DI NIKAHI BOS TAMPAN

DI NIKAHI BOS TAMPAN
Bab. 9. Mimpi Buruk


__ADS_3

 


Sat--Sat--Satria! Dia terus-terus memanggil nama cowok itu namun. 


 


"Bung, Bunga hei sayang bangun."


Mama menepuk-nepuk pipi halusnya.


Spontan dia terkejut dan terbangun.


"Loh kamu kenapa sayang?" Mama nya tampak heran.


"Ma Bunga mimpi buruk." Dia seakan ingin menangis. 


"Ooh cuma mimpi." Mamanya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Emang mimpi apa sih kok sampai keringetan gitu?"


"Bunga mimpi Satria meninggal ma, tapi beneran Satria ngak meninggalkan ma." Mama nya langsung tertawa.


 


"Ya ngaklah sayang makanya kalau sore-sore itu jangan tidur!"


"Iya ma habisnya Bunga tadi itu capek dan ngantuk banget habis ngerjain tugas sekolah." Jawabnya pelan sambil membereskan buku yang masih berserakan.


"Oke, kalau begitu kamu mandi dulu gih biar seger habis itu ke dapur bantuiin Mama masak." Mama berjalan akan meninggalkannya.


 


"Iya Ma." Tapi sebelum mandi dia mengambil smartphonenya. Dia hanya ingin memastikan bahwa satria baik-baik saja.


Dan mulai mengetik.


"Lagi ngapain?"


Masih sepi.


"Lagi sibuk ya?"


Bertanya-tanya.


"Kok enggak di balas sih, biasanya aja balasnya cepet kayak kilat."


"Ayo balas dong sayang."


"Kemana sih?"


 


'Jangan-jangan mimpiku itu beneran ya?Ah masa sih." Lirihnya bingung. Entah mengapa tiba-tiba dia merasa sangat khawatir.


 


Takut kehilangan


 


Takut berpisah


 


Atau mungkin saja di hatinya telah tumbuh benih cinta? 


 


Sepertinya begitu. Seiring berjalannya waktu pelan-pelan cinta itu bersemi. Di telpon-telpon juga enggak di angkat. Bunga beranjak dari tempat tidurnya, Ia segera mandi dan berganti baju.

__ADS_1


 


40 menit kemudian, 


Di ruang dapur.


"Kenapa." Mamanya bertanya. Karena sejak tadi muka nya kayak orang sedih.


"Enggak kenapa-kenapa ma."


"Enggak kenapa-kenapa tapi kok mukanya cemberut! Ayo jujur." Setelah di desak oleh mamanya diapun menjawab.


"Dari tadi nge_chat dia tapi enggak di respon-respon cuma ceklis satu aja, Bunga kan jadi khawatir ma."


"Mungkin saja dia lagi sibuk atau handphonenya ketinggalan di kamar dan dia kemana-kemana, positive thinking saja sayang." Mama menenangkannya. Bunga hanya mengangguk. 


 


Mereka melanjutkan pekerjaannya lagi.


Terlihat Di meja dapurnya, ada berbagai macam sayuran, daging dan lain-lain.


Sore itu mereka sedang masak sup.


 


MALAM HARINYA.


 


keadaan smartphone Bunga masih sepi. Dia berbaring di kamar mungilnya. Di kamar itu ada banyak sekali boneka-boneka yang tersusun rapi. Bunga berharap Satria segera membalas chatnya. Namun sudah hampir jam 9 malam, satria masih belum membalasnya. Tak lama kemudian dia pun tertidur.


 


Keesokan harinya satria baru menelponnya.


 


Perasaan Bunga lega. Karena mimpi yang di alaminya kemarin malam hanya lah bunga tidur semata. Tentu, karena toh ternyata Satria baik-baik saja. Seperti biasa setiap pagi Dia akan melakukan Rutinitasnya di sekolah untuk saat ini dia harus belajar lebih serius karena sebentar lagi ujian sekolah akan dilaksanakan.


 


Di sekolah


Bunga masuk ke kelas. Rina sudah datang lebih pagi dari dirinya. Dan Rina selalu lebih dulu menyapanya. Kemudian mereka saling bercerita sebelum pelajaran di mulai. Tak lama setelah itu Alfin datang dan menyapa mereka berdua. Emm Setelah kejadian kemaren sepertinya Alfin mulai dekat-dekat deh sama mereka. Dia hanya sendiri, tanpa Diko.


 


"Al, kok diko ngak ikut?" Tanya Rina heran. Cowok itu tersenyum seraya menatapnya.


"Lagi enggak enak badan katanya."


"Oh."


"Ya, sebenarnya sih dia lagi bad mood aja, udah 3 hari dia ngak mau makan!" Alfin melanjutkan pembicaraannya.


"Masih sedihlah kalau inget almarhumah Veli, karena kematiaan Veli itu bener-bener mendadak banget plus tragis!"


 


Rina dan bunga saling berpandangan. Sementara Alfin seakan larut dalam ceritanya. Kemaren pas ketemuan di caffe barbie Bunga sudah ceritain gimana awal kejadian itu. 


"Fin boleh Aku tanya sesuatu?" Bunga menatap Alfin, dia akan bertanya.


"Mau tanya apa bung? Tanya aja moga aja Aku bisa ngejawabnya! Tapi enggak usah tanya kenapa Aku masih jomblo sampe sekarang! Ha ha ha." Dia mencoba untuk bercanda, tentu saja itu membuat Rina dan Bunga tertawa.


"Bisa-bisa nya sih Fin, kamu nyindir kek gitu, Kek enggak laku aja!" Rina tertawa mengejeknya.

__ADS_1


"Sama-sama enggak laku ya?" Goda bunga menengahi pembicaraan mereka. "Kenapa enggak nikah aja kalian berdua." Bunga terkekek menertawakan mereka.


"Apa coba maksud kamu Bung." Rina jadi manyun.


"Boleh aja sih kalau Rinanya mau." Alfin ngejawab.


"Tuh Rin udah di kasih lampu hijau."


"Apaan, Diem ngak usah di bahas lagi, fokus belajar dulu gih!" Rina nyeletuk lagi. Bunga masih tersenyum lebar.


 


"Iya nih tadi Jamu mau tanya apa Bung?" Alfin mendadakan serius. Mereka tak lagi saling menertawai.


"Eem ini tentang pribadi seseorang Fin." Sejenak tatapannya hampa. Sementara Alfin diem aja. "Fin Aku sebenarnya Aku--A--."


 


"Selamat pagi anak-anak." Tiba-tiba bu Dina masuk dan menyapa mereka. Tentu saja mereka terkejut dan kemudian pindah membenari tempat duduk mereka.


 


"Pagi Bu." Mereka menjawab secara bersamaan.


 


Bu Dina adalah seorang teacher yang super duper galak kali ya semua murid-murid agak segan padanya, sebenarnya bu Dina itu cantik tapi dia itu menakutkan kalau saja ada satu murid yang tak memperhatikan penjelasannya tunggu aja bakal jadi security di tiang bendera tuh. Tak lama setelah itu dia memerintahkan seluruh siswa untuk mendengarkan penjelasannya tentang pelajaran bahasa indonesia nya tempo lalu.


sejenak suasana kelas menyepi. Hanya suara dia yang terdengar.


 


Alfin langsung bertanya-tanya dalam hati 'Sebenarnya bunga mau ngomong apa ya kok kayaknya serius gitu ya.' Batinnya lirih.


Alfin kemudian memandang kearah bunga. Tapi Bunga sedang tak menatapnya. Dia sedang serius memperhatikan bu Dina yang sedang berbicara di depan kelas. Alfin duduk sambil meletakan tangan kanannya di dagu.


 


'Bunga itu cantik pesonanya luar biasa banget."


Alfin tampak terpaku menatapnya. Dia masih membatin. Sepertinya dia mulai tertarik untuk mendekatinya.


 


Dummm!! 


 


Tiba-tiba sebuah penghapus melayang tepat kearah wajah manisnya itu. Oh tentu saja dia terkejut bukan main. Semua murid langsung menatapnya geli. Mereka tersenyum-senyum, mau ketawa tapi takut di marahin.


 


"Alfin kamu ngeliat apa?" Tanya bu Dina ketus. "Kalau mau pacaran tidak usah didalam kelas!!"


"Emm bu--bu--bukan begitu bu." Dia menjawab terbata-bata.


"Lalu apa maksud kamu ngeliatin si bunga dari tadi, hah sekarang kamu--kamu keluar jangan ikut pelajaran saya!" hardiknya lagi. 


"Tapi bu, maaf bu Saya tidak bermaksud apa-apa kok bu."


"Tidak ada alasan Alfin pokoknya kamu keluar sekarang atau saya yang keluar!!"


"Ya bu, maaf bu." Alfin pun langsung beranjak dari tempat duduknya dan keluar kelas.


Keadaan kelas tetap sunyi. 


 

__ADS_1


__ADS_2