
Hari ini hari yang ku tunggu-tunggu, iya hari di mana aku akan di latih dan di tempa oleh ki lingga buana, sang guruku, dia membawa, empat murid saja, yaitu Askara Wijaya, candrakala, indrakala, dan Aku sendiri Raden Adipati adiwira kusumah sanjaya.
Kami menyambut nya dengan gegap gempita, atau bisa di artikan menyambutnya dengan penuh kekompakan ruang gembira.
"Rakak Raden Wira kali ini aku,
lah yang akan mendapatkan,
ilmu, ajian bentar gelap itu"
"Ucap rayi candrakala, padaku"
"Dengan senang hati rayi" 🙂 🙏
Dan rakak Askara, hanya tersenyum saja, dan menepuk pundaku saja.
"Rakak Askara, buktikan bahwa kakak adalah yang terhebat di antara kami, ucap rayi,
indrakala"
"Kita semua hebat dan tidak,
ada yang, merasa lebih unggul"
"Ki lingga berkata, kalian ,
persiapkan diri, lahir batin"
"Sendiko rawuh ki lingga, ucap
kami semuanya"
Yang aku pikirkan, bukan lah masalah, mendapatkan ilmu warisan itu, yang aku pikirkan adalah bagaimana, aku menjadi yang terbaik, dalam versi ku sendiri, bukan untuk menyombongkan diri, bisa jadi akan ada sifat ke angkuhan, yang tentu saja itu adalah sebuah musuh nyata, dalam diri kita sendiri, itu saja yang aku sempurnakan, wejangan kyai, tunggul pancar selalu aku ingat dalam benak ku.
Sebelum aku berangkat aku meminta ijin pada ki lingga untuk melakukan meditasi terlebih dahulu, ini aku lakukan, untuk berkomunikasi dengan ibunda ku lewat, raga sukma, semoga saja aku bisa menemui nya, untuk meminta doa restu nya. agar keinginanku lekas tercapai tanpa ada halangan dan rintangan di depan nya.
Aku pun duduk dan melipat kedua kakiku, berkonsentrasi agar, bisa fokus untuk keluar dari raga ku.
Alhamdulillah atas ijin, sang Maha Kuasa, aku bisa melakukan nya, dan berjalan menuju istana.
Di dalam istana Nirwana itu aku lihat sedang riuh oleh aparat kerajaan, yang merayakan, kemenangan besar nya atas kerajaan Nasta tunggal, kerajaan Nasta tunggal, di pukul mundur oleh kedigdayaan paman patih Jayaledra Kencana alias Guntur bumi.
Aku sendiri tidak kaget lagi, mendengar kabar berita itu, yang aku pikirkan adalah, kondisi ibunda ku sendiri.
Dan aku lihat ibu sedang berbaring di tempat tidurnya di temani kakak perempuan ku nyi mas citra loka, syukurlah.
Dan aku sekarang, menghampirinya.
"Sampurasun ibunda ratu"
"Sembah sujud ku padamu"
Di dalam bawah sadar itu ibunda merespon nya.
"Ananda Raden Wira kau kah itu
nak, ibunda mu rindu sekali" 😭
"Iya bunda ini aku raden Wira anak mu tercinta"
"Ibunda baik-baik saja kan"
"Ibunda baik-baik saja nak"
"Ucap ibunda ku"
"Aku sedang membelah raga sukma, ibunda aku tidak bisa berlama-lama"
"Aku mohon doa restu mu"
"Mau pergi ke mana nak"
"Aku mau menempa ilmu tingkat tinggi di kaki gunung gelap"
"Restu dan doa ibu menyertaimu nak"
"Semoga kau selamat dan kembali dalam puncak keberhasilan mu"
"Nuhun sewu ibunda ratu"
"Sampaikan salam rindu dan
hormat baktiku pada ayahanda
Prabu sura jalu sudarsana"
"Aku pamit ibunda sampurasun" 🙏🙏🙏
__ADS_1
"Rampes Ananda raden Wira"
Dan aku pun lantas membalikan badan, lalu, memakai ajian halimun, agar segera, kembali ke dalam raga ku sendiri.
Sampailah aku, kembali ke raga ku itu, namun, yang nampak dalam hadapanku adalah, nyi mas citrakala, aku lantas menanyakan keberadaan, Ki lingga dan yang lain nya, dan dia mengatakan semuanya sudah pergi, dan aku di suruh untuk menyusulnya ke kaki gunung gelap itu.
"Baiklah nyi mas aku pamit dulu"
"Hati-hati raden, aku selalu merindukan mu"
"Sampurasun nyi mas citrakala"
"Rampes raden Wira"
Agar aku tak jauh lebih ketinggalan lagi aku, pakai ajian halimun agar, bisa tiba secara cepat, karena aku tidak membawa seekor kuda untuk di jadikan alat transportasiku.
Bismillahirrohmanirrohim,
lahaulawalaquataillabillah.
Akhirnya aku sampai dengan secepat kilat, dan di sana aku lihat, ki lingga sudah menunggu kedatangan ku.
"Sembah sujud dan baktiku guru"
"Bangunlah raden"
"Sembah sujud mu rakak Askara"
"Bangunlah rayi raden Wira"
"Kau tak perlu lakukan itu,
padaku rayi, itu berlebihan"
"Tidak sama sekali rakak Askara"
"Itu bakti hormat sang adik pada kakak nya sendiri"
"Tidak perlu rayi aku bilang"
Dan ki lingga pun langsung, menyuruh kami, melihat gerakan, ilmu bentar gelap yang akan di wariskan itu,
"Lihat gerakan ku dengan seksama"
"sendiko rawuh guru, ucap kami,
Aku lihat dan rasakan energi nya begitu kuat, dan akan menguras energi, ini tidak gampang bisa di lakukan, namun aku harus percaya diri akan kemampuan ku. semoga saja aku bisa dengan cepat menguasai, ilmu kanuragan bentar gelap itu.
Setelah, aku liat efek dari jurus ajian bentar gelap itu, sangat dahsyat sekali, sebuah batu besar dan pohon-pohon besar itu terkena sambaran nya, langsung rata dengan tanah.
Membuat bulu kuduk ku merinding sekali.
"lekaslah kalian mandi di air
terjun itu dan lakukan meditasi"
"Ucap ki lingga pada kami,
semua"
Aku, tak kebagian tempat, dan hanya, duduk di sebuah batu kecil dekat aliran sungai nya.
Namun itu tak menyurutkan tekad ku yang kuat sama sekali.
"Hai raden kamu pindah, ucap ki
lingga padaku"
"Baiklah ki ucap ku padanya"
Aku naik ke peraturan air terjun itu, dalam keadaan hujan, deras dan penuh dengan suara kilat yang menggelegar, namun yang bertahan hanya rakak Askara, dan aku sendiri, sedangkan candrakala dan indrakala memilih untuk berteduh dan menyelamatkan diri masing-masing.
"Hai candrakala apa yang kau
perbuat,tanya ki lingga"
"Ampun ki aku takut mati"
"Sudah kau kesini bersama,
adik mu indrakala.
"Kau sudah gugur dalam hal ini"
Aku masih berkonsentrasi penuh, dan sambaran petir itu menyambangi kita berdua, badan ini teras gemetar, namun dalam hati aku tidak mau gagal dalam hal ini. perjuangan ku sudah dalam fase setengah jalan.
Dan tiba-tiba guyuran hujan dan petir itu mulai mereda, dengan sendirinya.
__ADS_1
Namun tak ada tanda-tanda bahwa, meditasi Ini sudah selesai.
Ki lingga pun, ku lihat sedang meditasi penuh dan menyalurkan tenaga dalam nya pada kami berdua.
Hari sudah gelap, dan kami masih berada di sini.
Satu minggu sudah, dua minggu sudah hingga, sekarang mencapai 40 hari kami berdua masih di sini, dan aku lihat tubuh kita sudah di lumuri rumput liar. keliatan nya rakak Askara sudah lemas, dia sudah terkapar dan tidak bisa berdiri lagi, aku sendiri khawatir akan keadaanya.
Konsentrasi ku terganggu, dengan adanya dia seperti itu,
Hingga datanglah, Ki lingga menyambangi kita berdua.
"Sudah kalian lulus, dalam,
petapaan ini"
"lekas kalian berdiri"
"Dan aku membantu rakak ku ,
Askara yang sudah hampir,
mati"
Kami sekarang sudah ada di dalam hutan dan di beri ramuan oleh ki lingga buana agar, kami bisa, sehat kembali.
"Minumlah, ramuan ini"
"Sekarang kalian stabilkan dulu
tenaga dalam nya"
Aku masih bisa sedangkan rakak Askara sudah tidak bisa bergerak lagi.
"Rakak..... Rakak..... Rakak.... "
"Ucapku, aku panik bukan,
bukan kepalang"
Dan ki lingga pun menyuruh kita untuk berkerja sama menyalurkan energi tenaga dalam untuk nya, itu pertolongan pertama, agar nyawa nya terselamatkan.
Aku pun tak menunggu lebih lama lagi, segera melakukan nya, dan sekarang dia bisa begerak kembali atas ijin yang maha kuasa
"Terima kasih rayi raden Wira"
"Aku berhutan budi dan nyawa,
padamu"
"Tidak rakak, nyawa itu urusan,
sang Maha pencipta alam,
semesta"
"Dan aku hanya perantara saja"
Dia merangkul ku, dengan penuh haru dan isak tangis, rakak Askara tidak bisa membendung air matanya, dia sangat berterima kasih padaku.
"Ayo rakak aku bantu kau berjalan"
"Baiklah rayi Terima kasih"
Dan, aku, sekarang harus memakai ajian halimun untuk segera pulang ke padepokan cakrawala,
Di sana aku di sambut, seperti menyambut pahlawan perang kerajaan,para pendekar cakrawala tak henti-hentinya, bertepuk tangan, atas kehadiran kami di sini kembali.
Ini tak pernah aku bayangkan sama sekali sebelumnya.
"Selamat yah Raden Wira ucap
nyi mas citrakala"
"Iya nyi mas ucapku"
Lantas aku, sekarang mengantarkan, rakak Askara ke kamar nya untuk beristirahat.
Dan aku sendiri langsung bergabung dengan para pendekar lain nya, termasuk indrakala, dan candrakala.
"Rakak raden Wira aku gagal"
"Kau harus mencoba nya lagi"
Aku berikan sebuah motivasi buat yang lain nya agar dalam melakukan sesuatu, harus bersungguh-sungguh dan tidak main-main, dan yang paling penting, adalah libatkan doa dari orang tua kita, niscaya, puncak keberhasilan itu akan mudah, untuk kita dapatkan.
Tuhan tahu mana yang terbaik dan mana yang pantas ia berikan pada mahluk ciptaan nya. itulah kehendak Tuhan, kewajiban kita hanyalah berusaha, berikhtiar, berdoa, dan bertawakal, dan bersyukur, atas karunia nya.
__ADS_1