
"Ma-mau kebawah." Bunga menjawab dengan gugup, ia tahu bahwa saat ini suami nya pasti sedang menahan emosi. Bunga terpaksa menghentikan langkahnya.
"Aku sudah mengurusnya dan Aku tak mengizinkan kamu untuk bertemu dengannya."
"Ta-tapi Rio."
"Sekarang kamu tinggal pilih, Aku atau Reza!" Bentak Rio tinggi.
Mendengar perdebatan kecil itu, Briyan tampak mengerutkan kening nya. 'Kak Rio dari dulu masih sama, pemarah dan keras, ah sampai kapan sih Bunga, kamu bakalan bertahan sama pria dingin itu.' Batin Briyan dalam hati.
"Aah, tentu saja Aku memilihmu, Aku akan kembali ke kamarku sekarang."
Bunga berjalan menunduk, ia tak memiliki suatu keberanian untuk menatap Rio. Sudah bisa di tebak wajah Rio saat ini pasti terlihat sangar dan menakutkan. Rio menghela nafasnya kasar. Kemudian menatap tajam kearah Briyan yang sedang berdiri.
"Apa lagi yang kamu lihat, tinggalkan kami!" Bentaknya.
"Ya Kak Aku akan pergi, selamat sore." Jawab Briyan datar.
Dia segera melangkahkan kedua kaki nya menuju turunan tangga.
'Benar-benar pria yang menyebalkan! Kenapa tak hidup di hutan saja, itu lebih baik menurutku.' Gerutu Briyan sambil terkikik ketika langkahnya sudah menjauh dari kamar mereka.
Sementara disudut ruang tamu, mata Briyan tak luput memandangi sesosok pria tampan duduk di atas sofa berwarna cream. Briyan mempercepat langkahnya.
"Hem."
Briyan Pura-pura berdehem. Pria di hadapannya menoleh.
"Briyan."
"Ternyata kamu memiliki keberanian juga untuk datang kerumah ini," ucap Briyan bergaya sok keren, sambil menyilangkan kedua tangan nya di dada.
"Aku bukan pria pengecut seperti mu."
"Yang kamu tuduhkan benar! Aku memang pengecut. Lalu Apa tujuanmu datang kesini. Apa karena kamu masih ingin menantangku?"
"Tidak, kamu pikir Aku pria yang suka bermain kekerasan. Kamu salah."
"Oh ya. Jadi apa tujuanmu datang kemari? Kamu ingin bertemu siapa?" tanya Briyan ketus, sambil ikut duduk di sofa.
"Aku ingin bertemu temanku Bunga."
"Haha." Briyan langsung tertawa mendengarnya.
"Kamu tak tahu Rio itu orang seperti apa? Aku akan memberitahumu, dia itu kejam, lalu diam-diam membuntutimu, membuat hidupmu tidak tenang bahkan sampai setingkat gila bukankah itu mengerikan?"
"Briyan, apa kamu sedang memfitnahku?" tanya Rio tiba-tiba.
Briyan terkejut bukan main, wajahnya pucat, sambil memperbaiki posisi duduknya.
"Kak, hehe Aku cuma memberitahunya bahwa kamu adalah saudaraku yang hebat." Briyan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Lain kali jangan menebarkan fitnah Aku juga bisa menghukummu dengan sangat kejam, seperti yang kamu katakan tadi."
Briyan buru-buru beranjak bangun.
"Kak maafkan Aku, Aku tak bermaksud memfitnah mu, tapi dia terus memaksaku untuk menceritakan sifatmu." Jawab Briyan beralibi. Tentu saja dia pendusta.
"Apa maksudmu, kapan Aku memaksamu? jaga mulutmu." Reza membela diri.
__ADS_1
"Kamu pandai sekali bersilat lidah!" Briyan mengkernyitkan dahinya. Menatap licik kearah Reza duduk.
"Apakah perdebatan gila ini sudah cukup?" tanya Rio menanyai mereka serius.
Keduanya mengangguk. Rio kini mengambil posisi untuk duduk juga.
"Reza, maafkan Aku tapi saat ini Aku tak mengizinkanmu menemui Isteriku. Kuharap kamu paham." Rio berbicara pada Reza.
Lelaki di hadapannya tersenyum.
"Baik Aku mengerti posisimu dan Aku juga paham Bunga itu siapa, baiklah Aku akan pergi sekarang." Reza berdiri membungkuk kan badan memberi mereka hormat.
"Tunggu!" Ucap Briyan tiba-tiba, Reza yang tadinya setengah melangkah kemudian berhenti.
"Ada apa?" Reza memperhatikannya.
"Berikan Aku kartu identitasmu."
"Maksudmu?" Reza seperti orang keheranan.
"Maksudku berikan alamatmu, jika ada waktu, ingin sekali Aku mengunjungimu."
"Menurutmu apa itu penting?"
"Tentu saja penting, jika tidak penting buat apa Aku menanyainya." Jawab Briyan tegas.
Reza langsung mengeluarkan selembar kartu nama dari dalam dompetnya dan memberikannya kepada Briyan. Briyan tersenyum lalu menerimanya.
"Terima kasih."
Reza melanjutkan lagi langkah kakinya. Setelah beberapa detik sosoknya pun menghilang. Rio hanya menatap tingkah adiknya dingin.
"Apa?" Briyan berjalan mendekatinya.
"Katakan siapa yang ada dihatimu sekarang?"
"Maksud Kakak?"
"Masih pura-pura bodoh rupanya."
"Bukannya pura-pura, tapi Aku memang tidak paham akan pertanyaanmu. Apa selama ini kamu perduli, Aku juga memiliki kebebasan untuk berkencan dengan gadis manapun. Tentu saja hidupku menyenangkan, tidak seperti hidupmu. Bekerja keras tanpa memperdulikan wanita. Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu? Bukankah itu sangat aneh." Jelas Briyan panjang.
Rio tak menanggapi sederet makian yang di lontarkan Briyan padanya.
"Kamu mencintai Via?"
"Apakah perlu jika Aku jujur?"
"Jika kamu tidak ingin mengatakannya, selamat sore." Rio langsung beranjak dari tempat duduknya.
"Ouh sial, itulah kebiasaanmu, selalu menggantung pembicaraan." Lirih Briyan pelan. Tapi Rio tetap pergi meninggalkan nya.
Rio menaiki tangga dengan perasaan hancur di dada. Ternyata Bunga masih berhubungan baik dengan Reza, itu membuat hatinya panas.
CEKLEK
Rio membuka pintu, dilihatnya Bunga tengah duduk termenung di depan jendela minimalis bermotif klasik. Dia hanya diam, seolah tak menyadari kehadiran Rio. Lelaki itupun tak menyapa dia berjalan sambil melepas dasi serta pakaiannya. Membersihkan diri kemudian melakukan kegiatan sore seperti biasa.
"Bunga." Panggil Rio akhirnya.
__ADS_1
Bunga tak menjawab, masih asyik dengan lamunannya. "Katakan padaku siapa Reza sebenarnya? Kenapa dia nekat sekali mengikutimu sampai kesini?"
Bunga masih membisu.
"Aku sangat putus asa memikirkannya, Ada satu hal lagi yang ingin kutanyakan padamu."
Bunga tetap tak memperdulikannya. Sehingga membuat Rio merasa kesal, mengapa Bunga mengabaikan pembicaraannya.
"Bunga kamu punya telingakan? "Rio mendekati nya. Bunga masih diam. "Ah, Aku bisa gila karenamu! harusnya Aku tak pernah bertemu denganmu, kamu benar-benar wanita yang menyusahkan!"
"Apakah Kamu menyesalinya? Aku pun berharap begitu, harusnya kita memang tak pernah bertemu." Bunga baru menjawab.
Rio memejamkan matanya sejenak.
"Jadi apa mau mu!"
"Aku benci karena bertemu denganmu."
"Benarkah? Terima kasih atas jawaban yang tak berguna itu. Aku senang kamu membenciku."
"Tentu saja."
"Kamu sangat menjengkelkan!" Rio panas.
"Terserah, kamu mau bilang apa!"
"Jika kamu ingin kembali kepada pacarmu, pergilah dan jangan kembali."
"Rio apa ucapanmu itu sungguh-sungguh?"
Bunga langsung menatap lelaki dibelakangnya. Matanya berkaca-kaca, bukan jawaban itu yang ingin bunga dengar. Ternyata Rio memang berotak kaku.
"Aku bersungguh-sungguh, kemasilah barangmu, Aku akan mengantarkanmu kerumah Reza." Jawabnya serius.
Bunga semakin lekat menatapnya, dia tak pernah menyangka Rio akan berkata seperti itu. Apakah sebenarnya Rio tak memiliki rasa padanya. Atau kah karena kecemburuan yang telah menguasai hatinya? sehingga Rio tak bisa berpikir jernih. Air mata Bunga akhirnya tumpah juga. Dia menangis terisak-isak. Sambil berjalan menuju lemari pakaian, ia mengambil koper lalu memasukan semua baju-bajunya. Rio tetap tak bergeming. Tak ada kata ucapan menahan. Bunga semakin sedih.
"Aku sudah selesai," ucap Bunga datar, sambil terus mengelap kasar airmata nya yang terus meleleh. Rio berjalan mendekatinya, menyeret koper berwarna merah muda milik Bunga. Dia melangkah menuju turunan tangga. Bunga mengikutinya dari belakang.
Sesampainya di ruang tengah.
Anggota keluarga Tuan Xen Zhin sedang berkumpul. Namun Rio tak perduli, ia tetap saja menyeret koper itu. Semua menatap mereka heran. Namun belum ada yang berani untuk bertanya, Bunga masih terus menangis bahkan isakan itu semakin keras.
"Rio apa yang terjadi?" tanya Nyonya Kazumi akhirnya, nadanya bingung.
"Aku menyuruhnya untuk kembali pada pacarnya." Rio menjawab.
"Apa maksudmu Rio? Kamu mengusirnya? ada masalah apa ini?" Nyonya kazumi tak henti-henti nya menatap mereka berdua.
"Kami akan...."
"Kak Rio, apa-apaan ini, pikirkan baik-baik Kak itu hanya emosi sesaat." Briyan ikut menyambung.
"Aku sudah memikirkannya dengan jernih, bagaimana mungkin Aku bisa hidup dengan wanita yang membenciku!"
Semua orang tak kuasa mendebat. Mereka membiarkan saja semuanya terjadi.
"Briyan berikan kartu alamat itu padaku!"
"Ini."
__ADS_1
Briyan menyerahkan selembar kartu alamat ke tangan Rio. Rio menerimanya lalu menyeret kembali Koper Bunga. Semua anggota keluarga Tuan Xen Zhin menatap kepergian mereka dengan hati penuh tanda tanya.