Di Luar Tembok Kerajaan Nirwana Cakrabuana

Di Luar Tembok Kerajaan Nirwana Cakrabuana
Kegelisahan maha patih jaya ledra kencana


__ADS_3

Laporan dari seorang prajurit, kepada sang maha patih jaya ledra kencana,akan kondisi yang menimpa anak nya itu semakin membuat nya, gelisah dan terpukul karena anak nya kalah bertarung dengan indrakala dan candrakala.


"Ampun, maha patih kami tidak bisa membantu raden suryacalaka" 🙏


"Lalu bagaimana keadaan putra


ku sekarang, prajurit, ucap


patih jaya ledra kencana"


"Saya liat raden suryacalaka ,


terhempas ke jurang seke ,


tombel, maha patih" 🙏


"Ya sudah, Terima kasih ,


informasinya, prajurit"


"Ucap patih jaya ledra kencana"


Tanpa berpikir panjang, patih jaya ledra kencana pun, langsung, meminta ijin kepada kanjeng gusti prabu sura jalu


sudarsana, untuk mencari anak nya itu, dalam keadaan selamat ataupun dalam keadaan sudah tidak bernyawa sekalipun juga.


"Sembah bakti dan sujudku,


Gusti prabu" 🙏


"Ada apa gerangan patih ku jaya


ledra kencana, ucap paduka


Raja sura jalu sudarsana"


"Hamba, mendengar kabar,


yang kurang mengenakan"


"Apa, kabar itu patih jaya ledra?


"Tanya sang paduka raja"


"Anak ku, raden suryacalaka,


ternyata kalah melawan ,


indrakala dan candrakala"


"Apa, ini tidak bisa di biarkan,


patih jaya ledra, lekas kau cari


anak mu, dan beri pelajaran


buat para pemberontak itu"


"Sendiri dawuh, kanjeng gusti" 🙏


Kini sang maha patih jaya ledra kencana, sudah berlega hati, dan mendapat ijin dari gusti prabu untuk bertindak, maka


dari itu ia meminta bala bantuan prajurit perang nya, dari wasta kencana, sang panglima perang.


"Wahai wasta kencana, sang maha patih memanggil, wasta kencana"


"Sendiko dawuh, maha patih jaya ledra kencana"


"Lekas engkau persiapkan,


sejumlah prajurit"


"Aku ingin mencari anak ku raden suryacalaka yang tersungkur ke jurang"


Otomatis keadaan istana semakin ricuh dan terkendali akibat, dari suara riuh prajurit perang yang sudah bersiap


siap keluar dari gerbang istana kerajaan nirwana.


Senopati darma kusumah dan adipati janggala kerta, lalu ada raden askara yang, melihat kejadian itu tampak ikut panik, dan ingin membantu maha patih jaya ledra kencana.


Namun maha patih jaya ledra hanya meminta, doa nya saja dari para punggawa kerajaan nirwana cakrabuana.


Dia rupanya tidak mau di bantu oleh siapa pun juga.


Terkecuali sejumlah prajurit perang saja yang di bawa.


"Wahai paman patih jaya ledra


kencana, ucap raden askara"


"Iya askara, ada apa gerangan"


"Ucap, paman patih jaya ledra"


"Bolehkah aku ikut denganmu


paman patih jaya ledra?


"Tidak askara kau jaga istana


saja, ucap paman patih jaya


ledra padanya"


"Kenapa paman patih?


"Kau tak usah membantah, ini


perintah paman patih"


"Baiklah paman patih jaya ledra,


ucap raden askara"


Senopati darma kusumah yang melihat kejadian ini coba menenangkan raden askara, yang kecewa akan keputusan patih jaya ledra kencana.


Di tambah lagi sang paduka raja meminta agar istana, mulai di


perketat lagi, karena khawatir akan terjadi pemberontakan susulan.


"Wahai senopati darma


kusumah, tanya gusti prabu


sura jalu sudarsana"


"Sendiko dawuh, gusti prabu" 🙏


"Lekas beri arahan, kepada para


punggawa kerajaan"


"Ada apa kanjeng gusti tanya,


senopati darma kusumah"


"Perketat lagi istana dan di luar


istana"


"Terutama kadipaten waringin


jati dan kadipaten merak


dampit"


"Sendiko dawuh kanjeng gusti" 🙏


Tanpa berpikir panjang lagi senopati darma kusumah langsung memberi arahan kepada semua para punggawa kerajaan nirwana cakrabuana agar, waspada akan teror dari para pemberontak itu.


Dan meminta agar penjagaan itu lebih di perketat lagi.


Terutama wilayah kadipaten waringin jati dan kadipaten merak dampit.


Semua nampak berjibaku dan

__ADS_1


bahu-membahu dalam kondisi


yang sangat genting ini.


Sedangkan maha patih jaya ledra sekarang sudah berada di


Wilayah kadipaten merak dampit, dan berusaha mencari titik terang keberadaan putra kesayangan nya itu raden suryacalaka.


Untuk saja ada seorang pedagang, rakyat biasa yang memberi tahu akan keberadaan anak nya itu.


"Sampurasun maha patih"


"Ucap, lelaki paruh baya itu"


"Iya ada apa kisanak?


"Maap atas kelancangan ku


bertanya"


"Iya tidak apa-apa kisanak, ucap


maha patih jaya ledra kencana"


"Setau hamba, anak gusti patih


di selamatkan jaka kelana"


"Siapa jaka kelana itu kisanak?


"Dia anak dari ki tamiang"


"Siapa ki tamiang itu kisanak"


"Tanya maha patih jaya ledra


kencana"


"Dia adalah seorang pandai besi


Gusti patih jaya ledra"


"Bisakah kisanak antarkan saya


ke rumah nya"


"Hamba bersedia gusti patih


jaya ledra, ucap lelaki paruh


baya itu"


Akhirnya, patih jaya ledra kencana di antarkan lah ke rumah ki tamiang diningrat itu perjalanan cukup jauh dan menghabiskan banyak waktu karena untuk pergi ke sana harus, memutar arah terlebih dahulu. karena tidak mungkin kalau harus masuk menerobos hutan larangan itu.


Di dalam perjalanan patih jaya ledra mengucapkan banyak Terima kasih kepada lelaki paruh baya itu, yang sudah bersedia membantu nya,


untuk mengetahui keberadaan anak nya itu.


Dia menanyakan asal usul lelaki paruh baya itu.


"Kalau boleh tau siapa nama


kisanak, tanya patih jaya ledra


kencana"


"Nama hamba, Amarta kerta,


biasa di panggil ki kerta" 🙏


"Oh iya ki kerta maap, saya


sudah bersikap tidak sopan


sekali" 🙏


"Tidak gusti patih, hamba lah


yang sudah lancang padamu"


pedagang di pasar pasampangan. yang terletak di kadipaten merak dampit.


Pasar itulah yang sering di umbrak-abrik oleh para pemberontak itu, sebut saja indrakala dan candrakala, lalu ada gupala pati.


"Maap ki kerta, aku bertanya"


"Iya silahkan gusti patih jaya


ledra kencana"


"Apa ki kerta tau asal usul nya


gupala pati"


"Setahu hamba dia juga salah


satu murid ki rawa daksa"


Ternyata, firasat maha patih jaya ledra kencana, tidak meleset tebakan nya tepat sasaran, dia sudah mengira bahwa, gupala pati ada hubungan dan keterkaitan dengan, indrakala dan candrakala.


"Aku sudah mengira nya begitu


ki kerta, ucap patih jaya ledra"


"Iya begitulah kenyataan nya


Gusti patih jaya ledra kencana"


"Ucap ki Amarta kerta"


Mereka masih dalam perjalanan, dan naik kereta kencana kerajaan dengan pengawalan seribu pasukan prajurit yang di bawa nya.


"Sebentar lagi kita sampai gusti


patih jaya ledra kencana"


"Ucap ki kerta, pada patih jaya


ledra kencana"


"Iya ki kerta aku sudah tidak


sabar, melihat kondisi anak ku"


"Tentu saja gusti patih jaya


ledra kencana, ucap ki kerta"


"Hamba juga memiliki seorang


anak, dan sangat menyayangi


nya, gusti patih jaya ledra" 🙏


"Ya saya rasa semua orang tua


akan merasakan hal ya sama"


"Iya tentu saja, gusti patih jaya


ledra kencana"


Tak teras mereka berbincang dalam sepanjang perjalanan nya, sampai juga di rumah nya ki tamiang diningrat.


Terlihat ada sosok pemuda yang sedang membelah kayu bakar, dia adalah jaka kelana


anak dari ki tamiang.


"Sampurasun"


"Rampes"


"Siapa kisanak, ucap jaka


kelana"

__ADS_1


"Kau lupa yah, sama ki kerta,


ucap ki kerta"


"Oh iya maapkan aku ki" 😄


"Gimana kabarnya ki?


"Tanya jaka kelana padanya"


"Baik, gimana kamu sendiri dan


Ayahmu, tanya ki kerta"


"Iya baik juga ki, jawab jaka


kelana"


Lantas ki Amarta kerta pun, berbicara terus terang maksud dan kedatangan nya ini.


yaitu tiada lain dan tiada bukan untuk menanyakan keberadaan raden suryacalaka.


Dan dayung pun bersambut, jaka kelana mengajak ki kerta dan mana patih jaya ledra untuk melihat langsung keadaan nya yang sudah berangsur-angsur pulih kembali.


"Ayo masuk ki kerta" 🙏


Dan ki kerta, memberi tahu bahwa yang di bawa nya ke sini adalah gusti latih jaya ledra kencana, ayahandanya raden suryacalaka.


Dan tentu saja jaka kelana itu langsung sujud ke kaki nya maha patih jaya ledra kencana.


"Maapkan hamba gusti patih,


hamba tidak tau sosok gusti


patih jaya ledra" 🙏


"Tidak apa-apa anak muda"


Memang betul adanya jaka kelana adalah pemuda yang tidak bisa bergaul dan tidak mengetahui, ikut campur masalah kerajaan nirwana cakra buana, bahkan di tidak mau tau sama sekali.


Dia lebih sibuk berburu di hutan dan membantu ayah nya bekerja.


Ki tamiang pun menjelaskan nya, bahwa raden suryacalaka terkena luka dalam yang serius dan sudah berhasil dia obati.


dan sudah bisa di bawa pulang bila pihak keluarga menginginkan membawa nya pulang.


"Terima kasih ki tamiang, ucap


maha patih jaya ledra kencana"


"Iya sama-sama, saya hanya iba


dan kasian saja"


"Dan saya tidak tau dia adalah


seorang raden, ucapnya ki


tamiang"


Dan untuk, membalas budi gusti patih jaya ledra kencana memberikan sebuah uang ringgit, yang cukup banyak sekali.


Namun dia tolak oleh ki tamiang diningrat, tapi atas bujukan patih jaya ledra dia akhirnya menerima nya, atas landasan balas budi tanda jasa saja.


dan bisa di perhalus lagi sebagai bentuk kepedulian saja terhadap rakyat nya.


Jadi ki tamiang, bersedia untuk menerima nya, dan dia juga sangat berterima kasih.


atas kemurahan hati gusti patih


jaya ledra kencana.


Dan tanpa menunggu lama lagi, raden suryacalaka pun, di bawa nya ke istana lagi, badan nya masih lemas.


Sedangkan ki Amarta, berpisah di rumah nya ki tamiang dan tidak lupa juga di beri sebuah ungkapan rasa Terima kasihnya


Memang patih jaya ledra terkenal murah hati dan dermawan kepada rakyat kerajaan nirwana cakra buana.


Dalam perjalanan pulang ke istana, di kereta kencana, patih jaya ledra bertanya pada anak nya.


"Gimana kondisi mu ananda?


"Seperti yang ayahanda liat"


"Maapkan ananda ayahanda"


"Kau tak perlu meminta maap"


"Ini sudah kewajiban sebagai


seorang ayah pada anak nya"


Lantas raden suryacalaka, pun menjadi terharu dan berlinang air mata, dia tidak bisa membanggakan orang tua nya, dan hanya bisa merepotkan orang tuanya.


Dia meminta maap atas kegagalan nya menjaga harga diri dan harkat martabat kerajaan nirwana cakra buana.


karena dia sendiri di tumbangkan oleh indrakala dan candrakala.


Namun sebagai seorang ayah patih jaya ledra kencana tetap menyemangati nya, dan memberi motivasi lebih lagi agar tidak larut dalam sebuah kekecewaan, karena sebuah pertarungan akan ada dua kondisi yang akan di dapatkan yaitu kalah dan menang.


Dan patih jaya ledra memuji keberanian dan jiwa Ksatria nya untuk melawan indrakala dan candrakala. yang memang ilmu kanuragan nya di atas rata-rata.


Para pendekar lain nya.


Ki rawa daksa bukan orang sembarangan.


Namun dia juga berhasil di lenyapkan dan di kalahkan oleh, Raden adipati adiwira Wijaya sanjaya kusumah.


Jadi menurutnya faktor keberuntungan itu juga sangat penting.


Di sinilah raden suryacalaka, lebih semangat lagi, dan dia mengungkapkan ingin menimba ilmu lagi agar kanuragan nya bertambah lagi.


Tentu saja, dayung pun bersambut, ayahandanya mendukung, raden suryacalaka untuk berguru atau berlatih lagi lebih keras, untuk meningkatkan ilmu kanuragan nya itu.


Dan untuk saat ini ayahandanya menyarankan fokus saja dulu untuk tahap penyembuhan nya.


Agar semua bisa berjalan dengan baik ke depan nya.


Sesampainya di istana kerajaan nirwana cakra buana, raden suryacalaka langsung di bawa ke kamar pribadinya dan lekas di suruh untuk beristirahat saja.


Lalu patih jaya ledra pun datang untuk melaporkan kejadian nya atas keberhasilan nya.


menemukan anak nya itu, raden suryacalaka.


"Sembah sujud ku gusti prabu"


"Ucap, patih jaya ledra kencana"


"Bangunlah, patih jaya ledra,


ucap, gusti prabu"


"hamba sudah menemukan ananda raden suryacalaka" 🙏


"Aku ikut bergembira,


mendengarnya, patih jaya ledra


kencana"


"Sekarang gimana kondisi keadaan ananda raden suryacalaka?


"Sudah agak membaik gusti


prabu, ucapa patih jaya ledra kencana"


Semua punggawa dan anggota kerajaan nirwana cakra buana ikut senang dan bergembira akan, kedatangan raden suryacalaka dalam keadaan masih bernyawa itu.


Raden askara pun, sangat bahagia sekali, dan dia ingin segera bertemu dan bertatap muka dengan raden suryacalaka.


Namun di larang oleh gusti prabu sura jalu sudarsana karena, belum saatnya.


Dia bisa berbincang-bincang,


dengan rayi nya itu.

__ADS_1


Nampak, kecewa raden askara itu namun dia tidak mungkin membantah, perkataan dari kanjeng gusti prabu tersebut.


__ADS_2