DI NIKAHI BOS TAMPAN

DI NIKAHI BOS TAMPAN
Bab. 43. Ciuman Paksa


__ADS_3

Keadaan menghening sejenak.


SEEEETTT


Briyan menekan tombol otomatis untuk mengunci seluruh pintu mobil. Semakin besar rasa kepanikan Bunga.


"Briyan, apa yang akan kamu lakukan. Kamu tidak akan berbuat macam-macam terhadapku kan?" Bunga mengintrogasi dengan pertanyaan menekan.


"Diamlah kak! Aku hanya kesal padamu, Aku benci perempuan yang sok jual mahal!" bentaknya tinggi.


"A-Apa salahku Briy? Sehingga kamu terus mengancamku seperti ini!"


"Tanyakan sendiri pada hatimu kak, tak perlu kujelaskan. Sebenarnya Aku sangat benci pemaksaan." Jawab Briyan tegas.


"Aku masih tak mengerti maksudmu."


Ketakutan Bunga perlahan-lahan menghilang. Hanya jantungnya saja yang sejak tadi berdegup kencang. Bunga melirik tas dan segera mengambil ponselnya namun, Briyan secepat mungkin merampasnya.


"Briyan!!"


"Tutup mulutmu kak, sudah ku bilang Aku benci pemaksaan!"


Briyan tersenyum sinis, menonaktifkan ponsel Bunga, lalu beranjak dari posisinya. Dia bangun mendekati Bunga dan duduk di samping perempuan itu.


"Briyan apa kamu sudah gila, Aku adalah isteri saudaramu. Jika saja dia tahu apa yang telah kamu lakukan terhadapku, dia tidak akan memaafkan mu Briyan."


"Ya, kamu benar kak, dia tidak akan memaafkanku. Lalu selanjutnya siapa yang bisa ia percaya? kamu atau Aku?'


Briyan masih menampakan senyum sinisnya. Dia memandangi perempuan itu dengan seksama. Ada gejolak jiwa yang tak bisa ia tahan.


'Kak, Aku tidak tahu dengan apa aku harus menyatakan perasaan sukaku ini, tapi Aku sadar kamu adalah milik saudaraku. Entah mengapa perasaan ini begitu singkatnya, tumbuh bahkan memilihmu untuk tinggal di dalam hatiku.' Batin Briyan berkata.


Pandangan matanya tajam, masih tetap seperti mengawasi. Bunga balik menatap tajam kearah Briyan. Perasaan nya bercampur aduk. Tiba-tiba saja Pria itu mencekal kedua pergelangan tangan nya.


"Briyan !! Tolong menjauh dariku!" Bentak Bunga keras, ia berusaha memberontak genggaman tangan Briyan. Namun tenaga Briyan sangat kuat tanpa ia sadari mata indahnya berkaca-kaca.


Bunga sangat takut, takut terjadi sesuatu yang tak pernah ia bayangkan. Sejak tadi tubuhnya bergetar. Sementara Wajah manis Briyan semakin mendekat. Ya, dia akui Briyan pun memiliki seraut wajah yang tampan, namun ketampanan itu membuat diri seorang Bunga merasa jijik. Tentu saja ia jijik karena Briyan sudah berani melecehkannya seperti ini.

__ADS_1


Hembusan nafas Briyan terasa hangat. Bunga membuang muka ke lain arah. Tapi sialnya lelaki itu tak bergeming, dia semakin membuat perasaan Bunga ketakutan. Dengan liarnya Briyan menggeser tubuh Bunga hingga benar-benar merapat ke dinding mobil.


"B-Briyan tolong menjauhlah, jika tidak Aku akan berteriak sekeras mungkin!"


"Berteriaklah sepuasnya karena mungkin tidak akan ada orang yang lewat. Kakak ipar harus tahu tempat ini sepi!"


"Toloooooong!" Teriak Bunga kencang.


Briyan hanya tertawa, dia tak perduli. Briyan langsung saja mengecup bibir itu dengan ganas nya. Bunga memberontak berkali-kali, Briyan tetap melakukan aksinya tanpa ampun. Bunga menangis sejadi-jadinya, dia berhadap ada keajaiban yang datang. Dia butuh bantuan! Bunga menangis, air matanya menetes amat deras ketika Briyan mulai menciumi leher putih miliknya.


Persendian nya seolah-olah melemah, tenaganya sudah hampir habis karena penolakan yang terus Bunga lakukan.


"Briyan Kamu brengsek. Aku tidak akan memaafkan mu Briyan, sekalipun kamu berlutut di kaki ku! Lepaskan Aku brengsek, Lepaskaaaaaaaann!"


"Kak, nikmati saja ciuman ku, kamu akan senang. Aku akan memberikan kehangatan yang lebih hangat dari pada permainan Kak Rio." Jawabnya di tengah-tengah ciuman itu.


"Tidak Briyaan lepaskan Aku!" Teriaknya lagi.


Briyan tetap mengganas, bahkan dia bertindak nekat untuk melepas baju atasan yang di kenakan Bunga. Briyan kembali mengecupi bibir Bunga, sangat tak liar.


NGOOOOOONGGGG


Terdengar suara mesin motor mengerem tepat di samping mobil mereka berhenti.


Tek Teeekk


Seseorang mengetuk kaca mobil Briyan.


"Aah sial siapa yang telah berani mengganggu kesenanganku!" Umpat Briyan kesal.


Dia terpaksa memperbaiki posisinya dan segera menekan tombol on untuk membuka kaca mobilnya.


"Selamat Siang Tuan!"


Sapa seseorang itu, penampilannya rapi dan wajahnya belum nampak jelas, karena orang itu sedang menggunakan pelindung kepala atau sejenis helm.


"Siang!"

__ADS_1


"Sedang apa tuan di sini? bukan kah di sini sering terjadi tindak kriminal, apa tuan tidak takut?"


"Apa urusanmu, tentu saja Aku sedang menikmati pohon marple yang indah ini, bersama pacarku!"


Lawan bicara Briyan tersenyum.


"Heh, mengapa kamu tersenyum apanya yang lucu. Apa jangan-jangan kamu seorang perampok! setahu ku di sini jarang sekali ada orang yang lewat."


Mendengar hal yang di bicarakan mereka, Bunga tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Paling tidaknya dia bisa meminta perlindungan dan kabur dari Briyan. Sepertinya orang itu berbicara dengan baik-baik.


"Tuan!" Panggil Bunga keras, dia menggeser jendela mobil. Lelaki itu menoleh.


"Bunga," ucap nya tegas sambil membuka kaca helm nya cepat.


"Re-Reza."


"Bunga apa yang terjadi? apa kamu baik-baik saja? di mana Rio? Siapa lelaki itu?" tanya Reza bertubi-tubi dengan nada khawatir.


"Di-Dia hampir saja memperkosaku Rez, tolong bawa Aku pergi dari sini! Aku takut Rez, nanti akan Aku jelaskan padamu."


"Oke... Oke Aku akan membawa mu pergi tapi kita selesaikan dulu pria ini."


Briyan menjadi panik melihat kedekatan mereka, Briyan mengepal tangan kanan nya, lalu turun dari mobil dan mengarahkan tinjuan pada tubuh Reza.


Reza menangkisnya.


"Tenang. Kita bisa bicara baik-baik!" Pinta Reza datar.


"Tapi, Aku tidak suka kesenanganku di ganggu orang lain, Siapa kamu!"


"Aku Reza. Apa yang telah kamu lakukan pada teman wanitaku ini, Aku tidak akan memberimu ampun karena kamu telah berniat jahat pada temanku!"


"Tapi dia milikku, baik kita selesaikan sekarang, kamu sangat menggangguku!"


Briyan kembali mengepalkan tangan kanannya, serta bersiap melayangkan tinjuan kewajah Reza. Reza menghindar kesamping lalu menangkis tangan Briyan, mengunci lengan Briyan dan mematahkan gerakan Briyan. Tapi Briyan tidak semudah itu mengalah. Ia geser lagi kakinya. Terjadi lah perkelahian di antara mereka berdua, mereka adu jotos, saling menendang. Hal ini membuat bunga panik.


"Tolooooong berhenti!" Teriaknya lancang.

__ADS_1


Keduanya pun terdiam serta menghentikan perkelahian itu. Mereka menatap tajam kearah Bunga yang sudah berdiri di samping. Perempuan itu menangis lagi tak tahu dia harus bagaimana.


__ADS_2