DI NIKAHI BOS TAMPAN

DI NIKAHI BOS TAMPAN
Bab. 36. Kesinisan Briyan


__ADS_3

"Katakan saja Aku tidak akan marah," ucap Rio lagi.


Dia beranjak bangun dari sprimbed itu, berjalan menuju ke toilet. Bunga masih tak ingin menjawab. Ada rasa kecewa di hatinya.


'Hai Rio bagaimana mungkin Aku akan menjawab pertanyaan mu, sedangkan kamu saja ke kamar mandi, emang kamu pikir suaraku bledek apa.' Gumam Bunga pelan.


Namun lelaki itu sudah menghilang di balik pintu. Bunga menghela nafasnya panjang kemudian membaringkan tubuh lelah nya di atas busa empuk. Yang mungkin akan membawanya berlabuh kedalam alam bawah sadarnya. Cuss.... Apa lagi kalau bukan mimpi. Setelah beberapa menit mengedip- ngedipkan mata indahnya, akhirnya rasa kantukpun hadir. Dia juga sudah makan sewaktu mereka berjalan pulang menuju rumah besar milik Rio. Rio mengajak ia makan di sebuah restoran yang letaknya di tak jauh dari pusat kota. Dia sangat kenyang sekali.


Keesokan harinya.


Bunga menatap samar-samar cahaya kuning yang melewati pentilasi jendela di kamar mewah milik Rio. Dan dia merasakan sesuatu yang hangat berletak di atas perut nya. Bunga menyentuhnya dan memperhatikan dengan lebih jelas.


'Ya ampun, ini tangan Rio.' Ucapnya dalam hati.


Benar saja ketika dia memperjelas lagi pandangan nya, Rio memang tengah tertidur lelap di samping sambil memeluk erat tubuhnya.


Bunga menggeser tangan itu perlahan serta hati - hati, ia takut gerakan nya membangun kan tidur sang suami. Namun, semakin di geser semakin erat juga pelukan Rio.


"Hai, Aku ingin bangun." Bisiknya pelan. 


Rio langsung menyingkirkan tangan nya. "Apa kamu tak ingin morning kiss ku?" Tanyanya melirih.


"Eh iya nanti aja, soalnya Aku udah buru-buru harus pipis." Jawab Bunga tegas.


Dengan sigap diapun bangun, menyingkap selimut yang menutupi sebagian kakinya tanpa memperdulikan ucapan Rio.


Beberapa menit kemudian.


Bunga sudah rapi dengan pakaian casual yang melekat indah di tubuh pendeknya. Dia berjalan menuruni setiap anak tangga yang melingkari ruang tengah di rumah itu. Ketika sampai di bawah dia mendengar suara dari seseorang.


"Ehem ehem good morning Nona cantik." Ucap Bryan kalem, tersenyum tanpa memandang keberadaan Bunga di sisi tangga.


"Morning." Jawabnya pelan.


Dia masih menatap tajam kearah pria itu. Panggil saja ia Bryan, lelaki berposter tinggi, berambut jabrik dan ada tato di lengan sebelah kirinya.


"Apa kamu senang berada di rumah ini? Tapi jangan pernah berpikir kamu akan ikut memiliki nya." Ucap Bryan lagi, nada nya masih kalem. Dia menyeruput secangkir kopi.


"Apa maksud mu?"

__ADS_1


"Kamu berpura-pura bodoh atau memang lugu. Kenapa selera kak Rio sangat rendah sekali, tak ku sangka dia akan mudahnya mencintai perempuan seperti kamu."


Maki Bryan seperti menyimpan kebencian terhadap perempuan milik Rio. Bunga bingung, rasanya sulit sekali mencerna perkataan yang di makikan Bryan terhadap dirinya.


"Maaf Tuan Bryan Aku tidak seperti yang tuan tuduhkan, Kehadiranku di sini, hanya karena statusku sebagai isteri Tuan Rio, dan sedikitpun Aku tak ingin mencampuri urusan kalian. Sekali lagi, maaf Aku harus pergi." Jelas Bunga Panjang, dia memutar langkahnya hendak menjauhi Bryan.


"Kamu akan menyesal karena menikah dengan kak Rio." Bryan Berkata lagi.


Wajahnya tampak memerah. Bunga menghentikan langkah nya untuk sejenak, setelah itu berlalu tanpa kata. Sementara Bryan yang merasa ucapannya itu di acuhkan oleh Bunga, dia pun menjadi marah. Dan menghentakan tinjuan ke atas meja.


BRAKK!!


"Bryan, Ada apa? apakah kamu mabuk lagi?" Tanya Rio tiba-tiba.


Entah sejak kapan lelaki itu sudah berada di situ. Bryan menoleh, dengan raut wajah yang menampakan kepanikan.


"Kak Rio." Jawabnya terbata-bata. Sambil memandang kearah Rio. "Aku hanya sedikit kesal kak, pacarku baru saja memutuskan hubungan dan itu sangat membuatku frustasi." Lanjut Bryan lagi berbohong, ia menggunakan segala alibi yang dia punya.


"Oh jika begitu Aku turut bersedih dengan musibah yang menimpamu." Rio menjawab setenang mungkin.


"Are you ok Briyan?"


Rio hanya tersenyum, sebelum ia meninggalkan Bryan sendiri.


"Huh. Pria menyebalkan!" Maki Bryan marah, Rio pun sudah menjauh.


Di dapur.


Bunga tampak, duduk antusias di depan sebuah meja makan, berbentuk bulat memanjang. Di meja itu, telah terhidang berbagai macam segala jenis buah-buahan dan minuman. Sejak pukul 05.00 tadi, pelayan, telah memulai pekerjaan mereka, menyiapkan menu untuk sarapan pagi ini.


"Pelayan!"


Panggil Rio tegas mimik wajahnya dingin. Tiga pelayan buru-buru datang menghampirinya.


"Ya Tuan." Jawab kepala pelayan dengan sopan, posisinya membungkukkan badan.


"Siang ini Tuan Besar dan Nyonya besar akan datang, jadi untuk menyambut kedatangan kedua orangtuaku, tolong siapkan menu masakan pilihan." Perintah Rio kepada ketua pelayan di rumahnya.


"Baik Tuan, kami akan melakukan yang terbaik." Jawab mereka serentak.

__ADS_1


"Ya sudah lakukan." Rio tak lagi menatap mereka, dia melangkah mendekati sang isteri.


"Rio, kenapa kamu tidak memberitahuku jika kedua orangtua mu akan kembali," ucap Bunga datar ketika Rio berada di hadapan nya.


"Apa itu perlu."


"Tentu saja itu perlu."


"Memang apa yang akan kamu siapkan untuk menyambut kedatangan Mommy dan Daddy. Ku rasa kamu hanya akan menyusahkan saja."


"Maksudmu apa?"


"Maksudku coba jemput mereka di bandara, bisakan kamu melakukannya."


"Kamu ingin mobilnya jatuh ke selokan."


"Tidak. Aku tidak bisa menyetir, otomatis jika Aku membawa mobilmu yang ada justru aku masuk kerumah sakit, huh...." Gerutu Bunga manyun.


Rio sedikit terkekeh. Tanpa menjawab ledekan itu.


"Hah, dasar pria tanpa ekspresi."


"Apa katamu, coba ulangi Aku ingin mendengarnya lebih jelas." Rio berkata sambil menarik kursi di samping Bunga untuk duduk.


"Pria kaku."


"Itu hanya untuk orang lain, jika untukmu Aku adalah Pria termanis yang pernah ada, bukan kah begitu sayang?" Tanya Rio lirih.


"Entahlah!"


Bunga terlihat mengangkat kedua bahunya.


Rio sekarang tersenyum.


"Ya sudah siapkan sepiring sarapan buatku, ayo lakukan aku akan menunggu."


"Okei, kamu hanya perlu sedikit membungkam mulut mu dan menunggu ku menyiapkan sarapan yang special untukmu." Bunga segera beranjak dari tempat duduknya dan mulai mengambil beberapa makanan.


Lelaki itu hanya diam, memperhatikan gerak gerik sang isteri. Bunga adalah anugerah terindah yang dia miliki. Semenjak kehadiran Bunga di sisi nya, hidup Rio lebih terasa berwarna. Bahkan dia pun memiliki sebuah senyuman manis di balik sosok nya yang dingin. Cukup! Bunga telah merubah dunia nya. Namun sekali lagi, apakah kebahagian yang dia rasakan, akan kekal untuk selama nya? Kita lihat permainan unik yang akan di perankan oleh mereka yang merasa dengki.

__ADS_1


__ADS_2