DI NIKAHI BOS TAMPAN

DI NIKAHI BOS TAMPAN
Bab. 25. Dia Berwajah Marah


__ADS_3

Satu jam kemudian...


 


Bunga telah menyelesaikan aktifitasnya seperti biasa, karena dari tadi perutnya sudah lapar sekali dia segera mencari restoran yang berada di hotel ini, sesuai dengan penjelasan Rio tadi. Tak butuh waktu lama Bunga menemukannya, sebuah restoran yang berada di lantai dua, dengan posisi strategis, restoran itu memiliki desain unik, berjendela kan kaca, di luar sana langsung menampakan suasana pegunungan yang sangat menyejukan mata bila melihatnya. Tentu saja ini adalah hasil kerja keras Rio Xenzhin sebagai pembisnis yang terbilang gigih. Bunga memandang kesekeliling restoran, masih sedikit pengunjung tanpa ia duga, tiba - tiba saja mata bening nya menangkap seorang lelaki berbaju hijau.


 


Dan ia sangat mengenalnya, siapa lagi jika bukan Lelaki bernama Reza. Ya Reza Pratama lengkap nya. ketika pelayan restoran, menyadari kehadiran nona muda Rio Xenzhin, pelayan pun buru-buru memberinya hormat dan menanyakan, apa yang akan di pesan Nona mudanya itu. Bunga menanggapi hormat mereka dengan senyum manis di bibir nya dan segera memberitahu makanan kesukaan nya.


 


Dengan mata yang masih menatap Reza.


lelaki itu tengah duduk dengan wajah menunduk, sambil mengaduk-ngaduk minuman dengan pipet di depannya. Tanpa perasaan ragu Bunga langsung mendekatinya.


"Selamat Pagi?" sapa nya sopan. Reza menoleh.


"Bunga." Lalu Reza tersenyum.


"Boleh Aku duduk?" Tanya bunga pelan.


"Tentu saja boleh." Reza masih tersenyum. Bunga pun duduk.


"Kok kamu ada di sini?" Bunga masih terus menatapnya.


"Iya, ngak apa-apa kan terlanjur di kasi free sama Bos besar."


"Maksud kamu?


Bunga keheranan dengan maksud perkataan Reza, tentang pernyataannya Bos besar, apakah ini artinya Reza adalah staff dari salah satu perusahaan milik suami nya. 


 


"Iya, Pak Rio Xenzhin itu Bos besar Aku, eeh... Selamat ya atas menikah nya kamu sama Pak Rio, semoga pernikahan kalian bahagia." Ucap Reza datar.


"Apaan sih Za. Pernikahan ini hanya kebetulan aja kok, lagian sebelumnya Aku ngak begitu kenal sama Rio." Wajah bunga berubah manyun.


"Loh...." Reza terkejut. "Kok bisa sih?"


"Iya, awalnya waktu itu Aku nyelametin dia pas habis di pukulin sama Orang. setelah itu dia kasih hadiah buat Mama. Eeh... Kok tiba-tiba langsung ngelamar, mendadak banget kan."


 


Reza tersenyum lebar, dengan cerita yang di bicarakan Bunga kepadanya.


"Yaa... Bagus dong Bung, Rio itu wajah nya sama percis kayak Satria nya kamu, malahan waktu pertama kali ketemu Pak Rio, Aku kirain Satria hidup lagi. Kadang Aku berpikir, Apa jangan-jangan Pak Rio sama Satria itu saudara kembar ya?"


 


Bunga terdiam sejenak.


"Menurut kamu gimana Bung?" Tanya Reza lagi, melanjutkan perkataan nya dengan sebuah pertanyaan nya.


"Iya juga sih, jadi penasaran juga."


Bunga baru menjawab.


"Tapi, bukan nya kamu seneng kan bisa menikah sama orang yang bener-bener duplikat nya Satria."


Reza meledeknya.


 

__ADS_1


Bunga sedikit tersenyum...


"Seneng gimana sih maksud kamu, lagian Rio itu orang nya angkuh, terkadang Aku sebel Kalau ke inget dia, Ya Aku ngerasa ngak enak aja sih sama dia." Bunga mencoba mengungkapkan perasaan nya tentang Suami nya itu.


"Iya nanti juga kamu pasti jatuh cinta sama dia." jawab Reza pelan.


"Maafin Aku ya Za." tiba-tiba bunga berkata lirih dan meminta maaf.


"Minta maaf, soal apa?" Reza tersenyum keheranan.


"Eemm... Tentang kita waktu SMA dulu..."


Bunga masih serius dengan pembicaraan nya.


"Ngak apa-apa Bung, itu hanya sebagian masa lalu aja, sekarang kita udah punya masa depan masing-masing." Ucap Reza datar, ada cemburu yang sedang menggebu di dalam dada nya, dia seperti tidak rela, jika Rio selaku Bos nya telah mengambil apa yang seharusnya menjadi milik dia.


 


"Terima kasih Za, kamu masih seperti dulu.


Bunga tersenyum di hadapan lelaki itu, perasaan nya masih sedikit tertinggal. Walau pun mungkin mereka telah berpisah untuk beberapa tahun lama nya. Reza tersenyum, mendengar ucapan permintaan maaf itu. Dia hanya berpikir, bagaimana cara nya dia merebut bunga kembali dalam dekapan cinta nya. Tak lama kemudian pelayan datang membawakan makanan apa yang telah di pesan oleh mereka.


 


"Maaf Nona, ini adalah makanan yang sudah kami siapkan." Ujar pelayan hotel.


 


Bunga menoleh kearah pelayan yang memakai baju, layaknya karyawan di situ. Serta memberikan senyuman hangat dan anggukan kecil sebagai isyarat bahwa ia menerima nya dengan senang hati. Pelayan itu menunduk, setelah itu mengambil langkah untuk pergi.


 


"Ayo Za, sarapan dulu." Bunga segera mempersilahkan, lelaki di hadapan nya. Reza ikut mengangguk dan tersenyum, mereka pun lalu menikmati hidangan yang tampak berjejer di meja, tanpa ada yang berbicara. Setelah beberapa menit, mereka telah menyelesaikan makanan itu. Tiba-tiba saja Reza beranjak dari tempat duduk nya.


 


"Oke,, seharusnya Aku yang bilang terimakasih." Bunga juga tersenyum


"Sama aja kok." Jawabnya lagi dan Reza sudah bersiap akan melangkahkan kaki nya.


"Za... !" Bunga tiba-tiba saja menarik tangan nya. Reza yang tadi nya sudah melangkah sedikit, langsung berhenti.


 


"Apa ada yang ingin kamu katakan?" Tanya nya pelan. Bunga malah tersenyum. Tanpa mereka berdua sadari seseorang telah menatap mereka. Siapa lagi jika bukan sang suami, lelaki dengan segala ketampanan dan kemewahan harta yang berlimpah. Rio Xenzhin, menatap tajam kearah mereka berdua. 'Apa yang sedang mereka lakukan?' Pikirnya dalam hati. Rio Xenzhin hanya berdiri mematung dan di samping nya ada benikno selaku asisten pribadinya.


 


"Tuan..." Ujar Benikno pelan.


"Siapa nama Lelaki itu?" Tanya Rio Xenzhin kemudian.


"Maaf Tuan, dia adalah Reza salah satu staff manajemen di perusahaan kita." Jawab Benikno sambil menunduk. Rio tersenyum dingin, dari sekian banyak staff karyawan nya Rio hanya mengetahui beberapa nama mereka saja, namun dia cukup teliti untuk mengenali wajah mereka.


 


"Apa ada yang bisa saya bantu Tuan?"


Tanya nya lagi. Rio menggeleng, namun dia sendiri yang akan mendekati mereka. Dia pun berjalan...


 


"Ehem... Ehem..."

__ADS_1


 


Rio Xenzhin pura-pura berdehem, ketika langkah nya sudah dekat. Bunga yang mendengar suara itu, spontan menurunkan tangan nya dari pergelangan tangan Reza. Lelaki itu menghela nafasnya sejenak.


"Apa kamu menikmati free work mu Reza?" Tanya nya pada Reza, yang waktu itu tengah terpaku menatap kehadiran Direktur nya.


Reza menunduk, memberinya hormat.


"Ya, Pak... !" Jawabnya tegas. Rio cuma tersenyum.


"Oke... Nikmatilah masa free mu." Rio Xenzhin langsung menarik tangan Bunga dan membawa pergi meninggalkan Reza yang masih berdiri tanpan ekspresi itu.


 


Hatinya teramat sakit.


Dia bersumpah akan merebut Bunga kembali, dia tidak perduli dengan siapa orang yang di hadapi nya. Langkah Rio Xenzhin terlalu terburu-buru, sehingga membuat Bunga sulit mengimbangi nya.


 


"Rio apa yang kamu lakuin, tangan Aku sakit Rio!" Bunga memberontak. Namun seperti nya lelaki itu mulai beringas, dia hanya tidak akan rela, siapa pun mendekati orang yang telah menjadi miliknya.


Rio masih tak memperdulikan renggekan dari isteri nya itu.


 


"Benikno Kamu tunggu di sini. Aku akan segera kembali!" Ujar Rio Xenzhin pada asisten.


"Baik Tuan." Benikno menjawab. Rio Xenzhin melangkah lagi,, di ikuti Bunga, mereka hanya mengambil waktu 1 menit saja untuk sampai di kamar hotel.


 


Bruuukk


 


Terdengar pintu di banting.


Emosi Rio memuncak.


 


"Siapa Lelaki itu Bunga, apakah dia memiliki hubungan dengan mu?" Tanya nya kasar. Suara Rio terdengar bergetar sembari mendorong tubuh Bunga ke atas tempat tidur. Bunga tersentak, sebegitu kasarnya Rio.


"Dia hanya teman sewaktu SMA." Bunga menjawab dengan nada yang pelan, dia menduga bahwa Rio seperti nya marah, pelan-pelan dia tarik nafas nya dalam-dalam, mencoba untuk tetap tenang dengan reaksi lelaki di hadapan nya.


walaupun sebenarnya tubuh nya bergetar karena ketakutan.


 


"Hanya teman? tapi bisa semesra itu. Kamu jangan coba membodohiku!" bantah Rio kesal.


"Kok kayak nya kamu kelihatan khawatir banget ya." Bunga memberanikan diri untuk membela.


"Tentu saja, karena kamu adalah isteriku dan Aku tidak mau ada gosip apa pun tentang kita." Rio menjawab sambil memegangi dagu Bunga dengan jari-jari nya yang kekar, untuk ia perhatikan dengan teliti. 


 


Tentu saja perasaan Bunga menjadi semakin ketakutan, jantung nya sejak tadi berdegup sangat kencang dan tak beraturan. Dada nya sesak, lelaki itu semakin membuat tubuh bunga menggigil, wajah Rio kini semakin dekat dan bunga bisa merasakan hangatan hembusan nafas Rio.


 


 

__ADS_1


__ADS_2