
Keesokan harinya, Jam weker di dalam kamar itu berbunyi.
Kringgg..... kringggg....
Dengan mata yang masih terpejam, Bunga berusaha meraba-raba weker itu. "Yah.... Jam berapa sih emang?" Pelan-pelan dia buka matanya. Dia pun terkejut bukan main.
"Eh udah pagi aja nih!" Gumam nya pelan dan di lihatnya Rina sahabat karibnya masih terlelap dengan selimut yang membalut tubuhnya. Bunga mencoba untuk membangunkannya, karena hari ini mereka akan berjalan-jalan mengelilingi kota tokyo.
"Eh... Rin, bangun udah siang tau!" Sambil menggoyang-goyangkan kaki Rina.
"Eumm apaan sih Bung, gangguin aja, Aku masih ngantuk tau!"
"Yaa elah!"
"Tunggu 5 menit lagi ya." Rina menawar.
"Enggak Rin, pokoknya musti bangun!" Bunga menarik selimut tebal Rina.
"Iya iya!" Rina pun duduk malas di sprimbed, sambil menampakan wajahnya yang kusut.
"Nah gitu dong." Bunga tersenyum. "Aku duluan mandi ya?"
"Ya... kalau begitu, dari tadi juga enggak usah bangunin Aku kali bung." Sunggut Rina kesal, tapi sosok bunga sudah menghilang.
Beberapa menit kemudian, mereka berdua tengah duduk di ruang makan.
"Ayo di makan rotinya." Aunty jolie mempersilahkan mereka untuk menyantap sarapan waktu itu.
"Iya Aunty! Eh... Aunty ceritanya kita mau jalan-jalan nih." Ujar Rina.
"Terus?"
"Boleh enggak kalau kita pinjem mobil Aunty sebentar?"
"Pinjem?"
"Iya Aunty enak kalau nyetir sendiri."
"Boleh sih, tapi anter Aunty ke kantor dulu deh!"
"Oke!" Rina tersenyum manis. Cuma beberapa menit mereka sudah menyelesaikan sarapan pagi.
Rina dan bunga bergegas menyuruh Aunty jolie masuk kedalam mobil, itu di karenakan mereka sudah tak sabar untuk jalan-jalan.
Hanya 30 menit. Mereka sampai di sebuah gedung yang menjulang tinggi nan megah. Itu adalah kantor tempat Aunty jolie bekerja. Setelah Aunty jolie turun, Rina langsung menjalankan mobilnya kembali.
"Wah.... ini perusahaan gede banget." Ucap Rina pelan, sambil menoleh keatas gedung tinggi itu. Tanpa dia sadari, tiba-tiba saja sebuah mobil berwarna hitam berjalan dengan kecepatan tinggi
__ADS_1
Dan....
Braaakkk....
Dua mobil bertabrakan. Namun tidak begitu parah, akan tetapi cukup membuat kedua penumpang di kedua mobil itu terkejut.
"Apa-apaan sih, Itu supir buta kali ya!" Umpat Rina kesal. Buru-buru dia membuka pintu mobil dan berjalan keluar. Sementara Bunga masih tak bergeming dari tempat duduknya. Di luar sana Rina, udah siap pasang wajah galaknya.
"Eh... keluar!"
Dog... Dog.... Dog....
Rina menggedor-gedor kaca mobil yang masih tertutup itu. Tak sampai sedetik seseorang membuka pintu mobilnya.
"Aduh.... Pak kalau nyetir hati-hati dong pak." Ujar Rina datar, ketika di lihatnya seorang lelaki berumur 35 tahunan berdiri di hadapannya.
"Maaf Nona." Lelaki itu menundukan pandangannya.
"Iya sih... Aku maafin,, terus gimana dong sama mobil punya Aunty Aku. Penyok kayak gitu." Gerutu Rina masih kesal, sambil menunjuk ke arah depan mobilnya yang nampak lecet.
"Akan Saya ganti!" Secara tak terduga seorang pria tampan muncul dari arah pintu mobil yang satunya.
"Sa... Satria, Itu beneran kamu?" Rina langsung tergugup melihat pria itu.
"Satria?" Pria itu mengulangi perkataan Rina dengan kecil.
"Maksud kamu?" Tanya pria itu keheranan. Dan sepertinya Rina masih shock, dengan keadaan ini, dia hanya diam mematung tanpa menjawab pertanyaan yang di ucapkan pria itu.
"Eh maaf Tuan, maafkan sahabatku, kebetulan wajah tuan mirip sekali dengan temen Aku yang sudah meninggal!" Bunga menjawab, sambil menundukan pandangannya, dia tidak ingin melihat wajah itu lebih lama. Dia sangat takut,
bahwa dia tidak akan bisa menerima takdir.
"Kamu?" Lelaki itu juga ikut terkejut ketika melihat wajah cantik bunga.
"Iya Tuan?
"Bukannya kamu yang nabrak Aku waktu di bandara kemaren!"
"Hah,, ja--jadi Tuan orang yang Aku tabrak?'
Bunga jadi ikut gugup juga. "Sekali lagi maafkan tuan!"
"Huff ternyata dunia ini cukup sempit ya! Sudahlah Aku tidak ingin berbasa-basi di sini!" Lelaki itu berkata tegas, sambil mengeluarkan selembar kertas dari dompetnya. itu adalah cek.
"Ini untuk mengganti mobil kamu!" Tegasnya. Ekspresi wajahnya terlihat dingin, tak ada senyum yang tergaris. Bunga menerimanya saja. "Ayo Benikno!" Ajak pria itu pada Adistennya, dia pun berlalu
"Yaah dasar angkuh, mentang-mentang aja orang kaya, semaunya aja sih perlakuin orang?" Gumam Bunga kesal karena sifat angkuh dari lelaki tadi. Dan kini pandangannya beralih pada Rina.
__ADS_1
"Eh... Rin! Kamu ngapain berdiri kayak patung? Udah yuk cabut?" Bunga segera menarik tangan Rina, hendak bermaksud menyeretnya masuk kedalam mobil.
"Bung?" Rina menyebut namanya, sambil masuk kedalam mobil.
"Kenapa? oasti kamu mau ngomongin cowok angkuh itukan? Udah ah enggak usah di bahas lagian bikin mood rusak aja, enggak sadar diri kali ya udah pernah di tolongin juga."
Rina tertawa. "Kamu kenapa? Kok kayaknya kesel banget?"
"enggak apa-apa!" Dia juga ikut masuk.
Setelah itu Rina menghidupkan mesin mobilnya kembali dan mulai menjauh dari perusahaan mewah milik tuan kaya.
Di dalam sebuah ruangan kantor.
Lelaki dengan wajah tampan itu memasuki ruangannya. Tiba-tiba saja perasaannya menjadi sedikit terganggu. Dia masih berjalan mondar-mandir.
"Benikno!"
"Ya tuan."
"Tolong kumpulkan semua staff di aula, kita akan segera mengadakan pertemuan!"
"Kenapa begitu mendadak tuan?"
"Laksanakan saja perintahku Benikno!"
"Yaa... Yaa... Tuan saya permisi."
Asisten pribadinya kemudian keluar dari ruangannya.
Rio langsung duduk di kursinya sambil, memijit keningnya yang terasa pusing. Itu di karenakan akhir-akhir ini, perusahaannya mengalami kemunduran.
Cekleek....
Tiba-tiba saja pintu terbuka, wajah Benikno muncul kembali. Dia membawa sebuah berita.
"Para karyawan sudah berkumpul di aula Tuan." Sampainya pelan.
"Baik!" Rio pun beranjak dari tempat duduknya, dan menyuruh Asistennya membawa map kuning berisikan file-file.
Ketika sampai di Aula.
Rio tak mengucapkan kata sambutan atau ucapan selamat pagi pada mereka. Dia hanya mengambil map dari tangan Benikno dan menjatuhkannya di atas meja.
Brakk!!
Suara map itu terdengar keras, semua karyawan terdiam termasuk Aunty jolie. Tak ada yang memberanikan tatapan mereka keatas.
__ADS_1
"Apa-apaan ini! Semua pekerjaan tidak ada yang beres! Kalian semua kemana saja, selama Saya pergi ke indonesia? Saya tidak akan bertoleransi lagi, mulai hari ini periksa kembali pekerjaan kalian, ada yang tidak patuh Saya tidak akan segan-segan untuk memecatnya!" Rio menatap satu persatu karyawannya. Mereka semua masih tertunduk, karena memang Bos mereka ini sangat menakutkan. Dia terkenal galak dan dingin. Tak pernah ada senyum di wajahnya. "Oke selamat pagi menjelang siang!" Rio menyudahi kemarahannya dan kemudian berjalan meninggalkan mereka semua.