
Rio masih menatap wajah Bunga. Dan kemudian dia berkata. "Aku akan memberimu waktu 5 menit untuk mengemasi semua barang-barang kita."
"Hanya 5 menit? Bunga terheran.
"Iya kenapa? Apa itu tidak cukup." Bantah Rio pelan, bunga tak menjawab, tak juga menatap wajah Rio yang berada tepat di hadapan nya. Dia tak begitu perduli akan lelaki itu. Dengan wajah yang masih sedikit kesal, bunga bangkit dari tempat tidur dan mengambil semua barang miliknya serta Rio.
Rio hanya memperhatikan nya saja.
Sejujurnya perasaan Rio gugup, selama bertahun-tahun dia hidup di muka bumi, akan tetapi Rio belum pernah merasakan sesuatu yang berbeda ini. Apakah dia mulai jatuh cinta. Kenapa begitu cepat? Bisakah perasaan aneh ini di namakan cinta? Entahlah... Biarkan waktu yang menjawab. Tak terasa jam tangan di pergelangan milik Rio berdetak sangat cepat. Lima menit sudah berlalu...
"Aku sudah menyelesaikannya." Ucap Bunga datar, ketika dia rasa apa yang di perintah Rio telah ia kerjakan tepat waktu.
"Oke, Kamu tunggu saja di sini, Aku akan memanggil Benikno." Rio langsung memutar langkahnya dan keluar dari kamar hotel.
Bunga bisa sedikit bernafas lega sekarang.
Ceklek...
Terdengar pintu di buka, muncullah wajah Rio berserta Asisten pribadinya, buru-buru lelaki setengah baya itu, membawa barang yang telah bunga rapikan. Kini tangan Rio beralih menggandeng pergelangan tangan bunga. Hatinya pun berdesir hebat. Ada perasaan bahagia, meski bunga sadar Rio bukan lah Satria miliknya, tapi sekali lagi, Bunga merasakan ketenangan yang tak bisa di ungkap lewat kata-kata.
"Bukan kah kamu rindu rumahmu?" Tanya Rio tiba-tiba. Bunga kini menatapnya.
"Tentu saja Aku merindukan rumah dan yang paling sangat Aku rindui adalah Mamaku."
"Dasar anak manja." Ejek Rio melirih, posisi mereka berjalan di lorong-lorong hotel. "Aku akan membawamu pulang ke jepang jadi untuk 2 hari ini, puaskan kerinduan mu pada Mama mu itu, bila perlu tidurlah di dalam pelukan Mama mu, Aku akan merelakan mu. Tapi ingat setelah kita di jepang, tugasmu adalah memelukku sepanjang malam." Jelas Rio panjang lebar. Wajahnya masih tanpa ekspresi.
Bunga tak begitu merespon. Dia hanya berpikir. Dasar kau lelaki mesum, kita baru saja kenal, tapi dia sudah meminta yang menurutku terlalu berlebihan, toh... Cintakan belum datang. Kenapa permintaannya seperti bayi yang baru lahir saja, huff... Bunga masih di sibukan dengan pemikirannya.
"Kenapa diam, Apa yang sedang kamu pikirkan." Ucap Rio datar, menyadarkan lamunan singkat si Bunga.
__ADS_1
"Tidak, A...Aku tidak memikirkan apapun." Jawab Bunga tergugup.
Rio tersenyum, wajah tampan yang dia miliki terlihat sangat berseri.
"Lalu? Kenapa kamu gugup. Kamu setuju sajakan dengan apa yang ku perintahkan. Ya tentu saja kamu harus patuh terhadapku, dan satu hal lagi, kamu tak boleh membantahku." Tutur Rio menegas.
"Iya, Aku akan berusaha untuk tidak keras kepala dan membantahmu."
"Oke..." Rio menjawab dengan singkat.
Tak lama kemudian mereka sudah berada di halaman hotel, Benikno segera membukakan pintu mobil untuk tuan muda dan nona barunya itu. Kini, mobil melaju di jalanan aspal, suasananya lebih segar, angin berhembus sangat pelan, lembut. Pandangan Bunga menatap keluar jendela mobil, yang menampakan jejeran - jejeran gedung pencakar langit. Kota ini sudah begitu berkembang pesat.
Bayangan tentang Papanya yang telah lama meninggal seolah datang menyapa. Pa, Bunga sudah menikah sekarang, bagaimana keadaan papa di sana, bunga selalu mengirim doa buat papa, biar papa tenang di sana, salam sayang dari bunga untuk papa, jangan lupa sampaikan rindu bunga pada Satria. Batinnya dalam hati.
30 menit kemudian...
Mobil berhenti tepat di halaman rumah yang menjadi tempat tinggal bunga sejak ia kecil. Asisten Benikno membukakan pintu untuk mereka. Dengan langkah yang pelan, Rio Xenzhin masih konsisten pada sikap nya, yaitu berjalan sambil menggandeng tangan Bunga. Bukan, tepatnya seorang isteri. Ya... Bunga telah resmi menjadi pendamping hidupnya.
Mereka sekarang berjalan mendekati sebuah pintu unik di rumah itu. Tangan halus bunga segera menekan tombol bel nya.
Ting... Tung...
Terdengar suara berdeting dari dalam rumah. Mama Tia yang memang kebetulan belum pergi shif langsung bergegas membuka kan pintu.
Dan pintu terbuka sangat lebar, ada wajah yang selalu ia rindu.
"Mama." Panggil Bunga pelan.
Dia langsung memeluk serta mendekap erat tubuh kecil yang di miliki Mamanya. Meski sebelumnya tak ada kode apa pun.
__ADS_1
Wanita itu hanya tersenyum dan mengelus lembut punggungnya.
"Ayo masuklah, Mama kira kau masih menikmati hari-harimu ternyata Rio Xenzhin membawamu kemari." ucap Mama Tia lembut.
Bunga melepaskan pelukan singkat itu dan menuju arah pintu untuk masuk. di ikuti Rio Xenzhi, Benikno serta Mama Tia. Hawa sejuk seakan menjalari tubuh mereka, karena mesin pendingin sudah menyala sejak tadi pagi.
Mama Tia mempersilahkan mereka duduk dan memanggil Bi Ami untuk membuatkan mereka minuman.
"Bagaimana hari pertama kalian menikah? Tanya Mama Tia pelan, sambil memperhatikan wajah Rio Xenzhin dan wajah Bunga, bersamaan.
"Menyenangkan." Rio dengan mantap mengatakannya. Sementara Bunga cuma tersenyum merespon pertanyaan itu.
"Syukurlah jika begitu, kalian senang Mama juga senang. Oh iya Rio, apakah setelah ini kau akan membawa Bunga pulang ke jepang?
"Iya Ma."
"Oke, Mama akan selalu merindukan kalian, dan semoga saja kalian cepat di karuniai Baby ya?"
"Mama, apaan sih." Bunga jadi tersipu mendengarnya.
"Ada apa sayang? apakah kamu tak ingin menjadi wanita yang sebenarnya? memiliki Baby itu menyenangkan sayang, bukan begitu kan Rio?" Mama masih melanjutkan pembicaraan nya.
Rio tersenyum.
"Ya, sangat menyenangkan Ma. Rio juga berharap agar bunga bisa melahirkan keturunan Rio dengan 10 anak." jawabnya datar.
"Apa. Kamu akan menyiksaku?" Bunga membantah. Kedua orang yang berada di hadapan nya spontan tertawa. Bunga semakin manyun.
"Bunga, turuti saja keinginan Rio, lagian itu akan sangat menyenangkan. keluarga kita akan bertambah banyak." Mama Tia memberinya dukungan.
__ADS_1
"Iya Ma, Bunga setuju, bagaimana jika Rio saja yang melahirkannya." Bunga memberi alasan yang tentu saja tidak logis.