
Rio membungkukkan badan memberinya hormat. Tante Yuni melangkah mendekatinya.
"Panggil saja Tante Yuni, Aku adalah ibu angkat isterimu."
"Senang bertemu anda Tante."
Rio mengulurkan tangannya pelan, begitu juga dengan Tante Yuni. Mereka saling berjabat tangan.
"Mari, silahkan duduk."
Tante Yuni mempersilahkan Rio untuk ikut duduk bersama Bunga. Rio mengangguk, Tak lama setelah Rio duduk Tante Yuni menyusulnya.
'Kamu benar-benar memiliki kemiripan dengan satria, haruskah Aku percaya bahwa kamu adalah saudara kembarnya? Tapi yang ku tahu saat itu, Aku tidak melahirkan bayi kembar.' Tante Yuni membatin dalam hati.
Ketika mereka bertiga sudah duduk pada posisi masing- masing. Keadaan bisa di bilang sunyi untuk sejenak. Entah mungkin saja mereka terhanyut dalam jalan pikiran mereka sendiri.
"Siapa nama lengkapmu pria tampan?" Tanya Tante Yuni, memecah keheningan.
"Rio Xen Zhin Tante. Kebetulan ayahku bermarga Zhin."
"Oh ya bukankah Ayahmu seorang pembisnis yang sukses."
"Benar Tante." Jawab Rio pelan.
"Apa kamu memiliki saudara?" Tante Yuni semakin penasaran.
"Hanya memiliki Adik laki-laki." Rio tersenyum.
DEG..
Jantung Tante Yuni bergetar tak karuan, seperti selayaknya bertemu kekasih yang baru di cintai.
"Baiklah kalian duduk saja, Tante buatkan kalian minuman."
Tante Yuni berusaha menyembunyikan rasa sedihnya, ia tak mungkin menangis di hadapan mereka berdua. Yang dia rasakan saat ini adalah, dia sangat merindukan Satria putera tercintanya. Ia beranjak bangun dari sebuah kursi berwarna hijau. Bunga mengangguk dan wanita berumur 35 tahun itu berlalu meninggalkan mereka berdua.
"Sayang kenapa hanya melihati rotinya saja? Kamu harus mengisi perutmu. Aku takut calon bayi kita mengajakmu muntah lagi."
Rio kini menatap isterinya yang sedang memegangi roti berselai cokelat, ia tak kunjung memakannya juga.
"Apa kamu tak senang roti ini? Aku bisa membelikan roti yang lain."
"Tidak, Aku akan memakannya sekarang."
Bunga langsung menggigit roti itu terpaksa karena sejak tadi perutnya mual. Rio bergerak mengambilkan nya sebotol air mineral lalu ia sodorkan pada bunga. "Kamu tidak ikut makan? kamu terlalu banyak membeli rotinya, dasar mubazir! Kamu pikir aku akan mampu untuk menghabiskannya."
"Tentu saja kamu mampu dan yang akan menghabiskannya adalah kamu serta bayi kita." Rio mengangkat sebelah alisnya dengan lihai.
__ADS_1
"Ah kamu ini ada-ada saja." Bunga manyun, namun mulutnya tak berhenti melahap roti.
"Jadikan cemilanmu jika kamu tak mampu memakan semua."
"Terimakasih sudah bersedia membiarkan Aku gemuk."
Bunga melahap terus roti yang berada di hadapannya hingga ia merasa sangat kenyang. "Rio ada yang ingin ku tanyakan padamu." Bunga berubah menjadi serius.
"Apa?"
"Apa kamu benar-benar terlahir sebagai orang Jepang?" Tanya Bunga penuh selidik.
"Ya, ada apa tiba-tiba kamu bertanya soal asal usul ku, Tentu saja jawabannya sama sepertimu Aku terlahir dari rahim seorang wanita dan memiliki Ayah."
"Aku hanya penasaran." Bunga menunduk serta menghentikan kunyahan nya. "Apa kamu percaya bahwa seseorang bisa terlahir kembali?"
"Tidak, jika orang yang sudah meninggal tidak akan mungkin kembali, proses reinkarnasi itu hanya ada di dalam film ataupun novel. Mereka di awetkan tanpa nyawa, Apa kamu mulai meragukanku?"
"Ahh... Tidak, lalu bagaimana dengan wajahmu bisa semirip ini, apa kamu melakukan operasi, meniru wajah seseorang?"
"Wajahku? apakah wajahku seperti tidak asli?"
"Ya, bisa saja kamu melakukan operasi plastik. Jika hal itu yang terjadi Aku bisa percaya."
"Ahh... Apa maksudmu?" Rio memandangnya tak mengerti.
Terdengar suara Tante Yuni dari balik pintu ruangan yang berbeda. Ia membawa senampan jus melon dan sepiring makanan snack. Keduanya menoleh dan tersenyum.
"Maaf ya, tante hanya punya cemilan ini, karena memang Tante belum masak apa-apa." Dia balas tersenyum sambil meletakan nampan itu di atas meja.
"Tidak apa tante ini lebih dari cukup." Bunga yang jawab.
"Baiklah silahkan di cicipi."
Tante Yuni memberikan sepotong kue pada Bunga. Bunga menerimanya dengan senang hati. Rio juga ikut mencicipinya.
"Oh iya tante, tante kesini sendirian apa sama Om?" Tanya Bunga pelan di sela-sela kunyahannya.
"Berdua sama Om, tapi Om kamu sedang ada urusan sedikit."
Berjam-jam Bunga dan Rio berada di restoran itu, mereka melakukan banyak hal, dari obrolan ringan yang luas hingga mengarah pada topik di luar jangkauan.
Dua jam kemudian.
setelah dirasa cukup, pertemuan antara Tante Yuni dan Bunga harus berakhir. Mereka musti pulang kerumah.
"Sayang, kamu mau pulang kerumah sekarang apa kita jalan-jalan dulu, kebetulan ini adalah hari minggu, Jadi Aku tak memiliki kegiatan apapun." Tanya Rio ketika mereka sudah berada di dalam mobil.
__ADS_1
"Aku merasakan penat yang luar biasa jadi Aku ingin beristirahat." Jawab Bunga datar, ia sedang memejamkan kedua matanya.
"Bagaimana jika kita pergi ke suatu tempat dan kamu akan beristirahat di sana."
"Baiklah, yang terpenting Aku bisa melemaskan otot-otot kaku ini, apakah tempat itu jauh Sayang?
"Hanya berjarak satu jam dari posisi kita sekarang."
"Oke Aku setuju."
Bunga mengangguk yakin.
Rio pun langsung menambah kecepatan mobilnya. Mereka tak lagi saling berbicara hanya menikmati suasana jalanan yang ramai oleh kendaraan saling berlimpas. Benar yang di katakan Rio, Bunga melirik arloji nya sejenak, jarum jam menunjukan pukul 11:00pm. Tentunya tak lagi pagi, akan tetapi lebih tepatnya sudah siang.
Rio menghentikan mobilnya di depan sebuah Villa megah, halamannya luas bak lapangan bola, rumput- rumputpun menghampar hijau. Di sisi kiri terdapat air mancur yang menyembur deras.
Rio selalu turun lebih dulu, hanya sekedar membukakan pintu untuk Bunga. Perempuan berambut sepinggang itu keluar menampakkan senyum takjubnya.
"Sayang, bukan kah ini sebuah Vila?" Tanyanya sambil mengerutkan kening.
"Iya."
"Apa kamu akan mengajakku berbulan madu?"
Tanya Bunga lagi, masih bingung.
"Lebih dari bulan madu sayang."
"Wah lebay sekali dirimu sayang. Tapi bulan madu kita sudah terlambat."
"Kenapa?"
"Iya di karenakan kamu telah membuatku hamil duluan, ah itu tentu saja kurang memuaskan."
Bunga memanyunkan bibir merahnya yang mengoda. Rio menelan salivanya bersusah payah setiap kali melihat perempuan itu memainkan bibir, naluri kelelakiannya pasti bangkit. Apakah itu bisa di katakan bahwa Rio benar-benar kecanduan.
"Maafkan Aku, Aku juga tidak tahu kenapa begitu cepatnya janin itu jadi."
Rio tersenyum sambil merangkul mesra pundak sang isteri dan membawanya memasuki teras Vila.
"Yaya Aku selalu memaafkan mu." Lirih Bunga pelan, hanya sekilas mereka saling berbalas senyum. Rio segera menekan bel.
Ting Tung
Terdengar bunyi dari dalam. Tiba- tiba datang seorang lelaki separuh baya membukakan mereka pintu.
"Selamat siang Tuan, ah Anda tidak menelponku jika ingin kesini bersama isteri kesayangan Anda." Lelaki itu tersenyum bingung.
__ADS_1