DI NIKAHI BOS TAMPAN

DI NIKAHI BOS TAMPAN
Bab. 50. Mabuk


__ADS_3

Benikno langsung memapah tubuh Bos nya untuk berdiri.


'Ah Bos Anda sangat menyusahkan ku saja.' Pikir Benikno dalam hati.


Namun karena rasa setia nya pada Bos nya ini Benikno tidak pernah mengeluh. Cukup berat juga, memapah tubuh tegap Rio hingga tiba di tempat parkir. Berkali-kali mereka hampir terjatuh. Ketika sudah sampai di dalam mobil, Benikno segera menghidupkan mesin lalu menancap gas dengan kecepatan sedang. Di tolehnya ke belakang, Tuan Muda Rio sepertinya sudah tertidur.


Benikno hanya tersenyum. Namun rasa khawatir pada Bos nya semakin besar. Sebab, Rio terlalu banyak minum. "Ah Bos, semoga kamu baik-baik saja." Gerutunya kalut. Tak lama kemudian mereka pun sampai, Benikno melirik arloji di pergelangan tangan nya, jam menunjukan pukul 22:00 am.


Benikno menekan bel.


Hanya beberapa detik saja, seorang pelayan telah membuka kan nya pintu. Benikno tersenyum, Pelayan segera mempersilahkan mereka masuk. Via yang kebetulan ingin mengambil minuman di dapur tak sengaja melihat. Buru-buru perempuan itu menghampiri. Via tidak pulang kerumah malam ini, dia menginap di rumah Tuan Xen Zhin.


"Benikno." Panggil nya pelan.


"Permisi Nona Via, Tuan Rio sedang mabuk berat, saya hendak mengantarnya ke kamar," ucap Benikno sopan. Dia terus melangkah menuju peristirahatan Tuan muda nya setiap malam. Via mengangguk dan mengikutinya dari belakang.


Di kamar Rio.


Benikno segera menurunkan Bos nya dan membaringkan di atas sprimbed. Ia pun mulai melepas sepatu Rio dan melepaskan kancing kemeja milik Rio, namun Via menghentikan nya.


"Maaf Benikno, biar Aku saja, kamu boleh pergi."


"Itu terlalu merepotkan mu Nona." Jawab Benikno pelan, Bos nya pernah bercerita bahwa ia sangat muak dengan tingkah laku Via yang selalu saja mengejarnya.


"Tidak apa Benikno, lagian Rio adalah temanku sewaktu kecil dan hubungan kami bisa di bilang dekat."


"Tapi Nona."


"Ada apa?"


"Ya sudah saya permisi Nona," ucap Benikno akhirnya. Via mengangguk setuju. Via berjalan mendekati Pria dingin itu, sedikit tersenyum melihat ke nyenyakan Rio.


Wanita bertubuh kurus kini duduk di samping nya. Via memperhatikan wajah nya dengan seksama, Rio benar-benar tampan dan mempesona. Via menyentuh kerah baju kemeja Rio, ia melepas kancing baju itu satu persatu. Rio langsung menggeliat kecil.


"Kamu?" tanya nya Lirih. Via tak menjawab. "Pergi dari kamarku sekarang." Lanjut Rio lagi.

__ADS_1


"Aku tidak akan pergi Rio." Bisik Via di telinga Rio, seketika tengkuk lelaki itu seperti merinding.


"Apa yang kamu mau dariku? Aku tahu itu kamu Via, tinggalkan Aku sendiri Viaa Aku sangat muak berada di dekatmu!" Ujar Rio masih memejamkan mata.


"Tidak Rio!"


"Apa kamu gila Via. Kamu akan menikah besok!"


"Iya, itu hanya statusku menikah dengan Briyan tapi hatiku buat kamu Rio."


"Aku tidak perduli Via, tinggalkan Aku!"


"Tidak, Aku akan menemani kamu malam ini Rio. Ku mohon izinkan Aku tidur bersamamu."


"Gila!" Hanya kata singkat itu yang keluar dari mulut Rio. Via tak menjawab, dia masih saja memandangi wajah Rio. Rasa cinta nya begitu besar untuk Rio, bahkan ia rela menyerahkan sesuatu yang paling berharga dalam hidup nya. Via sangat berambisi ingin memiliki Rio seutuhnya. Tapi rasa kecewa nya tidak begitu dalam, dia masih di beri kesempatan untuk berada di dekat Pria berwajah mempesona, lantaran Nyonya Kazumi tetap berkeinginan mengambil nya sebagai menantu. Ya Isteri untuk Briyan tentu nya.


Meski ia tidak memiliki perasaan apa-apa terhadap Briyan, namun Via tetap menerima perjodohan ini. Via hanya bertujuan mendekati lelaki pujaan hatinya dan pelan-pelan memisahkan Rio dari Bunga. Briyan sudah mencium akal bulus yang di rencanakan Via, akan tetapi Briyan seperti nya tetap tak perduli.


Via tak pernah memikirkan akibatnya dia terlalu memaksa untuk memiliki Rio. Tiba-tiba saja Via memeluk tubuh Rio dan bergegas mengecup bibir merah itu. Rio terkejut, ia sadar ia sedang mabuk sekarang, tenaga nya juga cukup lemah. Rio berusaha mendorong tubuh Via dengan segenap kekuatan nya yang tersisa. Via termundur beberapa langkah.


Rio merebahkan tubuhnya lagi. Via terdiam dia sangat kesal dengan penolakan Rio. "Rio akan ku buat kamu menyesal 100 kali!" Via langsung memutar langkah kaki nya untuk keluar.


Di ujung tangga Via bertemu Briyan. Lelaki itu tersenyum tipis.


"Via, dari mana kamu?" Tanya nya heran.


"Apa aku perlu menjawabnya?"


Briyan tertawa kecil.


"Apa kamu mencoba untuk menggoda Rio?"


"Tidak penting!" celetuk Via ketus, ia kemudian berjalan menuju ke kamar belakang, Briyan mengikuti nya.


Sesampai nya di kamar.

__ADS_1


Via terkejut melihat kehadiran Briyan yang datang secara tiba-tiba padahal Briyan telah mengikuti nya sejak tadi namun, Via tidak menyadarinya.


BRUUKK.


Briyan menutup pintu dengan sedikit kasar.


"Apakah kamu kesal karena Rio menolakmu Via?"


"Keluar Briyan! Jangan berbuat macam-macam dengan ku!" Bentak Via jengkel karena Briyan benar-benar tak punya sopan santun memasuki kamar tempatnya tidur.


Briyan hanya tersenyum nakal


"Lupakan Rio, Aku akan memuaskan mu sekarang," ucap Briyan mencoba menenangkan perempuan itu.


"Apa kamu tak punya otak Briyan, kita belum menikah!"


"Lalu bagaimana dengan tingkah laku centilmu menggoda Saudaraku, apakah itu bisa di bilang tidak sengaja? Kamu sengaja untuk menjebaknya kan?" Briyan memposisikan dirinya di depan Via, Via termundur sedikit.


"Itu adalah hak ku, lagian Aku tidak suka padamu Briyan!"


"Kita satu sama, Aku juga tidak punya perasaan sama sekali padamu!" Briyan membuat Via terpojok, karena tatapan mata nya yang tajam dan senyumnya yang menggetarkan. Via sudah berada di tepi sprimbed.


"Mundurkan langkah mu Briyan Aku tidak ingin menodai harga diriku sendiri."


"Apa salahnya, setelah kita menikah pun kita akan tetap melakukan nya!"


"Apa maksudmu Briyan?" Via tak berani menatapnya.


Briyan segera menegak kan dagu itu wajah mereka saling berdekatan. Via menjadi gugup.


Keduanya saling berdiam untuk sejenak dan saling berpandangan. Briyan langsung menempelkan bibirnya, serta menyentuh bibir Via dengan lembut. Awalnya Via tak membalas namun karena kecupan itu terlalu bergairah Via pun akhirnya membalas dengan tak kalah hangatnya.


Briyan membuka kancing baju nya sendiri, mendorong Via ke belakang, Perempuan itu terhempas di atas sprimbed. Kecupan mereka semakin memanas, tangan nakal Briyan mulai menjalar kemana-mana, entah apa yang ada di pikirannya saat itu. 


Via benar-benar tak bisa menolak dengan pesona seorang Briyan. Keduanya bergumul sangat liar. Malam yang dingin terasa hangat karena permainan gila dari mereka.

__ADS_1


__ADS_2