
OSAKA PUKUL 22:00 AM WAKTU JEPANG
Dor.......... dor!
Terdengar suara tembakan revolver yang menggema memecahkan keheningan malam. Asap putih mengepul dari lubang tempat keluarnya peluru yang kini telah bersarang di jantung seorang pria paruh baya yang tengah terduduk di kursi kantornya.
Darah mengalir dari tempat peluru bersemayam membasahi kemeja putihnya dan menjadikan bercak merah yang sangat sulit dihilangkan. Ia terduduk di kursi kebesaran nya, tempat terakhir kali ia mengembuskan nafas.
Tampak seorang lelaki berjas hitam berdiri di tengah pintu sambil memutar-mutarkan alat pembunuh kesayangannya. Wajahnya yang penuh peluh tidak bisa tersentuh oleh cahaya bulan, namun senyum nya yang licik bisa terlihat dengan jelas di tengah gelapnya malam.
“Ck! dasar bodoh.” Ucap Pria itu dengan suara beratnya seraya meninggalkan tubuh terlentang tanpa nyawa.
Drrrrt....
Getaran ponsel di sakunya membuat pria itu berhenti melangkah sejenak, ia menghadapkan layar ponsel itu ke wajahnya. Jarinya yang kokoh menggeser icon hijau di layar ponselnya, lalu menempelkan ponsel hitam itu ke telinganya.
“Apa kau sudah melaksanakan tugas mu dengan baik?.” Ucap seseorang dari seberang telepon.
“Sudah ku laksanakan dengan baik tuanku, langsung saja kirim uangnya ke rekeningku.” Jawabnya pelan.
__ADS_1
"Baiklah dan tenang saja, kau akan mendapat bonus nantinya.”
“Baguslah kalau begitu.” Si pria langsung memutuskan teleponnya.
Tut... Tut...
Ia berjalan melewati lorong-lorong gedung megah yang terbalut oleh gelapnya malam. Membuat setiap langkahnya terdengar menggema dalam kesunyian. Tatapan matanya yang tajam, serta ekspresi wajahnya yang dingin mengekspresikan bahwa ia adalah pembunuh bayaran tersadis yang pernah ada.
Dia melangkah dengan santai, seolah dia tidak takut pada sesuatu yang mungkin akan muncul nantinya. Karena percayalah, saat malam gedung itu tidak berpenjaga sama sekali. Itulah yang dimanfaatkan oleh pembunuh bayaran licik dan cerdik ini, karena dengan begitu ia bisa keluar masuk gedung tanpa ada satu pun orang yang tau. Saat keluar dari gedung, ia telah disambut oleh mobil audi berwarna hitam yang terparkir tepat di depan pintu masuk gedung. Ia membuka pintu mobil itu dan langsung masuk ke dalam. Sesaat kemudian, mobil itu langsung melaju kencang meninggalkan gedung yang menjadi saksi mata sebuah kejadian berdarah yang ia lakukan.
“Apa semuanya berjalan dengan baik hari ini?.” Tanya seorang pria berkacamata hitam yang tengah menyetir.
“Bagaimana pembayarannya?.” Pria berkacamata hitam kembali bertanya.
“Dia bilang akan dikirim, mungkin saja aku akan mendapat bonus nantinya.”
Pria berkacamata hitam hanya mengangguk mendengarnya dan kembali fokus kejalan raya mengendarai laju mobil.
“Setelah ini aku akan membunuh seorang lagi.” Ucap si pembunuh kembali dengan senyum liciknya.
__ADS_1
“Siapa? Apa ini perintah?.” Tanya Pria berkacamata hitam lagi.
“Bukan, aku hanya ingin tua bangka itu mati.”
Pria berkacamata hitam itu menghentikan laju mobilnya, lalu menoleh ke arah si pembunuh.
“Ternyata kau memang cerdik.” Ucap si pria berkacamata hitam. Lalu mereka berdua tertawa layaknya psikopat yang mendapat mangsa baru.
Sudah hampir jam 23:00 tapi mata Nyonya Kazumi sulit untuk terpejam. Ia berjalan mondar- mandir di ruang kamar mewah milik nya, sesekali ia lirik jam yang tertempel rapi di dinding.
Sunyi dan sepi, tak ada suara apa pun yang terdengar. Nyonya kazumi mengambil ponsel
kepunyaan nya yang sengaja di letak kan di atas nakas.
Menghadapkan layar ponsel pada wajahnya, sehingga menampak kan layar itu bergeser- geser karena jari halusnya.
Drrrrtt...
Ponsel itu bergetar. Panggilan dari Briyan, Nyonya Kazumi pun tak menyia- nyiakan kesempatan itu.
__ADS_1