DI NIKAHI BOS TAMPAN

DI NIKAHI BOS TAMPAN
Bab. 75. Kena Kau


__ADS_3

"Bagus, Aku sangat setuju dan Aku memberi nilai seratus untuk keberanian mu Dokter, tolong jadilah dokter yang konsisten, itu harga dirimu." Briyan baru tersenyum sambil menepuk- nepuk pundak dokter Andi.


"Terima kasih Tuan."


"Oke, ku rasa pembicaraan kita cukup sampai di sini, Aku harus pergi." Ucap Briyan lagi, sembari melangkah kan kedua kakinya menuju ke luar ruangan. Dokter Andi hanya mengangguk, memandangi kepergian Briyan.


Kini Briyan berjalan menyusuri koridor rumah sakit, hati dan pikiran nya terus di selimuti rasa kesal kepada Via, karena Via tak pernah menyerah merencanakan sesuatu untuk mencelakai Bunga yang berstatus sebagai kakak iparnya.


Briyan menggenggam ponselnya pelan sambil memandang layar itu dengan fokus, mengetik pesan serta mengirimkan nya.


Briyan masih tetap berjalan lurus sampai langkahnya berbelok menuju taman yang ada di belakang rumah sakit. Ia duduk di sebuah kursi yang di naungi pohon maple berukuran besar.


Briyan pun duduk sambil memainkan smarphone kesayangan nya, tak lama kemudian datang sesosok perempuan kurus tinggi dengan rambut tergerai panjang. Tangan nya melingkar di leher Briyan dengan posisi masih di belakang.


"Via, apa- apaan kamu ini, tolong singkirkan tangan mu....! Seru Briyan terkejut. Namun ia sudah menebaknya bahwa itu benar-benar Via.

__ADS_1


"Aah.... Briyan kamu selalu jual mahal di depanku, cobalah untuk menatap wajahku menggunakan perasaan mu, Aku yakin pelan- pelan kamu akan mencintaiku." Rayu Via bersuara manja.


Namun ekspresi lelaki itu terlihat biasa.


"Berhentilah mengharapkan cinta dariku !! karena kamu hanya akan bermimpi tanpa merasakan nya di dunia nyata Via." Briyan menjawabnya tegas.


Via perlahan melepaskan lingkaran tangan nya dari leher milik Briyan. Dia mulai melangkah..


"Baiklah... Aku sudah bisa menebaknya, kamu pasti akan mengatakan hal itu." Via sekarang duduk di samping Briyan.


Briyan tampak menghela nafasnya panjang, pandangan kedua matanya lurus kedepan, Briyan sangat mengacuhkan keberadaan Via di samping nya. Dia terlalu angkuh pada perempuan yang belum lama ia nikahi.


Semenjak pertemuan pertama nya dengan Bunga, hidup Briyan seakan berubah 70%. Dia tak lagi melirik gadis- gadis cantik di sisi nya dan bahkan mulai menata kehidupan nya menjadi lebih baik.


"Ada perlu apa kamu mengajak ku bertemu di sini, seakan- akan kita tidak pernah memiliki waktu untuk bertemu di rumah." Celetuk Via tegas. Tatapan nya penuh selidik.

__ADS_1


"Menurutmu?" Jawab Briyan balik bertanya. Namun Ia tak juga mau menatap perempuan itu.


"Aku tidak punya waktu untuk bermain tebak- tebak kan dengan mu Briyan. Katakan saja apa tujuan mu menemui ku di tempat ini...! Via menampak kan kekesalan nya.


Sementara Briyan hanya tersenyum tipis mendengarnya.


"Apa Kamu akan terus begini selama nya?"


"Aku sungguh tak mengerti maksudmu Briy." Via menoleh serta memandangi wajah Briyan dengan sangat lekat.


"Jangan terus membuat Bunga celaka, Aku tidak akan pernah membiarkan nya ! Mulai sekarang berpikirlah untuk memiliki niat buruk pada kakak iparku...!"


"Aah... Kenapa kamu tiba- tiba tiada henti untuk membelanya?" Via memijit kening nya pelan.


"Jika kamu masih nekat, Kamu akan tahu akibatnya!" Seru Briyan mengancam, dia segera beranjak dari tempat duduknya.

__ADS_1


Via semakin tak mengerti di buatnya bagaimana mungkin Briyan akan menjadi pelindung bagi Bunga. Apakah perasaan Briyan telah membuatnya buta. Briyan benar- benar meninggalkan nya tanpa mau mendengar bantahan yang di lontarkan dari Via.


__ADS_2