DI NIKAHI BOS TAMPAN

DI NIKAHI BOS TAMPAN
Bab. 35. Teman Apa Teman?


__ADS_3

"Via, maaf ya sepertinya Aku sangat lelah dan kami ingin istirahat." Ucap Rio datar.


Rio hanya tak ingin memberinya sedikit harapan atau kesempatan. Dia tahu Via itu gadis seperti apa.


"Okei, Aku bisa mengerti, selamat malam dan selamat istirahat." Jawab nya pelan.


Ada segaris senyum sinis pada wajahnya. Dia sedikit merasa kecewa karena Rio benar-benar mengacuhkan kedatangan nya di rumah ini.


Bunga membungkukkan badan, bersikap hormat terhadap gadis cantik di hadapan nya. Sambil terus berjalan di samping Rio. Melihat sikap Rio yang menurutnya, sangat merusak pemandangan itu, Via berusaha menahan rasa malu, ia kepal erat-erat tangan kanan nya.


Briyan mendekat.


"Udahlah Vi, tidak masalah jika Rio terus mengabaikan mu, suatu hari nanti akan ku buat dia menyesal." Ucap Briyan tersenyum sinis.


Menepuk pundak gadis itu. Via baru menghela nafas lega, ketika Bryan menenangkan nya dengan ancaman pada Rio.


"Aku lelah Bry dan Aku ingin pulang."


"Mari ku antar."


Suara Bryan terdengar pelan ketika menawarkan jasanya.


Seorang gadis, bernama lengkap Via Hana, mengangguk setuju, berjalan mendekati sofa tempat duduknya tadi, mengambil tas slempang miliknya. Sementara Bryan sudah berdiri lebih dulu membawakan cover merah yang juga kepunyaan Via. Beberapa pelayan pun membungkuk kan badan, sewaktu mereka berdua lewat.


Di kamar.


Bunga meletakan tas kecil di atas nakas. kemudian duduk, merenggangkan kedua kaki nya di atas, sprimbed yang bersepraikan sutra halus, berwarna putih polos. Sementara Rio terlihat melepaskan baju kaos yang ia pakai. Suasana masih sunyi, tak ada yang memulai percakapan lebih dulu. Entah karena apa, yang jelas nya mereka masih di sibukan oleh jalan pikiran mereka masing-masing.


Sampai pada akhirnya Bunga mencairkan suasana canggung itu. Rio juga tengah duduk di sofa sambil meneguk segelas air mineral.


"Rio, boleh Aku bertanya?" Tanya Bunga pelan.


Pandangannya menunduk, sembari mengelus betis nya yang sejak tadi terasa pegal. Sudah lama sekali ia tidak pernah berlari-lari pagi, semenjak lulus dari sekolah nya.


( Dasar bunga nya aja pemalas )


Rio tak mengeluarkan suara apa pun dari mulut mungil nya, cukup dengan tatapan, lawan bicara nya akan mengerti, bahwa dia merespon.


"Via itu siapa?"


Bunga seolah menjadi penasaran akan sosok perempuan tadi yang hampir saja memeluk suami nya.


"Teman."

__ADS_1


Rio menjawab dengan singkat. Lalu beranjak bangun dari sofa, berjalan perlahan mendekati Bunga.


"Hanya teman?"


Bunga mengulangi perkataan Rio, dengan raut wajah seperti mengharapkan jawaban lain.


"Tentu saja, kenapa?"


"Oh tidak, Aku hanya....."


"Hanya apa? hanya ingin Aku berkata lebih jujur bukan."


"Tidak juga."


"Lalu?" Tanya Rio seperti ingin tahu apa yang ada di dalam pikiran Bunga saat ini. Tentu saja Rio berharap Bunga cemburu karena adegan yang hampir saja menurunkan etika nya di hadapan sang isteri.


"Bukan apa-apa." Ucap Bunga cepat.


Kini mata nya memandangi sosok Rio yang berdiri sangat tegap. Jarak mereka berdekatan.


Namun tiba-tiba saja Rio duduk di samping nya serta, tangan Rio ikut memegangi betisnya.


Seeeerrrr.


Bunga bertanya -tanya dalam batin. 'Kenapa Rio menyentuh betis nya, apa yang sebenarnya ingin Rio Xen Zhin lakukan?' Pikirannya terus berperang dengan segudang pertanyaan.


"Apa kakimu terasa pegal, biarku pijit sekarang."


Bunga terbengong untuk waktu yang singkat "Eh, ngak usah Rio, Aku cuma lagi ngelus kakiku aja. Hehe." Bunga jadi salah tingkah, ngak tahu harus berbuat apa, atau gimana lah.


"Aku tak percaya." Jawab Rio menegas, kini tangan halus Rio sudah *******-***** betis Bunga perlahan.


'Ya ampun Rio, kamu bener-bener buat aku jantungan dan lebih parahnya lagi bikin aku harus mati mendadak. Aih....!' Bunga merutuki dirinya sendiri dalam batin. Namun Pria dingin itu hanya tersenyum.


"Udah Rio ngak papa kok, harusnya Aku yang pijitin kamu."


Bunga ingin menolak namun remasan itu sungguh melenakan. ( Ya enak lah lagi pegel-pegelnya langsung di pijitin ).


Lebih parahnya lagi yang mijitin pria ganteng. So so so terbang-terbang kayak layangan putus ngak tahu kemana arah angin membawa. Ckck..... 


"Kamu hanya bertugas untuk menikmati nya saja sayang sttt....Jangan banyak bawel. kalau ngak mau nyesal, yang ada juga Aku patahin ini kaki." Ancam Rio setegas mungkin.


( Sadis dis dis.....tapi ngak gitu-gitu amat kali Rio. Kasihani lah isteri mu yang imut itu).

__ADS_1


"Tu kan kebiasaan kerjaan nya cuma ngancem doang udahlah kaki emang sakit tambah di patahin lagi. Jahat!" Bunga manyun.


"Jahat?"


"Iya lah Jahat. Kan udah tau kalau kaki Aku lagi sakit."


"Dasar kamu, ngak bisa di candain banget ya?"


Rio tersenyum manis. Yang hampir-hampir saja membuat air liur bunga menetes.


( idih, parah banget sih lo bunga, terpesona boleh aja kali bung tapi kagak usah pake acara netesin air liur segala. kan jorok jadi nya )


Bunga terpana, terpana dengan senyuman maut milik Rio. Jantung nya seperti tertusuk-tusuk panah asmara. Wow lebai kalilah.


"Udah Rio kaki Aku sehat-sehat aja kok. Lagian Aku juga udah biasa jalan-jalan kayak tadi."


Tolaknya dengan sangat berat hati. Karena ia rasa diri nya akan segera pingsan. Rio masih menatap matanya tajam.


"Setidaknya Aku bisa membantu mu sedikit, tolong biarkan tangan ini tetap memijit mu. Karena Aku tak ingin rasa lelah menjadi penghalangmu untuk berjalan."


"Ri...Rio."


Cupp


Sebuah kecupan hangat mendarat mulus di bibir merah milik Bunga. Rio benar-benar membungkam suara tolakan Bunga dengan bibirnya. Bunga tak ingin ciuman ini berlarut, dia pun menahan tubuh pria itu agar menjauh dari hadapan nya. Rio yang merasa ciuman nya di tolak segera melepaskan kecupan singkatnya, ia tahu kalau isterinya ini sangat pemalu. 


"Apa kamu tak menyukai nya?" Rio bertanya. Bunga hanya menggeleng. "Jangan membuatku selalu bingung, Aku bisa marah." Nada Rio sedikit naik.


"Bu bukan begitu maksudku tapi...."


"Tapi karena ciumanku tak semanis ciuman Reza kan." Tuduh Rio tiba-tiba.


"Maksud kamu?"


Bunga merasa heran dengan tuduhan itu, bukan kah sebelum nya dia pernah menjelaskan bahwa ia dan Reza tidak ada hubungan apa-apa. Kenapa Rio mencoba untuk mengungkitnya lagi.


"Katakan dengan jujur. Reza itu bukan sekedar teman kan, apakah dia cinta di masa lalu mu?"


Bunga terdiam. Dia masih tak mengerti, Bunga masih tak ingin menjawab. Ada rasa kecewa di hatinya. Hai Rio bagaimana mungkin Aku akan menjawab pertanyaan mu, sedangkan kamu aja ke kamar mandi.


'Emang kamu pikir suaraku bledek apa.' Gumam Bunga pelan.


Namun lelaki itu sudah menghilang di balik pintu. Bunga menghela nafasnya panjang kemudian membaringkan tubuh lelah nya di atas busa empuk. Yang mungkin akan membawanya berlabuh kedalam alam bawah sadarnya. Cuss.... Apa lagi kalau bukan mimpi.

__ADS_1


__ADS_2