DI NIKAHI BOS TAMPAN

DI NIKAHI BOS TAMPAN
Bab. 36. Kamar


__ADS_3

"Huff."


Bunga menghela nafas panjang sambil guling-guling ngak jelas, menikmati sprimbed empuk yang ada di kamar Rio. Sementara Rio memandang nya heran, 'Ini perempuan salah minum obat apa?' batin Rio berkata pada diri sendiri.


Cukup mewah dan ada begitu banyak fasilitas di dalam.


"Wah ini beneran kamar kamu Rio?"


"Bukan Bung, kamar pelayan."


"Hah, kamar pelayan? kok bisa kita numpang di sini sih, kamar pelayan aja bagus nya minta di ampun, apa lagi kamar kamu betulan. Tajir melintir!" Bunga tertawa.


Rio mencenungkan mata. Baru tau dia kalau Aku emang konglomerat. Batin Rio sambil terkikik.


"Terus pelayan nya pada kemana?"


"Ya kerja lah, emang nya di gaji buat apa, kalau hanya tidur-tiduran saja." Rio memalingkan wajah sinis. Heran, karena isteri nya kelewat polos. "Udah sana mandi, mau ikut tidak?"


"Kemana?"


"Kemana saja."


"Tapi seriusan loh, Aku lagi capek." Wajah Bunga tiba-tiba manyun.


"Pokoknya kamu tidak akan menyesal, ayo mandi sana. Aku tunggu 5 menit."


"Hah lima menit?"


"Iya, kenapa tidak cukup memang nya?"


"Cukup. Hehe..."


"Ya sudah sana mandi."


"Terus kamu sendiri ngak mandi."


"Tidak, Aku masih harum kok."


"Dih." Celetuk Bunga sedikit heran, Namun Rio lebih asyik duduk bersila di atas sofa tanpa memperhatikan nya.


Bunga bergegas menuju ke toilet sambil mengambil handuk di dalam koper hitam milik nya dan lagi-lagi mata Bunga di takjub kan oleh pemandangan yang nyaman di dalam ruangan itu, segala macam shampo, sabun, pembersih dan lain-lain lah. Lengkap banget ngak kayak kamar mandi kepunyaan nya di sana. Padahal dia seorang perempuan tulen, namun Bunga tidak terlalu di repotkan dengan segala macam make up, pembersih wajah, pembasmi jerawat atau apa lah. Dia merasa hidup nya cukup simpel.


Lima menit kemudian.


Bunga celinguan di balik pintu toilet, mengintip keluar, memastikan keberadaan Rio. Seperti nya lelaki itu sangat setia menunggui.


"Yah, Kok Rio ngak pergi-pergi sih, padahal Aku pengen ganti baju. Ntar kalau keliatan diakan Aku malu." Gerutu nya kesal.

__ADS_1


Dia melihat kearah Rio lagi. Lelaki itu kini menatap arloji di pergelangan tangan putih nya.


"Bunga!" Panggil nya kemudian.


"I-iya bentar."Jawab Bunga tergugup-gugup.


"Udah Lima menit." Teriak nya lagi.


"Iya, Kamu bisa pergi sebentar kan, Aku mau ganti baju."


"Ganti baju ya tinggal ganti baju, kenapa harus mengusir Aku juga. Biasa saja lah, lagi pula Aku sudah melihat seluruh tubuh kamu."


"Tapi Aku belum biasa sama kamu. Udah sana cepetan keluar, ngak usah banyak cingcong. Telingaku udah kesel tahu ngak sih."


"Huff!" Rio terpaksa bangun dan membuang nafas nya pendek. Dia pun berjalan menuju pintu exit.


"Ye akhirnya dia pergi juga." Bunga pun tersenyum girang serta melangkahkan kaki nya ke luar dari kamar mandi.


Tak butuh waktu lama, penampilan Bunga langsung rapi, udah kayak di tongkatin sama peri aja.


Ceklek


Pintu kamar terbuka lagi. Dan muncullah wajah tampan milik Rio Xen Zhin, namun wajah Rio tak punya ekspresi sama sekali.


"Sudah ganti baju nya?" Dia baru bertanya, ketika bertatap langsung dengan bunga sang pemilik wajah layaknya baby.


"Kita mau kemana? Tanya Bunga memberanikan diri.


"Tidur."


"Huff kirain mau jalan-jalan." Bunga jadi sedikit kesal, ya kesal sekali. Mandi di buru-buruin, eh tahu nya cuma di suruh tidur doang. "Tapi ini masih sore Rio."


"Ngak usah banyak bantah isteriku, Aku adalah suami mu yang harus kamu taati."


"Iya deh!" Dengan suara yang pelan dan tegas akhirnya Bunga melangkah mendekati sprimbed. Dia tak banyak bicara sekarang hanya duduk sambil menunduk. Sementara Rio yang melihat hanya mengangkat sebelah alisnya karena cukup lucu memperhatikan tingkah laku sang isteri.


"Aku juga mau mandi, tunggulah sebentar." Celetuk Rio Xen Zhin pada akhirnya. Bunga menegak kan kepala, memberanikan diri untuk menatap pria tampan di hadapan nya.


"Ya ampun." lirihnya pelan sembari menangkup wajah nya sendiri dengan telapak tangan. namun suara Bunga masih terdengar jelas di telinga Rio. Lelaki itu menoleh.


"Ada apa?" Tanya Rio Xen Zhin terkejut. "Apa kmau melihat sesuatu yang aneh pada wajahku atau pun tubuhku? heum."


Bunga terdiam, jantung nya serasa ingin terbang, ingin juga lepas dari tempat ternyaman yang saat ini berada di dalam dada yang ia punya. Dan pasti nya bukan hanya sekali dua kali Rio Xen Zhin menampak kan setiap sisi lekuk tubuh atletis nya. Sudah beberapa kali kok, selama mereka menikah Eem tidak terlalu banyak sih.


Rupa nya Rio tengah menanggalkan pakaian yang melekat pada tubuh nya. Tentu saja perempuan itu mengaguminya.


"Hei sayang kenapa kau tidak menjawab?" Tanya Rio Xen Zhin lagi, Nada nya terdengar lebih penasaran.

__ADS_1


Bunga malah mengelengkan kepala.


Rio Xen Zhin kemudian mendekati nya, dia sudah bertelanjang dada sekarang.


"Jangan mendekat!" Sentak Bunga kasar, agar langkah Rio Xen Zhin mengurungkan niat untuk semakin berdekatan pada diri nya.


Rio tertawa, sehingga menampak kan barisan gigi putih nya yang rapi, Rio Xen Zhin juga memiliki bentuk gigi bagus.


"Kamu kenapa? Kamu takut? Hei coba buka mata mu, Apakah kamu tidak ingin menikmati bentuk dadaku yang kokoh dan berisi, semua wanita di kantorku sangat mendambakan dirinya berada di dalam dekapanku. Kamu malah sebaliknya." Rio memposisikan dirinya semakin dekat.


Hal yang di lakukan Rio semakin menambah getaran di tubuh Bunga. Rio perlahan menarik jari jemari bunga untuk ia singkirkan.


"Ahh... Rio apaan sih, enyahlah dari hadapan ku, Aku hanya belum terbiasa melihat tubuh mu."


"Iyakah, biasa kan lah jika begitu, pasti ini akan menjadi permainan baru untuk mu sayang. . . . . "


"Huff, Minggir-minggir Rio, cukup Aku tidak ingin mendengarkannya lebih lama."


"Aku tidak akan menggeser tubuhku."


"Heh, Lalu apa yang kamu mau? Jangan grazy dong. Aku bisa saja menampar mu sekarang. Jika ingin wajahmu ku beri tato alami maka dekatkan lagi tubuh mu."


"I dont care." Sambil tersenyum semanis mungkin.


Pukul 04:00 sore.


Ternyata Rio benar-benar menepati janji nya, dia pulang lebih awal dari biasanya.


Di ruang tamu.


Rio berjalan dengan langkah sedikit tergesa. Melewati ruang tengah yang nampak indah, dari segala penjuru. Semua anggota keluarga yang berada di situ langsung saja menatap kearah nya.


Begitu juga Rio, dia menghentikan langkah kakinya sejenak, Bunga yang sejak tadi sedang duduk kini beranjak bangkit menghampiri sang Suami.


"Selamat sore Rio, apa kamu lelah? sini biar ku bantu membawakan tas mu." Sapa Bunga pelan. tangan nya mengambil tas berbentuk kotak dari tangan Rio.


"Sore."Jawab Rio ada senyum manis dari bibir merahnya.


"Kalau kamu merasa gerah, akan segera ku siapkan air untukmu mandi."


"Enggak usah sayang. Aku bisa melakukan nya sendiri." Tolak Rio halus.


"Baiklah." Kedua nya saling bertatap muka, bunga bisa melihat jelas bahwa wajah itu lelah.


"Apa yang bisa ku lakukan untukmu?" Bunga tak mengalihkan pandangan kedua mata nya dari lelaki tegap itu.


"Tidak ada, ayo kita duduk." Ajak Rio pada nya. Bunga mengangguk dan menggandeng tangan Rio lembut.

__ADS_1


__ADS_2