DI NIKAHI BOS TAMPAN

DI NIKAHI BOS TAMPAN
Bab. 67. Hilangnya Kepercayaan


__ADS_3

Jam menunjukan pukul 15:00 pm.


Rio dan Bunga kembali ke kediaman keluarga Tuan Xen Zhin. Sedikit membuat mereka lega, hampir seharian mereka menikmati kebersamaan yang cukup memuaskan.


Ting.. Tung..


Rio menekan bel, Tak lama kemudian seorang pelayan membukakan mereka pintu.


"Selamat sore Tuan." Sapa pelayan.


"Sore." Jawab Rio sesingkat mungkin, posisinya masih memeluk mesra pinggang bunga dari samping. Keduanya berlenggang memasuki ruang tamu.


Namun ketika mereka telah sampai di ruang tamu, beberapa pasang mata menatap sinis kearah mereka berdua.


"Selamat Sore."


Sapa Rio dan Bunga berbarengan, mencoba mencairkan suasana dingin bak salju itu.


"Sore, kemarilah Rio ada yang ingin Mommy tanyakan pada isterimu." Ucap Nyonya kazumi dengan nada suara lembut. Akan tetapi Kedua matanya menampakan kekejaman tersendiri.


Rio serta Bunga mendekat.


"Duduklah." Ujarnya lagi.


Memperbaiki posisi duduknya dan di sebelah kirinya ada Via maupun Oma Naomi, Oma Naomi masih akan berada di situ untuk 2 minggu kedepan, Oma Naomi belum kembali ke Hongkong. Mereka berdua kini duduk di hadapan ketiga wanita itu.


"Ada apa Mom?" Tanya Rio sopan.


"Sebelum melanjutkan perbincangan ini lebih mendalam, maafkan Mom jika nantinya akan kedengaran seperti menyelidik."


"Katakan saja Mom."


Rio lebih serius memandang wanita berumur setengah baya yang berada tepat di hadapannya.


"Dua hari yang lalu, Mom membeli cincin berlian bermata biru, Mom juga memesannya di luar kota jepang. Tapi, ketika Mom ingin memakainya berlian itu sudah hilang."

__ADS_1


Wajah Nyonya Kazumi berubah sedih. Rio sangat mengerti maksud dari perkataan Mommy nya itu.


"Aku turut bersedih Mom, lalu apa yang bisa ku bantu untuk masalah Mom?"


"Kami ingin menggeledah kamar milikmu." Sambung Via kemudian, tanpa berbasa- basi.


Spontan saja Rio dan Bunga terperangah menatapnya. Karena ini jelas, sebagai sebuah penuduhan secara langsung.


"Baiklah Aku tidak keberatan, kalian bisa menuju ke kamarku sekarang." Rio menjawabnya sinis.


Semua orang beranjak bangun dari tempat duduk mereka, berjalan menuju ke kamar Rio di atas loteng. Setelah mereka semua sampai, buru- buru Rio membuka pintu. Perlahan, satu persatu dari mereka melangkah memasuki kamar tidur kesayangan Rio dan mulai menggeledah seperti aparat keamanan.


1 menit kemudian.


"Ahh, ini cincin berlianku." Celetuk Nyonya kazumi tiba-tiba ia menampakkan raut wajah yang senang, otomatis suara itu menghentikan pencarian mereka.


Semua orang penasaran untuk melihat ataupun memandang kearah Nyonya kazumi yang sedang memegangi kotak berbentuk hati dengan sampul luar berwarna merah, ia menemukannya secara tak sengaja di bawah tumpukan baju- baju milik Bunga.


"Ah... Bagaimana mungkin cincin berlian itu berada di bawah bajuku. Sumpah demi Tuhan Aku tak pernah mengambilnya." Bunga membela diri, wajahnya terlihat sangat panik.


Semua mata kini beralih padanya.


Via menatapnya dengan bola mata yang membesar.


Bunga terdiam.


"Sayang..."


Rio perlahan mendekatinya dan menepuk lembut kedua bahu Bunga menggunakan tangan tegapnya. "Aku ingin kamu berkata jujur, jika kamu menginginkan cincin berlian seperti itu Aku bisa membelikannya untukmu, tapi bukan mencuri milik orang lain." Rio terus menatap wajah Bunga penuh selidik.


"Aku sudah mengatakannya bahwa Aku tidak mengambilnya, lagi pula Mamaku tak pernah mengajariku mencuri barang milik orang lain!" Bunga membantah.


"Jika kamu tidak mencurinya bisakah kamu membuktikannya sekarang? Sudah jelas-jelas cincin berlian ibu mertua ada di kamarmu, dasar kamu tak punya rasa malu, sudah mencuri berani berbohong lagi." Via menudingnya kasar, nada suaranya tinggi serta memanas.


"Tutup mulutmu Via, Aku tak pernah berbohong apalagi mencuri!" Bunga beralih memandangnya.

__ADS_1


"Pencuri mana yang mau mengaku. Jika begitu tak perlu ada polisi sehingga orang- orang yang kehilangan barang tak usah repot-repot mengadu!"


"Sudah hentikan kalian berdua! Bunga katakan pada ku sekali lagi, apa maksudmu mencuri cincin berlian milikku apakah sampai saat ini, uang yang Rio miliki tak membuatmu merasa puas? Hah, katakan Bunga kau benar- benar menantu yang kurang ajar, Aku terus memendamnya jangan sampai ada kesalahpahaman di antara kita dan ternyata kau memulainya lebih dulu. Kau sangat membuatku malu!" Bentak Nyonya kazumi kemudian, wajahnya memerah. Dia seakan bingung dengan keadaan.


"Aku tidak bermaksud apa- apa Mom, tapi Ak-Aku benar- benar tidak mencurinya!" Jawab Bunga dengan suara bergetar, dia ingin sekali menangis saat itu, hatinya hancur berkeping- keping. Siapa yang akan mempercayainya karena sialnya cincin berlian nyonya Kazumi ada di bawah baju miliknya.


"Pembohong!"


"Mom, maaf bukan maksudku menyela, mulai sekarang serahkan dia padaku, biar Aku yang mengurusnya." Rio menengahi pembicaraan yang terdengar semakin memanas itu.


"Apa?" Nyonya Kazumi menoleh.


"Ya, Aku akan mengurusnya karena biar bagaimana pun bunga adalah isteriku."


"Ya ampun Rio, kamu masih membelanya? kamu di butakan oleh cinta Rio sehingga hatimu tak bisa membedakan antara cinta dan kesalahan." Via mendengus kesal.


"Apa yang di katakan Via itu ada betulnya Rio, isterimu ini pencuri kenapa kau tak langsung memberinya pelajaran!" Gerutu Oma Naomi menyambung pembicaraan Via.


Rio diam sejenak jangan sampai ia gegabah dalam mengambil tindakan. Dia memang memiliki tugas untuk melindungi orang yang sangat ia cintai namun, jika keadaannya begini Rio bisa apa?


Tak lama kemudian terdengar isak tangis dari Bunga. Semua orang tetap menatapnya sinis, mereka tak perduli sesakit apa luka perih yang tengah bunga rasakan, mereka memandang Bunga hanyalah seogok daun kering tanpa tangkai, sangat rapuh bahkan kapan saja bisa terinjak oleh kaki- kaki yang kuat.


"Mom."


Bunga tiba- tiba berteriak pelan sembari berlari, mendekap kedua kaki Nyonya kazumi untuk mengungkapkan perasaannya bahwa ia tak pernah mencuri barang milik ibu mertuanya.


"Bunga apa yang kau lakukan? Sekalipun kau menangis darah di depanku, Aku tidak akan pernah mengampuni orang yang telah melakukan kesalahan, sekarang juga Kamu enyah dari rumahku!" Bentak Nyonya Kazumi keras dan lantang.


"Jangan usir Aku Mom, Aku tidak akan bisa meninggalkan suamiku!" Ujarnya sambil terisak- isak. Namun entah kenapa, hati Rio bukannya terketuk ia malah kecewa dan kesal pada sang isteri.


"Aku mohon Mom." Desah Bunga lagi suaranya semakin terdengar pilu.


"Jangan sebut Aku Mom lagi, Aku tak sudi di panggil Mom oleh perempuan pembohong sepertimu Bunga!" Teriaknya.


Dengan kasarnya ia bergerak menendang perempuan itu hingga terlempar sedikit. Rasa sakit menjalari tubuhnya, karena sepatu tinggi milik Nyonya kazumi mengenai kulitnya. Tak sampai di situ, Nyonya kazumi berdecak pinggang menatapnya penuh kebringasan.

__ADS_1


"Berdiri!" Perintahnya. "Bawa semua barangmu, mulai hari ini Aku tidak ingin melihatmu lagi, bila perlu berpisah saja kau dengan Rio. Aku sendiri yang akan mengurus surat cerainya!" Celetuknya lagi.


Tubuh bunga seketika menjadi lemas, lunglai, perkataan Nyonya Kazumi bagaikan petir di siang bolong. Ketiga wanita itu langsung meninggalkan kamarnya.


__ADS_2