
Bunga telah mempunyai bukti yang kuat
bahwa Veli benar-benar bunuh diri. Dia serahkan surat terakhir yang di wasiatkan Veli padanya. Yang isinya begini:
Ma, Pa maafin Veli, atas kebodohan yang telah Veli lakuin ini. Veli sayang Mama Papa tapi Veli juga udah enggak kuat menerima kenyataan ini. Veli putus asa karena lelaki yang Veli cintai pergi enggak ada kabar, rasa nya sakit cinta Veli yang sudah bersemi selama 10 tahun tiba-tiba hancur karena dia mengatakan enggak pernah mencintai veli!dan untuk pesan terakhir Veli tolong jangan tuduh Bunga penyebab semua ini karena dia enggak salah. Kematian ini adalah salah veli sendiri. Veli emang sudah niat bunuh diri.
Ttd : Velly Anggraini
Mama, Papanya tak menduga hal ini bakalan terjadi tapi apalah di kata jika Tuhan telah menakdirkan kematiaan seseorang maka tak ada satu orangpun yang bisa mencegahnya. Bunga sudah di nyatakan bebas. Kejadian ini murni insiden bunuh diri.
Tapi bunga masih sedih dan prihatin oleh kejadian yang menimpa temannya itu. Andaikan saja Veli berkata jujur padanya saat itu, mungkin Bunga akan memilih untuk mengalah saja dan benar-benar menjauh dari Reza. Tapi semua itu sudah terlambat,
Siapa yang seharusnya di salahkan? tak ada, hanya saja cinta itu sudah membutakan hati Veli. Dan membuatnya putus asa serta kecewa yang menjadi-jadi. Cinta yang penuh ambisi dan egois.
Beberapa hari setelah kejadian itu satria datang menjengguknya. Dia hanya takut jika bunga akan frustasi dengan kejadiaan yang menimpanya. Satria benar-benar sosok yang perduli dan perhatian. Tapi jujur saja walaupun satria benar-benar tulus memberinya cinta namun hati bunga masih konsisten pada Reza nya saja. Dia berbohong dengan keadaan. Satria hanya berusaha untuk menghibur. Dia ingin membawa Bunga berjalan-jalan mengelilingi kota itu.
"Beep"
Terdengar bunyi notifikasi whatsapp di layar smartphone nya. Bunga membukanya.
"Sayang." itu adalah kebiasaannya Satria kalau menyapa.
"Iya." Balas Bunga
"Pengen gajakin kamu jalan-jalan, punya waktu ngak?"
"Bisa tapi kita ajak Rina sahabatku juga ya."
"Iya, sayang."
Bunga pun meletakan smartphonenya di atas meja dan kemudian bersiap-siap akan pergi.
20 menit kemudian.
Dia sudah tampil cantik dan Satria sedang menunggunya di ruang tamu, Satria di temani Mamanya. Setelah meminta izin merekapun pergi menjemput Rina. Oh alangkah terkejutnya Rina saat itu. Betapa tidak? Orang yang sedang bersama Bunga adalah sang idolanya di sekolah. Dan selama ini pun bunga tak pernah bercerita tentang kedekatannya dengan Satria. Tentu dong itu sangat membuatnya shock berdobel-dobel, dan sangat membuatnya iri, bagaimana bisa Bunga selalu menarik perhatian di mata cowok-cowok tampan di sekolahnya.
Hari itu sudah cukup membuat perasaannya terhibur Satria sudah mengatarkannya pulang. Pintu ruang tamu terbuka,
setelah mengucapkan salam bunga masuk.
__ADS_1
Dan mama yang kebetulan sedang menunggunya di ruang tamu langsung tersenyum dan berbicara.
"Wah anak Mama udah beneran jadi remaja yang sedang puber ya." Ucapnya waktu itu. Bunga membalas tersenyum.
"Ahh Mama ngeledek Bunga ya." Wajahnya memerah karena malu. Tapi kemudian duduk di samping Mamanya.
"Jatuh cinta itu normal sayang Oh Iya sekarang kamu pacaran sama si Satria?" Tanya Mama datar, terlihat di kedua bola mata nya penuh tanda tanya. Bunga menggeleng.
"Terus?"
"Mama Bunga enggak pacaran, Bunga cuma deket aja kok!" Elaknya.
"Lucu ya waktu itu kalian hanya ketemu satu kali ajakan. Dan dia adalah anak temennya Mama. Anaknya mbak Yuni."
"Sebenernya Bunga udah tau dia, tapi Bunga belum kenal aja, dia itu kan kakak kelasnya Bunga Ma, lagian anak-anak di sekolah udah sering banget sebut-sebut nama dia."
"Ooh jadinya gitu." Jawab mamanya pelan. Sambil mengelus lembut rambut bunga.
Setelah berbincang-bincang agak lama mereka pergi tidur.
***
Keesokan paginya.
So wajahnya mendadak viral. Hampir seluruh siswa ataupun siswi di sekolahnya hafal akan wajahnya. Sebenarnya berat untuk tetap tegar pada keadaannya. Tapikan dia tak bersalah, Dia berjalan memasuki ruang kelasnya. Tiba-tiba Diko nyeletuk.
"Oerjalanan cinta yang sungguh tragis!"
Cowok dengan mata sipit itu mendekatinya sambil menyilangkan kedua tangannya di dada. Bunga tau ini adalah sebuah ejekan. Dia masih tak merespon.
"Pura-pura kayak enggak ada masalah atau emang benar-benar tuli sama buta kali ya." Ujarnya sengit. Itu kedengaran kasar. Sepertinya Diko temen se-gank Veli akan membuat masalah pada dirinya. Bunga tetap diam dan berjalan, agak Menjauh dari Diko.
"Aku lagi ngomong sama kamu!" Tiba-tiba Diko menarik tangannya.
"Apaan sih kamu Dik!" Bunga menyentak tangannya. "Lepasin tangan aku Dik! Aku enggak ada urusan sama kamu!"
Diko langsung tersenyum sinis.
"Kamu bilang kamu enggak ada urusan sama Aku, gitu? Iya tapi kamu udah hancurin semua mimpiku Bung!" Jawabnya ketus.
Bunga masih tak mengerti, apa alasan Diko bilang gitu. Tapi yang dia tau mereka adalah sahabat. Ya semua orang juga akan sedih kalau kehilangan sahabatnya. Tapi semua itu sudah takdirkan.
__ADS_1
"Jangan pura-pura bego deh kamu kan yang rencanain supaya Veli bunuh diri?"
"Maksud kamu apa dik? Kamu jangan nunduh sembarangan dong Dik, Veli itu udah jelas-jelas bunuh diri."
"Enggak mungkin Aku tau Veli itu cewek kayak apa Veli enggak mungkin ngelakuin hal bodoh itu." Diko terus memojokannya.
"Tapi Veli udah ngelakuiin nya Dik, Itu atas kehendak dia sendiri!"
"Bohong!" raut wajah Diko semakin bertambah Emosi. Dia hampir saja menampar.
"Kamu apa-apaan Dik!" Tiba-tiba datang Alfin seraya mendorongnya. "Brengsek banget kamu, Dia itu cewek Dik. Ingat Veli itu udah mati dan dia bunuh diri, bukan Bunga yang salah!" Alfin berkata dengan tegas. Diko langsung berlutut lemah di lantai. Alfin memegang bahunya sambil ikut menjongkok.
"Kita semua kehilangan Veli Dik, bukan cuma kamu tapi Veli memilih mengakhiri hidupnya sendiri Dik." Alfin menguatkannya.
Suasana menghening.
***
Sepulang sekolah, Bunga jalan beriringan dengan sahabatnya Rina. Tiba-tiba Alfin berteriak memanggilnya dari arah belakang.
"Bung Bunga tunggu."
keduanya berhenti dan menoleh.
"Itu Alfin, mau ngapaiin dia?" tanya Rina pelan
"Enggak tau Rin." Bunga menjawab dan Alfin semakin dekat.
"Sorry atas kejadian tadi bung."
"Enggak apa-apa kok Fin."
"Itu menyakitkan kamu banget."
"Enggak mungkin Diko belum menerima takdir itu sepenuhnya."
"Sebagai permintaan maaf Aku atas sifat Diko tadi, Aku mau traktir kalian di cafee barbie ya, ku mohon terima ya." Mohonnya kemudian. Mereka berdua mengangguk setuju.
***
Mendung di langit terasa gelap serta lembab, dan petir berbunyi saling menyambar. Cahayanya amat menakutkan, hujan turun sangat deras. Sederas air mata yang jatuh membasahi pipi lembut seorang Bunga. Dia duduk bersimpuh di depan gundukkan tanah berwarna cokelat itu, di atasnya bertamburan berwarna-warni bunga-bunga. Bunga mengenakan baju berwarna hitam, suasana terasa dingin menusuk hingga ke tulang sum-sum.
__ADS_1
'Satria jangan tinggalin aku sat. Apa artinya hidupku tanpa kamu sat!" Dia berteriak-teriak Memanggil nama satria yang telah meninggal dunia. Tanah itu basah oleh air hujan. Diapun tak perduli hujan terus membasahi bajunya. Kenapa orang yang di sayanginya pergi lebih dulu darinya.