Di Luar Tembok Kerajaan Nirwana Cakrabuana

Di Luar Tembok Kerajaan Nirwana Cakrabuana
Kitab Astawiguna Menjadi rebutan para Raja di daratan Pulau jawa


__ADS_3

Kitab Astawiguna adalah sebuah Kitab yang di buat oleh empu Carakajaya, yang konon bila Kitab itu di pelajari maka orang itu akan menjadi seorang yang sakti mandraguna, dan tak akan terkalahkan. maka dari itu semua para maha raja dan para pendekar di daratan Pulau Jawa dan semenanjung kulon sedang mencari keberadaan Kitab pusaka itu.


Empu Carakajaya sendiri sudah lama menghilang dan moksa, di gunung kalangkang.


Yang jadi perbincangan hangat adalah dimana keberadaan Kitab Astawiguna itu.


Rasa penasaran itu muncul juga dari seorang maha raja darusa lingga.


karena bila beliau berhasil mendapatkan Kitab itu, maka dengan otomatis ilmu kedigdayaan nya tidak akan tertandingi oleh siapapun juga.


Dia kini meminta bantuan kepada patih Mangku asbanijaya dan senopati Wuwus munding parikesit, untuk mencari keberadaan kitab yang mempunyai daya magis yang maha dahsyat itu.


"Wahai patih asbanijaya?


"Tanya Raja darusa lingga"


"Hamba menghadap dan


Menghaturkan sembah hormat" 🙏


"Kau cari tahu di mana keberadaan


Kitab Astawiguna itu"


"Apakah Kitab itu masih ada dan


bisa aku miliki"


"Jelaskan Prabu darusa lingga"


"Hamba akan berusaha semampu


ku paduka raja" 🙏


"Ucap maha patih asbanijaya"


"Aku harap kau tidak mengecewakan


ku untuk kedua kali nya"


"Ampun gusti hamba mohon ampun"


"Maha patih asbanijaya memohon


ampun pada Prabu darusa lingga"


Tatapan tajam Prabu darusa lingga penuh kekecewaan terhadap patih asbanijaya.


Itu adalah sebab akibat dari kekalahan nya oleh seorang pendekar sakti Raden Mangkara Rajendra, yang merupakan anak dari senopati terkenal di Kerajaan buni wangi.


Namun masih ada kesempatan kedua bagi maha patih asbanijaya untuk mengembalikan kepercayaan penuh dari Prabu darusa lingga, yaitu dengan tugas baru nya mencari Kitab Astawiguna.


Maha patih Mangku asbanijaya tidak berjuang sendirian melainkan di bantu oleh senopati Wuwus munding parikesit.


Raja darusa lingga menerawang bahwa Kitab itu masih tersimpan di sebuah peti berlapis emas dan tersimpan rapih di sebuah rumah bilik bambu beratapkan daun ilalang milik empu Carakajaya.


Keberadaan nya berada di Di tengah hutan Pangiuhan.


Salah satu hutan larangan yang tidak sembarang orang bisa menembus dimensi alam ghaib hutan Pangiuhan itu.


Singkat cerita maha patih Mangku asbanijaya dan senopati Wuwus munding parikesit, sudah bersiap-siap di perataran istana untuk menaiki kuda tunggang nya.


"Apakah kau siap senopati Wuwus


munding?


"Tanya patih asbanijaya"


"Hamba siap maha patih" 🙏


"Semoga kita selamat dan berhasil


dalam misi penting ini"


"Aku pun berharap demikian


senopati Wuwus munding"


"Panglima prajurit, kau jaga


kedaulatan istana parukuyan ini"


"Sendiko rawuh maha patih"


"Jawab panglima prajurit Raka buni


jaya"


Setelah menitip pesan kepada panglima prajurit Raka buni jaya, maha patih Mangku asbanijaya dan senopati Wuwus munding parikesit langsung bergegas pergi untuk sebuah tugas yang sangat berat yang memiliki resiko besar bagi dirinya dan senopati Wuwus munding parikesit.


"Ayo senopati parikesit"


"Ajak maha patih Mangku


asbanijaya"


"Siap maha patih ayo kita pergi"


"Jawab senopati Wuwus munding

__ADS_1


parikesit"


Hiyattttttt...... hiyattt..........


Terdengar suara pecutan dan teriakan suara senopati Wuwus munding parikesit dan maha patih Mangku asbanijaya, yang memecut kuda tunggang nya.


Mereka akan melewati sebuah perjalanan yang sangat amat panjang dan melelahkan.


Di lain tempat pihak Kerajaan nirwana cakrabuana pun, sudah mendengar kabar berita ini juga dari seorang mata-mata punggawa Kerajaan nya.


Prabu wira sanjaya kusumah pun, langsung bertindak untuk mengantisipasi pergerakan dari Kerajaan parukuyan.


Tugas itu akan di hadapi oleh maha patih askara yang harus bisa mengamankan Kitab Astawiguna itu.


Namun rupanya maha patih askara sudah mempunyai sebuah prediksi bahwa, Kitab itu tidak akan semudah itu bisa di dapatkan oleh seorang patih asbanijaya.


beliau sudah mengetahui kesaktian seorang empu Carakajaya.


Menurut silsilah patih askara menjelaskan bahwa empu Carakajaya adalah saudara tiri nya eyang lingga buana yaitu satu ayah dan beda ibu.


Setelah mendengar penjelasan yang di lontarkan dan di ungkapkan oleh maha patih askara, Gusti prabu wira sanjaya kusumah pun, kaget bukan kepalang.


Dia tidak mengetahui bahwa mendiang eyang lingga buana, guru besar nya, mempunyai saudara tiri.


"Pantas saja kalau beliau adalah


orang yang sakti mandraguna"


"Ucap Gusti prabu wira sanjaya"


"Iya begitulah Gusti prabu" 🙏


"Ungkap maha patih askara"


Kini Gusti prabu wira sanjaya kusumah. melakukan ilmu raga sukma untuk melihat dan datang ke hutan larangan itu.


Dia ingin memastikan bahwa Kitab itu tidak bisa di ambil dan di curi oleh orang-orang jahat dari pihak Kerajaan parukuyan.


"Patih askara?


"Hamba gusti prabu" 🙏


"Kau jaga raga ku di sini"


"Aku akan membelah sukma"


"Baiklah gusti prabu"


"Berhati-hatilah di sana"


"Iya tentu saja patih askara"


Kini dia sudah berada di sebuah hutan larangan itu dan melihat sebuah cahaya terang benderang di sebuah gubuk lusuh dinding bambu yang ber atapkan daun ilalang itu.


Gusti prabu wira sanjaya, semakin timbul rasa penasaran nya yang begitu amat dalam.


Dia berusaha semakin mendekat ke arah cahaya terang itu.


Namun di sana di jaga seorang mahluk yang tinggi besar.


Dia menghadang seorang prabu wira sanjaya kusumah.


"Hai kisanak mau apa gerangan?


"Kau lancang sekali menyambangi


ku di sini"


"Ucap dua orang raksasa itu"


"Aku hanya ingin tahu tentang


kitab pusaka itu"


Namun dia orang raksasa itu langsung menyerang Prabu wira sanjaya, dan terjadilah pertarungan sengit di antara mereka.


Hingga dua orang raksasa itu tumbang dan terkapar tidak berdaya oleh ajian gelap nyampah miliknya itu.


Setelah itu datanglah sosok ghaib empu carakajaya yang memakai pakaian serba hitam.


"Sampurasun"


"Rampes" 🙏


"Cu siapa kah engkau?


"Maaf eyang carakajaya"


"Wasta ku, Wira sanjaya kusumah"


"Murid nya mendiang eyang lingga


buana"


"Ha..... Ha...... Ha...... Ha..... "


Empu carakajaya hanya tertawa terbahak-bahak dan langsung memuji keberanian dan ilmu kanuragan miliknya tersebut.


Dia tidak heran karena ilmu mendiang eyang lingga sudah di kuasai oleh Gusti prabu wira sanjaya kusumah.

__ADS_1


"Ambilah kitab itu cu"


"Pesanku jangan kau menjadi


seorang yang sombong dan


angkuh"


"Ucap Empu carakajaya"


"Hatur sembah nuhun eyang" 🙏


Dan di sana Empu carakajaya di jemput oleh eyang lingga buana.


Dan pergi menghilang tanpa jejak.


Ini adalah sebuah kehendak sang hayang Widi dan dewata agung.


Yang menakdirkan Gusti prabu wira sanjaya untuk, memiliki kitab itu.


kini Gusti prabu wira sanjaya berhasil mengambil peti berlapis emas yang di dalam nya terdapat kitab pusaka itu.


Jelas dia menang satu langkah dari patih mangku asbanijaya dan senopati wuwus munding parikesit.


Tanpa mengulur-ulurkan waktu secara percuma, gusti prabu pun langsung pergi dengan menemui raga nya sendiri, ilmu belah sukma nya berhasil secara sempurna.


Dan patih askara masih tetap siaga untuk menjaga raga dari Gusti prabu wira sanjaya kusumah.


Kini sukma nya sudah menyatu dengan raganya.


dan timbulah sebuah cahaya dari kemilau peti berlapiskan emas itu.


"Gusti prabu?


"Apakah gusti baik-baik saja?


"Tanya patih askara"


"Tentu saja patih askara seperti apa


yang kamu lihat sekarang ini"


"Hamba sangat takjub"


"Akhirnya Gusti prabu berhasil


mendapatkan kitab pusaka itu"


Kini Gusti prabu wira sanjaya, langsung bergegas ke kamar ruangan khusus untuk melakukan semedi, dengan tujuan mempelajari semua isi kitab pusaka itu.


Penyempurnaan nya dengan tenaga dalam yang dia punya.


Sedangkan Patih askara, langsung menemui para punggawa kerajaan di ruangan ke istanaan.


"Wahai para anggota kerajaan"


"Ucap patih askara"


"Kita harus berjaga-jaga akan


serangan dari kerajaan


parukuyan"


"Ada apa lagi wahai maha patih?


"Tanya panglima prajurit wasta


kencana"


"Iya mereka tidak akan tinggal diam


atas di penggal nya kepala panji


anggalarang"


"Hamba akan siap siaga maha patih


askara"


"Ucap panglima wasta kencana"


Sedangkan senopati asta batarakala, nampak kurang bergairah, mungkin karena dia sudah gagal menikahi putri wulan sari, sang pujaan hatinya itu.


"Wahai senopati asta batarakala?


"Tanya maha patih askara"


"Ada apa gerangan wahai engkau


senopati?


Namun dia hanya tersenyum saja dan tidak mengeluarkan sepatah dua patah kata pun juga.


Ini sebuah pertanda kekecewaan yang dia rasakan untuk saat ini.


Panglima jaka kelana sudah, mengetahui apa yang di rasakan senopati asta batarakala.


bahwa kolega nya itu sedang bermuram durja akibat gagal mempersunting tambatan hatinya itu.

__ADS_1


__ADS_2