
Ceklekk....
Terdengar pintu di buka, Rio Xen Zhin masuk tanpa ragu-ragu. Pandangannya langsung mengarah ke atas tempat tidur, di mana dia melihat gadis kecilnya sudah tertidur dengan lelap, hingga tak menyadari kehadirannya. Dia melangkah sangat pelan, masih memperhatikan gadis itu, sedikit terkejut. Karena dia melihat sesuatu yang berbeda. Baju isterinya itu terlihat tampak seksi, tipis, transparan dan tentu saja lelaki mana pun akan bergairah jika melihatnya, dia menelan ludahnya sendiri. Lalu Rio Xenzhin tersenyum tipis.
"Dari mana dia mendapatkan baju tidur setipis itu? Apa dia mencoba untuk menggoda imanku? Hmm." Lirih Rio Xen Zhin.
Bukan, persoalan Rio Xen Zhin tak pernah melihat pemandangan wanita seksi di sekelilingnya, akan tetapi dia merasa tidak begitu tertarik. Entah mengapa kali ini terasa berbeda, aliran darahnya mengalir begitu cepat serta berdesir amat panas. Rio Xen Zhin duduk di tepi ranjang. Kemudian menepuk-nepuk pipi bunga, agar gadis itu segera bangun, sepertinya kedatangan Rio Xenzhin hanya akan mengganggu ketenangan Bunga saja.
"Hei gadis kecil bangun, apakah kamu akan mengabaikan kedatangan suamimu ini?" tanya nya datar. Bunga tersadar karena tepukan kecil itu dan suara Rio Xen Zhin.
"Eeh... ke.. kenapa kamu di sini?" Bunga terperanjat dengan kehadiran Rio Xen Zhin yang secara tiba-tiba itu.
"Tentu saja Aku ingin tidur, bukankah ini kamar milikku." Jawabnya. Bunga tak menjawab.
"Seharusnya, Aku yang bertanya dengan pertanyaan yang baru saja kamu ajukan itu." Rio Xen Zhin menatapnya lekat.
"Ya sudah kalau ini kamar milikmu, Aku akan pindah...!" Bunga langsung bangkit dari tidurnya, dan segera turun dari ranjang itu.
Namun, Rio Xen Zhin tak begitu saja ingin melepaskannya. "Siapa yang menyuruhmu pindah?" tanya Rio Xen Zhin datar, tersenyum sedikit hambar.
"Tentu saja Anda tuan Rio Xen zhin." Celetuk bunga melototinya. Lagi-lagi pria tampan itu tersenyum, itu semakin membuat pesona dalam dirinya terlihat. Rio Xenzhin buru-buru menarik pergelangan tangan milik bunga. Langkah bunga pun mendadak terhenti.
"Bukankah sekarang kamu telah menjadi milik sah Tuan Rio Xenzhin, Apa kamu ingin membantah pria tampan ini. Tentu saja kamu tak berhak untuk melakukannya, duduklah di sampingku sekarang!" Jelas Rio Xenzhin panjang lebar.
"Tidak!" Bunga membantah.
"Apa! Kamu benar-benar membantahku." Mereka saling beradu mulut. Karena tak ingin memperpanjangan perdebatan itu, Rio Xenzhin langsung menariknya dengan sedikit kasar. Sehingga membuat bunga terjatuh tepat di pangkuannya. Tentu saja bunga terkejut bukan main, perasaannya menjadi tak menentu.
Deg
Terasa jantungnya berhenti untuk bernafas.
__ADS_1
"Apa kamu akan lari sekarang?" tanya Rio Xenzhin pelan. Pandangannya tak lepas dari wajah cantik dan bibir merah yang di miliki bunga.
"Apa-apa kamu ini. Lepaskan Aku Rio.. !"
Bunga memberontak.
"Tidak akan!"
"Dasar gila kamu!" Maki bunga datar. Namun Rio Xenzhin tak memperdulikan makian itu. Sejenak mereka saling bertatapan. Jantung keduannya pun berpacu sangat kencang.
'Oooh...yaa Tuhan, wajah ini tampan sekali bahkan Aku tak bisa berhenti untuk terus memperhatikannya.' Lirih bunga dalam batinnya.
"Apa yang kamu lihat dengan wajahku?" Tanya Rio Xenzhin seperti berbisik, bunga berpura-pura menampakan kesinisan wajahnya. "Ayo lakukan perintahku." Desahnya lagi.
"Ngak!"
"Ayo!"
"Rio... !"
"Aku bilang tidak ya tidak! Kenapa Kamu memaksa?"
"Karena Aku memang berhak untuk memaksamu!"
Mereka saling membentak satu sama lain dan tidak ada yang mau mengalah. Karena sudah lelah dengan keadaan seperti ini, Rio Xenzhin pun terpaksa mendorong tubuh bunga ke atas ranjang. Tiba-tiba Rio menghentikannya.
"Apakah kau menikmatinya?" tanya dia pelan, sembari berbisik di telinga bunga.
"Cepat minggir, tubuh kamu itu berat sekali."
Bunga berkata, tak menjawab pertanyaan Rio Xenzhin barusan.
__ADS_1
Lelaki tampan itu tersenyum.
"Apa kamu mau lagi? Sepertinya kamu sangat menikmati sentuhan dariku, tapi sayang nya harus ku hentikan, Aku tidak ingin kesan pertama ini seolah membuatmu tertekan dan semacam pemerkosaan."
Bunga terdiam saja, menikmati aroma parfum maskulin dari tubuh Rio Xenzhin. Lelaki itu akhirnya bangun. Dan duduk pada posisinya.
Dia menghela nafasnya dengan panjang, berdiri, lalu membuka jas serta baju yang ia kenakan. Bunga memperhatikannya saja dan sekarang Rio hanya memakai kaos dalam saja. Dia berjalan menuju toilet.
"Huff... Lelaki yang menyebalkan!" Bunga merutuki dirinya sendiri. Dia sangat malu atas sentuhan tadi. Tapi jujur saja prilaku Rio Xenzhin sangat manis, hanya beberapa menit Rio Xenzhin telah kembali, bunga pun segera menarik selimutnya dan berpura-pura memejamkan mata. Rio Xenzhin sudah selesai pada aktifitasnya di toilet dengan langkah mendekati kembali ranjang itu dan membaringkan tubuhnya di samping bunga.
Namun kenapa di malam ini dia sangat sulit sekali memejamkan matanya dia menjadi teringat kejadian spontan tadi, jujur saja dia pun tak bisa menyembunyikan rasa gugup nya.
Rio Xenzhin membalikkan tubuhnya, menghadap bunga, rasanya ingin sekali dia memeluk guling baru nya itu ya tentu saja sekarang dia memiliki permainan baru. Karena statusnya pun tidak sendiri dia telah memiliki pasangan hidup yaitu
seorang gadis yang tak pernah terpikirkan oleh dia sebelumnya.
Rio berusaha mengendalikan suasana, tangan kekarnya itu, tiba-tiba saja memeluk gadis di hadapannya. Bunga spontan kaget.
apakah ini akan menjadi pengalaman nya yang sangat buruk? bunga terus memaki diri nya sendiri entah mengapa dekapan itu terasa menghangatkan dirinya. Dia seperti ada di dalam pelukan Satria nya yang telah pergi Rio Xenzhin semakin mempererat dekapannya. Pelan-pelan bunga mencelekan kedua matanya dan memperhatikan sesosok pria sejati di samping nya.
"Rio! apa yang kamu lakukan? kita baru saja kenal, singkirkan tangan jelek itu!"
"Kenapa gadis ini bodoh sekali, Aku tidak akan mengganggu mu, Aku memelukmu hanya karena kamu masih kecil dan Aku sama sekali tidak tertarik padamu, Kamu tahu itu!"
"Apa! Kamu bilang Aku masih kecil? hei jika Aku masih kecil, kenapa kamu tertarik untuk menjadi kan Aku sebagai isterimu!" Bunga melototinya sambil terus meminggirkan tangan itu.
Lelaki itu tersenyum. "Itu, karena ibumu baik sekali, andai saja malam itu Aku di biarkan saja, mungkin malam itu juga Aku sudah mati, Kamu mengerti itu kan gadis kecil." Sebelum meminggirkan tangannya dia mengelus rambut hitam Bunga.
"Hentikan sentuhan kurang ajarmu itu Rio, Aku tidak sudi!"
"Dasar gadis nakal! hanya kamu yang berani membantahku, tapi jika keras kepalamu itu terus kamu pertahanan kan, Aku tidak akan segan untuk menghukummu."
__ADS_1
"Tentu saja, Kamu hanya manusia biasa kan? Kamu pikir kamu siapa?"
"Ssssttt... diamlah gadis keras kepala, Aku ingin tidur." Rio langsung berbalik arah membelakangi Bunga. Dan tentu saja Bunga merasa tak enak hati, 'apakah dia marah padaku?' Batinnya pelan.