DI NIKAHI BOS TAMPAN

DI NIKAHI BOS TAMPAN
Bab. 48. Hampa


__ADS_3

"Bunga apa kamu baik-baik saja?" tanya Reza panik.


"Iya Aku baik-baik saja, Aku hanya sedikit mual, boleh Aku pinjam toiletmu?"


"Iya pergilah toiletnya ada di kamar."


Bungapun bergegas menuju toilet. Reza masih memandangi nya heran dan panik.


Uuee.... Ueee.... Uee...


Terdengar suara Bunga yang sedang muntah-muntah. Reza langsung beranjak bangun dari tempat duduknya hendak mendatangi Bunga.


Dia tidak mengunci pintu kamar mandi itu, sehingga memudahkan Reza untuk masuk.


"Bung kamu Enggak apa-apa?"


Bunga tak menjawab, dia masih konsentrasi pada perutnya yang terasa seperti teraduk-aduk. Meski sudah berusaha dikeluarkan namun tak ada satu pun yang keluar. Karena dirasa nya cukup, Bunga kemudian menyenderkan kepalanya pada dinding. Wajahnya pucat serta berkeringat. Reza tak tega melihat keadaan Bunga seperti itu.


"Bung, apakah mualnya udah mendingan? Aku antar kamu ke kamar ya?"


"Enggak apa-apa Rez, Aku bisa jalan sendiri kok." Jawabnya lesu.


"Ouh ya udah." Reza menyadari bahwa dia hanyalah seorang teman, tidak lebih "bagai pungguk merindukan bulan" itulah pepatah yang cocok untuk mengibaratkan perasaan Reza.


Perlahan Bunga berjalan sambil memegangi perutnya. Reza mengikuti nya saja dari belakang. Perempuan itu melangkah mendekati sprimbed.


"Bagaimana? Apa masih sakit?"


Bunga menggeleng.


"Katakan saja jika masih sakit, Aku akan membawamu ke rumah sakit." Reza duduk di sampingnya.


"Tidak usah repot-repot Rez. Udah mendingan kok." Jawab Bunga pelan.


"Apakah penyebabnya adalah Mie Ramenku?Seharusnya Aku tidak membuatnya tadi."


"Tidak Rez, biasanya tidak seperti ini, entahlah akhir-akhir ini, kepalaku setiap pagi selalu pusing dan setahuku juga Aku tidak memiliki riwayat maag." Bunga menjelaskan.


"Apa jangan-jangan kamu hamil?"


"Hamil? Haha." Bunga langsung tertawa geli. "Kamu ngomong apa sih Rez."


"Ya mungkin saja. Biasanya itu gejala awal kehamilan, dan rata-rata seluruh wanita hamil pasti mengalami gejala seperti yang kamu alami."


"Ya ampun Reza kamu kok penjelasannya detail sekali, apa jangan-jangan kamu sudah pengalaman?"

__ADS_1


Reza terdiam. Yang dikatakan Bunga itu tidak salah, Angel mantan isterinya pun, sewaktu mengandung Tasya memang begitu.


"Rez, kok diam? Maaf ya kalau perkataanku nyinggung perasaan kamu."


"Aku tidak tersinggung kok, oh iya Aku khawatir kalau sakit kamu tambah parah, perut kamu pasti kosong, kamu mau makan apa? biar Aku belikan?"


"Aku Enggak ingin makan apa-apa Rez, Aku hanya ingin istirahat."


"Ya udah deh, nanti kalau lapar bilang saja sama Aku."


Reza menawarinya dengan penuh perhatian dan Bunga hanya mengangguk. Setelah itu Rezapun pergi meninggalkannya.


KEESOKAN HARINYA.


Matahari masuk melewati celah-celah tipis yang ada di atas jendela kaca, Apartemen itu. Bunga mengerjap-ngerjapkan matanya sejenak, dia merasakan sedikit pusing. Perlahan ia bangun mengerisut dari sprimbed menuju ke toilet untuk membersihkan dirinya.


Ting.


Jam dinding menunjukkan pukul 06:00. Bunga sudah selesai berdandan. Dia langsung menuju ke dapur, dilihatnya Reza tengah sibuk dengan rutinitasnya. Bunga jadi merasa tak enak hati, pria itu benar-benar melayaninya, padahal statusnya hanya teman. Memang sih sewaktu SMA mereka sudah terbilang dekat, namun keadaan sekarang telah berubah. Mereka bukan lagi anak SMA.


"Rez! Ada yang bisa ku bantu?" tanya Bunga pelan. Lelaki bertubuh tinggi itu tersenyum lalu menolah.


"Kamu duduk aja Bunga, Aku sudah biasa buat sarapan begini," ucap nya lembut. Bunga menurut saja, dia duduk di sebuah kursi.


"Oh iya gimana sama keadaan kamu? Perut kamu masih mual tidak? Aku bisa antar kamu kerumah sakit."


"Ya sudah, ini sarapan dulu, setelah itu ikut Aku mau tidak?"


Reza berjalan mendekati Bunga sambil meletakkan sepiring roti berselai keju. Bunga hanya mengangguk dan mereka langsung sarapan.


WAKTU PUN BERLALU selama kurang lebih satu jam. Reza membawa Bunga ke sebuah restoran unik yang berada di pinggir jalan "Coffe Of Love" Begitulah nama restorannya. Reza masuk tanpa ragu-ragu, sementara Bunga masih diam takjub dengan desain yang dimiliki restoran itu.


"Kenapa bengong? Masuk yuk?"


Reza menarik tangan nya. Bunga mengikutinya saja. Beberapa karyawan langsung memberi Reza hormat.


"Selamat Pagi Bos."


Sapa mereka berbarengan.


"Selamat Pagi juga buat kalian semua." Jawab Reza penuh semangat.


"Eeh mereka panggil kamu Bos?" Bunga bertanya bingung.


"Iya."

__ADS_1


"Maksudnya, kamu pemilik restoran ini?"


Reza hanya mengangguk, lalu mempersilahkan Bunga untuk duduk. "Kamu mau cobain menu apa? tinggal sebut aja."


"Eehgg Kamu serius?"


"Enggak Bunga tapi bohongan. Iyalah Bunga Aku serius, kalau tidak serius buat apa Aku bertanya."


"Free apa bayar ini!"


"Ya bayarlah! Kamukan tahu, hidup ini tidak ada yang gratis. Yang gratis itu cuma oksigen tapi kalau udah sakit juga bakalan bayar."


"Aku ngak punya duit." Jawab Bunga polos, Reza jadi tersenyum lebar melihat keseriusan di wajah Bunga.


"Udah Enggak usah dipikirin, mau pesan apa?"


Mimik wajah Reza baru serius. Mereka sudah mulai merasa nyaman, bahkan logat bicara merekapun ikutan berubah. Mereka sangat mencintai bahasa mereka sendiri.


Bunga langsung milih ini, milih itu. Terlanjur di kasih gratis pikirnya.


"Rez, gimana ceritanya kamu bisa jadi pembisnis di sini? bukannya kamu kerja di indonesia?"


"Iya, Aku udah lama buka usaha di sini. Sejak 1 tahun yang lalu." Jawabnya.


"Itu bagus." Bunga mengacungi Reza jempol.


"Makasih atas jari jempolnya. Eem Bunga Aku tinggal ke dalam sebentar ya." Pinta Reza pelan, sambil beranjak dari kursinya.


Bunga menghabiskan waktunya berjam-jam di restoran Reza. Bahkan diapun ikut membantu pekerjaan Reza, jika para pengunjung ramai. Hingga malam tiba mereka tetap asyik menikmati pekerjaan di restoran.


SEMENTARA DI RUMAH KEDIAMAN TUAN XEN ZHIN.


Saat itu jam menunjukan pukul 20:00 am. Rio tampak merebahkan tubuhnya di atas sprimbed, Seperti biasa dia selalu mengerjakan runitinasnya di kantor selama kurang lebih 8 jam. Sedikit melelahkan dan membosankan tentunya. Sehari tanpa Bunga ia lewati, mungkin itu sangat berat. Bahkan, perasaan ini baru ia rasakan pada perempuan itu.


Rio beranjak dari Sprimbednya lalu merapikan baju serta mengambil sebuah arloji bermerk di atas nakas dan memasangkannya di pergelangan tangan. Sejenak ia pandangi lagi sprimbed yang berada disampingnya. Lalu terdiam perih, Bunga sudah terbiasa duduk di situ, sekarang, yang ada hanyalah kekosongan.


Rio kini dihampiri dengan berbagai masa-masa indah bersama Bunga. Tapi, rasa amarah, telah menghancurkannya dalam sesaat. Rio benci harus menanggung rindu didalam dadanya, pedih, namun kerasnya hati, tidak bisa ia lunakkan sendiri.


TOK


TOK


Pintu kamarnya terketuk.


"Siapa?" tanyanya datar.

__ADS_1


"Ini Aku, Via." Jawab Via dari luar pintu.


__ADS_2