
Hari itu, adalah hari yang sangat-sangat di luar dugaan. Di mana segala rencana terkadang tak sesuai pada keinginan, Rio Xen Zhin berserta kedua orangtua nya tiba-tiba datang berkunjung kerumah bunga dengan maksud untuk melamar.
Mereka membawa begitu banyak hadiah yang berisikan benda-benda termahal dan edisi terbatas.
Ya tentu saja, seorang Rio Xen Zhin memiliki begitu banyak uang, dengan uang yang ia miliki dia bisa membeli segalanya terkecuali nyawanya sendiri. Karena Tuhan telah mengatur umurnya, entah sampai berapa tahun. Apalagi Rio Xen Zhin adalah seorang pembisnis yang sukses, harta yang dia miliki seutuhnya adalah warisan sang Ayah. Semenjak dia yang menangani, perusahaan yang berada di bawah kendali nya semakin berkembang pesat.
Mereka sekarang sudah masuk dan duduk di ruang tamu. Mama bunga telah menyiapkan beberapa makanan untuk menjamu calon besannya itu. Tiada angin tiada badai seolah lamaran ini, terjadi sangat singkat. Beberapa menit kemudian Bunga pun muncul dari kamar kesayangannya.
Dia mengenakan gaun yang terlihat indah berwarna kuning mengkilat dia sangat cantik malam ini. Dan pastinya kedua calon pengantin itu akan terkejut jika mereka di pertemuan kan kembali. Bunga berjalan dengan langkah tanpa ragu-ragu sembari menampilkan senyum manis di bibirnya. Semua mata tertuju padanya, perasaan mereka mengatakan alangkah cantiknya penampilan seorang bunga itu.
Rio pun ikut menatap. 'Dia?' Rio terperangah dalam diamnya. Ternyata gadis ini, sial' Rio membatin di dalam kebisuannya. Bagaimana mungkin reaksinya tidak terkejut, jelas sekali bahwa setiap waktu yang tak pernah dia duga, selalu bertemu gadis ini.
Namun tiba-tiba saja, langkah bunga terhenti, kakinya tergelincir karena lantai di rumahnya licin.
Semua mata melonggo, akan tetapi tidak untuk Rio, dengan langkah yang gesit Rio langsung menyanggah tubuh bunga. Sejenak keduanya saling bertatapan bak romeo dan juliet, terlalu romantis.
"Oouh..." Hanya ucapan itu yang keluar dari mulut mungil milik bunga. Sementara Rio hanya berekspresi datar dan dingin, Rio pun membantunya berdiri tegap semua yang ada di situ langsung tersenyum-senyum. Setelah itu mereka duduk.
"Bung... Kamu ngak apa-apa? kalau jalan itu hati-hati dong sayang." mamah bunga mencoba untuk memastikan bahwa puterinya ini dalam keadaan yang tentu nya baik-baik saja.
"Iya Mah, ngak apa-apa." Jawab Bunga pelan, dia malu sekali saat itu. Keadaan sedikit tenang mereka mulai membahas topik utama atas kedatangan keluarga Rio ke sini. Apalagi kalau bukan tentang pernikahan yang akan mereka gelar dalam kurun waktu dekat. Tak terasa waktu pun berlalu mereka juga sudah menyelesaikan kesepakatan pernikahan antara Rio dan Bunga.
__ADS_1
***
Dua Hari kemudian.
Keluarga besar Rio Xen Zhin akan menggelar acara pernikahan di salah satu hotel berbintang yang mereka miliki. Dan tentu saja itu adalah pernikahan termewah yang belum pernah ada di kota bunga saat itu. Tamu undangan dari berbagai kalangan seakan ikut meramaikan acara pernikahan sakral itu, semua yang ada seolah menjadi saksi atas ucap janji dari kedua mempelai. Tamu yang di undang juga bukan orang yang sembarangan mereka semua memiliki pangkat yang tinggi.
Di kamar hotel..
Bunga telah di make up dengan sangat sempurna, wajah nya cantik bak bidadari yang turun dari langit. Tentu saja keluarga Rio XenZhin menyewa perias dari kalangan atas mereka sudah menyiapkan segala nya dengan sangat hati-hati serta teliti. Di situ juga sudah ada Rina sahabatnya, yang rela melepaskan masa liburan yang indah demi untuk datang menghadiri pernikahan sahabatnya ini.
"Wah... Bung, ngak nyangka banget, Kamu beneran menikah sama Satria. Pastinya kamu seneng banget kan?" ledek Rina mengguraui nya.
"Hehe... Maafin deeeh, tapi kamu ngak sedih juga kali, Rio itu kan punya muka yang 99% mirip sama Satria.
"Iya bener, tapi Satria Aku ngak angkuh begitu, dari segi kekayaan pun, mereka ngak berbeda tapi Satria orang nya baik." Bunga coba membayangkan segalanya tentang Satria. Benar saja, sifat keduanya jauh berbeda.
"Eemmm.... Iya sih, udahlah bung lupain Satria sejenak aja, Kamu harus tetap menikah sekarang."
Rina mencoba menyakinkan sahabatnya itu, dengan perkataan yang lembut. Bunga hanya merespon nya dengan anggukan kecil.
10 menit kemudian.
__ADS_1
Acara akan segera di mulai Bunga keluar dari kamarnya dengan di pimpin sahabatnya Rina. Tentu saja, itu menjadi pusat perhatian para tamu undangan dan pengunjung karena Bunga benar-benar sesosok gadis yang cantik. Malam ini, mereka hanya akan bersanding, karena ijab kabul sudah di ikrarkan tadi pagi di salah satu masjid Agung di kota kelahiran Bunga. Sekarang Rio dan Bunga sudah sah menjadi sepasang suami isteri yang akan memulai kehidupan baru serta harus sedikit atau banyak melupakan tentang masa lalu.
Di kejauhan sepasang mata memperhatikannya dengan penuh cinta. Sebut saja itu Reza. Lelaki yang juga bagian dari masa lalu bunga tapi sayang nya cinta mereka di SMA dulu harus kandas karena ternyata mereka harus memilih hidup mereka masing-masing. Dia perhatikan wajah itu hati Reza pun seketika sakit dan perih
dia berpikir kenapa bukan dia yang di sana.
Sudah lama sekali dia simpan gelora cinta di dalam dadanya. Sesak, seolah menghimpit seluruh pernafasannya.
Sementara di sisi lain, Rio juga sedang memperhatikan gadis yang telah sah ia nikahi
senyumnya mengembang di bibir merahnya. 'Bagaimana mungkin gadis kecil itu membuatku mulai memperhatikannya, dia sangat cantik, tak seperti yang ada di dalam bayanganku.'
Rio berkata dalam batinnya.
Setelah Bunga sampai, mereka berdua pun bersandingan di depan pelaminan yang mewah dan megah itu. Para tamu undangan berkumpul pada posisi mereka masing-masing. Pembawa acara mulai membuka acara malam itu dan membacakan hal-hal yang musti mereka patuhi kini acara berjalan sesuai rencana tak ada halangan atau kendala.
Dua jam sudah berlalu dan sekarang waktu sudah menunjukan pukul 21:00 WIB. Acara di nyatakan selesai tamu-tamu pun mulai meninggalkan, ruangan acara ketika itu. Bunga sekarang telah berada di kamar hotel untuk menginap entah sampai berapa hari anggap saja itu sudah seperti rumah kedua milik Rio Xen Zhin.
Bunga duduk di depan sebuah meja rias, di kamar hotel itu, dia hendak membersihkan make up yang terasa tebal di wajahnya. Sementara Rio entah di mana, setelah acara selesai, tiba-tiba saja batang hidungnya tidak nampak lagi. Bunga menghela nafas sejenak, dia telah selesai membereskan semuanya matanya pun sudah mulai merasakan ngantuk yang luar biasa alhasil dia pun tertidur tanpa menunggu Rio Xen Zhin datang.
Malam semakin terbuai oleh angin yang berhembus lembut.
__ADS_1