
Via terkejut melihatnya, refleks dia menutup mulutnya sendiri tapi tak ada reaksi apa-apa darinya. Dia hanya memperhatikan Bunga saja. Terblesit akal jahat di otak Via.
"Via tolong Aku." Teriak Bunga kecil.
Tangannya terus berusaha meraih tepian kolam, sayangnya Bunga tidak bisa berenang. Sementara Air kolam terus masuk kedalam mulutnya.
Tak sampai beberapa menit
Bungapun tenggelam, dadanya sudah semakin terasa sesak, oksigen yang dia hirup seakan habis. Pandangannya kini mengabur, perlahan- lahan penglihatannyapun mengecil dan tenaganya melemah.
Beberapa jam setelah kejadian.
Samar- samar Bunga membuka mata, pandangannya mulai terlihat jelas. Ia melihat langit- langit ruangan itu yang berwarna putih terang.
"Sayang kamu sudah sadar?" Tanya Rio pelan.
"Di mana Aku?" Bunga tak menjawab pertanyaan Rio, dia malah kebingungan sendiri.
"Kamu di rumah sakit, apakah kamu lupa, bahwa kamu hampir saja mati karena tenggelam." Jelas Rio datar, sembari meraih tangan kecil bunga dan mengenggamnya.
Bunga terdiam sejenak, mencoba mengingat kejadian tadi.
"Bagaimana rasanya? Apa kamu sudah sedikit baikan sekarang?" Tanya Rio lagi, ia hanya ingin memastikan bahwa isteri tercintanya benar- benar dalam keadaan yang baik.
Bunga memandangnya serta mengangguk pelan. "Aku mau pulang saja Rio. Aku paling tidak suka bau rumah sakit, menurutku ini sangat menyesakkan dadaku."
"Iya, tunggu dulu akan kupanggilkan dokter untuk memeriksamu terlebih dahulu."
Rio menekan tombol pelayanan pasien yang berada disamping ranjang. Tak lama kemudian datanglah perawat berbaju biru.
"Selamat malam Tuan, apa yang bisa saya bantu?"
"Aku ingin dokter memeriksa keadaan isteriku." Ucap Rio pada perawat itu.
"Baik Tuan, tunggu sebentar."
Perawat itu membungkukkan badan dan segera melangkah pergi.
"Rio." Panggil Bunga kalem.
"Apa?" Rio memandangnya.
"Apakah acaranya sudah selesai?"
"Kenapa kamu harus memikirkan acara itu, sudah selesai atau belum. Tentu saja Aku menyesal." Rio menjawab dengan raut wajah yang datar.
"Maksudmu?"
"Jika Aku tak memilih hotel itu, tentu saja kau tidak akan pernah tenggelam, karena Aku sudah membuat keputusan yang salah. Lagipula staf-staf yang bertugas malam ini sudah kupecat!"
"Apa? Kau memecat mereka yang bertugas? Mereka tidak bersalah Rio, Itu adalah salahku sendiri, seharusnya Aku tidak pergi kemanapun. Lalu siapa orang sudah menolongku?" Bunga bertanya.
Rio menggeleng. Bungapun mengkerutkan dahinya kecil, jika bukan Rio yang menolongnya lalu siapa pahlawan itu.
"Lalu siapa yang menolongku?"
"Kau penasaran? Sudahlah jangan di ingat! Lupakan, lagipula orang itu tidak penting bagimu."
__ADS_1
Rio tak lagi menatapnya. Masih teringat jelas dikedua pelupuk matanya, bahwa Briyanlah yang telah menolongnya tadi, bahkan Briyan sangat lancang dalam bertindak. Ia berani memberi nafas buatan untuk isterinya.
"Baiklah Aku akan melupakannya." Bunga tahu, mungkin saat ini suasana hati Rio sedang tidak baik.
Tak lama kemudian terdengar langkah kaki mendekati ruangan mereka.
"Permisi." Seorang dokter pria dan satu perawat tiba- tiba datang menyapa.
Rio langsung menoleh.
"Dokter, tolong periksa keadaan isteriku, apakah tidak ada kendala apa pun? jika tidak Aku akan membawanya pulang."
Dokter mengangguk, dia berjalan mendekati Bunga serta memeriksanya dengan hati- hati, lalu tersenyum.
"Tidak ada kendala, keadaan janinnya juga sehat, jika anda ingin pulang tidak masalah, Anda bisa langsung pulang malam ini." Tukas dokter memberi penjelasan.
"Terimakasih Dok."
"Sama- sama, apakah masih ada pertanyaan lain Tuan?"
"Cukup, itu saja." Jawab Rio singkat.
Perawatpun mulai melepasi selang infus yang menempel di pergelangan tangan Bunga.
"Baiklah jika begitu saya permisi dulu. Selamat malam Tuan Rio."
Dokter membungkukkan badannya dan pergi meninggalkan ruang rawat pasien, diikut sang perawat.
Setelah kepergian Dokter. Rio tak langsung berbicara, dia bergegas mengemasi beberapa barang. Sementara Bunga merasa ada yang sedikit ganjal dengan keadaan ini, Rio kembali dingin tak seperti biasa. Padahal beberapa hari sebelumnya sifat Rio terlihat lebih hangat.
"Rio." Panggil Bunga lagi
"Apa?" Sahut Rio pelan, tanpa menoleh.
"Maafkan Aku sudah merepotkanmu." Ucap Bunga pelan.
"Tidak apa, itu sudah menjadi tugasku."
Rio selesai mengemasi barang mereka. Sekarang dia melangkah mendekati Bunga.
"Kamu bisa menganti pakaianmu terlebih dahulu." Dia menyerahkan selembar pakaian daster pada Bunga.
"Baik."
Bunga mengambil pakaian yang di sodorkan oleh Rio. Dia terdiam sejenak, Rio menjadi heran.
"Kenapa? Apa lagi yang sedang kamu pikirkan?" Rio menatapnya tajam. Bunga menggeleng.
"Sini."
Rio kembali mengambil pakaian yang telah berada di dalam genggaman Bunga dan meletakkannya di atas ranjang.
"Apa yang kamu lakukan, bukankah kamu menyuruhku untuk mengganti pakaianku."
"Tidak, biar Aku saja yang melakukannya."
Rio tak ambil pusing, dia langsung meraih kancing baju yang sedang di gunakan Bunga lalu melepaskannya satu persatu.
__ADS_1
"Aaah... Rio, biar Aku saja yang melakukannya, kamu terlalu berlebihan, tanganku masih kuat menanggalkan baju ini sendiri."
Bunga menolaknya serta menghentikan gerakan tangan Rio dengan memegang punggung tangan Rio.
"Paling tidak Aku bisa membantumu lebih cepat, memangnya mau sampai berapa jam lagi kau berada di dalam kamar ini."
"Secepatnya kalau bisa, kepalaku sudah pusing, sejak tadi juga rasanya Aku ingin muntah." Bunga menggrisut turun dari ranjang
"Ayo kuantar ke toilet."
"Aku bisa berjalan sendiri, sudahlah jangan khawatirkan Aku." Bantah Bunga kesal, menurutnya Rio terlalu memanjakannya.
"Kau ini selalu saja keras kepala." Jawab Rio kesal juga.
Spontan saja ia angkat tubuh isterinya dan membawanya ke dalam toilet. Bunga terbungkam tak dapat membantahnya lagi.
"Sudah muntahlah." Ucap Rio datar, setelah ia turunkan Bunga dari gendongannya.
"Kamu tak perlu menungguiku di sini, kamu boleh keluar."
"Tidak."
"Aaah, Riooo."
Bunga meringgis. Kenapa masih ada lelaki di dunia ini seperti Rio.
"Kenapa? memangnya kehadiranku menyakitimu? Ayo lakukan kegiatanmu untuk muntah."
"Aku tidak jadi!"
Bunga terlihat jengkel sambil melangkah dengan cepat meninggalkan Rio yang tengah menyender di dinding dengan ekspresi termenung.
Setelah sampai di kamar, buru- buru Bunga melepas kancing bajunya satu persatu, kemudian menggantinya. Rio pun muncul, dilihatnya Bunga sudah siap.
"Wanita aneh!" Celetuk Rio dalam hati.
10 menit berlalu. Mereka sudah berada di dalam mobil. Keadaan sunyi, suasana seperti sekarang memang sangat menyebalkan bagi Bunga, ia segera menyalakan musik. Terdengar lantunan lagu sendu mengisi keheningan mereka.
"Apakah jika kamu menyetir selalu begini?" Bunga menatapnya.
"Menurutmu?"
"Membosankan."
"Tapi Aku sangat menikmatinya."
"Benarkah?" Bunga terheran.
"Iya apa menurutmu itu aneh?"
"Sudah bisa ku tebak bahwa hidupmu tidak menyenangkan." Bunga kembali menatap lurus kedepan dengan bibir mengkerucut.
Rio tiba- tiba menghentikan mobilnya.
"Ah, Ada apa?" Tanya Bunga penasaran.
Namun lelaki itu terdiam sambil memegangi dada kirinya dengan satu tangan.
__ADS_1