DI NIKAHI BOS TAMPAN

DI NIKAHI BOS TAMPAN
Bab. 52. Perselisihan


__ADS_3

"Aku akan pulang, jika kakak ipar tidak menolak keinginanku!" Ucap Briyan memaksa. Bunga terbengong.


"Apa Aku tak salah dengar?"


"Tentu saja tidak kak."


"Apa ini artinya kamu sedang mengancam?"


"Tidak, Aku hanya memberi sedikit penawaran!" Jawab Briyan santai, sambil tersenyum dengan gayanya.


"Tapi sayangnya Aku tak perduli sama sekali dengan penawaran mu, sekarang sudah larut malam, silahkan keluar dari apartemen ini."


"Hem." Briyan mengkerutkan kening, lalu memberi sedikit kode pada bodyguard nya agar segera mengambil tindak kan.


Mereka langsung merespon.


"Ayo Nona ikut kami," ucap salah satu di antara mereka, sambil menarik kedua tangan Bunga.


"Apa-apaan ini lepaskan Aku!" Bunga memberontak, namun mereka tetap membawa nya dengan paksa. "Briyaan!" Bunga meneriaki lelaki licik di hadapan nya. Briyan kemudian beranjak bangun.


"Kak, turuti saja mau ku!"


"Dasar penipu!"


"Makilah semau mu, Aku tetap tidak akan perduli." Briyan terus menatapnya tajam. Dan wajah cantik Bunga tampak memerah, tubuhnya gemetaran serta jantung nya berdegup kencang.


"Hebat!"


Plok plok plok


Tiba-tiba saja Reza muncul dari balik pintu masuk, sambil menepuk-nepuk tangan nya. Semua orang menoleh.


"Satu wanita vs lima pria, sungguh keadaan yang menyedihkan sekali!"


"Tutup mulutmu Reza, ini adalah urusanku!" Bentak Briyan keras.


"Ooh ya benarkah ini urusan mu, lalu kamu kemana saja sewaktu Rio mengusirnya? Apa kamu tak memiliki mulut untuk membelanya? bahkan sekarang kamu telah menjadi pahlawan kesiangan membantu hanya karena ada kepentingan pribadi, kurasa itu cukup buruk!"


"Hentikan omong kosong mu itu Reza! Aku bisa saja membunuhmu!"


"Silahkan! tapi beruntungnya Aku bukan pria pengecut seperti kamu!"


TLIK


Briyan membunyikan jarinya. Dua orang pria kemudian maju mendekati Reza, mereka telah bersiap melayangkan tinjuan kearah lelaki itu.


Dan


TEKKK


Reza menangkisnya, mereka menyerang tanpa jeda, membuat Reza hampir kewalahan, akhirnya terjadi lah perkelahian secara fisik. Sayang nya Reza tak mempunyai keahlian bela diri yang baik. Berkali-kali juga Bunga berteriak karena melihat hantaman dari tangan kekar, milik mereka yang mengenai wajah Reza. Darah segar pun keluar dari hidung nya.

__ADS_1


BRUUKK


Reza ambruk, terkulai di lantai, dia benar-benar tidak berdaya sekarang.


"Oouhh apa-apaan kalian ini." Desah Bunga sambil tertunduk lemas. 


"Reza." Bunga memanggil nya sedih, kini air matanya menetes. "Kamu jahat Briyan! dasar enggak punya perasaan, lepaskan Aku!"


Briyan meringis pelan. "Oh, sungguh malang nasib temanmu itu." Berbisik di telinga Bunga. "Aku sudah mengatakannya akan tetapi teman mu itu masih keras kepala, maafkan Aku karena telah membuatnya terluka separah itu, oke mari kita tinggalkan tempat ini!" Perintah Briyan lagi.


"Briyan dasar kamu ini gila. Lepaskan Aku Briyan brengseekk! hiks hiks."


Bunga menangis sejadi-jadinya, dia tak bisa melakukan apa pun, karena tangan kedua orang pria terus mencengkram nya sangat erat. Tentu saja hatinya seperti di iris sembilu ketika melihat teman nya di hajar habis-habisan oleh kedua orang lelaki itu. Semua bodyguard Briyan tampak mengangguk serta patuh setelah mendengar perintah dari bos nya, Mereka kemudian melangkah menuju pintu utama dan keluar dengan santai.


Namun. Belum saja langkah mereka jauh, seorang lelaki tiba-tiba datang menghampiri.


"Apa anda sedang terburu-buru tuan?" Tanya nya datar, ia memiliki poster tubuh layaknya pesilat sejati.


"Siapa kamu? aku tak mengenalmu!"


"Tentu saja anda tidak mengenalku Tuan, tapi anda tidak harus tahu siapa Aku. Aku hanya orang biasa yang tak sepadan dengan mu."


"Jadi apa yang kamu mau!"


"Aku hanya ingin perempuan yang kamu bawa itu."


"Hah, kamu sedang tidak bercandakan? Ku rasa kita tidak saling kenal, sekarang minggirlah jangan halangi jalanku atau kamu akan tahu akibatnya."


"Maksudku baik tuan, Aku hanya ingin perempuan itu."


"Jangan harap kamu bisa mengambilnya dariku! Bodyguard lumpuhkan pria sialan itu!" Perintah dan teriak Briyan tegas.


"Baik Tuan!" Jawab mereka tak kalah tegasnya. Mereka pun menyerang tanpa pandang.


KYAAA.


BUUGGHH.


HUUUPPP.


Terjadi lagi sebuah perkelahian yang tak kalah seru nya.


20 menit kemudian.


BRUUK BRUUK BRUUKK BRUK.


Satu persatu ambruk. Sebuah perkelahian gila, lelaki asing tanpa nama itu benar-benar pesilat sejati. Wajah mudanya tak ada yang lecet sama sekali. 


"Oouh sialan, siapa kamu sebenarnya!" Teriak Briyan kesal.


"Anda tidak harus tahu identitasku, sekarang juga serahkan perempuan yang ada di sampingmu itu!"

__ADS_1


"Tidak akan pernah!"


Briyan langsung berlari melayangkan pukulan nya, namun si lelaki tanpa gesit sekali, menangkis secara teratur, benar-benar terlatih.


"Tuan berhentilah menyerangku, besok adalah hari pernikahanmu, tidak mungkin anda akan tampil dengan wajah penuh lebam."


"Aahh kebanyakan omong come on!" Briyan memain-mainkan jari telunjuknya.


"Sudahlah Tuan pulanglah!"


Kreeekk


"Uh, iya lepaskan tanganku," ucap Briyan meringgis kesakitan, ketika lelaki asing itu hampir saja mematahkan tangan nya.


Akhirnya Briyan menyerah juga untuk meninggalkan Bunga. Dalam beberapa sedetik dia pun pergi bersama empat bodyguard nya. Bunga mematung sejenak, memperhatikan lelaki tinggi yang berada di hadapannya.


"Nona apa anda baik-baik saja?" Tanyanya penuh perhatian.


"Ya, Aku baik-baik saja. Terima kasih atas bantuan mu Tuan." Bunga membungkukkan badan berkali-kali.


"Sudah Nona, Anda tak perlu berlebihan seperti itu. Apa ada yang bisa saya bantu lagi Nona?"


Bunga tiba-tiba teringat akan Reza yang tengah terluka parah itu.


"Temanku!"


Dia menunjuk ke arah sebuah pintu yang tak jauh dari sisinya dan berlari, lelaki itu mengikutinya.


Sesampainya. "Reza." Panggil Bunga panik.


Reza setengah sadar, ia merasa luka di wajahnya pedih, badan nya sakit-sakit.


"Reza beritahu padaku di mana kotak p3kmu Reza?" Tanya Bunga sangat khawatir.


"Apa perlu kita bawa dia kerumah sakit Nona?" Lelaki bertampang keren itu memberinya saran.


"Tidak-tidak pe-perlu, carilah di laci kamar." Jawab Reza sambil meringis kesakitan.


"Baik, tunggulah sebentar."


Bunga segera berlari menuju ke kamar, beberapa detik kemudian dia kembali dengan membawa sebuah kotak berwarna putih.


"Tuan bisakah Anda menolongku untuk mendudukkannya di sofa?" Pinta Bunga halus pada Pria di sampingnya.


"Baik Nona."


Tanpa merasa keberatan, dia langsung membantu Reza, memapahnya berdiri menuju sofa.


"Terimakasih Tuan."


"Sama-sama." Jawab Pria itu tegas.

__ADS_1


Tiba-tiba saja sebuah ponsel miliknya berbunyi, terdengar kencang lagu Alan walker "On My Way" sebagai nada dering.


__ADS_2