DI NIKAHI BOS TAMPAN

DI NIKAHI BOS TAMPAN
Bab. 39. Pulang Dari Kantor


__ADS_3

Pukul 04:00 sore.


Ternyata Rio benar-benar menepati janji nya, dia pulang lebih awal dari biasanya.


Di ruang tamu.


Rio berjalan dengan langkah sedikit tergesa. Melewati ruang tengah yang nampak indah, dari segala penjuru. Semua anggota keluarga yang berada di situ langsung saja menatap kearah nya.


Begitu juga Rio, dia menghentikan langkah kakinya sejenak, Bunga yang sejak tadi sedang duduk kini beranjak bangkit menghampiri sang suami.


"Selamat sore Rio, apa kamu lelah? sini biar ku bantu membawakan tas mu." Sapa Bunga pelan. tangan nya mengambil tas berbentuk kotak dari tangan Rio.


"Sore." Jawab Rio ada senyum manis dari bibir merahnya.


"Kalau kamu merasa gerah, akan segera ku siapkan air untukmu mandi."


"Enggak usah sayang. Aku bisa melakukan nya sendiri." Tolak Rio halus.


"Baiklah."


Kedua nya saling bertatap muka, bunga bisa melihat jelas bahwa wajah itu lelah.


"Apa yang bisa ku lakukan untukmu?" Bunga tak mengalihkan pandangan kedua mata nya dari lelaki tegap itu.


"Tidak ada, ayo kita duduk." Ajak Rio pada nya. Bunga mengangguk dan menggandeng tangan Rio lembut.


"Hai Rio, kesayangan Mommy. Kemari lah, Mommy rindu sekali ingin mengelus kepalamu." Ucap Mommy kazumi tiba-tiba.


Rio serta Bunga mendekat perlahan.


"Mom, I miss you." Ucap Rio manja.


"I miss you too." Balas Mommy pelan, memeluk Rio dengan perasaan rindu di dalam dada.


Briyan yang juga di situ seakan gerah melihat perlakuan Mommy kepada Rio.


Briyan membatin dalam hati.


Sampai kapan, kamu akan berhenti meremehkam Aku. Aku akan menyengsarakan hidup mu tanpa ampun.


"Hai kak selamat sore, bagaimana dengan pekerjaan mu hari ini?" Tanya Briyan sok perduli.


Tak lama kemudian Rio melepaskan pelukan itu dan duduk mendekati sang Daddy.


"Semua selalu baik-baik saja Briy."

__ADS_1


"Oh ya kabar yang bagus. Aku percaya padamu, selama perusahaan itu masih di bawah kendali, ku rasa tidak akan terjadi masalah. Selain pintar kakak juga ulet."


"Terimakasih Briy atas pujianmu, Aku tidak sepintar seperti yang kamu katakan."


"Haha...Kamu merendahkan diri? Sudahlah kak akui saja." Briyan tertawa lepas.


"Ya, benar yang kamu katakan itu Briy, kakakmu ini memang pintar." Sambung Mommy bertambah memuji nya.


"Yaa sekali lagi terima kasih atas pujian kalian." Rio mengakui nya saja.


Apa yang di katakan mereka berdua, memang benar adanya. Selama dua tahun Rio bergelut dengan segala urusan perusahaan dan ternyata hasilnya fantastis, tidak mengecewakan sama sekali meski umur Rio saat itu terbilang sangat muda. Dia terpaksa memegang kendali perusahaan karena Daddy nya terserang penyakit stroke. Di usia Rio yang baru menginjak 19 tahun harus berjuang demi kata "Daddy" orang yang paling Rio hormati.


"Dad, bagaimana kabarmu?" Tanya nya pelan, Rio mengambil tangan itu dan mencium nya.


"Seperti yang kamu lihat Rio, Daddy baik-baik saja."


"Aku selalu mengkhawatirkan keadaan kalian."


"Kami berdua baik-baik saja Rio, kamu tidak perlu begitu mengkhawatirkan keadaan kami berdua."


"Aku hanya merasa sedikit takut Dad."


Daddy Xen Zhin mengangguk. Ada segaris senyum di wajah baya nya.


"Silahkan." Daddy Xen Zhin menjawab singkat.


Rio pun beranjak dari tempat duduknya, mengenggam kembali pergelangan tangan Bunga.


"Permisi." Rio menundukan kepala. Sebagai rasa hormat untuk Mommy dan Daddy.


Di tengah ke modern zaman seperti ini, mereka masih tetap menjunjung tinggi rasa hormat mereka kepada yang lebih tua.


Mommy pun ikut menundukan kepala.


Rio serta Bunga berjalan perlahan meninggalkan mereka.


Sesampai nya di kamar.


Bunga menyimpan tas kerja Rio di atas lemari. Namun Rio langsung memeluknya dari belakang.


"Aku merindukan mu." Ucap Rio lirih, seolah berbisik di telinga Bunga. Dia semakin mempererat pelukan itu.


"Benarkah? ku rasa kamu terlalu berlebihan Rio. Kita baru saja berpisah selama beberapa jam saja, belum 24 jam Rio."


"Iya itukan menurutmu, tapi Aku tidak bisa berpisah lama darimu meski kamu bilang hanya beberapa jam. Tapi Aku merasa itu sangat lama."

__ADS_1


Bunga tersenyum.


"Dasar kamu ini. Sekarang mandilah, akan ku siapkan air untukmu."


"Kamu tak usah repot-repot. Kan sudah ku katakan Aku bisa melakukan nya sendiri." Jawabnya bermanja. "Tapi jika kamu tak merasa keberatan, Aku hanya minta, agar kamu melepaskan baju ku saja. Kamu tak akan menolaknya kan?"


"Baiklah." Bunga segera membalikan badan, sekarang posisi mereka saling berhadapan.


Rio melontarkan senyum kepada Bunga.


"Kamu cantik." Puji Rio, seperti sedang menguji perempuan itu untuk ikut tersenyum.


"Sudahlah Rio. Tutup saja mulutmu, Kamu membuat wajahku memerah tahu enggak sih." Bunga mengomeli nya, sambil melepas serius jas Rio dan membuka kancing kemeja satu persatu.


"Bagaimana mungkin Aku bisa menutup mulutku jika di hadapanku ini ada perempuan secantik ini. Kamu sangat menggoda imanku." Jawab Rio berekspresi kesal.


"Okei, sudah selesai. Kamu bisa mandi sekarang, untuk masalah celana nya kamu lepas sendiri ya, Aku tidak mau melakukan nya." Ucap Bunga pelan tanpa menjawab perkataan Rio barusan.


"Lepaskan juga celana nya."


"Tidak Rio."


"Kamu membantahku lagi. Seharusnya lakukan saja apa yang ku perintahkan." Rio menatap kearah bunga dengan tajam, hingga membuat perempuan itu berdiri kaku. Seratus persen Rio membuat seluruh aliran bunga mengalir sangat cepat, ada getaran aneh setiap melihat mata itu.


"Ba-baik, akan ku lakukan." Jawab Bunga sedikit gugup, tangan nya meraih sabuk yang melingkar di pinggang Rio, Bunga mulai melepaskan nya juga. Tak butuh waktu berlama-lama untuk menyingkirkan sabuk dari celana panjang Rio. Bunga sudah melepaskan nya dan Rio hanya menggunakan celana pendek.


"Ayo temani Aku mandi."


"Ta-tapi Rio, Ak-ak."


"Sttt.... " Rio menempelkan jari telunjuknya di bibir lembut milik Bunga. "Sudah ku bilang jangan terus membantah, Aku bisa marah pada mu. Ayo...!" Rio langsung menarik pelan tangan Bunga dan membawa nya masuk kedalam kamar mandi.


"Rioooo....!" Desahnya panjang.


"Apa? mandikan Aku." Rio segera mengunci pintu. Bunga akhirnya mengalah dan mencoba tetap bernafas tenang.


Rio menghidupkan kran di bathtup, mengatur suhu sesuai keinginan nya, menambahkan minyak esensial dan mengatur suhu kehangatan kamar mandi agar bisa membuatnya lebih rileks. Setelah ia rasa pekerjaan itu cukup, dia kembali mendekati sang isteri.


"Kamu juga harus mandi menemaniku." Ucap Rio lagi.


"Aku sudah mandi Ri....."


"Sssttttt. Lakukan saja."


Bunga mendengus kesal, bagaimana mungkin Rio terus memaksanya, tiap kali, Bunga menjawab perkataan Rio. Rio selalu mengatakan "jangan membantah" Alhasil Bunga pun terdiam. Perkataan lelaki itu benar-benar mengintimidasi, hati serta bibirnya dibuat kelu, terbungkam. 

__ADS_1


__ADS_2