DI NIKAHI BOS TAMPAN

DI NIKAHI BOS TAMPAN
Bab. 60. Hentikan!


__ADS_3

"Hanya demi dia kamu rela mengataiku seperti itu Briyan, sebegitu berharga nya kah dia di matamu?" Pandangan Via terlihat nanar, sejak tadi ingin rasanya ia menangis.


"Ah, berbicara denganmu hanya membuat emosiku naik!" Briyan beranjak bangun, lalu meninggalkan Via seorang diri.


DI RUANG TENGAH keadaan menghening sejenak, sepeninggalan Briyan tadi menimbulkan rasa penasaran di hati Rio, apalagi yang Briyan rasakan? kenapa Rio semakin sulit menafsirkan nya? Apakah Briyan akan merencanakan akal jahatnya lagi?


Nyonya Kazumi tiba-tiba berdehem. Mencoba untuk mencairkan suasana canggung itu.


"Rio, Mommy senang mendengar kehamilan isterimu, itu artinya keluarga kita akan memiliki pewaris. Lalu apa yang ingin kau rencanakan selanjutnya?" Tanya Nyonya Kazumi terdengar lembut.


"Aku juga merasa senang, Tapi sepertinya Aku lelah jadi maafkan Aku. Aku harus kembali ke kamarku." Celetuk Oma Naomi datar, ada raut ketidak sukaan di situ. Dia berdiri memegangi tongkatnya, seorang pelayan membantunya berjalan.


Mereka bertiga kemudian mengangguk secara bersamaan.


"Aku akan merayakannya Mom."


"Baiklah Rio kamu persiapkan saja, Aku menyetujui semua ide- idemu dan Aku yakin padamu." Jawab Nyonya kazumi datar sambil menatap kearah mereka berdua. "Aku akan mengundang beberapa rekanku untuk hadir." Dia berdiri, melangkah pelan melewati mereka berdua sambil menepuk pundak Rio.


Rio memandangi saja, kini ibunya pun meninggalkan mereka.


"Ada apa dengan mereka semua Rio? sepertinya mereka tak senang dengan kabar kehamilanku ini." Bunga langsung menatap Rio.


"Kenapa kamu begitu memikirkannya? sudahlah abaikan saja, itu tidak penting. Yang terpenting adalah kamu harus menjaga janin itu dengan baik." Rio menenangkan perasaan Bunga yang sedikit bingung, dia masih belum mengerti. Rio tersenyum padanya serta mengelus lembut rambut Bunga.


"Iya, kamu betul, terima kasih atas semangatmu." Bunga membalas senyuman nya.


Pria tampan itu mengangguk tulus.


"Sekarang mari kita sarapan, gado- gado yang ku buat sudah jadi." Rio beranjak Bangun dari tempat duduknya sembari menarik mesra tangan Bunga, ia menuntunnya hingga sampai ke ruang makan.


Rio membuka sebuah mangkuk kaca berwarna bening dan terlihatlah masakan yang Rio buat tadi. Ia mendudukan Bunga di atas kursi.


"Wah untuk melihatnya saja seleraku langsung naik, kamu benar- benar hebat. Bolehkan Aku mencicipinya?"


"Tentu saja boleh, itu untukmu."


Rio tersenyum memperhatikan isterinya. Suasana di dapur masih sangat sibuk dengan pekerjaan yang pelayan lakukan, namun mereka berdua tidak terlalu menghiraukan keadaan itu.


Bunga mulai mengambil sendok lalu mengarahkannya pada makanan. menyedoknya sedikit dan memasukan nya ke dalam mulut.


"Eeuummm Ini enak," ucapnya senang.


"Habiskan jika enak."


"Kamu tidak ingin mencicipinya juga?" Bunga bertanya, ia menelan gado-gadonya hingga habis.


"Boleh."


Rio tiba-tiba langsung mengecup bibir Bunga dengan cepat. Tentu Perempuan itu terkejut bukan main, Rio sangat tidak sopan menciumnya di tempat umum begini. Otomatis adegan ciuman itu menarik perhatiaan para pelayan yang berada di situ, mereka tersenyum- senyum sendiri sambil menutup mata mereka dengan telapak tangan.

__ADS_1


Bunga mendorongnya.


"Rio apa yang kamu lakukan?" Celetuk Bunga kesal. Dia memperhatikan kesekeliling.


"Mencicipi gado-gado yang ada bibirmu tentunya."


"Kamu ini sangat memalukan."


"Apanya yang memalukan kita adalah pasangan suami isteri yang sahkan, jadi biarkan saja mereka iri." Jawabnya datar.


"Huff."


Bunga menghela nafas panjang, setelah itu melanjutkan kegiatannya lagi. Rio lagi-lagi cuma tersenyum, kali ini lebih serius menatap wajah sang isteri.


"Jangan terus menatapku seperti itu! Jantungku bisa mendadak terhenti. Aku suapi bagaimana?" Kilah Bunga datar, karena sejak tadi tatapan Rio terus mengarah padanya.


"Hee'em."


Rio mengangguk, dia malah mengambil tisu, kemudian mengelap serpihan kacang yang ada di bibir Bunga. Seketika raut wajah isterinya memerah dan panas. Rio sangat membuatnya grogi.


"Terimakasih, tapi jangan lakukan itu lagi, kamu sangat membuatku malu setengah mati."


Dengus bunga manyun. Dia tak pernah menyangka bahwa Rio akan memperlakukannya begitu manis.


"Sama-sama sayang, Kamu keberatan Aku memperlakukanmu begitu? itu tandanya Aku sangat menyayangimu, ayo makan lagi, setelah gado- gado itu tinggal setengah, Aku akan ikut menikmatinya juga."


"Aku tidak bisa makan dengan tenang jika tatapanmu saja bikin seleraku menurun." Bunga bertambah cemberut dan menampilkan bibir imutnya.


"Tidak juga tapi jangan melihatku, tutup matamu."


"Ah! Aku memiliki kedua mata yang indah, terlalu pelitkan jika tak ku gunakan untuk menatap isteri cantikku ini." Senyum Rio sumringah.


"Ya.. Ya.."


"Begitu dong." Rio tampak meraih tangan Bunga serta menggengamnya erat.


Dreet... Dreeet... Dreett...


Tiba- tiba saja ponsel Rio bergetar.


"Sebentar sayang, Aku angkat telpon dulu."


Bunga mengangguk kecil sambil memperhatikan langkah Rio yang menjauh dari meja makan. Sementara di ruang tengah Rio berdiri sambil menempelkan ponsel genggamnya di telinga.


Tersambung dalam mode telpon.


"Ada apa?"


"Tidak ada apa-apa Tuan. Aku hanya ingin memastikan bahwa hari ini keadaan Anda baik-baik saja."

__ADS_1


"Sepertinya kamu sangat mengkhawatirkan kesehatanku, Aku baik- baik saja benikno. Oh iya, jemput Aku jam 10:30, Aku harus pergi ke hotel."


"Siap Tuan."


MALAM ITU.


Jam menunjukan pukul 19:30 am.


Seperti keinginan Rio, dia mengadakan pesta untuk merayakan kehamilan Bunga. Tamu undangan berbondong- bodong memenuhi ruang acara. Dan di situ, telah tersedia meja berbagai macam ukuran, ada yang memanjang, bulat dan tinggi. Setiap mejanya juga sudah di isi penuh oleh menu hidangan makanan mewah. Tak ada acara resmi, mereka hanya sekedar datang, menikmati makanan atau pun minuman yang telah di jamu oleh tuan rumah. mereka semua saling berbicang santai.


"Sayang Aku mau keluar sebentar." Ucap Bunga pelan. Ia berbisik di telinga Rio.


Waktu itu Rio sedang ngobrol dengan beberapa tamu VVIP nya. Rio menanggapi dengan anggukan kecil menandakan bahwa dia setuju. Bunga pun berjalan menuju taman yang berada di tengah- tengah hotel berbintang itu, cukup menarik untuk di lihat, desainnya tampak klasik namun glamour. Dari ukuran kolam renangnya yang luas dan pohon sakura yang berjejer indah menghiasi di sekeliling kolam renang. Ia melangkah dengan pelan sambil matanya menatap ke langit, cuaca hari ini pun terlihat bersahabat. Ada banyak bintang bertebaran di sana.


BRUUUKK.


Tiba- tiba saja Bunga menabrak seseorang.


"Bunga, kalau jalan lihat- lihat dong, kamu pikir ini jalan nenek moyangmu apa?!" Bentak Via kasar. Karena tanpa sengaja rupanya Bunga menabraknya.


"Maaf Via, Aku tidak sengaja." Jawab Bunga lirih, wajahnya tertunduk.


"Dasar buta!" Gerutu Via kesal.


"Sial! Sepatuku jadi kotor!" Teriaknya lantang.


"Akan kubersihkan, tapi bisakah kamu tidak berteriak, bagaimana jika pandangan orang beralih pada kita."


"Aku tidak perduli, cepat lakukan saja!"


"Baik baik."


Bunga segera menunduk, menekuk kedua kakinya dan mulai mengelap sepatu hermes berwarna putih milik Via dengan sapu tangannya.


Beberapa detik kemudian.


"Sudah selesai Vi." Ucap Bunga pelan sambil berdiri.


"Oke terima kasih. Oh iya, selamat ya atas kehamilanmu, Aku turut gembira. Tapi ada satu hal yang ingin sekali ku minta darimu." Via tersenyum menatapnya, ia melangkah mendekati Bunga.


"Apa?" Bunga juga menatapnya.


"Sebenarnya ini adalah keinginanku yang sudah lama sekali." ucapnya lagi, langkah kaki Via semakin dekat sehingga membuat Bunga terpaksa harus mundur. "Tolong rahasiakan ini." Wajah Via berubah menjadi memelas.


"Apa maksudmu? Berhentilah mendekatiku seperti ini."


Via malah tersenyum serta menatap dengan sorot mata yang tajam, ia tak perduli akan pelarangan yang bunga katakan, Bunga terus mundur. Hingga...


BYUUUURRRRR.

__ADS_1


Percikan air naik keatas. Bunga terjatuh kedalam kolam renang, tangannya menggapai- gapai.


__ADS_2