DI NIKAHI BOS TAMPAN

DI NIKAHI BOS TAMPAN
Bab. 66. Mandi Bersama


__ADS_3

"Maaf paman, sebenarnya kami tak sengaja lewat dan memang tak memiliki rencana untuk berkunjung kesini." Tutur Rio datar.


"Baiklah, silahkan masuk."


Pria berkumis tipis itu mengerakan tangannya dengan sopan. Panggil dia paman Rikko, lelaki yang hampir setengah abad mengorbankan tenaganya untuk Villa ini, anggap saja itu terlalu berlebihan.


Sebelum Rio Xen Zhin menikah, Rio telah membelinya lebih dulu dari salah satu klien bisnisnya di suatu pelelangan. Villa ini pun di gadai dengan harga murah.


Mereka berdua sudah sampai di dalam Villa, lagi- lagi Bunga seperti tak bisa mengedipkan kedua matanya, dia merasa takjub oleh desain kuno ala jepang yang di padukan hiasan modern.


"Apa kamu senang berada di sini sayang?" Tanya Rio pelan, sambil merangkul erat pundak sang isteri. Rio melihat ada binar kebahagian di kedua mata bunga. Perempuan itu mengangguk. "Dari mulai kita menikah, Villa ini adalah milikmu."


"Hah, apa maksudmu?" Bunga tersenyum tak mengerti, mereka tetap berjalan tenang.


"Kita kesini tak datang sebagai pengunjung tapi kitalah pemilik Villa ini."


"Ah, apa kamu ingin menunjukan betapa kayanya dirimu?" Bunga meliriknya.


"Tidak, jangan tuduh Aku seperti itu. Suatu hari nanti kamu akan tahu betapa miskinnya diriku, apakah kamu siap, untuk hidup apa adanya denganku?"


"Apa kamu pikir Aku hanya ingin di nikahi olehmu karena harta yang kamu miliki? kamu salah besar." Bunga membuang muka ke lain arah.


"Benarkah? Aku senang mendengarnya." Rio semakin mempercepat langkahnya, sehingga membuat Bunga sedikit kerepotan mengikutinya.


Villa itu memiliki ruangan yang sangat luas dan bertingkat.


Tuk.. Tuukk...


Terdengar langkah kaki mereka menaiki sebuah tangga yang berada di sudut ruangan. Sesampainya di atas, Rio pun membuka pintu kamar.


"Woah... Ini adalah kamar princess." Bunga berlari mendekati tempat tidur yang elegan, sprai nya berwarna biru muda. "Aku sangat mengagumi villa ini, bisakah kita tinggal di sini?" Bunga menatap Rio penuh harap, sambil duduk bersila.


"Sekarang belum saatnya sayang, tunggulah bayi kita lahir, Aku hanya merasa kasihan padamu karena di sini tempatnya sangat sepi, bisa saja kamu kesepian jika Aku pergi ke kantor."


"Uuuh..." Bunga menghela nafas sedikit kecewa. melihat ekspresi berat di wajah Bunga Rio langsung mendekatinya.


"Bukannya Aku tak menuruti keinginan mu sayang, Aku hanya menahannya sebentar. Maka dari itu bersabarlah." Rio duduk di tepi ranjang.


"Ya, Aku tak bisa membantahmu."

__ADS_1


Bunga tiba- tiba menyenderkan kepalanya di bahu kiri Rio. Otomatis pria tampan itu tersenyum, tangan kirinya bergerak mengusap lembut rambut panjang Bunga.


Tak lama kemudian, mereka berduapun merebahkan tubuh lelah mereka di atas ranjang empuk itu.


Pandangan Rio menerawang amat jauh. Angin membelai lembut menerobos pintu yang terbuka sedikit. Seakan menampar wajah penuh harapan. Ada sinar matahari yang tersembunyi, kerlap kerlip lampu berjejer di atas pelapon suatu ruangan. Rio seperti sendirian berada di ruangan itu, ada langkah kaki yang membuatnya kebingungan.


"Melangkahlah sejauh mungkin yang kau bisa." Suara seseorang dari belakang mengejutkannya, sehingga memaksa Rio untuk melihat siapa yang berbicara.


"Kau?"


"Ya, Kau dan Aku memiliki kesamaan." Ucap Orang itu pelan, ia menggunakan baju kemeja putih dan celana putih.


"Apa maksudmu?"


Rio ketakutan, tatapan matanya begitu tajam, seakan menggantungkan sebuah harapan yang putus. Tak ada senyum di wajahnya hanya bibir memucat serta raut muka sedingin salju.


"Tidakkah kau melihat, rupa dan bentuk wajah kita sama?"


Lelaki berkemeja putih itu tersenyum mengelitik, dia melangkah mendekati Rio.


"Apa mau mu!" Bentak Rio panik.


"Kau pantulan diriku, siapa kau sebenarnya, mengapa harus datang kepadaku? apakah kau rohku? Apakah kau datang untuk menjemputku? katakan!" Tanya Rio frustasi.


"Tidak. Jika kau ingin tahu siapa Aku yang sebenarnya tanyakan pada hatimu sendiri. Kau hanya perlu berdiri, memeluk dan menyayangi orang yang sekarang berada di sampingmu, jaga dia!" Jawab Pria berkemeja.


Tak lama setelah itu tiba- tiba datang sinar putih yang menyilaukan mata, Rio berkisip.


"Aaaaaahhhhh!" Teriak Rio keras.


Bunga terkejut mendengarnya dengan sigap ia bergegas menggoyang- goyang tubuh Rio.


"Sayaaang Kamu kenapa?" Tanyanya memanik.


"Aaah....!" Rio spontan terbangun.


Wajah putihnya di penuhi oleh kucuran keringat padahal sejak tadi pendingin ruangan masih hidup.


"Ada apa? Apa kamu bermimpi buruk?" Tanya Bunga perhatian, di lihatnya wajah Rio seperti orang ketakutan.

__ADS_1


"Ya Aku bermimpi." Jawab Rio pelan, namun terdengar seperti orang yang habis berlari- lari tanpa arah, jantungnya berdegup amat kencang serta tak beraturan.


Bunga meraih tubuh Rio dan memeluknya.


"Sudah lupakan, tenangkan hatimu Aku di sini akan terus mendekapmu." Bunga mengelus- ngelus pundak suaminya.


"Terimakasih."


"Apa kamu haus? Akan ku ambilkan air minum?" Bunga akan melepaskan pelukannya, Namun Rio menahannya.


"Tidak, tetaplah di sini."


"Baiklah." Bunga kini semakin mempererat pelukannya. Jam menunjukan pukul 12:20 am.


Tok... Tok...


Tiba- tiba terdengar ketukan pintu dari luar.


"Tuan, makan siang sudah siap." Rupanya paman Rikko yang datang.


"Iya paman, terima kasih. 10 menit lagi kami akan turun!" Jawab Rio tegas.


"Baik Tuan, saya permisi dulu." Paman Rikko memutar langkah kakinya untuk pergi.


"Sayang, Aku mau mandi dulu, Apa kamu tidak ingin ikut mandi?" Tanya Bunga kemudian, dia melepaskan pelukannya serta menatap wajah tampan Rio yang masih menampakan guratan rasa panik berlebihan.


"Mandilah duluan, Aku akan menyusul nanti." Rio menjawab sambil mendaratkan kecupan singkat di kening Bunga.


"Oke." Bunga pun mengerisut dari tempat tidur dan setelah itu pergi ke toilet. Rio memandanginya saja.


Beberapa menit berlalu.


karena di rasa keringatnya sudah hilang Rio pun berjalan menyusul Bunga ke dalam toilet.


CEKLEK..


Bunyi pintu di buka, Bunga merasa biasa saja karena dia pikir, di kamar ini hanya ada mereka berdua, jadi tidak mungkin ada orang lain yang masuk. Bunga tengah mengguyur tubuhnya di bawah shower, percikan air membuatnya merasakan hawa sejuk menerobos setiap pori- pori kecil di seluruh badannya. Rio menutup kembali pintu toilet, dia tersenyum melihat sebuah pemandangan yang menurutnya indah. Perlahan- lahan juga ia menanggalkan celana pendek yang melekat di pinggangnya, kemudian melangkah mendekati sang isteri dan segera merapatkan tubuhnya di belakang Bunga. Bunga awalnya merasa biasa, sekarang menjadi terkejut.


"Sayang hentikan, jangan memelukku seperti itu. Mari kita mandi bersama, tapi jangan lakukan apapun," ucapnya pelan.

__ADS_1


Rio tak perduli, ia mulai terhanyut pada keadaan, sementara air shower terus mengguyur membasahi badan mereka. Rio mengecupi tengkuk Bunga mesra, membuat tubuh Bunga merinding seketika. Tangannya membelai lembut bagian permukaan perut bunga. Sesuatu di dalam diri keduanya seakan bangkit.


__ADS_2