
"Oke, Aku sudah selesai sayang." ucap Bunga pelan, tak lama setelah ia selesai mengganti bajunya. Rio menoleh memandanginya, ada segurat senyum yang terpasang di wajah lelaki dingin itu.
Dia beranjak bangun dari posisinya sekarang, melangkah mendekati Bunga.
"Oke. Kemarilah sayang."
Rio merentangkan kedua lengannya yang putih, bersiap memberikan pelukan terhangatnya. Bunga mengkerutkan dahi bingung namun tetap ia turuti saja perintah Rio.
Bunga kini memeluknya, sementara Rio merapatkan kedua tangannya, tinggi mereka memang beda akan tetapi hati mereka sama.
"Sayang, ingatlah Aku pernah bilang padamu, bahwa Aku sangat takut kesendirian dan kehilangan, mulai hari ini tetaplah di sampingku jangan biarkan orang lain memisahkan hubungan kita," ucap Rio lirih sambil mengelus rambut Bunga pelan.
"Aku tahu, sebenarnya kamu adalah lelaki yang romantis, tapi wajahmu selalu saja nampak dingin. Apakah ada seseorang yang pernah membuatmu terluka? Kamu juga harus ingat kalau Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Eem tapi Aku penasaran apa yang telah membuatmu tiba-tiba berkata seperti ini?" tanya Bunga datar, ia sedikit terhanyut di dalam dekapan hangat Rio. Untuk saat ini, hati kecilnya memvonis bahwa dia juga sangat menyayangi lelaki di hadapan nya.
"Tidak ada, Aku hanya takut saja."
"Ya sudah jika begitu, lepaskan pelukan mu kita harus segera turun ke bawah."
"Oh iya."
Rio tersenyum tipis dan melepaskan pelukannya, ia meraih tangan bunga serta menggandeng nya keluar ruangan.
Sesampainya di ruang tengah, beberapa orang ternyata sudah duduk standbay.
"Selamat Pagi." Sapa Bunga tersenyum ramah, namun mereka mengabaikannya.
Bunga menjadi canggung, namun ia berusaha menguasai keadaan. Entahlah kenapa semua orang selalu berwajah dingin, kaku dan tak bersahabat. Mereka benar-benar keluarga yang tidak menyenangkan.
"Pagi kakak ipar." Hanya Briyan yang menjawab.
Lelaki itu tersenyum manis, pandangan kedua matanya menajam, seakan menyimpan sesuatu yang bergelora di dalam hati kecilnya.
"Kemarilah gadis kecil." Oma Naomi memanggilnya.
Keduanya mendekat, mengambil posisi di samping Nenek berwajah Bengis itu. Dia tersenyum dengan menampakan barisan giginya.
"Benarkah namamu Bunga?"
"Iya Nek."
"Panggil Aku Oma Naomi, Aku tidak terlalu suka di panggil Nenek!"
__ADS_1
"Oh maafkan Aku."
"Tentu saja. Apakah pekerjaan ibumu seorang dokter?"
"Ya."
"Tapi kenapa kamu hanya lulusan sekolah menengah atas?" Tanya Oma terus menatapnya, begitu juga yang lain. Bunga merasa seperti di introgasi sebuah kasus pembunuhan saja, kaku, tak ada humor sama sekali.
"Oma, masalah ini tanyakan saja padaku." Rio menyela dengan senyum nya yang tipis. Pandangan mereka beralih pada Rio.
"Kenapa Aku harus bertanya padamu?" Oma Naomi mengkerutkan kening.
"Iya, karena Aku telah lancang melamarnya lagi pula umur Bunga masih 18 tahun. Tapi dia sudah ku nikahi terlebih dahulu, seharusnya dia masih harus lanjut keperguruan tinggi. Sayangnya isteriku telah hamil."
Mereka semua spontan menatapnya sangat terkejut.
"Apa, kakak menghamilinya, kenapa cepat sekali?" Briyan buka suara. Matanya membesar seperti telur.
"Kenapa kamu begitu terkejut Briyan? Bukan kah itu kabar yang baik, begitu kan ibu mertua?"
Via mengalihkan pandangannya pada Nyonya Kazumi. Raut wajahnya menampakan ketidak senangan nya, dia merasa tersaingi sekarang.
"Ya itu kabar yang baik. Tak lama lagi Aku akan berstatus menjadi nenek juga." Jawab Nyonya Kazumi datar.
"Selamat buat kalian." Celetuk Briyan tiba-tiba, ia langsung beranjak dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan mereka semua.
Via merasa sedikit aneh dengan sikap suaminya yang mengalami perubahan 100% itu. Ada apa dengan Briyan?
"Permisi, Aku harus menemui suamiku." Via juga ikut beranjak dari tempat duduknya.
Semua hanya saling diam serta menampilkan ekspresi masing-masing. Punggung Via menghilang memasuki sebuah kamar yang posisinya tak begitu jauh dari ruang tengah.
Via berjalan membuka pintu kamar.
CEKLEK.
Pintu kamar terbuka, terciumlah semerbak harumnya mawar merah. Kamar itu juga di penuhi berbagai macam dekorasi ala pengantin jepang.
Di lihatnya Briyan tengah duduk di tepi jendela, pandangan nya mengarah ke sebuah halaman luas. Ada deretan pohon pinus berdiri amat kokoh dan bunga sakura yang menghampar begitu indah menghiasi halaman rumah mewah mereka. Via mendekatinya.
"Briyan." Sebut Via pelan.
__ADS_1
Briyan tak menjawab, hanya terdiam.
"Kenapa tiba- tiba kamu menjadi aneh begini, apakah Kamu merasa tersaingi oleh Rio."
"Apakah Aku harus mengatakan nya padamu?" Briyan baru menjawab.
Via pun tersenyum sinis.
"Sejak kapan kamu mulai merasa tersaingi? Ataukah jangan-jangan kamu menyukai Bunga, sehingga kamu merasa tidak rela, jika Rio lah Pria yang menghamilinya? kamu bukan saja seorang lelaki kejam akan tetapi kamu pengecut!"
"Apa maksudmu Via!"
"Aku adalah isterimu sekarang, setelah kehadiran Bunga di rumah ini, perlakuanmu sekarang tidak lagi manis seperti dulu. Apa yang membuatmu berubah? Apa Kamu benar-benar jatuh cinta pada perempuan bodoh itu."
"Hentikan makianmu Via, bahkan kamu terlihat sangat menjijikkan, Kamu tak lebih baik dari Bunga."
"Oh Kamu benar-benar menyukai perempuan yang telah di nikahi oleh saudaramu sendiri, penjilat!" Via semakin emosi.
"Hah, kamu pikir kamu bukan seorang penjilat, Aku tahu hingga kini kamu pun sebenarnya masih mencintai Riokan! iya kan Via?"
"Iya Aku masih sangat mencintainya, lalu kamu bisa apa?"
"Tentu saja Aku merasa senang karena mungkin saja kamu tidak akan pernah mengusik kehidupanku, kita menikah hanya karena bisnis. Ingat itu bukan sebab cinta ya ! jadi, meski kamu isteriku akan tetapi kamu tak berhak mengatur segalanya dan Aku bebas mencintai siapa pun."
Via kini menatapnya tajam. Pikirnya kenapa pernikahan ini sangat menyakitkan sekali. Sebuah asa yang ia miliki seolah pupus. Briyan benar-benar mengabaikan nya. Bahkan tadi malam pun Briyan tak menyentuhnya sama sekali padahal semalam adalah malam pertama mereka. Harusnya Briyan melakukan tugas nya sebagai suami. Hati Via semakin Panas. Dia menjadi sangat dendam pada Bunga.
'Bunga aku berjanji akan menyengsarakan hidupmu!' ancam Via dalam hati.
Via melangkahkan kedua kakinya untuk memposisikannya semakin dekat pada Briyan. Ia tak bergeming menatap tajam kearah Briyan.
CUupp.
Via langsung mengecup Bibir Briyan dengan sangat bergairah. Dia terus menciumnya agar Briyan membukakan bibirnya sedikit.
Namun Briyan mendorongnya.
"Apa yang kamu mau Via! Kamu tahu bahwa Aku pun tak mencintaimu."
"Anggap saja Aku wanita rendahan dihadapan mu!" Via menjawab dengan suara gemetar. Hatinya sakit.
"Kamu mau Aku menidurimu, lalu membayarmu begitu? Kamu terus memaksaku tapi bukan kamu yang ku mau." Briyan tersenyum sinis menatapnya. Kenapa masih ada perempuan rendahan seperti Via.
__ADS_1
"Kau memang pantas di sebut pelacur!" Tudung Briyan lagi.