
"Apa kamu kedinginan? kamu bisa memelukku." Rio menyunggingkan senyuman manisnya.
"Terimakasih untuk tawaranmu tapi kurasa itu sangat merepotkanmu, Aku sudah biasa kedinginan."
"Sejak kapan? Setiap malam juga kau selalu tidur memelukku. kenapa tiba-tiba kamu mengatakan hal itu."
"Kutanya balik, apa setiap waktu kamu selalu ada di sampingku? tidak mungkin kan?"
"Ya, kamu menang."
Rio tersenyum saja karena di lihatnya wajah cantik bunga sudah mulai menampakan bad moodnya. Bunga diam, dia tidak ingin memperpanjang perdebatan kecil di antara mereka.
Suasana menghening.
Bunga mengarahkan pandangannya ke luar jendela. Ia melihat deretan pohon marple berjejer rapi, dengan daun yang lebih domain berwarna oranye. Setelah kurang lebih 20 menit mobil mereka menyusuri jalanan, akhirnya mereka sampai juga di sebuah restoran bernuasa khas Jepang, Namun pintu restoran itu masih tertutup rapat. Keduanya saling berpandangan.
"Kenapa kamu tidak segera menelpon ibumu?" Tanya Rio pelan.
Bunga tak menjawab, apa yang dikatakan Rio ada benarnya, dia pikir restoran milik tante Yuni akan buka selama 24 jam, Ternyata dugaannya salah. Bunga mengambil handphonenya lalu menghubungi Tante Yuni.
{ Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif }
"Sayang Tante Yuni tidak mengaktifkan nomornya," ucap Bunga cemas.
"Tunggu saja jika begitu."
"Apa kamu tidak keberatan?" Tanya Bunga datar, ia menyimpan kembali ponsel genggamnya.
"Tidak."
"Apakah kita akan menunggu di sini? Apa sebaiknya turun saja?" Bunga memandangnya meminta persetujuan dari lelaki itu.
__ADS_1
"Ah baiklah ayo turun, kita bisa duduk di kursi."
Rio menatap beberapa set meja lengkap dengan kursinya, jumlahnya tidak terlalu banyak. Hanya ada beberapa pasang saja. Bunga mengangguk dan kemudian melepaskan sabuk pengaman. Mereka turun bersamaan.
"Sayang tunggulah di sini, Aku akan membelikanmu sarapan, kamu ingin makan apa?" Tanya Rio perhatian.
"Belikan Aku Roti cokelat dan air mineral saja."
"Kamu yakin, roti tidak bisa mengenyangkanmu. Ingatlah kamu sedang berbadan dua harusnya kamu memilih menu yang lebih bisa mengenyangkan."
"Sayang ini masih terlalu pagi dan Aku tidak bisa makan apapun selain roti, apa kamu akan membuatku mogok makan lagi. Jika iya lanjutkan saja celoteh burukmu itu." Bunga kesal.
"Baiklah, akan kuturuti maumu."
Rio mengalah, ia tahu bahwa perasaan isterinya lebih banyak sensitive di bandingkan mood baiknya. Rio berjalan meninggalkan Bunga sendiri menuju minimarket terdekat.
Bunga menghela nafasnya panjang, ia menatap ke sekeliling, posisi restoran ini sangat strategis. Dia bisa menjamin restoran ini pasti banyak memiliki pelanggan.
"Hei selamat pagi sayang."
"Ya ampun tante, bikin kaget saja. Selamat pagi tante."
Bunga baru tersenyum ketika melihat seseorang yang telah menegurnya. Ia segera berdiri serta memeluk rindu ibu mantan kekasihnya.
"Kamu terkejut, maafkan tante jika begitu, bagaimana kabarmu? Tante dengar dari mamamu bahwa kamu sekarang sedang berbadan dua ya? ya ampun itu suatu berita yang bagus. Ingin sekali tante ikut merayakannya." Tante Yuni balas memeluk tubuh kecil bunga serta mengelusnya lembut.
"Iya tante, tante betul tapi jangan terlalu menyusahkan diri tante."
"Bunga Aku sudah menganggapmu sebagai anak jadi wajar dong tante ikut senang ataupun ikut bersyukur. Lagi pula kita memang harus berbagi rezeki sayang." Tante Yuni mengelus lembut rambut Bunga.
"Ya udah terserah tante aja." Jawab Bunga pelan sambil tersenyum di balik dekapan hangat Tante Yuni. Pelan-pelan Tante Yuni melepaskan pelukannya.
__ADS_1
"Udah lama nungguin Tante di sini ya?" Tanya tante Yuni lagi.
"Belum sih tante baru sekitar 5 menitan." Bunga menjawab.
"Kamu kesini cuma sendirian?"
"Sama suami Bunga."
"Terus dia dimana sekarang?"
"Lagi beli sarapan Tan."
"Ya udah masuk yuk, hari ini restoran sengaja enggak tante buka, Tante pengen cerita banyak hal sama kamu terus kita bisa masak bareng."
Tante Yuni menggandeng pergelangan tangan Bunga dan membawanya masuk kedalam. Bunga mengikutinya saja. Ketika telah sampai di dalam Bunga semakin terkejut karena restoran itu benar-benar memiliki desain yang luar biasa. Terlalu indah untuk di bayangkan. Dari motif bunga hingga pemandangan indah lainnya.
"Tante restoran ini luar biasa, Kira-kira sudah berapa banyak uang tante habis karena mendesain restoran ini?" Tanya bunga terheran-heran.
"Mungkin, sudah tak terhitung jumlahnya."
Tante Yuni tersenyum sembari terus melangkah menjelajahi ke sekeliling restoran. "Sekarang restoran ini adalah milikmu kan? kamu bisa berada di sini mengusir kepenatanmu di rumah. Tante juga sudah mempercayakan seseorang untuk bisa mendampingi kamu bunga." Tante Yuni mulai menjelaskan, agar bunga tidak gagal paham.
KREEEKKK.
Tiba-tiba saja terdengar suara pintu berderik pelan. Keduanya kini menoleh. Seketika peredaran darah Tante Yuni mengalir sangat cepat. Desiran panas darahnya mengingatkan akan seorang anak lelaki yang telah beberapa tahun meninggalkannya pergi. Pergi bukan untuk sebentar akan tetapi untuk selamanya.
Tante Yuni terbengong. Hatinya berkecamuk tak menentu. Ada sepercik rindu yang sulit ia ungkapkan, kenapa ia melihat Satria seperti hadir lagi di sini. Tante Yuni maupun Rio sama-sama memegangi dadanya. Bunga memandangi keduanya dengan tatapan tak mengerti. Pandangan itu tak berlangsung lama karena Rio telah membuyarkan lamunan singkat yang terjadi.
"Sayang ini sarapan untukmu, maaf jika menunggu lama," ucapnya sambil tersenyum.
Rio meletakan sekantong roti di atas meja. Bunga pun berjalan mendekatinya.
__ADS_1
"Terima kasih sayang." Bunga balas tersenyum.
"Ouh iya Rio, kenalin ini Tante Yuni yang pernah Aku ceritain." Bunga memperkenalkan seorang wanita yang tengah berdiri tegap itu.