
Benikno dan Reza langsung berdiri, ketika melihat sepasang suami istri itu berjalan mendekati mereka.
"Tuan."
Sebut Benikno pelan, sambil membungkuk kan badan dan Rio hanya menatapnya sekilas.
"Reza bagaimana kabarmu?" Tanya nya pelan pada sesosok lelaki, bertubuh tinggi, dengan wajah di penuhi lebam.
"Baik." Jawab Reza singkat.
Sebenarnya Reza tak rela jika Bunga bersama pria di hadapan nya, di karenakan begitu besar, rasa sayangnya pada perempuan cantik itu. Namun takdir tak mengizinkan cinta Reza di miliki oleh Bunga.
Rio tersenyum tipis sangat tipis, itulah salah satu kepribadian Rio yang sangat menjengkelkan. Jarang sekali ada senyum tulus menghiasi bibir merah delimanya, sekalipun saat dia bersama kedua orangtua nya.
"Aku sangat merepotkanmu." Ujar Rio lagi.
"Tidak masalah."
"Apa yang terjadi pada wajahmu?" Tanyanya pura-pura panik dan seperti tidak tahu apa yang di alami Reza malam itu. Ulah siapa lagi jika bukan Briyan adiknya.
"Anda tidak perlu tahu Tuan." Reza ikut tersenyum.
"Mungkin menurutmu pertanyaanku terlalu lancang, baiklah lupakan saja."
"Hmm."
Reza cuma menjawab lirih.
"Mulai sekarang kamu tidak perlu khawatir, karena Aku akan membawa isteriku pulang, terima kasih atas kebaikanmu telah menjaganya." Rio menepuk pundak Reza pelan.
"Ya, jika itu inginmu Aku bisa apa?"
"Oke, apakah Aku bisa pergi sekarang?" Rio terus menatapnya tanpa berkedip. Reza mengangguk berat. Entahlah dia seperti tidak sanggup harus berpisah dengan Bunga.
"Tapi Rio." Bunga langsung menatap Rio.
"Apa?"
"Barangku."
"Aku akan mengurusnya, jadi kamu tak perlu memikirkannya."
"Rez, Aku harus pergi." Ucap Bunga kemudian pada Reza.
Suara nya terdengar lirih dan pelan. Reza hanya tersenyum, ia tak memberikan jawaban apa pun.
Setelah itu Rio segera menarik tangan bunga dan menggengamnya erat. Mereka berjalan menuju area parkir. Benikno bergegas membukakan pintu untuk mereka berdua.
TAK TERASA WAKTU SUDAH BERLALU.
Pernikahan Briyan telah berjalan baik seperti keinginan kedua belah pihak keluarga mempelai. Lancar tanpa adanya hambatan apa-apa. Para tamu undangan yang datang memberi selamatpun di katakan tidak sedikit, sangat meriah serta fantastic.
Saat ini jam menunjukan pukul 21:00 malam.
Acara di nyatakan selesai. Penat, namun terasa puas juga, sebab hajat besar sudah di laksanakan.
Di dalam kamar.
Bunga benar-benar kembali ke dalam rumah ini, ia tengah merapikan tempat tidur mereka. Setelah itu membaringkan tubuh nya yang terasa lelah. Seharian berada di acara pernikahan Briyan membuat pinggang nya sakit dan dia hanya beristirahat sesekali, karena banyaknya tamu yang hadir.
__ADS_1
CEKLEK.
Pintu kamar terbuka, muncul wajah tampan Rio, segurat wajah itupun letih. Bunga menatapnya saja.
"Kenapa menatapku seperti itu?" Tanya Rio pelan.
"Apa menatap wajahmu melanggar hukum?" Ucap Bunga balik bertanya, Rio tersenyum.
"Iya, sangat melanggar hukum."
"Ahh sejak kapan ada peraturan seperti itu, memang wajahmu semahal apa?" Bunga tampak kesal dengan candaan Rio yang tak begitu lucu menurutnya.
"Sejak kamu menatapku saat ini."
"Oh ya, apa perlu Aku membayarnya?"
"Kamu hanya perlu membayarnya dengan bibirmu."
"Gila."
Celetuk Bunga semakin kesal. Di lihatnya Rio terus berjalan kearahnya dan mengambil posisi untuk duduk.
"Apa kamu masih marah padaku?" Tanya Rio pelan.
Bunga pun buru-buru menutup hidungnya dengan telapak tangan. Sejak dia mengetahui bahwa dirinya hamil, tiba-tiba saja dia merasa benci jika melihat muka Rio. Apakah hal itu bisa di katakan sebagian pengaruh kehamilan nya.
"Oouh... Kenapa kamu menutup hidungmu, Kamu membuatku tersinggung?" Rio bertanya lirih, bingung akan tingkah laku Bunga yang aneh-aneh.
"Tentu saja Aku pusing jika mencium bau parfum mu, bisakah Kamu tak memakai parfum jika berdekatan denganku."
Rio tercengang.
"Rata-rata wanita yang hamil akan begitu, jika kamu ingin mengetahuinya lebih lanjut, buka saja google." Bantah Bunga pelan.
Rio tersenyum lagi.
"Ya, Aku akan berusaha memahamimu. Kenapa kamu tak menjawab pertanyaanku tadi? Apa kamu masih marah padaku?"
"Mau tahu?"
"Iya mau tahu banget."
"Ahh sejak kapan kamu merubah bahasamu lebih gaul?"
"Lupakan, cepatlah katakan padaku, apa kamu masih marah?"
Bunga hanya menggeleng pelan.
"Benarkah? Kamu tahu sejak kepergianmu, tidurku benar-benar tidak nyenyak dan sepi. Aku sangat merindukanmu." Jelas Rio jujur, tangan nya bergerak mengambil jari jemari milik Bunga, ia genggam lalu mengecupnya pelan.
DEG.. DEG
Jantung Bunga spontan mendadak lebih kencang dan berdegup tak beraturan.
"Lalu, kenapa kamu meninggalkan Aku di apartemennya Reza? kamu benar-benar tak punya perasaan!" Bunga cemberut.
"Karena Aku sangat cemburu, melihat kedekatanmu dengan Reza dan setiap kali Aku bertanya tentang hubunganmu dengannya kamu selalu beralasan serta tak mengatakannya jujur. Kenapa? Aku jadi curiga. Sebenarnya Aku hanya memberikanmu sedikit pelajaran saja agar kamu berpikir, bahwa sekarang kamu adalah milikku satu-satunya." Rio menatapnya teduh sambil menjelaskan secara detail. Bunga balas menatap lelaki di hadapan nya.
"Jika Aku jujur, apakah kamu tidak akan merasa kecewa? Aku takut kamu akan menyesali ketika mendengarnya."
__ADS_1
"Katakan saja, Aku berjanji tidak akan menyesal, karena itu adalah masa lalumu."
"Ya sudah dengarkan baik-baik."
"Tunggu dulu."
"Apa?"
"Bangunlah sebentar." Perintah Rio tenang.
Bunga sedikit bingung namun akhirnya bangun juga.
"Kamu ingin Aku melakukan apa lagi?" Tanya Bunga pelan.
Rio masih menampakkan senyumnya sambil berbisik di telinga perempuan cantik itu. "Bukakan bajuku, bukankah sudah hampir beberapa hari semenjak kita kembali ke jepang kita tidak pernah melakukannya lagi?" Desahnya nakal.
Bunga melebarkan matanya.
"Dasar kamu lelaki mesum!"
Rio malah tertawa lebar.
"Untuk meredam rasa cemburuku hanya itu, sudah pasti kejujuranmu itu akan sangat.. sangat membuat perasaanku cemburu, betulkan sayang."
"Huuff."
Bunga kemudian menghela nafasnya panjang, mencoba mencakup seluruh oksigen yang ada.
"Bagaimana sayang, kamu maukan? Ayolah."
"Oke, Aku setuju. Tapi ada syaratnya?" Bunga ikutan tersenyum nakal.
"Apa? Tentu saja Aku akan mengabulkannya. Kamu ingin apa?"
"Buatkan Aku sesuatu."
"Apa? Tapi permintaannya tidak usah aneh-aneh ya?"
"Tanpa terkecuali dong, tadikan kamu sudah setuju?" Bunga mengkerutkan kening.
"Eemh iya iya, Ayo katakan permintaan seperti apa itu."
"Aku pengen makan gado-gado terus kamu yang buatin." Manjanya.
"Aaah kamu sedang tidak mengerjai Akukan, gado-gado itu apa? Aku belum pernah mendengarnya, bagaimana mungkin Aku bisa membuatkannya untukmu."
"kamu mau atau tidak?"
"Oke-oke akan ku kabulkan, apa iya harus sekarang?"
"Tahun depan!" jawab Bunga kesal.
"Ciieeeh ngambek." Rio langsung beranjak dari posisi nya saat itu. Tapi Bunga malah menariknya. Rio keheranan.
"Ada apa lagi?"
"Sini duduk."
Bunga menepuk-nepuk sprimbed di sampingnya, mengisyaratkan agar Rio duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Besok saja buatnya."