prabu
wira sanjaya🙏"
"Sambil berlutut di hadapan gusti
prabu wira sanjaya"
"Bangunlah patih engkau kuat dan
pasti mampu mengemban tugas
berat ini"
"Ucap Gusti prabu wira sanjaya"
"Sebentar lagi aku akan bangkit dari
tirakat panjangku"
"Bersabarlah dulu dan lebih sabar
lagi Maha patih askara"
"Ucapnya gusti prabu wira sanjaya"
Setelah itu sosok gusti prabu wira lenyap dan menghilang dari perbincangan nya dengan Maha patih askara.
Dia sudah mempelajari kitab astawiguna.
Kitab pusaka milik mendiang empu caraka jaya yang tidak lain sepupu dari mendiang eyang lingga buana.
yang notaben nya adalah sesepuh dari kadipaten waringin jati kulon.
Di lain waktu dan tempat Maha patih askara mendengar kabar bahwa panglima jaka kelana berhasil membekuk para pemberontak kerajaan dan berhasil membawa dan meringkus nya untuk di bawa ke hadapan nya.
"Sembah hormat Maha patih askara"
"Ucap panglima jaka kelana"
"bagunlah Maha patih jaka kelana"
"Aku Terima sembah hormat mu itu"
"Ucap Maha patih askara"
"Hamba berhasil membawa dua
cecunguk liar itu"
"Dia sudah ku beri pelajaran"
"Aku sangat kagum dan bangga
padamu jaka kelana"
"Ucap nya patih askara'
Dan jaka kelana menggiring dua orang pemberontak yang sudah di ikat tangan nya itu.
dia kini sudah berhadapan dengan Maha patih askara.
Dan Maha patih askara turun dari singgasana megah nya itu.
lalu tangan nya menarik dagu dari salah satu pemberontak itu.
"Jangan menunduk"
"Ucap patih askara"
__ADS_1
"Kau siapa dan suruhan siapa"
"Hamba dari kadipaten Tirta wening"
"Lalu mengapa kau membuat onar
dan kericuhan di wilayah ku"
"Ucap patih askara"
"hamba di suruh Maha patih"
"Ucap nya pemberontak itu"
Dalam hati patih askara langsung kepada kerajaan parukuyan yang tidak lain suruhan dari raja bengis dan biadab darusa lingga.
"Kau pasti suruhan raja darusa
lingga"
"jawab?"
"Mengapa diam?"
"Ayo lekas jawab"!!
Namun dua pemberontak itu malah semakin menundukan kepala nya. dan tidak bergeming sekalipun juga.
Namun Maha patih askara tidak kehilangan akal agar dua pemberontak itu berbicara dengan yang sebenarnya.
Ancaman hukuman mati akan di lakukan bila mereka tidak berterus terang padanya.
"Baiklah bila kau masih berkeras
hati"
"Sekarang juga akan ku hukum
pancung"
"Ucap Maha patih askara"
"Ampun-ampun gusti patih"
"kasihani kami berdua ampun" 🙏
"Ucap nya"
"Lantas berterus teranglah kalian
berdua"
"Ucap Maha patih askara"
"Baiklah Gusti patih askara"
"Kami akan berterus terang padamu"
"Ayo lekas katakan dan jangan
buang-buang waktu ku secara cuma
cuma"
"Iya gusti patih kami suruhan kerajaan parukuyan"
"Hiyaaaaaaat....... brug"
"Argggggggth.... ampun gusti patih"
Maha patih askara menendang salah satu dari mereka karena jengkel dan marah, dengan tindakan dan ancaman yang di lakukan pihak kerajaan parukuyan.
"Jembloskan mereka berdua ke
penjara bawah tanah"
"Baiklah Maha patih"
"Ucap panglima jaka kelana"
para pemberontak itu di giring secara paksa dan di jebloskan ke penjara bawah tanah.
di sana mereka akan menderita dan mempertanggung jawabkan segala perbuatan nya.
Ini adalah balasan setimpal untuk para pemberontak kerajaan nirwana cakrabuana.
__ADS_1