
Mereka hanya saling diam, sampai pada akhirnya datang Nyonya Kazumi dan Benikno. Sedikit membuat kesunyian mereka buyar.
"Kalian, sejak kapan kalian berada di ruangan ini?" Tanya Nyonya kazumi heran.
"Baru beberapa menit yang lalu Mom." Via yang menjawab. Tak lama kemudian Nyonya Kazumi menyuruh mereka semua untuk duduk di sebuah sofa empuk.
Di depan sofa itu ada sebuah meja sedang yang tampak di penuhi dengan berbagai macam buah- buahan.
"Mom baru saja bertemu dokter di ruangan nya, Dokter bilang mereka butuh darah untuk di transfusikan kepada Bunga, sayang nya golongan darah Mom tidak cocok dengan golongan darah Bunga. Adakah di antara kalian yang memiliki golongan darah O?" Tanya Nyonya Kazumi membuka pembicaraan.
"Aku Mom." Briyan mengangkat jari telunjuknya. Nyonya kazumi menoleh padanya sejenak.
"Dan kau Benikno?"
"Golongan darahku AB Nyonya." Jawab Benikno sopan.
"Via." Nyonya kazumi beralih memandang wanita kurus yang berada tepat di sampingnya.
"Ak..Aku B Mom." Entahlah kenapa tiba-tiba saja Via menjawab dengan raut muka yang gugup sepertinya ia sedang berbohong.
"Baiklah jika begitu, segera kau hubungi dokter Andi di ruangan nya Briy. Bunga sangat membutuhkan nya." Perintah Nyonya kazumi pada Briyan putera keduanya. Briyan hanya mengangguk lalu beranjak dari tempat duduknya, perlahan- lahan meninggalkan ruang rawat. Seperti aliran listrik yang memiliki tegangan, Via ikut melangkah mengikuti Briyan dari belakang.
"Kau mau kemana Via?" Nyonya Kazumi memperhatikan nya.
"Ada yang ingin ku bicarakan pada Briyan Mom. Permisi." Via memberi hormat, lalu berjalan dengan kaki terburu-buru. Di lihatnya keluar ternyata Briyan belum jauh, dia berlari mengejarnya.
"Briyan... Tunggu Briyan, tunggu di situ." Teriak Via sedikit keras memecah keheningan koridor di rumah sakit.
Langkah Briyan pun terhenti tanpa menoleh kebelakang sedikit pun. Dia menunggui saja.
"Briyan ada yang ingin ku katakan padamu." Ucap Via lagi. Wajahnya berubah menjadi sangat menjengkelkan. Sudah bisa di tebak Via pasti akan menghentikan aksi Briyan.
"Apa? kamu tak akan bisa menghalangiku Via, biarkan Aku sedikit berkorban untuk orang yang ku sukai."
__ADS_1
Via langsung terkekeh mendengarnya.
"Benarkah kamu akan berkorban untuk orang yang saat ini kamu sukai, jika yang terbaring adalah Aku. Apakah kamu akan melakukan hal yang sama." Ucap Via datar. Ia masih berdiri di belakang lelaki tinggi itu, Namun Briyan seolah mengacuhkan nya, Briyan kembali melanjutkan langkah kakinya yang sempat terhenti.
"Briyan...! Kamu tak boleh melakukan nya Aku adalah isterimu seharusnya kamu mendengarkan Aku!" Teriak Via kesal. Lagi-lagi Briyan tetap bersikap acuk tak acuh, ucapan Via bagaikan angin kecil yang lewat. Briyan sudah memantapkan perasaannya paling tidaknya dia pernah memberi bantuan untuk Bunga sang kakak ipar, yang saat ini amat ia idam-idamkan.
"Aaahh... Kamu sial Briyan!" Dengus Via memakinya. Gerak langkah suaminya sudah menjauh. Via kembali memutar langkahnya menuju ruang rawat.
Nyonya kazumi memandangnya heran.
"Ada apa Via? sepertinya wajahmu kusut, apa yang terjadi? Apakah Briyan mengacuhkan mu lagi?" Tanya Nyonya kazumi bertubi-tubi.
Dia sudah tahu bahwa hubungan Via dan Briyan setelah menikah tak terlihat mesra atau pun harmonis. Karena Via telah menceritakan senuanya, walau bagaimana pun Nyonya kazumi sangat memperlakukan nya berlebihan.
"Iya Mom, Aku kesal kenapa dia tak pernah mau mendengarkan perintahku." Ucap Via pelan, sambil mendudukan pantat nya di sofa.
"Apa yang kau mau?" Nyonya kazumi melirik padanya.
"Eeh..." Via jadi salah tingkah pura- pura tersenyum, tidak mungkin dia mengatakan hal tadi dengan jujur. " Tidak ada apa- apa Mom, ini hanya permasalahan suami isteri." Tuturnya jengah.
"Baik Nyonya saya akan menjaga Tuan Rio dan Nona Bunga, anda bisa pulang sekarang Nyonya, begitu juga anda Nona Via. Lagi pula hawa di rumah sakit tidak sehat untuk seorang perempuan seperti Nona." Jawab Benikno bernada suara yang halus dan sopan.
"Ya, terimakasih kamu tak perlu terus terang mengusirku Benikno, aku akan pergi sendiri. Ayo Mom." Celetuk Via tersinggung dengan perkataan Benikno barusan.
"Ya, Jaga mereka baik- baik." Nyonya kazumi menepuk pundak Benikno pelan. Lelaki berposter besar itu mengangguk. Jam di rumah sakit sudah menunjukan pukul 22:00 pm waktu Osaka jepang.
Kini Benikno tinggal sendirian, ia melangkah mendekati Bos besarnya. Ia pandangi dengan tatapan penuh harapan.
"Maafkan Aku karena tak berada di sisi mu, saat anda mengalami kesulitan Tuan." Ucap Benikno masih serius menatap Tuan tampan nya.
Tak lama kemudian
jari jemari tangan Rio mulai menampakan reaksi yang bagus.
__ADS_1
"Tuaaan." Panggil Benikno pelan semakin mendekati Rio yang masih terbaring.
"Sa..Sayang ma..maafkan Aku." Ucapnya lirih serta halus, namun masih bisa terdengar jelas di telinga Benikno.
"Tenanglah Tuan, saat ini Nona Bunga masih berada di samping Anda." Benikno mencoba memberinya semangat. Ia tahu perasaan cinta tuan nya begitu besar pada wanita yang dia miliki sekarang.
Rio tak menampakan reaksi lagi setelah mendengar ucapan Benikno, kedua matanya masih tertutup rapat. Benikno terus menatapnya, antara sedih dan senang yang Benikno rasakan. Ia sedih karena melihat kondisi Tuan nya yang sangat memprihatinkan ini sementara senang nya yaitu, Tuan nya sudah mulai sadar serta terbangun dari pingsan. Sunyi dan sepi setelah itu. Tak ada suara dari bibir pucat Rio yang terdengar.
20 menit kemudian terdengar pintu di buka.
CEKLEK...
Muncul wajah Dokter Andi dan Briyan.
Benikno menoleh saja.
"Benikno.." Panggil Briyan pelan. "Dimana Mom ku?"
"Ya Tuan, Nyonya kazumi sudah pulang bersama isteri anda Tuan." Benikno berdiri pada posisinya.
Briyan tak menjawab, mereka sekarang melangkah mendekati sang dokter yang tengah mentransfusikan darah untuk Bunga. Mereka melihat dengan teliti.
Setelah beberapa menit, pekerjaan dokter selesai.
"Oke, semua sudah siap. Anda berdua bisa istirahat sekarang, oh ya Briyan sebaiknya Anda pulang karena Anda perlu istirahat yang cukup setelah mendonorkan darah Anda." Dokter Andi memberi nasehat.
"Baiklah dokter, Aku akan segera pulang, terima kasih atas nasehat Anda." Briyan menatap dokter Andi datar.
Dokter Andi tersenyum, mengangguk lalu pergi meninggalkan mereka berdua di ruang rawat.
"Benikno tolong jaga mereka dengan baik, Aku mau pulang." Briyan berpesan pada benikno dan meliriknya.
"Baik Tuan."
__ADS_1
Briyan tersenyum lalu menepuk lembut pundak Benikno sebelah kiri, Benikno hanya mengangguk penuh hormat.