
Hari berganti hari, tak terasa waktu terus bergulir.
Malam yang menjadi siang dan siang yang menjadi malam. Dia masih belum sepenuhnya melupakan Reza, Reza adalah cinta pertamanya. Bagaimana mungkin dengan begitu mudahnya dia bisa menghapus perasaan itu. Walaupun sekarang posisi Reza telah resmi di gantikan oleh Satria yang benar-benar tulus mencintainya. Di hatinya masih ada Reza dan Satria yang sekarang.
Paling tidak dia tak jadi seorang perempuan, yang bisa di bilang tak tau dirilah oleh sebab itu dia sangat menghargai perasaan cinta yang di berikan Satria padanya. Ingat, dia hanya menghargai tetapi jika takdir merubahnya keadaan mungkin akan berbalik.
***
BEBERAPA BULAN KEMUDIAN.
Mereka sudah berpisah selama beberapa bulan.
Di sana prestasi Satria sangat gemilang. Satria kerap mendapat penghargaan dikampusnya.
Bukankah itu membanggakan? tentu saja. Selama itu juga mereka tak pernah bertemu tapi ada satu hal yang membuatnya menjadi cowok yang sangat romantis dia tidak pernah lupa akan kado specialnya. Setiap hari dia mengirim lewat supir pribadinya yang tinggal di indonesia Dia tak pernah melupakan hal itu walau mungkin sesibuk apapun dia.
Di Negeri Sakura itu Satria mengambil study jurusan ARSITEKTUR dan PEMBANGUNAN. karena berimbang dengan Papi nya yang berprofesi sebagai seorang pengusaha Kuliner terkaya di indonesia. Sudah sekitar beberapa cabang yang di buka, bahkan di luar negeri juga papinya sudah memiliki dua cabang. Apalagi bisnis itu sudah berkembang sangat pesat.
Hari itu di sekolah.
Hujan masih rintik-rintik membasahi kota itu. Sudah 2 hari Rina tidak masuk sekolah di karena sakit lambung yang kerap kambuh. Bunga duduk sendirian di bangkunya. Dia sedang menyalin beberapa catatan kimia yang kemaren sempat tertinggal sedikit. Tiba-tiba Veli datang menghampirinya.
Ya, Beberapa bulan setelah kepergiaan Reza, Veli tak pernah mengganggunya. Tapi kali ini sedikit aneh.
"Bung Aku perlu bicara penting sama kamu." Ujarnya datar, dia meletakkan tangan kirinya di meja bunga.
"Sorry Vel, Aku sibuk." Dia menolak lembut. Dia sebenarnya tidak ingin berurusan panjang dengan gadis itu.
"Minta waktu kamu dikit aja."
"Tapi Vel."
__ADS_1
"Ayo lah." Dia meraih pergelangan tangan kiri bunga, seakan memaksa.
"Vel Aku sangat sibuk!" Tolaknya lagi, tapi Veli tak memperdulikan tolakkannya itu. Bunga terpaksa mengikuti.
Aneh, tapi genggaman tangan Veli semakin erat, Bunga takut. Bergegas dia membawa bunga menaikin tangga, tak ada yang melihat mereka karena waktu itu keadaan memang sepi.
"Vel." Ujarnya lagi, dia berusaha memberontak. Dia tau kemana arah Veli membawanya pergi setelah beberapa menit mereka berjalan akhirnya mereka sampai di puncak lantai 5. Bunga ketakutan. Jantungnya berdegup kencang, sejak kecil dia fobia dengan ketinggian. Apa yang di rencanakan veli sebenarnya.
"Vel lepasin aku." Lirihnya memohon.
"Tenang Bung aku ngak akan apa-apain kamu!"
"Tapi ini adalah hal konyol Vel, jika kamu perlu bicara penting sama aku, ngak musti di tempat ini kan?" Dia masih menatap Veli, dan sangat berharap Veli melepaskan genggamannya. Itu membuat feelingnya menduga-duga hal yang negatif. Tiba-tiba gadis di hadapannya menangis, matanya terlihat sangat sendu. Apa yang sebenarnya di rasakan Veli. Batin bunga tersentak, apakah itu air mata sandiwara atau sungguhan?
"Tolong jangan pikirkan hal-hal jahat terhadapku. " Veli kali ini lebih serius menatapnya yang seolah mengerti bahwa bunga sedang berpikir negatif.
"Katakan hal penting itu sekarang!" Bunga berusaha tegas, dia tidak ingin berlama-lama di atas gedung setinggi ini.
Veli melanjutkan ceritanya dia mengatakan bahwa setelah kelas 2 SMP Reza pindah sekolah, dan selama 1 tahun dia tak ada kabar.
Mereka bertemu lagi di SMA termahal ini,
Tapi seakan Reza tak pernah melihatnya. Dia kecewa rasa cintanya bertepuk sebelah tangan. Tapi dia tak mengatakan bahwa Reza pernah bilang kalau dia suka sama bunga. Veli hanya menyimpannya sendiri, mulai saat itu dia sangat membenci bunga. Tapi setelah kepergian Reza ke Singapura Veli sadar bahwa perasaan ini salah dan dia mencoba untuk tak membenci bunga lagi.
Veli tampak merogoh saku bajunya, dia mengambil sebuah amplop berwarna kuning.
"Bung maafin salahku karena udah benci sama kamu, tapi aku berharap kamu tak membenciku. dan ambillah amplop ini, ini adalah saksi keadilan diantara kita." Dia menyodorkan amplop itu.
Bunga tersenyum tak percaya, ada apa ini?
"Dan soal aku bilang bahwa Reza itu udah di jodohin sama aku itu bohong. Maaf kalau selama itu aku udah buat kamu sedih banget, cuma ini pesanku kalau kamu benar-benar suka sama Reza maka kejarlah cintanya, dan kasi Reza kesempatan lagi Reza itu cowok baik kamu ngak akan pernah nyesel kenal dia...." Mata veli semakin basah oleh airmatanya.
__ADS_1
"Vel jelasin sama aku."
"Ngak perlu di jelasin panjang lebar bung karena waktu kita sedikit, ambillah ini adalah bukti!"
Dengan Ragu bunga mengambilnya, dan menyimpannya di saku bajunya juga setelah itu jaraknya semakin dekat dengan bunga.
Diapun langsung memeluk tubuh bunga yang sedang terpaku menatapnya. mungkin pelukan itu adalah tanda permintaan maafnya. Veli larut dalam pelukkan Bunga sesaat.
Namun, tak di sangka oleh bunga tiba-tiba Veli mendorong badannya dan kemudian dia mundur dengan cepat kearah tepiian atap datar itu. Veli menjatuhkan dirinya dari lantai 5 dia bunuh diri.
Bunga tersungkur di lantai.
"Veliiiii!!!" Dia seakan tak percaya dengan peristiwa yang dia saksikan dengan kedua matanya itu.
"Ti--tidak tidak mungkinnn!"
Tiba-tiba dunia menjadi sangat gelap bungapun tak sadarkan diri.
DI RUMAH SAKIT
Sayu-sayu bunga mencoba membuka matanya yang masih terasa berat. Namun nalurinya tak bisa berbohong bahwa dia telah melihat peristiwa mengerikan itu. Spontan saja dia terbangun
Dia takut sangat takut Dia merasa sangat bersalah Dia tidak ingin di fitnah menjadi seorang pembunuh. Dia tak dapat mengatakan apapun selain menangis.
Di samping sudah ada Mama dan Rina sahabatnya. Mama mengelus pundaknya lembut dia mencoba untuk menenangkan puterinya itu.
***
Berita meninggalnya Veli telah menjadi topik terhangat waktu itu. Hampir seluruh media memberitakannya. Ini adalah sejarah pertama seorang siswi BUNUH DIRI di sekolah Yang terkenal Mahal itu. Beberapa hari Setelah pulih dari pingsannya. Bunga di panggil ke kantor polisi untuk di mintai keterangan atas insiden yang menimpa Veli. Bunga tak sendirian di situ dia di temani mama tersayangnya.
Tentu saja kedua orangtua veli menuntut, Mereka tidak terima atas peristiwa yang menimpa puterinya itu. Mereka menyebutnya sebagai seorang pembunuh. Akankah mereka percaya dengan pengakuan bunga setelah melihat isi surat yang di titipkan Veli padanya ataukah mereka semakin menuduhnya pembohong?
__ADS_1