Di Luar Tembok Kerajaan Nirwana Cakrabuana

Di Luar Tembok Kerajaan Nirwana Cakrabuana
Tileum nya eyang lingga buana di Gunung gelap ngampar


__ADS_3

Mungkin, tidak banyak yang mengenal kata istilah tileum, dalam artian konotasi lain.


kebanyakan mengartikan, tileum adalah tidur atau beristirahat tidur, namun istilah tileum bagi para pendekar sakti, mandraguna, adalah proses menghilang nya, dirinya meninggalkan hiruk pikuk keramaian alam dunia, mau percaya atau tidak, itu tergantung kepribadian kita masing-masing.


tari ulur akan persepsi di kalangan masyarakat menjadi bahan geger genjik.


Seperti akan hal nya, berita tentang eyang lingga buana ini. mungkin semua, lapisan kalangan di dunia persilatan akan merasa kehilangan. akan sosok kepribadian nya.


yang terkenal arif dan bijaksana.


Namun sebelum dia berniat meninggalkan dunia yang fana ini.


Eyang lingga sudah, memikirkan nya dengan matang-matang, usia nya sudah mencapai lebih dari seratus tahun. dan dia sudah merasakan cukup akan kehidupan duniawi, yang tidak akan ada puasnya.


Pada malam jum'at kliwon, dan dalam keadaan bulan purnama. eyang lingga buana. pergi meninggalkan padepokan cakrawala. untuk pergi menuju gunung gelap ngampar.


beliau sudah mewanti-wanti pada murid nya, asta barata kala. sebagai pewaris pimpinan padepokan cakrawala.


Dia menitipkan, cucunya ke mak lasmanah mantan kekasih nya. sehingga nyi mas citrakala dan nyi mas larasati bisa menjadi saudara angkat.


Namun hati nya belum tenang, karena belum bisa bertemu dengan murid kesayangan nya raden wira sanjaya, yang sedang berkelana mengembara menemukan jati diri dia yang sebenarnya.


Maka dari itu dia, akan melakukan meditasi secara raga sukma untuk bertemu dengan raden wira secara alam roh. dan hanya ini jalan satu-satu nya.


Tibalah eyang lingga buana di gunung gelap, tempat menggembleng murid nya raden wira, tempo dulu kala.


Dia sudah duduk di sebuah batu yang besar, bernama batu amparan, atau sering di sebut batu ngampar yang terletak di dalam guha gunung gelap ngampar.


Eyang lingga buana, melakukan meditasi.


Terhanyut dalam kesunyian, malam, yang tiada berujung.


Tak terasa ia di sana sudah mencapai seratus hari lama nya. dan waktu nya dia memberi tahu kan niat nya pada raden wira sanjaya.


"Sampurasun raden"


Raden wira, terbangun dari mimpinya dan dia, menengok kanan kiri tapi tidak ada orang satu pun juga.


"Ini eyang lingga raden"


Nampak jelas, suara itu ke telinga raden wira, dan dia langsung meditasi, karena sudah ada hubungan secara ilmu kebatinan yang di turunkan eyang lingga buana.


Dan mereka, kini bisa bertemu, di sebuah hutan belantara yang bernama leuweung panineungan. kalau di artikan bermakna, hutan yang selalu di rindukan.


"Eyang guru dia bersujud, pada


kaki eyang lingga buana"


"Eyang, maafkan aku, eyang" 😭


"Sudah, muridku, eyang sudah


memaafkan mu"


"Eyang sebentar lagi akan,tileum"


"sekarang kau lekas menghadap ke arah barat"


"Iya eyang" 🙏


Raden wira, menghadap barat dan di sana eyang lingga, mentransfer semua energi tenaga dalam nya.


ini proses, menurunkan sisa-sisa ilmu, kanuragan nya.


Sebagai kenang-kenangan, untuk terkakhir kali nya.


"Terima kasih eyang lingga"


"Dalam dariku untuk eyang sagara cipta"


"Akan aku sampaikan eyang" 🙏


"Eyang pesan jagalah dirimu baik-baik"


"Pasti eyang aku akan selalu

__ADS_1


menjaga diriku"


"Kedua eyang titip padepokan dan cucu eyang nyi mas citrakala"


"Doa eyang selalu menyertaimu, murid ku raden wira"


"Sudah itu saja, sekarang kau lekas pergi dari sini"


"Eyang akan melanjutkan tirakat


peleburan diri"


Namun raden wira, melangkah dengan keraguan, karena akan di tinggalkan sosok guru pertama nya, serta panutan nya selama ini.


"Lekaslah pergi raden sebelum suara ayam jantan berkokok"


"Ucap, eyang lingga buana"


Dan dengan ras penuh kepiluan raden wira, pergi dengan sesekali menengok ke arah belakang, namun semakin raden wira melihat dan menengok nya, kian terlihat samar di pandangan mata nya.


Dan menghilang, tanpa jejak.


Lalu roh sukma dari raden wira kembali menyatu dengan raga nya sendiri. dan dia sekarang memejamkan mata nya.


lalu mulai menyadari bahwa yang terjadi barusan adalah bukan sebuah mimpi dan khayalan saja.


Dia tidak melanjutkan tidurnya sampai esok pagi. dia akan ijin kepada eyang sagara, untuk mengunjungi kadipaten waringin jati, dan padepokan silat cakrawala milik eyang lingga, karena dalam hati dia masih bertanya-tanya dan penasaran akan kejadian tadi malam.


"Maap eyang sagara kalau boleh aku ijin untuk mengunjungi padepokan cakrawala"


"Silahkan raden,dan memang ilmu ku sudah habis ku turunkan padamu"


"Jadi kau lanjutkan saja pengembaraan mu itu"


"Terima kasih eyang sagara"


"Aku mohon pamit"


"Nyi mas dewi aku ijin pamit"


"Iya raden wira" 😭


Dia tampak bersedih hati dan berderai air mata.


Raden wira, pun tak kuasa melihat Nyi mas dewi kemuning menangisi kepergian nya.


"Tenang saja Nyi mas aku akan sering ke sini, kalau ada waktu"


"Aku akan terus pengembara,


menjelajahi nusantara"


"Iya kang mas, kau jaga diri baik


baik"


"Iya kau juga, jaga dirimu baik


baik dan eyang sagara"


"Sampurasun" 🙏


"Rampes"


Lantas, pergilah raden wira, dengan kuda tunggang nya itu.


dia sudah tidak sabar, ingin mengetahui, kondisi kadipaten waringin jati dan kadipaten merak dampit, seperti apa sekarang, begitulah kira-kira.


Yang raden wira ingin kan dalam hati nya, tersebut.


Tok tak tok tok tak tok tak.


Suara, tapak kaki kuda tunggang nya nampak nyaring terdengar, hingga ke daun telinga raden wira sanjaya.


Hiyaaaaaat....... hiyaaaaaat.... Crut...... crut...... crut........

__ADS_1


Suara, pecutan kuda, tampak menggelegar, berbaur dengan suara teriakan raden wira yang menyemangati kuda tunggang nya.


Dia memecut kuda tunggang nya itu, secara terus menerus untuk mengeluarkan rasa semangat nya, untuk segera sampai ke wilayah kadipaten waringin jati. Perjalanan itu cukup melelahkan raden wira sudah mengarungi perjalanan. selama kurang lebih empat hari.


Dia masih, berada di wilayah, gunung manglayang.


Entah berapa lama lagi dia akan sampai ke wilayah kadipaten waringin jati.


perbekalan makanan dan minuman pun sudah semakin menipis.


Untung saja,raden wira di berikan makanan di daerah kadipaten susuk rarancang, oleh saudagar asal, teluk malaka. dia sangat berbesar hati, memberikan makanan dan minuman pada raden wira setelah raden wira menyelamatkan nya dari gerombolan para penjahat.


Dan akhirnya denga susah payah nya, raden wira menginjakan lagi telapak kaki nya di tanah kelahiran nya, yaitu wilayah kadipaten waringin jati. wilayah kerajaan nirwana cakrabuana.


Kini dia mengunjungi padepokan cakrawala,


Dia turun dan lompat dari kuda tunggang nya.


Hiyaaaaaaaat.....


Brug.....


Raden wira menginjakan kaki nya lagi di tanah kelahiran nya.


Dia nampak terkejut karena sudah banyak perubahan yang drastis, di sekeliling nya.


"Sampurasun"


"Eyang..... eyang..... ucap raden wira sanjaya"


"Rampes"


Dan keluarlah, seorang, asta barata kala, mungkin raden wira lupa akan dirinya karena, saat raden wira, meninggalkan,


padepokan cakrawala, asta barata kala hanya seorang pendekar yang tidak di perhitungkan sama sekali, ilmu silat kanuragan nya.


Namun berkat kerja keras nya dia bisa membuktikan bahwa dia mampu, berubah menjadi lebih baik lagi.


"Apakah rakak masih mengenaliku?


"Ucap, asta barata kala"


"Engkau barata kala yah"


"Betul rakak, tebakan mu, tidak


meleset"


Akhirnya mereka pun saling bercengkrama, dan saling berpelukan hangat.


Dan asta barata menceritakan apa yang terjadi sebenarnya kepada eyang lingga itu benar adanya.


Dia sudah tileum di gunung gelap ngampar.


Dan sudah mewariskan nya,


padepokan cakrawala kepada asta barata kala.


lalu asta barata kala, menyampaikan, pesan dari Nyi mas citrakala, sang kekasih pujaan nya, itu.


Agar menyusul nya ke kediaman rumah mak lasmanah.


Sontak saja, raden wira terpukul bahwa kejadian, tempo hari itu memang bukan sebuah khayalan saja.


Raden wira pun menceritakan perihal kejadian aneh yang menimpa nya. dan menurut asta barata kala itu, adalah sebuah kenyataan. karena memang dari jauh-jauh hari eyang lingga selalu, mengharapkan kedatangan raden wira sanjaya.


Sebuah rasa penyesalan itu datang dari lubuk hati yang paling dalam, kenapa dia tidak ceoat-cepat untuk menemui eyang lingga buana.


Namun, keadaan ini sudah terlanjur, nasi sudah jadi bubur ibarat kata peribahasa mengatakan.


Dia pun berniat untuk mengajak, asta barata kala ke tempat petilasan nya, eyang lingga buana. di gunung gelap ngampar.


Namun, itu harus di rencanakan dalam matang-matang.


Asta barata kala, sangat senang sekali raden wira datang mengunjungi nya. dia sekarang seperti anak ayam yang di tinggal induknya. tak tahu bagaimana arah ke depan nya seperti apa dan mau apa? dan entah bagaimana?

__ADS_1


Ini menjadi polemik yang berkepanjangan.


akankah raden wira, membantu asta barata kala, untuk mencari arah jalan keluar dan mengubah sebuah tabir yang tak terpecahkan.


__ADS_2