
"Sayang are you oke?" Tanya Bunga khawatir. Ia menatap lelaki itu dengan perasaan tak menentu.
"Iya Aku baik- baik saja kok sayang." Rio seperti sedikit kesulitan bernafas.
"Aku hanya mengkhawatirkan keadaanmu, Jika Kamu tak bisa melanjutkan menyetir mobil, Aku akan menelpon paman agar menjemput kita di sini."
"Tidak apa- apa sayang Aku masih bisa." Rio menjawab dengan nada parau, entah sejak kapan. Rio kembali memfokuskan keadaan, ia nyalakan kembali mesin mobil yang sempat mati itu.
Bunga mendengus pelan karena di lihatnya Rio tampak baik-baik baik saja. Tak lama kemudian mobil berjalan normal. Bunga tak lagi berbicara apa-apa, begitu juga Rio.
Dreett... Dreett...
Tiba-tiba Tiba saja ponsel Bunga bergetar. 'Siapa malam- malam begini menelpon?' pikirnya pelan. Ia memandang Rio sejenak, seperti minta persetujuan pada Rio. Untungnya lelaki tampan itu merespon.
"Ada apa? Mengapa menatapku seperti itu? Angkat saja telponnya, mungkin saja penting." Ucap Rio pelan. Bunga tak menjawab dia langsung merogoh ponselnya di dalam tas.
Di layar menampilkan panggilan dari nomor tanpa nama.
"Sayang ini adalah kontak baru, apa kamu tidak keberatan jika Aku mengangkatnya?" Tanya Bunga sangat berhati-hati hati, dia takut menyinggung perasaan lelaki yang berada di sampingnya.
"Angkat saja."
Bunga mengangguk lalu mengangkat telponnya.
Sedang dalam mode panggilan aktif.
__ADS_1
"Halo." Sapa Bunga pelan.
"Oke, Kirim saja alamat lengkapnya Tan?" Sambungnya lagi, pandangannya tak berkedip memperhatikan wajah Rio.
Tut... Tut...
Terdengar panggilan di tutup.
"Siapa?" Tanya Rio datar, tanpa menoleh, dia masih fokus pada setirannya.
"Tante Yuni."
"Ada keperluan apa tante kamu nelpon malam- malam begini?"
"Dia ingin bertemu. Apa kau punya waktu untuk mengantarku besok?"
"Benarkah?" Bunga tersenyum kegirangan.
"Apa kamu senang?"
"Tentu saja Aku sangat senang." Jawab Bunga di sela-sela senyumnya yang lebar. Sementara Rio hanya membalas dengan senyuman tipisnya, sambil menambah kecepatan mobil. Ia merasa ingin sekali beristirahat.
30 menit kemudian.
Mobil yang Rio setir sampai di rumah dengan selamat. Riopun memarkir mobilnya amat rapi, setelah itu dia turun membukakan pintu untuk sang isteri. Kini mereka berjalan secara bersamaan menaiki tangga, Rio menggandeng mesra pergelangan tangan Bunga. Dalam sekejap seorang pelayan membukakan mereka pintu.
__ADS_1
"Selamat malam Tuan. " Sapa pelayan bersuara ramah.
"Selamat malam." Jawab Rio singkat. sementara Bunga hanya tersenyum memandangi pelayan itu.
Rio masih menggandeng mesra tangan Bunga, hingga mereka sampai di kamar.
Bunga mendesah pelan, ia membaringkan tubuhnya di atas sprimbed. Rio menyusulnya serta memeluk tubuh Bunga dengan erat, dia tak mengatakan apapun. Sehingga mengundang rasa penasaran di hati Bunga. Apa yang sebenarnya sedang Rio pikirkan? Jika bunga bertanya sudah pasti Rio tidak akan menceritakannya dengan mudah. Sifat lelaki di sampingnya memang aneh dan jarang sekali terbuka. Dia lebih baik menyimpan untuk dirinya sendiri.
"Sayang ada yang ingin kutanyakan padamu."
Bunga akhirnya memberanikan diri untuk sekedar bertanya. Menurutnya itu tidak masalah, selagi bibir masih berbicara pertanyaan seperti apapun mungkin bisa di ajukan. Di lihatnya paras wajah tampan Rio dengan teliti, saat itu Rio tengah memejamkan kedua matanya yang indah.
"Apa?" Tanya Rio lirih.
"Kuperhatikan sejak tadi sepertinya ada yang menganggu pikiranmu, bolehkah Aku tahu?"
"Aku baik-baik- baik saja dan Aku sedang tidak memikirkan apapun."
"Aku tak percaya."
"Ya sudah jika tak percaya, tunggulah hingga esok, Aku tetap tidak akan mengatakan apapun."
"Baiklah jika itu yang ada di pikiranmu, Aku tidak akan bertanya lagi." Jawab Bunga dengan raut wajah yang berubah.
"Tidurlah, ini sudah larut malam tidak baik ibu mengandung tidur selarut ini. Aku akan memelukmu dan selalu ada di sampingmu."Ucap Rio lirih.
__ADS_1
Bunga tak bisa membantahnya. Dengan terpaksa ia pejamkan kedua matanya. Terasa hangat pelukan Rio hingga akhirnya dia pun tertidur.