
Tak terasa waktu begitu cepat berlalu, dan tentu saja ini sebuah hadiah yang terindah bagi seorang Gusti prabu wira sanjaya, karena dia Sudah memiliki sebuah anak hasil buah cinta nya dengan sang istri tercinta.
Walaupun dia sudah memiliki istri muda yang bernama Permaisuri Mei-yin, tapi tidak luntur sedikit pun rasa cinta dan sayang nya terhadap Ratu nyi mas citrakala.
Apalagi dia sudah memberikan sebuah keturunan anak yang di beri nama Raden Adi dharma Wijaya kusumah.
Wajahnya sama persis dengan sang ayah, yaitu mewarisi ketampanan dari Gusti prabu wira sanjaya.
Dia sangat berbahagia dan bersuka cinta menyambut kelahiran buah hatinya.
"Terima kasih adinda citrakala"
"Ucap Gusti prabu wira sanjaya"
Gusti prabu wira sanjaya kusumah pun, mengecup dahi dan pipi istrinya tercinta.
Namun respon dari ratu nyi mas citrakala, tidak menimbulkan rasa gembira sedikit pun juga.
Seperti menyimpan teka-teki yang penuh makna saja.
"Wahai adinda mengapa kau
bermuram durja seperti itu"
"Apa kau tidak berbahagia?
"Tanya Gusti prabu wira sanjaya"
"Tidak kang mas aku bahagia"
"Jawab Ratu citrakala"
Namun dalam hatinya, masih menyimpan rasa kekecewaan yang sangat mendalam, hal itu tentu saja akibat pernikahan nya dengan permaisuri Mei-yin yang cantik jelita itu.
Tapi apalah daya Ratu citrakala tidak bisa berbuat banyak untuk melarang suami nya menikah lagi dengan wanita lain.
Kini Gusti prabu wira sanjaya, mengumumkan di singgasana Kerajaan nya, akan kelahiran anak nya tercinta.
Semua para punggawa Kerajaan bersuka cita tentang berita mengembirakan ini.
Terutama Sang Maha patih askara yang langsung mengucapkan selamat kepada sang Maha raja wira sanjaya.
"Selamat Gusti prabu hamba ikut
bersuka cita akan hal ini"
"Ucapnya Maha patih askara"
"Terima kasih patih askara"
"Jawab Gusti prabu wira sanjaya"
Nyi mas ayu ningsih, dan Nyi mas citraloka pun ikut bergembira dan sibuk mengurusi ibu dan bayi nya.
Lalu tidak ketinggalan pula seoranh permaisuri Mei-yin, yang menjadi madu nya Ratu citrakala.
Dia berlapang dada menyambangi kamar pribadi nya Ratu citrakala dengan sebuah itikad baik.
Yaitu memberikan support dan ucapan selamat atas kelahiran anak pertama nya.
Tok.... tok..... tok.....!!
Suara ketukan pintu. 🚪 nampak terdengar oleh daun telinga nya Ratu citrakala.
"Siapa?
"Silahkan masuk"
"Ucap Ratu citrakala"
"Permisi ini aku Mei-yin"
"Bolehkah aku masuk?
"Iya masuk saja"
"Ucap Ratu citrakala"
Permaisuri Mei-yin langsung bersimpuh dan menangis di hadapan Ratu citrakala.
Dia tak henti-henti nya meminta maap akan kesalahan nya.
Namun itu juga bukan kesalahan mutlak dari permaisuri Mei-yin seorang, melainkan dari kedua belah pihak yang terkait.
"Bangunlah permaisuri Mei-yin"
"Engkau tak perlu bertindak
seperti itu"
"Ayo lekas bangun aku jadi tidak
__ADS_1
enak hati akan semua ini"
"Ucap Ratu citrakala"
"Tidak Ratu citrakala"
"Aku sangat bersalah padamu
dan sudah merebut kasih sayang
kang mas wira sanjaya"
"Ucapnya permaisuri Mei-yin"
"Sudahlah itu sudah terjadi"
"Dan kau tak usah membangkitkan
luka dalam hatiku"
Sontak saja, perkataan dari Ratu citrakala membuat permaisuri Mei-yin merasa bersalah.
Namun tubuh dan badan permaisuri Mei-yin di angkat nya oleh Ratu citrakala, setelah itu mereka berpelukan yang sangat erat.
Keduanya menangis.
Kejadian ini di lihat oleh suami nya Gusti prabu wira sanjaya kusumah.
beliau tidak berani mendekat dan hanya memperhatikan nya dari kejauhan.
Rasa bersalah itu semakin berkecambuk dalam relung hatinya.
Namun apa mau di kata, semua sudah terjadi dan sudah kepalang tanggung.
Ibarat peribahasa nasi sudah terlanjur menjadi bubur.
Kata maaf dan penyesalan tidak akan bisa merubah takdir dan keadaan.
Gusti prabu wira sanjaya, bergegas membalikan tubuh nya untuk kembali ke singgasana Kerajaan nya.
Hatinya luluh lantah menyaksikan kejadian pilu dan menyedihkan itu.
Namun di lain tempat Permaisuri Mei-yin dan Ratu citrakala sudah saling memaafkan satu sama lain.
Dan berjanji akan hidup rukun berdampingan akan takdir cinta nya.
Sang Hyang dewata agung mungkin sudah mengatur nya.
Sedangkan, Gusti prabu wira sanjaya kusumah, terlihat termenung dan gundah gulana.
"Wahai Gusti prabu wira sanjaya"
"Ada apa gerangan?
"Rupanya kau sedang gelisah
seperti itu"
"Maaf atas kelancangan ku"
"Ucap Maha patih askara"
"Ah tidak patih askara"
"Aku tidak apa-apa"
Gusti prabu wira sanjaya, tidak berani untuk berterus terang, akan apa yang di alami nya sekarang.
Namun rasa penasaran seorang Maha patih askara terus berkecambuk dan berusaha untuk membujuk Gusti prabu wira sanjaya, agar berterus terang saja.
Atas kegigihan patih askara, Gusti prabu wira sanjaya pun, akhirnya luluh juga. dan mau berterus terang akan keresahan dalam hatinya tersebut.
"Hamba sangat berharap Gusti
Prabu, bisa lebih terbuka padaku"
"Maafkan atas kelancangan ku" 🙏
"Baiklah patih askara"
"Aku akan berkata sejujurnya pada
mu"
"Tapi bukan di sini"
"Kita cari tempat yang aman
agar tidak ada yang mendengar
pembicaraan kita berdua"
__ADS_1
"jelaskan Gusti prabu wira sanjaya"
Mereka pun kini, berjalan menuju taman belakang istana.
untuk sekedar mencari angin segar dan berbicara empat mata.
Di sana Gusti prabu wira Sanjaya kusumah, menceritakan semua nya
secara detail dan menyeluruh agar tidak terjadi kekeliruan dan kesalahpahaman akan tindakan yang beliau gunakan.
Sang Maha patih askara pun, mengerti akan ucapan dan penjelasan dari sang Maha prabu wira sanjaya kusumah.
"Kalau boleh hamba ingin
memberikan sebuah saran" 🙏
"Silahkan patih askara"
"Aku sangat ingin mendengarnya"
"Ucap Gusti prabu wira sanjaya"
Sang Maha patih askara pun, memberikan saran agar beliau tidak terlalu memikirkan masalah ini.
Karena akan mempengaruhi sistem pemerintahan kerajaan nirwana.
Sebagai seorang Maha raja dia harus lebih tegas akan sebuah keputusan, prinsip dan komitmen .
Apa lagi di masa genting seperti sekarang ini, karena sosok pigur seorang pemimpin, sangat penting bagi semua seluruh anggota punggawa Kerajaan nirwana.
Tentu saja masalah vital itu adalah Polemik berkepanjangan nya dengan pihak Kerajaan parukuyan.
"Apa yang di ucapkan mu itu benar
adanya patih askara"
"Ucapnya Gusti prabu wira sanjaya"
"Pikiranku harus lebih fokus ke
dalam sistem pemerintahan ku"
"Hamba hanya mengutarakan saran
Gusti prabu wira sanjaya"
"Dan bukan untuk mengatur mu"
"Aku tahu akan hal itu patih
askara"
Kini Gusti prabu wira sanjaya kusumah dan Maha patih askara sedang berdiskusi akan rencana ke depan nya akan seperti apa? dan bagaimana?
Serangan balasan dari pihak Kerajaan parukuyan tidak boleh di anggap remeh dan sepele begitu saja.
Selama ini pihak Kerajaan parukuyan sedang menyiapkan diri untuk menghimpun kekuatan baru nya.
Apa lagi dengan patih baru nya yang bernama Mangku asbanijaya.
Dia mempunyai strategi perang yang sangat jitu.
Itu harus bisa di antisipasi oleh pihak Kerajaan nirwana cakrabuana.
Mungkin apa yang di alami Gusti prabu wira sanjaya. sangatlah pelik urusan pribadi nya harus di kesampingkan terlebih dahulu demi kedigdayaan dan kejayaan, Kerajaan nirwana cakrabuana.
Namun Maha patih askara, tidak diam begitu saja dia selalu ada di samping sang raja. untuk menyemangati kinerja nya sebagai seorang Maha raja.
"Gusti prabu tak usah gundah
gulana"
"Hamba siap pasang badan
demi Kerajaan kita"
"Ucap Maha patih askara"
"Kau patih terbaik ku askara"
"kau sangat berjasa besar bagi
Kerajaan ini"
"Hamba sangat tersanjung atas
pujian nya"
Namun, yang di cari patih askara bukan lah sebuah sanjungan dan pujian.
Karena yang dia lakukan adalah sebuah pengabdian kepada sang Maha raja sekaligus Kerajaan nirwana cakrabuana.
__ADS_1
Tugas yang beliau emban adalah seorang Maha patih.
yang kedudukan nya sangat vital di sebuah kerajaan.