
Bunga menangis dengan nafas yang tertahan. Ia tahu sekarang, hidup mungkin tak seindah kembang di taman. Rio melangkah mendekatinya.
"Sayang."
Rio ikut berjongkok di sampingnya sembari meraih tangan Bunga untuk ia genggam. Secepat mungkin Bungapun menepisnya.
"Jangan panggil Aku sayang! Bukankah ini yang kamu inginkan?" sela Bunga sedih.
"Apa yang kamu katakan sayang? Sekalipun Aku harus mati karenamu, Aku tak perduli, apalagi menginginkan kamu pergi, itu tidak mungkin." Rio menatapnya penuh percaya diri.
"Bukankah sebelumnya Aku pernah mengatakannya padamu bahwa Aku sangat takut kehilangan, kesendirian dan kesepian. Percayalah padaku jangan dengarkan mereka."
Rio mencoba untuk menjelaskan panjang lebar, dia hanya tidak mau Bunga menjadi salah paham dengannya.
"Di saat seperti ini bisa-bisanya kamu membujukku agar aku hanya percaya padamu, kamu benar- benar lelaki pengecut yang pernah ku temui."
"Bicaralah semau hatimu, Aku hanya tak ingin kamu salah paham padaku, Aku diam bukan berarti Aku rela mereka memperlakukanmu seperti tadi."
"Lalu apa? Tapi Aku sudah terlanjur kecewa padamu." Bunga terunyuh, hatinya sangat perih.
Dia tak pernah menyangka Rio akan mengorbankan cintanya sebagai suami yang tak perduli. Harusnya Rio menguatkan dan percaya padanya, tapi kenyataan yang ada dia lebih mempercayai tuduhan Via.
"Tenangkan hatimu dulu, setelah itu aku akan menjelaskan semuanya." Rio mengelus lembut rambut Bunga.
"Jangan sentuh Aku Pria pengecut! Kamu hanya pantas di panggil pria pengecut, sekarang harga dirimu seharga sayuran di pasar, bahkan sangat murah daripada itu!" Bunga kesal, amarahnya sejak tadi sulit terkendali.
Rio diam sejenak. Hatinya kini terasa perih dengan umpatan yang keluar dari bibir Bunga. Di lihatnya Bunga beranjak bangun dan segera mengambil koper miliknya.
"Sayang apakah kamu bersungguh-sungguh akan pergi? Ada satu hal yang ingin ku ceritakan padamu," ucap Rio pelan.
__ADS_1
Bunga tak menjawab, kesabarannya sudah mulai enyah. Yang dia tahu Rio sangat keterlaluan padanya dia tak bisa mengambil jalan tengah atas kasus ini.
"Simpan kembali tasmu!" Bentak Rio kemudian. Namun, bunga tak memperdulikannya. "Bunga!" Teriaknya lagi.
"Kenapa baru sekarang kamu bisa mengucapkan kata itu, sejak tadi pikiranmu kemana saja?!"
Bunga tak mau kalah. Dengan perasaan kesal bercampur emosi ia susun semua barang-barang miliknya.
"Kamu akan tahu nanti, kenapa Aku melakukan ini."
"Selesai! Jangan pernah menghubungiku lagi, karena mungkin kamu tidak akan menemukan nomor ponselku aktif, anggap saja kita tak pernah bertemu."
Bunga berkata sambil menitikkan air mata yang menurutnya sia-sia belaka. Barangnya juga sudah selesai ia kemasi, dengan langkah yang ringan Bunga segera menyeret kopernya.
"Sayang, hentikan kamu tak boleh melakukan ini! Percayalah padaku, Aku akan melindungimu dengan cara apapun."
"Lepaskan Aku Rio! Apa perlu aku mengulangi perkataanku lagi, kamu pria pengecut yang pernah ku kenal dan sekarang jangan mengharapkan cintaku lagi karena Aku akan segera pergi dari hidupmu dan melupakanmu!" Bunga menyentak kembali kopernya. Dengan berat hati Rio melepaskan.
"Baiklah Aku mengerti perasaanmu, aku akan menunggumu hingga kamu bisa berpikir jernih, nomor ponselku selalu aktif."
"Aku tak sudi!" Bunga langsung mengayunkan langkah kakinya untuk berjalan menjauhi Rio.
"Terserah padamu, sudi atau tidak sudi, selamanya Aku tetap menjadi suami kamu."
"Jangan bodoh Rio."
Rio kali ini tak menjawab, dia juga melangkah bergerak mengikuti Bunga dari belakang. Suasana sepi sejenak yang terdengar hanya isak pilu dari Bunga. Sejak tadi airmata nya tak berhenti mengalir.
"Kamu akan pergi kemana? Aku akan mengantarmu ke villa kita, jadi kamu akan lebih aman di sana."
__ADS_1
Rio berusaha mencegah isterinya. Bunga tak menjawab, masih terus serius melangkahkan kedua kakinya berjalan menuruni anak tangga. Pikiran Bunga berkecamuk, berperang dan bersemayam di dalam otaknya sehingga ia lupa harus berhati-hati pada jalannya.
SREEEEETTT.
Tanpa Bunga sadari tubuhnya oleng menyentuh turunan anak tangga, sehingga mengakibatkannya jatuh terpeleset terjungkal. Samar ia pandangi kesekeliling kepalanya terasa berat, tubuhnya pun terguling- guling dengan cepat. Ketika kesadaran nya masih 5 persen dia masih sempat mendengar Rio terus memanggil- manggil namanya. Tapi Rio sangat terlambat, gerakan cepat dari bunga tak bisa di hentikan begitu saja.
'Pa, bawa bunga pa, bunga yakin bunga akan bahagia di sana, maafin Bunga ma, bunga belum bisa memberikan cucu yang bisa menemani di hari tua mama kelak.' Batinnya pelan, tak lama setelah itu Bunga pun benar-benar tak sadarkan diri. Dengan langkah setengah berlari Rio pun tergopoh-gopoh mengejarnya. Tapi, Rio sudah terlambat jauh.
"Aaaahhh."
Teriak Rio frustasi sambil menjambak rambutnya sendiri, Rio berjongkok di hadapan tubuh Bunga yang terbaring tak berdaya itu, keningnya mengeluarkan darah segar yang banyak. Entah seberapa banyak darah yang keluar membasahi wajah serta bajunya, Rio langsung mengangkatnya tanpa ragu. Berlari menuju mobil, dia terlihat sangat gugup dan gopoh, tak perduli seberapa gemetarnya ia saat ini.
Beberapa pelayan di rumahnya pun terlihat panik melihatnya. Mereka juga ikut was-was. Rio sampai di dalam mobil dengan cepat, membuka pintu serta membaringkan tubuh lemah Bunga di atas kursi belakang. Kemeja putih Rio juga tampak di penuhi bercak darah. Rio menyalakan mesin dengan tangan bergetar, dia harus segera sampai di rumah sakit dengan cepat, karena Bunga sudah kehilangan darah yang banyak.
BRRUUUUUUUMMMM.
Rio menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi, biar bagaimana pun dia harus cepat sampai. Jika saja dia sampai terlambat nyawa Bunga sudah di pastikan tidak akan selamat. Rio terus menaikan kilometer mobilnya sehingga terdengar decitan rem mobil yang berbelok kanan, berbelok kiri. Hanya satu keinginan nya Bunga tak boleh mati.
C. I. I. I. I. I. TTTTT
T I N G
Lampu orenye berganti merah.
"Aaaah sial!"
Rio menghela nafasnya dalam- dalam apa yang bisa dia lakukan sekarang. Mobil- mobi mewah dengan berbagai macam merk berjejer memenuhi ruas jalan. Ini bisa di bilang kemacetan parah, Ya Rio terjebak kemacetan sekarang. Rio menoleh ke belakang, darah yang keluar semakin banyak bahkan sampai menetes membasahi jok mobil. Rio terus berdoa dalam hati, memohon agar Tuhan menyelamatkan orang yang teramat ia cintai ini.
Tanpa Rio sadari buliran air mata menjatuhi pipi putihnya. Bergegas Rio merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel miliknya, namun kedua saku celananya kosong. Ah dia baru teringat bahwa tadi ketika pulang dari Villa Rio menyerahkan ponselnya pada Bunga, sudah pasti ponsel itu tertinggal juga. Rio memukul keras telpon yang terpasang di mobilnya telpon itu baru rusak kemarin, lalu kenapa dia bisa sangat teledor seperti sekarang. Harusnya dia segera memperbaikinya.
__ADS_1