
Kondisi kesehatan Satria kini sudah terbilang sangat membaik, kedua keluarga besar mereka akan mengadakan syukuran atas kesembuhan Satria dan menggelar acara pertunangan Bunga dan Satria.
***
3 hari kemudian.
Mereka kembali ke Indonesia, tepatnya pada tanggal 20 januari mereka mengadakan pesta pertunangan, di sebuah hotel mewah yang ada di kota tempat tinggal mereka. Tamu undangan tampak begitu ramai yang datang. Ruangan itu di desain sangat mewah, elegan dan indah, tentu saja karena itu adalah acara pertunangan keluarga yang kaya raya. Tak lupa juga bunga mengundang sahabatnya yang memiliki nama panggilan Rina. Ya, tepatnya Rina Edward gadis keturunan indonesia dan barat.
Di kamar hotel, Bunga berdiri di depan kaca di pandangi dirinya yang kini tampak sangat cantik .
Bisa di bilang seperti tokoh puteri-puteri di dalam dongeng. Cantiknya memukau. Rina yang kebetulan menemaninya di kamar langsung terpesona.
"Wah...Wah sumpah kamu cantik banget looh bung, pantesan aja Satria jatuh hati sama kamu!" Dia terus memandangi bunga yang waktu itu yang sedang menggunakan gaun berwarna pink, model bajunya mengkilat-kilat.
"Makasih sob." Dia tersenyum, senyum yang sangat manis.
"Oke, sama-sama sobatku. Sekarang kita Ke ruang pesta ya?" Ajak Rina setelah semua siap.
Bunga cuma mengangguk, dan Rina mulai menggandeng tangan sahabatnya. Sesampainya di ruang pesta. Semua mata terpana melihat pesona seorang bunga. Apalagi Satria, dia bahkan tak bisa mengalihkan pandangan nakalnya ke lain arah. Satria tiba-tiba mendekatinya.
"Sayang demi Allah kamu cantik banget." Pujinya pelan. Mendengar perkataan Satria Rina menyenggol bahu sahabatnya itu. Tersenyum sedikit lucu begitu juga dengan Bunga dia hanya merespon dengan kernyitan di kening. Dan terus berjalan maju.
Beberapa menit kemudian.
Acara di mulai, dengan penuh khidmat dan resapan. Satria telah resmi memasangkan sebuah cincin berlian di jari manis Bunga.
"Kumohon, Jangan pernah lelah mencintai Aku Sayang, apapun yang terjadi, berjanjilah....sayang." Satria berbisik pelan. Tatapannya sangat lembut. Dan siap untuk melelehkan hati Bunga.
Gadis berambut panjang itu tersenyum dan menjawab. "Tentu pangeranku." Jawabnya pelan.
Setelah itu Satria membawakan sebuah lagu special untuk sang pujaan hati. Karena kebetulan diapun memiliki suara yang bagus bak artis papan atas.
Seputih cinta ini ingin kulukiskan
di dasar hatiku.
__ADS_1
Kesetiaan janjiku untuk pertahankan kasihku padamu bukalah mata hati
ku masih cumbui bayang dirimu di dalam mimpi yang mungkin tak kan pernah membawamu di genggamanku
Dirimu di hatiku, tak lekang oleh waktu meski kau bukan milikku.
Intan permata yang tak pudar, tetap bersinar mengusik kesepian jiwaku, ku coba memahami, bimbangnya nurani tuk pastikan semua tak akan ku ingkari, terlalu banyak cinta yang mengisi datang dan pergi, namun tak pernah bisa,
Lenyapkanmu di benakku...
Tak terasa ada kristal bening yang jatuh di pipi halus milik bunga. 'Apa maksud Satria membawakan lagu ini. bukankah lagu ini mengisyaratkan sebuah perpisahan?' batinnya lirih.
Dan tentu saja. Begitu banyak tepuk tangan meriah dari para tamu undangan. Tak lupa juga ucapan selamat yang tak henti- henti. Acara sudah berjalan sesuai rencana. Dan setelah 1 jam acara di nyatakan selesai.
***
TOK....TOK....TOK
Suara itu terdengar sangat cepat.
"Sayang kamu sudah tidur?" Tanya mama Tia kemudian.
Bunga yang kebetulan masih terjaga. Lalu menjawab. "Belum ma." Dia langsung beranjak dari tempat tidur dan membuka pintu. "Ada apa ma?" tanya dia lagi.
Mama Tia tak menjawab.
tiba-tiba saja, dia memeluk tubuh anak gadisnya itu.
"Maaaa..." Lirihnya lagi, Bunga merasa heran kenapa mama nya terlihat begitu aneh sekali.
"Sayang kita harus segera kerumah sakit." Ucapnya kemudian.
__ADS_1
Bunga masih tak mengerti.
"Apa yang terjadi ma?"
"Sayangg maafkan Mama." Wanita itu menangis.
"Kenapa ma? Mama baik-baik aja kan?"
"Tidak sayang, Mama ngak sedang baik."
"Terus kenapa mama menangis?"
"Satria...sayang."
"Sat....Satria? Apa yang terjadi padanya ma?"
"Satria kritis!" jawab Mama Tia tegas. "Dan kita harus pergi kerumah sakit sekarang. Jelasnya lagi. Dia melepaskan pelukan itu. Entah mengapa kepala bunga merasa pusing sekali, ketika mendengar apa yang telah di ucapkan mama nya itu. Dia tampak memegangi kepalanya.
"Sayang kamu baik-baik ajakan?" tanya Mama Tia panik, Melihat apa yang terjadi, mama Tia menjadi sangat khawatir.
"Ngak ma....Bunga ngak apa-apa. Kita harus segera kerumah sakit ma." Jawab Bunga pelan.
"Ya"
Keduanya pun bergegas menuju ke garasi mobil.
Tak lama setelah itu hujanpun turun sangat deras tak perduli, walaupun hujan akan menghalangi perjalanan mereka. Mobil mereka akan tetap melaju menuju rumah sakit.
Di ruang ICU
Terdengar suara tangisan yang sangat menyayat hati. Bungapun semakin gelisah, apa yang sebenarnya terjadi di dalam sana. Setelah dokter mengizinkan, keduanya pun masuk ke dalam ruangan itu. Dan melihat Papi Hardi serta Mami Yuni sedang memeluk tubuh, seorang pria muda yang tengah terbaring lemah tanpa suara.
"Tante." Panggilnya kemudian. Mami menoleh, wajahnya telah di banjirin oleh air mata kesedihan.
"Bunga, maafkan tante." Wanita itu langsung bangkit memeluk tubuh bunga dengan suara yang sangat memilukan hati.
"Sat....Satria....meninggal Bunga. Maafkan tante yang ngak bisa menjaga dia dengan baik." Lanjutnya lagi.
Seketika kepala Bunga semakin terasa pusing, lututnya lemas untuk tetap bertahan agar terus bisa berdiri di tempat ini. Di pandanginya lelaki yang tengah terbaring itu, seketika jantungnya luruh, hatinya sakit, tangis air matanyapun terus menyeka di lehernya. Nadi darahnya seolah terhenti untuk mengalir, hancur berkeping- keping perasaannya. Dia pilu tak percaya tapi, ini kenyataan, mimpinya telah menjadi kenyataan yang sangat pahit. Diapun menangis terisak-isak, di dalam pelukan Mami Yuni. Tak lama kemudia ia lepas dekapan itu, mendekati tubuh Satria dan memeluknya dengan perasaan tak menentu.
"Sayang......bangun....bukankah kamu uda janji, akan menjadi pendamping hidupku sampai kita tua nanti. Ayolah buka matamu sayang, sampai kapan kamu akan terus tertidur? lihatlah Aku sayang." Dia terus menggoyang-goyangkan tubuh itu sambil terus menangis pilu. "Sayang, Aku ngak akan sanggup hidup tanpa kamu. Ku mohon sayang jawab jangan diam." Air mata Bunga terus menetes dengan derasnya. "Sayang Aku tak sanggup." Suara Bunga semakin pelan, Mama Tia pun terus memegang pundaknya dan mengelus lembut.
__ADS_1
Namun kemudian pemandangan Bunga sangat gelap. Sayu-sayu terdengar suara tangisan yang semakin jauh dan suara yang terus memanggil namanya secara bergantian. Entah bagaimana kejadiannya, Bungapun tak sadarkan diri.