DI NIKAHI BOS TAMPAN

DI NIKAHI BOS TAMPAN
Bab. 41. Sambutan Di Pagi Hari


__ADS_3

"Oke, Aku akan tunggu kamu."


Jawab Bunga lirih, masih bernada manja.


"Terimakasih atas pengertian mu. Sekarang kita turun dan sarapan." Ajak Rio pelan, setelah ia selesai dengan pekerjaan nya. Bunga mengangguk.


Di ruang makan.


Keadaan di situ masih sepi dari anggota keluarga tuan Xen Zhin, hanya beberapa pelayan yang lewat bergantian, ketika Rio dan Bunga mendekat, buru-buru para pelayan memberikan hormat serta menyapa.


"Selamat Pagi Tuan."


"Selamat Pagi Nona."


Sapa mereka berbarengan.


"Pagi." Jawab keduanya serempak, sembari mengambil posisi untuk duduk. Di meja makan telah terhidang berbagai macam menu olahan sarapan pagi khas jepang, salah satu nya adalah Onigiri yaitu sejenis nasi kepal yang di isi berbagai macam daging, abon atau sayuran.


Rio lebih suka makanan ini selain praktis, onigiri juga sangat mengenyangkan.


"Rio kamu suka Onigiri?" tanya Bunga datar, ketika melihat suami nya memasukan 1 kepal Onigiri ke dalam piring.


"Iya, i like it. kamu tahu nama makanan ini?"


"Tahu."


"Tahu dari mana?"


"Beberapa bulan yang lalu Aku pernah tinggal di sini, bukan bersama Rina waktu itu sih, tapi ketika akan mendaftar kuliah, sayangnya Aku enggak masuk seleksi." Cerita Bunga kalem, wajah ceria nya tiba-tiba berubah. "Dan Aku sering banget beli sarapan ini."


Rio tersenyum.


"Kamu masih kepingin kuliah, kamu bisa mendaftarkan diri, jika kamu mau."


"Aah." Desah Bunga lirih.


"Kenapa?"


"Aku udah lupain mimpiku."


"Sayang, menikah itu bukan berarti menghalangi kamu untuk aktif, kamu masih bisa belajar, menggapai mimpi dan satu hal lagi, yang terpenting kamu tidak melupakan tugas kamu sebagai isteri." Jelas Rio, sambil menatap wajah Bunga dengan teliti. Sementara tangan kanan nya bekerja memotong-motong daging sapi.


Bunga tak menjawab.


Namun bayangan Satria hadir kembali, dia jadi teringat, bahwa dia dan Satria pernah di sini. Karena memang Satria melanjutkan pendidikan nya di negeri sakura ini.


"Sayang, Kok diam? apa perkataanku ada yang salah?"


"Eeh."


Rio tersenyum lagi, wajah putih Rio semakin bertambah tampan, senyum itu sangat sumringah.

__ADS_1


"Kamu melamun?"


"Iya Aku jadi ingat, kita pernah ketemu di depan kantor kamu." Jawabnya beralibi, sebenarnya bukan itu yang bunga maksudkan. Dia hanya ingat masa lalu. Masa lalu bersama sang mantan.


"Oke, Kamu tidak sarapan? Ayo sarapan dulu, sarapan itu baik buat kesehatan. Atau mau Aku ambilkan?" Rio menawarinya.


"Tidak Rio, makasih Aku bisa ambil sendiri."


Tolak Bunga halus, dia mulai mengambil piring, nasi serta sup miso. "Rio, apa mereka bertiga enggak ikut sarapan?"


"Mereka sarapan biasanya jam delapan." Rio menjawab. Bunga mengangguk saja.


LIMA BELAS MENIT KEMUDIAN


Masih belum ada tanda-tanda kemunculan Daddy Xen Zhin, Mommy Kazumi dan Briyan.


Entahlah mereka sudah bangun apa masih tertidur. Bunga mengantar Rio sampai ke teras.


Di halaman sudah ada Benikno berdiri, menunggu tuan nya untuk masuk ke dalam mobil serta mengantarkan nya ke kantor.


"Hati-hati di jalan." Bunga berpesan.


"Iya. Aku akan menelponmu jika Aku sudah sampai. Ingat setelah ini kamu harus pergi berbelanja, tadi Aku sudah menyampaikan nya dengan paman Hiro."


"Apa Aku hanya sendirian? Aku butuh pelayan wanita untuk menemaniku."


"Aku akan memerintahkan satu pelayan wanita, jadi tetap berdandan cantik di dalam kamar, 20 menit lagi dia akan datang menemui mu." Rio menjelaskan sambil memegang pundak Bunga dengan kedua tangan nya.


Setelah memberi sedikit kewajiban nya Rio melangkah menuruni satu persatu anak tangga. Bunga memandangi, melambaikan tangan dan tersenyum mengiringi kepergian Rio. Pria berjas abu-abu, kini sudah memasuki mobil dan berlalu menjauh. Setelah tak terlihat lagi Bunga langsung berbalik arah hendak ke kamar.


Namun....


BRUUKKK....


Tanpa sengaja Bunga menabrak tubuh tinggi Briyan. Dia tersenyum.


"Ehem, kalau jalan itu mata jangan di simpan di kaki lah. Kan jadinya nabrak." Celetuk Briyan sinis.


"Maaf, Aku tidak sengaja lagian kita bertemu pada sisi pintu yang sama."


"Ya, tentu saja Briyan yang baik ini memaafkan kakak ipar yang cantik." Dia masih tersenyum, sambil menyenderkan bahu kirinya di depan pintu.


"Terimakasih sudah memaafkan Aku."


"He'eem. Mau kemana?" tanya nya menatap kearah Bunga tajam. Mata nakal Briyan seolah meneliti sangat dalam, ia jelajahi dari ujung kaki hingga ke ujung rambut.


Tatapan seperti apa itu, jika bukan pandangan menginginkan tubuh bunga. 'Ah, kenapa Aku tidak bisa menyingkirkan pikiran mesum ini kepada kakak ipar, Aku sangat menginginkan tubuh kecilnya dan membayangkan jika ia menindih tubuhku. Briyan.....Ayo sadarkan dirimu.' Batin Briyan dalam batin.


Bunga yang merasa tatapan Briyan aneh, menjadi canggung dan takut.


"Permisi Briy, Aku harus kembali ke kamar." Perintah Bunga dingin, dia hanya tak ingin Briyan terus menatap nya liar.

__ADS_1


"Kenapa terburu-buru, kita bisa bersantai sejenak di teras ini, sambil menghirup udara yang segar. Kakak ipar tidak mau?"


"A-Aku tidak punya waktu, Aku akan bersiap-siap."


"Kemana?"


"Apa perlu Aku memberitahumu? Ku rasa ini tidak penting bagi mu, lagi pula kamu hanya adik ipar, bukan suamiku atau ibuku."


"Sombong sekali, tapi Aku suka gaya mu kakak ipar, kamu benar-benar perempuan yang manis."


"Terimakasih."


"Hanya terima kasih? Aku tidak butuh jawaban itu, Aku butuh jawaban atas pertanyaanku tadi. Apa perlu Aku mengulangi nya, tentu saja kakak ipar mendengarnya karena kakak ipar tidak tuli sama sekali."


"Kenapa kamu terus memaksaku."


"Karena Aku ingin tahu. Ayo cepat katakan kak. Aku bisa marah pada mu, lalu bertindak kurang ajar kepadamu." Briyan terus memaksa.


Bunga menghela nafasnya sejenak.


"Apa kamu mengacamku? baiklah akan ku katakan padamu, Aku ingin pergi berbelanja di pusat kota. Apa kamu sudah mengerti Briy, jadi sekarang biarkan Aku lewat."


Namun Briyan tak bergeming dari tempatnya berdiri. Bunga mengkernyitkan kening.


"Apa lagi yang kamu inginkan Briy...!"


"Izinkan Aku mengatar kakak ipar."


Bunga langsung tersenyum sinis mendengar nya.


"Terima kasih, tapi Rio telah memerintahkan supir pribadi di rumah ini untuk mengantarku." Jawab Bunga tegas.


"Paman Hiro, sudah pasti dia tidak akan mengantarmu."


"Kenapa?


"Ya, tentu saja karena hari ini Mommy akan pergi mengurus pernikahanku. Jika itu perintah dari Mommy, Rio tidak akan bisa membantah." Briyan berbicara dengan santai.


"Lalu apakah pantas Aku pergi bersama calon suami orang, lebih baik Aku tidak pergi."


"Siapa yang telah mengizinkan mu?


"Sudah pasti suamiku Rio."


Briyan tersenyum lagi.


"Kakak ipar sangat menarik, jangan pernah berpikir kamu akan lepas dariku."


"Apa maksudmu?


"Tidak ada." Briyan bergerak, lalu pergi meninggalkan Bunga.

__ADS_1


Bunga terbengong untuk sejenak. Kenapa sangat sial hidup di rumah ini, dari adik ipar yang berusaha menggoda, lalu ibu mertua yang sombong.


__ADS_2